
"SIAPA YANG KAMU SURUH BALAS BUDI HAH?" suara keras Satria yang tiba-tiba datang mengagetkan mereka semua.
Semua orang menoleh kesumber suara, ia melihat kedatangan Satria dan juga Amira istrinya.
Deghh
Netra Hardi bertubrukan dengan netra Amira. Mata keduanya bertemu dan sejenak mereka saling tatap.
Amira langsung menarik pandangannya dari Hardi.
Awalnya Amira yang mengajak suaminya datang kerumah Wijaya, dia ingin memberikan kue buatannya untuk Kay, namun siapa sangka mereka berdua malah mendengar pernyataan Marlyn yang tidak enak di dengar.
"Amira" gumam Marlyn melihat kedatangan Amira.
"Apa kabar Mar, senang berjumpa lagi denganmu" sapa Amira.
"Mau apa kamu kesini hah" sentak Marlyn. Melihat Amira membuat dia teringat dengan suaminya yang masih menyimpan foto wanita di hadapannya, membuat ia langsung meradang.
"Ini rumahku, jadi siapapun berhak datang ke rumahku" tegas Albi.
Marlyn mengetatkan rahangnya, ia menatap tajam kearah Amira.
"Ceraikan kak Albi kak, kakak bisa kembali lagi sama kak Vino. Biarkan Rani yang merawat anak kakak nanti bersama kak Albi" ucap Rani tiba-tiba.
"Maksud kamu apa Rani" tanya Kay menegakkan tubuhnya.
"Dari awal yang di jodohkan sama kak Vino itu kakak, karena kahamilan kak Kay makanya Rani di suruh menggantikan posisi kak Kay. Kak Vino tidak mencintai Rani kak, yang kak Vino cintai itu kak Kay maka kembalilah sama kak Vion. Setelah kakak melahirkan nanti kakak bisa cerai dengan kak Albi, dan biarkan aku yang menggantikan posisi kakak" ucap Rani.
"Maksud kamu kita bertukar posisi? Begitu?" tanya Kay sinis.
"Iya kak, tak apa Rani merawat anak kakak bersama kak Albi" jawab Rani percaya diri.
"Kamu menikah dengan Vino karena kemauanmu sendiri, kamu yang menjebakku dan membuatku hamil lalu setelah kamu tahu Vino tak mencintaimu kamu menyuruhku kembali padanya? Omong kosong macam apa ini Rani" ucap Kay tersenyum miring.
"Jangan asal bicara kak, tidak ada yang menjebak kak Kay, kak Kay hamil karena kesalahan sendiri. Bahkan aku yakin sebenarnya kakak yang menjebak kak Albi" ucap Rani tak mau kalah.
"Bagaimana bisa aku menjebak Albi, sedangkan aku sama sekali tidak mengenalnya." sentak Kay.
Jangan tanya Kay tahu darimana Rani yang menjebaknya, tentu ia tahu dari suaminya yang sudah lebih dulu memberi tahu istrinya.
"Kalau kakak menyesal menikah dengan kak Albi, kakak bisa ceraikan dia" sentak Rani.
Pyar...
Suara gelas pecah yang di lempar oleh Albi, dia geram dengan tingkah Rani yang menurutnya tak tahu diri, memangnya dia siapa bisa seenaknya menyuruh istrinya menceraikannya.
__ADS_1
"Kay istriku, tidak ada yang berhak menggantikan posisi Kay sebagai istriku, dia akan selamanya menjadi istriku" tegas Albi.
"Dan Untuk kamu nona Rani. Kamu sendiri yang menggagalkan perjodohan Kay dengan Vino, lalu setelah kamu tahu Vino tidak mencintaimu kamu dengan seenaknya menyuruh istriku bertukar tempat denganmu. Memangnya kamu pikir kamu siapa? Istriku bukan boneka yang bisa kau atur sesuka hatimu." ucap Albi dengan penuh penekanan.
"Tidak!!, Kay harus membayar semua yang sudah keluarga kami berikan kepadanya. Karena Kay kasih sayang Rani menjadi terbagi, jadi Kay harus membalas itu semua" Sela Marlyn.
"Kay putriku, suamimu yang sudah mengambilnya dariku jadi kalau kau mau menyalahkan maka salahkanlah suamimu" sahut Amira tiba-tiba.
Dhuarrr...
Tubuh Marlyn mematung, ia menganga tak percaya, ia tak menyangka selama ini mengasuh anak dari mantan kekasih suaminya.
Kay semakin pusing dengan situasi yang terjadi di hadapannya saat ini.
"Sssttt...." ringis Kay memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Sayang" ucap Albi panik.
"Sakit Bi" ucap Kay mencengkram erat tangan Albi
"Tahan, kita kerumah sakit sekarang" ucap Albi.
"Urusan kita belum selesai, sampai terjadi sesuatu dengan istriku maka aku tak segan-segan menghancurkan kalian" tegas Albi menatap penuh amarah kearah keluarga Marligh.
"Dan kamu Hardi, aku pastikan perusahaanmu akan hancur, kamu harus membayar semua perbuatanmu yang sudah berani mengambil putriku" tegas Satria.
"Ayo mom, kita ikuti Albi ke rumah sakit" ajak Satria.
Amira mengangguk, dia langsung menggandeng lengan suaminya begegas ke rumah sakit menyusul Albi.
Setibanya di rumah sakit Albi langsung menggendong istrinya masuk kedalam rumah sakit, bahkan Albi meninggalkan mobilnya di lobby begitu saja.
"Suster...dokter... Tolong istri saya" teriak Albi memanggil perawat dan juga dokter.
Perawat langsung datang sambil mendorong brankar. Albi merebahkan tubuh istrinya di atas brankar.
Dia membantu perawat mendorong brankar tersebut ke ruang persalinan.
"Sakit sekali Bi" ringis Kay.
"Sabar sayang" Ucap Albi sambil mengusap lengan istrinya.
Perawat lansung membawa masuk Kay ke ruang bersalin, ia meminta Albi untuk menunggunya di luar.
Albi menunggu di luar sambil terus berdoa, ia bahkan lupa memberi kabar kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Dimana Kay Al" tanya Amira yang baru saja sampai bersama suaminya.
"Kay masih di periksa dokter tante" jawab Albi yang masih panik memikirkan keadaan istrinya.
"Apa kamu sudah menghubungi keluargamu" tanya Amira.
Albi menggelengkan kepalanya, dia panik sehingga tidak ingat memberi tahu orang tuanya.
"Biar om yang hubungi orang tuamu" ucap satria langsung menghubungi Rudi.
Tak lupa Satria juga menghubungu putranya untuk segera datang ke rumah sakit.
Selang berapa lama dokter keluar dari ruang persalinan.
"Bagaimana kondisi istri saya dok" tanya Albi.
"Kondisi nyonya Kay melemah, kita harus Segera melakukan operasi untuk menyelamatkan keduanya" Jawab dokter.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok" ucap Albi.
"Saya butuh golongan darah AB untuk pasien, kebetulan stok dara AB di rumah sakit ini sedang kosong," pinta dokter, ia membutuhkan darah sebagai persiapan Jika pasien membutuhkan tranfusi darah.
"Ambil darah saya saja dok, darah saya sama dengan darah putri saya" sahut Satria.
"Mari ikut saya tuan" ucap Dokter.
Satria ikut mengikuti dokter untuk melakukan donor darah.
Perasaan Albi semakin kalut saat mendengar kondisi istrinya melemah. Ingin sekali dia berteriak menyalahkan keluarga Marligh, tapi Albi urungkan karena ia sadar kalau dirinya masih berada di rumah sakit.
Albi duduk sambil menundukkan kepalanya.
Tak lama terdengar suara derap langkah seseorang mendekati mereka.
"Sayang, dimana Kay" tanya Tanya mama Eva dengan nafas ngos-ngosan.
Albi mengangkat wajahnya dan melihat ke arah mama nya dengan mata berkaca-kaca.
"Ma, keadaan Kay melemah dia akan segera dioperasi untuk menyelamatkan keduanya" ucap Albi sambil memeluk mama nya.
"Masuklah, temani istrimu dia membutuhkanmu, kamu harus lihat perjuangan istrimu melahirkan anakmu. Biar kelak kamu tak akan berani menyakiti istrimu" ucap Mama Eva.
Albi menganngguk lantas melerai pelukannya.
Lalu Albi masuk kedalam ruang operasi.
__ADS_1