
"Sekarang anda sudah kenal, lalu apa lagi yang ingin kalian ketahui dari saya" timpal Albi.
"Bukan begitu maksud saya, saya senang kalau bisa dekat dengan keluarga besan, seperti saya yang dekat dengan tuan Baskoro. Karena sekarang kita sudah jadi keluarga" ucap Hardi dengan tak tahu malu mengakui keluarga Wijaya sebagai keluarganya.
Kedua orang tua Albi menatap mereka jengah, baru aja sekarang mengakui besan, dulu saat Kay menikah mereka kemana.
"Apa saya tidak salah dengar tuan?
Bukankah dulu anda sendiri yang menolak menjadi wali nikah istri saya, Bahkan anda pernah bilang kalau istri saya bukan bagian dari keluarga Marligh lagi. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba anda datang kemari dan mengakui kami sebagai keluarga? Anda ini lucu sekali" sahut Albi memberi sedikit sindiran kepada Hardi.
#Flasback On#
"Bagaimana boy, kamu sudah menghubungi keluarga Kay belum? Bagaimanapun juga Kay masih mempunyai orang tua, jadi sudah seharusnya kamu minta restu sama mereka untuk menikahi putrinya" ucap Rudi.
Terlepas Kay dan keluarganya bermasalah atau tidak, tapi keluarga Marligh tetaplah keluarga Kay, jadi Rudi meminta anaknya untuk meminta restu kepada mereka.
"Nanti sore aku akan menemuinya pa" sahut Albi.
Pukul 5 sore, sebelum pulang kerumahnya Albi menyempatkan mampir ke rumah keluarga Marligh terlebih dahulu, dia ingin minta restu sekaligus meminta Hardi menjadi wali nikah istrinya.
"Ada apa datang kemari" tanya Hardi angkuh saat melihat Albi datang kerumahnya.
"Tujuan saya datang kesini, saya ingin meminta restu kepada anda dan juga istri anda, karena besok saya akan menikahi Kay. Saya berharap tuan Hardi mau datang sekaligus menjadi wali nikah Kay" jawab Albi sopan.
"Saya tidak akan datang ke pernikahan kalian, masalah Kay itu sudah bukan jadi urusan saya lagi, karena saat ini Kay sudah bukan bagian dari keluarga Marligh!!" tolak Hardi.
Albi menghela nafas sabar, ia bersyukur tidak membawa Kay ikut serta datang kerumah keluarga Marligh, kalau dia tadi membawa Kay sudah di pastikan kalau Kay akan menangis karena sakit hati mendengar ucapan Hardi.
"Kalau begitu saya pamit undur diri tuan Hardi" pamit Albi.
Dia tidak mau merengek dan memohon kepada Hardi untuk merestui pernikahannya dengan Kay.
Yang terpenting dia sudah ada niat baik kepada keluarga Marligh.
Karena penolakan itu akhirnya Albi meminta wali hakim untuk menjadi wali nikah istrinya.
#Flasback Off#
"Itu dulu, karena saat itu saya masih marah karena tahu putri saya hamil di luar nikah, saya rasa semua orang tua juga akan merasakan hal yang sama saat tahu putrinya hamil di luar nikah" kilah Hardi membuat Albi berdecak kesal.
Orang di hadapannya ini pandai sekali bersilat lidah.
__ADS_1
"Tapi setidaknya anda mendengarkan penjelasan saya tuan Hardi, karena kejadian itu bukan kemauan saya, saya juga tidak tahu kenapa bangun-bangun saya sudah berada di kamar hotel miliknya" tegas Albi
"Saya merasa ada yang sengaja menjebak saya, tapi anda bukannya mendengar penjelasan saya tapi justru mengusir" ucap Kay.
"Kamu kalau salah lebih baik akui saja jangan malah menuduh orang" ketus Vino.
"Lebih baik kamu diam, karena saat kejadian kamu tidak ada di lokasi" sahut Kay membuat Vino langsung bungkam.
"Memangnya siapa yang sudah menjebakmu" tanya Hardi ingin tahu.
"Saya tidak tahu" jawab Kay singkat.
Sementara Rani mulai terlihat gelisah, dia merasa tidak nyaman dengan pembahasan yang ada.
Albi terus memperhatikan Rani yang sesekali merubah gaya duduknya.
"Berapa usia kandungan kak Kay?" tanya Rani mengalihkan pembicaraannya sambil menutupi kegugupannya.
Kay hanya diam saja tak ingin menjawab pertanyaan adiknya.
"Kena kau" Batin Albi tersenyum Smirk.
"Bi ayo istirahat, aku lelah" ucap Kay yang sudah muak sekaligus sakit hati dengan mereka.
"Pergilah, karena istri saya sudah lelah ingin istirahat" usir Albi secara halus.
Karena tak ingin membuat keributan, akhirnya Hardi dan Baskoro mengajak keluarganya pulang dari kediaman Wijaya.
Albi mengantar Istrinya menuju ke kamarnya.
Kay berdiri di depan jendela kamarnya, netranya menatap keluar jendela melihat langit malam yang di penuhi banyak bintang.
Albi mendekati istrinya lalu memeluknya dari belakang dan mencium puncak kepala istrinya.
"Kenapa hmm" tanya Albi lembut.
Kay menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
"Kenapa mereka jahat kepadaku Bi, apa mungkin karena aku bukan putrinya makanya mereka jahat sama aku Bi?" ucap Kay bertanya kepada suaminya.
"Kenapa kamu ngomong seperti itu" tanya Albi penasaran.
__ADS_1
"Karena mereka selalu menuntutku menjadi seperti yang mereka mau, seperti waktu itu aku menolak dijodohkan dengan Vino, orang tuaku langsung memarahiku, mereka juga memakiku dengan kata-kata yang tak sepantasnya. Karena hal itu akhirnya aku dengan terpaksa menerima perjodohan itu."
"Puncaknya saat aku hamil, mereka tak sedikit pun mau mendengarkan penjelasanku dan mereka malah mengusirku, terus ketika tahu aku menikah dengan keluarga Wijaya mereka ingin memungutku kembali. Sangat menyedihkan bukan" Ucap Kay mengeluarkan uneg-uneg nya.
Albi menghela nafas panjang sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh sang istri.
"Maaf" hanya itu yang keluar dari mulut Albi.
"Kenapa kamu minta maaf" tanya Kay sambil berbalik menghadap suaminya.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, aku malah bahagia bisa menikah dengan pria sepertimu, apalagi dengan keluargamu yang selalu menyayangiku, bahkan kasih sayang keluargamu jauh lebih besar dari orang tuaku sendiri" imbuhnya sambil menangkup wajah suaminya.
Albi tersenyum manis lalu memeluk istrinya.
*****
Di sebuah restoran keluarga Marligh dan juga keluarga Baskoro sedang makan malam bersama.
Setelah pamit dari kediaman Wijaya mereka menyempatkan mampir ke restoran untuk makan malam bersama.
"Kapan kalian pergi bulan madu"
Tanya Hardi kepada Vino dan juga Rani.
"Tanpa pergi honeymoon pun kami sudah sering melakukannya pah, iya kan sayang" sahut Vino menginjak kaki Rani.
"i-ya pah, kita kan cuma tinggal berdua, jadi tiap hari kita sudah seperti bulan madu" sahut Rani di selingi candaan meskipun sebenarnya hatinya sakit.
"Iya yang di katakan Rani benar Hardi, mereka kan cuma tinggal berdua jadi kapanpun mereka bisa melakukannya" timpal Baskoro menggoda keduanya.
"Sepertinya sebentar lagi kita akan mempunyai cucu jeng" kata Marlyn kepada istri Baskoro.
"Iya kamu benar jeng Marlyn" sahut istri Baskoro tertawa kecil.
Mereka berdua benar-benar pandai memainkan perannya, akting mereka sudah seperti artis profesional, orang tua mereka tak sedikitpun curiga dengan kebohongan yang di lakukan oleh keduanya.
Deg.
Tak sengaja netra Hardi melihat seseorang yang ia kenal masuk kedalam restoran yang sama.
Dia terus menatap orang tersebut hingga orang itu duduk di meja yang masih kosong.
__ADS_1