My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 32. Kay belum percaya


__ADS_3

"Sini sayang" pinta Albi sedang duduk di tepi ranjang.


"Ada apa?" tanya Kay sambil menghampiri suaminya dan duduk di sebelah suaminya.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, ini sangat penting, apapun yang terjadi nanti aku akan selalu ada di samping kamu" ucap Albi sambil menatap netra istrinya.


"Sebenarnya ada apa, ucapanmu membuatku takut" sahut Kay dengan wajah cemas.


Albi meraup wajahnya kasar, ia bingung bagaimana caranya bilang sama istrinya. la tak tega melihat wajah sedih istrinya.


"Apa kamu percaya kalau aku bilang kamu bukan anak kandung Hardi?" tanya Albi. Istrinya itu menggelengkan kepalanya, pertanda kalau istrinya tidak mempercayainya.


Albi sudah menebak kalau istrinya tidak akan mempercayainya.


"Tapi aku sudah menyelidikinya sayang" ucap Albi.


"Aku tahu kamu membenci papahku, tapi bukan berarti kamu bisa bicara seperti itu, bagaimana mungkin aku bukan anak kandung papahku, sedangkan sejak kecil di rawat olehnya" sahut Kay marah, dia memang saat ini sedang marah dengan keluarganya tapi bukan berarti suaminya itu bisa bicara seperti itu.


Albi menghela nafas sabar, memang tidak mudah meyakinkan seseorang tanpa bukti yang konkrit. Satu-satunya yang bisa membuktikan iyalah dengan test DNA.


"Bacalah, ini berkas hasil penyelidikanku, dan ini rambut milik Hardi, jika kamu ingin tahu kamu bisa melakukan tes DNA untuk memastikan semuanya" ucap Albi sambil memberikan benda tersebut namun istrinya tidak mau menerimanya.


Kay naik ke atas tempat tidur, dan merebahkan tubuhnya sambil membelakangi suaminya.


Albi menaruh berkas serta rambut itu di atas nakas, lalu ikut merebahkan diri di sebelah istrinya.


Dia tak mau memaksa istrinya untuk mempercayainya, karena mungkin istrinya itu butuh waktu untuk mencerna semuanya.


Albi memeluk isttrinya dari belakang.


"Aku tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin memberitahumu saja, tak apa kalau kamu tidak percaya itu hak kamu" ucap Albi lembut.


"Tidurlah, kamu pasti lelah" lanjutnya menyuruh sang istri tidur.


Albi mengusap-ngusap perut istrinya, karena biasanya istrinya akan cepat terlelap kalau dia mengelus perutnya.


Namun bukan istrinya yang terlelap, justru dirinya yang lebih dulu memjamkan matanya.


Sedangkan Kay sedang memikirkan kata-kata suaminya. Kay mencoba flasback ke masa lalu dimana orang tuanya selalu membeda-bedakan dirinya dengan Rani.


Tiap kali adiknya melakukan kesalahan tak pernah sedkitpun orang tuanya memarahinya, tapi berbeda dengan dirinya yang selalu di tuntut perfect oleh ayahnya.

__ADS_1


Sedikit dia melakukan kesalahan ayahnya akan langsung marah dan memakinya.


Kay merubah posisinya menghadap wajah suaminya, mengusap rahang tegas suaminya.


la tahu kalau suaminya tidak ada niat jahat kepadanya, tapi dirinya tidak bisa percaya begitu saja dengan suaminya.


Albi membuka matanya karena merasa terusik dengan tangan istrinya yang terus mengusap rahangnya.


"Maaf, aku mengganggu tidurmu, Bi" ucap Kay saat melihat mata suaminya terbuka.


"Kenapa belum tidur?" tanya Albi lembut sambil menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga.


Kay hanya diam dan menggelengkan kepalanya saja.


"Apa kamu ingin bercerita?" tanya Albi.


Istrinya masih tak menjawabnya dan hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Tidurlah, jangan kamu pikirkan ucapanku tadi, kasihan debay nya" ucap Albi.


Kay mengangguk memaksa matanya untuk terpejam, Albi memeluk istrinya meskipun susah karena terhalang perutnya, ia mengusap punggung istrinya lembut.


Tak lama Albi mendengar dengkuran halus dari istrinya. Dia pun membenarkan letak selimutnya, setelah itu ia ikut memejamkan matanya menyusul sang istri yang sudah lebih dulu masuk kedalam mimpi.


Kay melihat penjual bubur ayam yang sedang melewati komplek, ia pun menghentikannya, Kay membeli beberapa bungkus untuk yang lain juga.


Pukul setengah tujuh pagi Kay pulang kerumah sambil membawa bubur ayam yang tadi ia beli.


"Kamu dari mana sayang" tanya Eva ketika melihat menantunya berjalan dari luar.


"Kay habis jalan-jalan ma, ini Kay beli bubur untuk yang lain juga"jawab Kay.


"Lalu kemana Albi?" tanya mama Eva clingukan mencari keberadaan putranya namun tak melihatnya.


"Albi sedang tidur dikamar ma" ucap Kay.


"Ya ampun, bukannya menemani istrinya jalan-jalan malah molor di kamar" geram mama Eva dengan tingkah putranya.


"Bukan salah Albi ma, tadi Kay memang sengaja tak mengajaknya, Karena Kay tak ingin menganggu tidurnya." ucap Kay membela suaminya, dia tidak mau ibu mertuanya itu memarahi suaminya yang tidak bersalah.


"Haiisss... Kamu ini selalu saja membela suami sablengmu itu" dengus mama Eva sebal membuat Kay mengulum senyum.

__ADS_1


"Kay ke atas dulu ma, bangunin anak bontotnya mama" ucap Kay sambil melenggang pergi meninggalkan mertuanya yang sedang ada di dapur.


Ceklekk...


Kay membuka pintu dan masuk kedalam kamarnya. Kay terlonjak kaget saat melihat suaminya baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Dari mana kamu" tanya Albi dengan tatapan tak bersahabat.


"Aku habis jalan-jalan keliling komplek" jawab Kay sambil menundukkan kepalanya, dia mengaku salah karena pergi tanpa ijin.


"Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa bilang lebih dulu sama aku? Apa kamu masih marah dengan masalah yang semalam?"


"Maaf" cuma itu yang keluar dari mulut Kay semakin membuat Albi marah.


Sudah cukup semalam istrinya itu mengabaikannya.


" Apa begini caramu menyelesaikan masalah ?" bentak Albi membuat Kay terlonjak kaget.


Tubuh Kay langsung bergetar, baru kali ini suaminya itu membentaknya, dulu sebelum menikahinya bahkan suaminya tidak pernah bicara dengan nada tinggi.


Kay masih tetap menunduk sambil meneteskan air matanya, ia takut sekaligus sedih melihat suaminya membentaknya.


Tak ada niat sedikitpun Kay ingin mengabaikan suaminya, dia hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan perasaannya yang campur aduk.


Belum juga hilang sedihnya karena di buang oleh keluarganya, di tambah semalam di dengar dari suaminya yang menyatakan kalau dirinya bukan anak kandung orang tuanya. Semakin campur aduk perasaan Kay saati ini.


"Maaf, aku hanya butuh waktu sendiri" lirih Kay.


"Tegakkan kepalamu dan tatap lawan bicaramu!!"


Secara perlahan Kay menegakkan kepalanya menatap suaminya dengan derai air mata.


"Maaf, maafkan aku" ucap Kay.


Albi mengabaikan permintaan maaf istrinya.


Usai memakai bajunya dia keluar dari kamar sambil membanting pintu kamarnya.


Kay memejamkan matanya sambil meremat bajunya mendengar suara pintu yang di banting suaminya.


Tubuh Kay luruh ke lantai sambil menangis tersedu-sedu, dia meremat dadanya yang terasa begitu sakit.

__ADS_1


Dia merasa di saat seperti ini tak ada satu orang pun yang mengerti perasaanya, ia mengira kalau suaminya mengerti dirinya namun ternyata salah.


la tahu kalau dirinya salah karena mengabaikan suaminya, tapi apa salah kalau dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan perasaannya.


__ADS_2