
"Lalu saya harus apa hah?, bukankah kalian yang mengusir saya dan tidak mau mengakui saya sebagai putri anda, bahkan kalian yang di sebut orang tua tidak mau sedikitpun mendengarkan penjelasan saya, anda lebih memilih diam dan membiarkan suami anda mengusir saya, lalu sekarang anda mengaku kalau saya lahir dari rahim anda. Saya justru ragu dengan kata-kata anda yang mengatakan saya lahir dari rahim anda" ucap Kay sambil memegangi pipinya.
Deg....
Tubuh Hardi seketika langsung menegang mendengar ucapan Kay.
"Kenapa diam? Apa yang aku katakan itu benar kalau aku memang tidak lahir dari rahim anda?"
"Dasar anak tidak tahu balas budi, sudah pasti kamu lahir dari rahimku, memang kau siapa yang melahirkanmu " hardik Marlyn tak terima dengan ucapan Kay.
"Apa anda yakin, bukankah selama ini anak anda hanya Rani?" sarkas Kay membuat ibunya bungkam
Kay tersenyum getir sambil menatap mereka orang tuanya.
Selama ini Marlyn selalu membeda bedakan kasih sayangnya antara Kay dan Rani, mentang-mentang Kay anak pertamanya, dia selalu menyuruh Kay agar mengalah dari Rani.
Apapun yang Rani inginkan ia selalu memenuhinya berbeda dengan dirinya. Jika Kay meminta di belikan sesuatu Marlyn selalu bilang "tidak usah beli, tadi uangnya sudah buat beli mainan adik kamu,"
Hingga sekarang perlakuan ibunya masih membekas di benak Kay.
Kay beralih menatap suaminya, lalu dia menggandeng tangan suaminya.
"Bi, ayo kita pulang aku sudah lelah" ajak Kay dengan senyum yang di paksakan.
Albi mengangguk mengiyakan ajakan istrinya, ia tahu kalau saat ini istrinya sedang tidak baik-baik saja.
Setelah membayar Albi membawa istrinya pergi dari restoran tersebut, namun sebelum sempat dia beranjak Rani kembali bersuara.
"Kak, datanglah ke acara pernikahanku dengan Vino lusa di hotel Xx" undang Rani dengan tidak tahu malunya.
Kay hanya diam saja tidak mengiyakan ucapan adiknya itu.
"Ayo sayang" ajak Albi merangkul pinggang istrinya.
Mereka menatap nanar punggung Kay yang kian lama kian menjauh.
"Sudah ayo kita pulang" ajak Hardi tak ingin mengalihkan pembicaraan, ia tak mau membahas masalah Kay di hadapan Rani.
__ADS_1
Sedangkan di dalam mobil Albi duduk di kursi penumpang bersama istrinya yang tengah melamun menatap ke arah luar jendela mobil.
Di tariknya bahu Kay hingga menghadap kearahnya, terlihat mata istrinya sudah berkaca-kaca.
"Are you okay?" tanya Albi menatap kedua mata istrinya dengan tatapan cinta.
"No, i'm not okay" jawab Kay langsung memeluk tubuh suaminya, ia menumpahkan semua tangisnya di pelukan suaminya.
"Menangislah, jika itu bisa membuatmu lebih baik, tapi setelah ini aku tidak akan pernah mengijinkan mu menangis lagi kecuali tangis kebahagiaan" ucap Albi sambil mengelus-ngelus punggung istrinya.
Hikksss.....hikssss....hikss.
Kay terus menumpahkan kesedihannya di bahu suaminya, Albi hanya diam membiarkan istrinya menumpahkan seluruh perasaannya.
Hingga tak lama Albi tak lagi mendengar tangisan istrinya, ia menengok wajah istrinya yang ternyata sudah terlelap.
Lelah menangis membuat istrinya langsung tertidur.
"Ternyata dia tertidur, pantas saja tidak ada suaranya" ucap Albi sambil mengusap jejak air mata yang ada di wajah istrinya.
Mobil yang mereka tumpangi tiba di pelataran mansion keluarga Wijaya, Albi keluar dari mobil sambil menggendong istrinya masuk kedalam rumah.
"Ketiduran kak" sahut Albi di balas anggukan oleh Alana.
Albi melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mereka berdua.
Hingga tiba di dalam kamar, Albi merebahkan tubuh istrinya, di bukanya sepatu istrinya terlebih dahulu setelah itu ia menutupi tubuh istrinya dengan menggunakan selimut sampai ke atas dadanya.
"Tidurlah yang nyenyak sayang" ucap Albi dan mencium kening istrinya.
*****
Sedangkan di tempat lain, wanita paruh baya sedang duduk di beranda belakang rumahnya sambil menatap bunga yang yang ada di hadapannya.
"Bagaimana Ar? Apa kamu sudah menemukan adikmu" tanya nyonya Amira.
"Belum mi, Arya kesulitan mencari tahu tentang Adel mi, pasalnya dia menghilang sejak bayi dan saat ini kemungkinan umurnya sudah mau menginjak 25th, dan selama itu Arya belum melihat dia, jadi Arya tidak tahu wajah Adel sekarang seperti apa" jelas Arya.
__ADS_1
Nyonya Amira mengangguk mengerti.
Kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu Nyonya Amira Dirgantara melahirkan bayi perempuan di salah satu rumah sakit yang ada di kota ini, ia memberi nama bayinya Adelia Putri Dirgantara. Dia merupakan anak kedua dari pasangan Amira Dirgantara dan Satria Dirgantara dan adik dari Arya putra Dirgantara.
Bayi mereka hilang saat sedang berada di rumah sakit, selama ini mereka sudah melacak keberadaan putrinya namun tak kunjung menemukannya juga.
"Sabarlah mi, suatu saat kita pasti bisa menemukan Adel, Arya akan berusaha semampun Arya" ucap Arya.
"Iya nak, maafkan mommy yang terus memaksamu untuk mencari tahu keberadaan adikmu" ucap Nyonya Amira sambil menatap sendu wajah putranya.
"Arya akan melakukan apa saja demi kebahagiaan mami" ucap Arya tulus sambil memeluk mommy nya.
Semenjak kehilangan bayinya ibunya selalu murung, Arya ikut sedih melihat ibunya yang seperti kehilangan semangat untuk hidup.
"Ada apa ini? Kenapa kamu peluk istri papi seperti itu" tanya tuan Satria tak suka melihat istrinya di peluk orang lain termasuk putranya.
"Papi ini pelit sekali, ini kan juga mommy Arya" protes Arya tak terima.
"Biarin saja, sana cari istri sendiri, biar tidak pelukin mommy terus" sahut tuan Satria sambil menarik tubuh putranya dan menyingkirkannya dari jangkauan istrinya.
Membuat Arya mendengus kesal akibat ulah papinya yang terlalu posesif sama maminya.
"Kamu ini sama anak sendiri aja cemburu, Arya itu kan anak kita bukan orang lain" ucap Nyonya Amira kepada suaminya.
"Biarin saja, biar dia cari istri sendiri" sahut tuan Satria sambil memeluk mesra istrinya dari samping.
"Tolong hargai aku yang jomblo ini pi," sindir Arya yang melihat orang tuanya bermesraan di hadapannya.
Dari dulu papinya tidak berubah, dia selalu mesra dengan maminya, jarang sekali dia melihat kedua orang tuanya berantem.
"Bebas, yang penting yang di peluk istri sendiri bukan istri tetangga" ucap Satria membalas mengejek putranya.
Membuat Arya jengah melihatnya, dia malas meladeni papinya lalu memilih pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang bermesraan.
"Awww....sakit honey" pekik satria karena di cubit oleh istrinya.
"Kamu ini selalu saja menggoda putramu, lihatlah dia ngambek" ucap Amira kesal dengan tingkah suaminya yang tak mau mengalah.
__ADS_1
"Aku paling tidak bisa kalau di suruh membagimu dengan yang lain honey, meskipun itu Arya putraku sendiri" ucap Satria sambil mencium pipi istrinya.
Amira hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.