My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 12. Menerima Kayla


__ADS_3

"Iya ma, Kay hamil anak Albi" jawab Albi.


Brughhh......


"mamaa..." teriak mereka secara bersamaan kecuali Kay. Dia justru bingung dengan situasi saat ini.


"Baringkan mama mu boy" ucap Rudi kepada Raka putra pertamanya, beruntung Raka cepat menangkap tubuh mama nya sehingga tidak sampai jatuh membentur lantai.


Alana dengan sigap langsung mengambil wangi-wangian untuk menyadarkan mamanya.


Setelah mendapatkan minyak kayu putih Alana kembali menghampiri Eva, dia mengoleskan sedikit minyak kayu putih ke hidung mama nya.


Sementara Alana mengurus ibu mertuanya, Rudi kini mengintrogasi sang putra.


"Sudah berapa usia kandungannya Al" tanya Rudi dengan sorot mata tajam yang di penuhi dengan amarah.


"Sudah empat minggu pa" jawab Albi.


Bugh


Bugh


"Paa..." teriak Alana dan Raka secara bersamaan.


Rudi memukul wajah putranya, ia marah dengan putra bungsunya.


Dia selalu mewanti-wanti kedua putranya untuk jangan bersikap kurang ajar dengan perempuan namun sekarang putranya justru menghamili anak orang.


Betapa kecewanya Rudi dengan putra bungsunya itu.


"Papa sangat kecewa dengan kamu Al" ucap Rudi.


"Pa, Albi bisa jelaskan, semua terjadi tidak seperti yang papa pikirkan pa" Albi memohon kepada papa nya untuk mendengarkan penjelasannya. Hati Albi sangat sakit ketika papa nya mengatakan kecewa dengannya.


"Apa yang bisa kamu jelaskan hah" sentak Rudi.


Kini Rudi beralih menatap Kay yang terus menunduk sambil meremas bajunya.


"Sejak kapan kamu berhubungan dengan putraku" tanya Rudi kepada Kay membuat Kay mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


Terlihat mata Kay yang berkaca-kaca, ia merasa bersalah kalau semua terjadi karena dirinya.


"Maaf, saya baru beberapa hari ini mengenal putra anda tuan" sahut Kay membuat Rudi membulatkan matanya.


Bagaimana bisa baru mengenal beberapa hari langsung hamil.


"Lalu anak siapa yang ada di kandunganmu itu? Apa kamu menyuruh anakku menikahimu untuk menutupi kandunganmu yang entah siapa ayah nya itu hah?" ucap Rudi dengan nada tinggi.


Membuat Kay memejamkan matanya karena takut.


"Pa bukan seperti itu, anak yang di kandungan Kay memang anak Albi pa, Albi yang meniduri Kay namun pada saat itu Albi langsung ke paris karena perusahaan Albi di sana sedang terjadi masalah" sela Albi takut papa nya menyalahkan Kay karena sudah memaksa putranya untuk menikahinya.


Bugh....


Rudi kembali memukul wajah Albi.


"Bahkan setelah menidurinya kamu malah meninggalkannya begitu saja Al" Seru Rudi.


Alana melihat kekacauan yang ada di rumahnya, ia meminta suaminya untuk menenangkan ayah mertuanya.


"Sayang, kamu tenangkan papa, kita bicarakan semuanya dengan cara baik-baik, jangan seperti ini" pinta Alana kepada Raka.


Raka mengangguk lalu mendekati papanya.


"Dosa apa yang papa lakukan dulu ka, kenapa putra papa bisa sebejat ini" lirih Rudi sambil mendudukan tubuhnya di sofa.


Alana membantu mengobati muka Albi yang memar karena pukulan keras dari ayah mertuanya.


Setelah semuanya tenang, kini mereka semua duduk di ruang tamu membahas masalah yang di lakukan Albi.


"Jelaskan sama mama Al? Kenapa semua bisa terjadi, mama kira kamu anak baik yang bisa menghargai perempuan tapi pada kenyataannya kamu sama saja dengan pria brengsek di luaran sana".


"Ma, ini semua terjadi bukan karena kemauan Albi....."


Albi pun menceritakan semua awal kejadian dirinya bisa meniduri Kay,


" Bagitu ma ceritanya"


"Dan karena kehamilannya Kay di usir oleh kedua orang tuanya ma, bersyukur pada waktu itu Albi datang tepat waktu dan membawa Kay pulang ke rumah Albi" Albi menjelaskan semua duduk permasalahannya kepada keluarganya.

__ADS_1


Kedua orang tua Albi mengerutkan keningnya, mereka tidak tahu kalau putranya membeli rumah baru.


"Ck, bahkan kamu membeli rumah pun tidak memberi tahu mama. Apa sekarang kalian sudah tinggal berdua?" decak mama Eva kepada sang putra.


"Tidak, Albi hanya kesana pagi hari saat Kay mengalami morning sickness" sahut Albi yang lansung mendapat pukulan dikepalanya.


Plakk


"Aww....kenapa mama malah memukul kepalaku" ucap Albi sambil mengusap kepalanya yang baru saja terkena pukulan dari mama nya.


"Kamu memang pantas di pukul, apa kamu kira wanita hamil hanya mengalami morning sickness aja hah, wanita hamil juga mengalami ngidam yang harus di penuhi, bagaimana kalau saat malam hari Kay menginginkan sesuatu tapi kamunya tidak ada hah" mama Eva begitu geram dengan kelakuan putranya.


Mama Eva kini beralih menatap wajah cantik Kay.


"Maafkan anak mama, Kay. Mqma berharap kamu mau menikah dengannya, dia sudah menghamilimu jadi dia harus bertanggung jawab atas kehamilanmu" ucap mama Eva kepada Kay.


"Tak apa nyonya, Albi tida perlu menikahi saya, saya bisa merawat anak ini sendiri, dan saya tidak akan menghalangi Albi dan keluarga untuk bertemu dengan anak ini nantinya, karena bagaimanapun juga kalian keluarganya" ucap Kay sambil menunduk dan tersenyum getir.


"Kenapa kamu tak mau menikah dengan putra saya" tanya Eva, menurutnya Kay wanita yang aneh.


"Karena saya tidak mau Albi menikahi saya karena terpaksa" sahut Kay.


"Saya memang belum mencintai kamu Kay, mungkin kamu pun sama sepertiku, tapi kita harus menikah demi anak yang ada di kandunganmu, jangan sampai dia lahir tanpa orang tua yang lengkap. Mungkin saat ini kita menikah karena anak yang ada di kandunganmu, tapi bukankah cinta akan hadir dengan seiring berjalannya waktu, seperti pepatah bilang cinta akan datang karena terbiasa." timpal Albi meyakinkan Kay.


"Papa tidak mau tahu, kalian berdua harus secepatnya menikah, dan kamu Kay mulai sekarang kamu harus tinggal di rumah ini, biar kita juga bisa ikut menjaga kandunganmu. Jangan ada yang egois, bagaimanapun anak yang ada di kandungan Kay butuh orang tuanya" tegas Rudi tidak mau di bantah.


Setelah itu mengucapkan kalimat seperti itu, Rudi beranjak dari tempat duduknya yang ia tempati tadi, ia berlalu begitu saja dari ruang tamu meninggalkan mereka semua.


"Mama setuju dengan papa, lusa mama akan mengurus pernikahan kalian" tegas mama Eva.


Kay hanya bisa menghela nafas kasar, ia tak punya pilihan lain selain mengikuti keputusan orang tua Albi.


"Ayo Kay ikut mama, mama akan tunjukan kamar untuk kamu" ajak mama Eva.


"Saya pulang saja nyonya" sahut Kay yang merasa tidak enak.


"Jangan panggil nyonya, panggil saya sama seperti Albi, karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantu mama, itu sama saja kamu akan menjadi anak mama" ucap Eva.


Perasaan Kay kembali hangat mendengar ucapan Mama Eva, ternyata orang tua Albi tidak seperti yang ada di pikirannya, mereka bisa langsung menerima dirinya dengan baik.

__ADS_1


"Iya maa..mama" ucap Kay yang masih merasa canggung.


Bibir mama Eva tersenyum mengembang mendengar panggilan Kay untuk dirinya.


__ADS_2