My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 34. Sabar


__ADS_3

Tiba di ruangannya Albi berdiri di depan jendela dan menatap ke arah luar jendela, dia melihat istrinya sedang berdiri sambil menunggu taksi.


Dia juga melihat Kay memberikan papper bag yang berisi makanan kepada pemulung yang sedang melintas di hadapannya.


"Rob, antar nyonya Kay pulang, dan pastikan dia aman sampai rumah" titah Albi dengan suara dingin.


"Baik tuan" sahut Robby patuh.


Albi terus memperhatikan istrinya dari dalam ruangannya, tak lama mobil Robby datang namun Kay sudah lebih dulu masuk kedalam taksi yang ia pesan.


Hingga taksi yang di tumpangi istrinya tak terlihat, barulah Albi beranjak dari depan jendela dan mendudukan bokongnya di kursi kebesarannya.


Albi menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi sambil menutup matanya.


la marah sama istrinya karena istrinya itu pergi tanpa pamit dengannya.


Saat dia membuka matanya dia menoleh kesamping namun sudah tidak mendapati istrinya, dia mencari istrinya ke seluruh ruangan yang ada di kamarnya namun tidak menemukannya.


Albi panik melihat istrinya tidak ada di kamarnya, ia takut Kay kabur karena ucapannya semalam.


Dia turun kebawah dan bertanya sama mama nya. Albi lega saat tahu dari mama nya kalau istrinya itu sedang joging.


Namun itu belum bisa menghilangkan rasa kesalnya, dan dia semakin kesal ketika melihat istrinya datang ke kantornya tanpa memberitahunya lebih dulu.


Albi tidak masalah istrinya datang ke kantor, tapi Albi ingin istrinya itu memberitahunya lebih dulu biar dia bisa menyuruh sopir untuk mengantarnya.


Dia hanya khawatir terjadi apa-apa dengan istri dan juga bayinya.


Mungkin sebagian orang akan bilang kalau Albi lebay, namun rasa sayang yang begitu besar kepada istrinya membuat dia terkadang tidak bisa mengontrol egonya.


Di sisi lain, di sepanjang perjalanan Kay menatap luar jendela sambil menatap gedung-gedung yang berjejer di sepanjang jalan.


"Sebegitu besarkah keselahanku sampai kamu tidak mau menyapaku, Bi" Gumam Kay meneteskan air matanya yang sejak tadi ia tahan.


Mungkin faktor kehamilannya membuat hatinya sangat sensitif.


Sopir taksi melihat Kay dari kaca spionnya, lalu di menawarkan tissu kepada Kay.


"Ini tissu neng" tawar sang sopir.


"Terima kasih pak" sahut Kay sambil mengambil tissu tersebut.


"Kalau lagi hamil tidak boleh sedih-sedih neng, Kasihan nanti bayinya juga ikut sedih" pak sopir menasihati Kay.


"Iya pak" ucap Kay dengan senyum yang di pakasakan.

__ADS_1


Tak terasa taksi yang di tumpangi Kay sampai di rumahnya.


*****


Di kantor Dirgantara lebih tepatnya di ruangan Satria, dia sedang mengobrol dengan anak buahnya.


"Apa yang kamu dapatkan" tanya Satria kepada anak buahnya.


"Wanita itu berasal dari keluarga Marligh tuan, lebih tepatnya putri tuan Hardi Marligh dan Nyonya Marlyn" jawab anak buah Satria.


"Hardi Marligah" ucap Satria lagi memastikan.


"Iya tuan, dia mantan kekasih nyonya Amira dulu, namun hubungan mereka kandas karena tuan Hardi ketahuan selingkuh dengan wanita yang di jodohkan oleh orang tuanya" sahut anak buah Satria.


Satria diam sesaat, pantas saja dia merasa tak asing dengan nama itu, dia baru mengingatnya sekarang.


"Dapatkan sample darah atau apapun itu, aku ingin melakukan tes DNA dengan wanita itu. Sebenarnya tanpa melakuka tes DNA pun aku yakin kalau Kay putriku, tapi aku harus memiliki bukti yang kuat untuk mengakui dia putriku."


"Baik tuan"


"Selidiki tentang Hardi, kalau dia terbukti bersalah maka aku akan menjebloskannya kedalam penjara" tegas Satria.


Anak buah Satria mengangguk patuh dan pergi dari ruangan Satria.


"Aku harus menemui Albi, kalau dia benar putri kandungku harusnya wanita itu memiliki tanda bintang di bahunya" Ucap Satria.


*****


Kay menghela nafas pelan, biasanya suaminya pukul lima sore sudah pulang paling lambat pukul tujuh malam.


Mama Eva menghampiri Kay yang masih setia menunggu putranya pulang.


"Sayang, lebih baik kamu istirahat tidak usah nunggu Albi, mungkin Albi sedang ada meeting atau lagi ada acara bersama reka bisnisnya" ujar Mama Eva.


"Tak apa ma, Kay tunggu aja kebetulan Kay juga belum ngantuk" Sahut Kay tersenyum


"Kamu sudah menghubungi suami mu belum?" tanya Mama Eva.


"Sudah ma, tapi tidak di angkat, mungkin Albi masih di perjalanan" jawab Kay mencoba menutupi masalah rumah tangganya dari sang mertua.


Tapi tanpa Kay cerita mama Eva sudah bisa menebak kalau suami istri itu sedang ada masalah.


"mama temani ya" tawar mama Eva yang merasa kasihan dengan menantunya, dia geram dengan kelakuan putranya.


"Tidak usah ma, mama istirahat aja kasihan papa sendirian" tolak Kay dengan sopan.

__ADS_1


"Yasudah mama tinggal, kalau butuh apa-apa kamu ketuk kamar mama ya" ucap mama Eva.


Kay tersenyum sambil mengangguk, dia bersyukur masih ada mertuanya yang menyayanginya.


Mama Eva pun meninggalkan Kay sendirian.


Kay kembali menonton televisi, selang berapa lama Kay menguap, dia melihat kearah jam dinding ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi suaminya masih belum pulang juga.


Kay yang sudah merasa ngantuk, dia merebahkan tubuhnya di sofa. Tak lama Kat memejamkan matanya karena matanya sudah berat minta segera di pejamkan.


Pukul 1 dini hari Albi baru tiba di rumahnya. Dia sengaja pulang malam untuk menghindari istrinya.


Saat memasuki rumah dia melihat ruang televisi yang nampak masih terang, dia juga melihat televisi yang masih menyala namun dia tidak melihat ada seseorang yang menontonya.


Albi melangkah ke ruangan tersebut, ia merasa teriris saat melihat istrinya yang terlelap di sofa dengan posisi meringkuk tanpa selimut.


Dia menghampiri istrinya, dan berjongkok di hadapan sang istri.


"Dasar nakal" gumam Albi sambil mengusap pipi mulus istrinya.


Dia merasa bersalah sudah pulang larut dan membuat sang istri menunggunya.


Kay mengerjabkan matanya karena merasa terusik dengan usapan tangan suaminya yang ada di wajahnya.


Albi menjauhkan tangannya karena melihat pergerakan istrinya.


"Kamu sudah pulang? Maaf, aku ketiduran" ucap Kay langsung mendudukan tubuhnya.


"Kembalilah ke kamar" titah Albi.


"Apa kamu sudah makan? Kalau belum aku akan membuatkannya untukmu" tanya Kay.


"Tidak usah, aku sudah makan" ketus Albi.


Kay menganggukkan kepalanya sambil menghela nafasnya sabar.


Tak ingin membuat suaminya semakin marah, Kay beranjak dari sofa dan melangkahkan kakinya menuju ke kekamarnya.


Albi mematikan televisi dan mengikuti menyusul istrinya.


Setibanya di kamar Kay langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan membelakangi suaminya.


Kay menangis dalam diam, ternyata suaminya masih belum memaafkannya.


Albi melepas bajunya dan memasuki kamar mandi setelah melepas semua bajunya.

__ADS_1


Tak lama Albi keluar dari kamar mandi dan memakai bajunya.


Albi naik ke atas ranjang, dan merebahkan tubunya.


__ADS_2