
Malam hari keluarga Dirgantara berkunjung ke mansion keluarga Wijaya atas persetujuan Albi.
"Selamat datang di mansion keluarga Wijaya tuan Satria" sapa Rudi menyambut kedatangan Satria dan keluarga.
"Senang bisa di ijinkan datang kemari" sahut Satria.
"Mari langsung saja kita makan malam bersama" ajak tuan Rudi.
Rudi mengajak keluarga Dirgantara menuju ke ruang makan, di ruang makan sudah terlihat Kay dan yang duduk di meja makan.
Mata Amira berkaca-kaca saat melihat Kay, ingin sekali dia memeluknya dan bilang padanya kalau dia ibunya, namun Amira menghargai keputusan Albi. Dia akan sabar hingga waktunya tiba nanti.
Amira memilih duduk di sampinKay yang masih terlihat kosong, Kay pun tersenyum dan mengijinkan.
"Apa kabar nak" tanya Amira kepada Kay.
"Kabar Kay baik tante" jawab Kay.
"Bagaimana dengan kandunganmu" tanyanya lagi.
"Kandungan Kay baik, bahkan dia sudah bisa memprotes daddy nya tante, kalau di marahi daddy nya dia akan langsung bereaksi dengan menendang perut Kay" jawab Kay antusias menceritakan kandungannya.
Semuanya tergelak mendengar cerita Kay yang begitu antusias, kecuali Albi yang mencebikkan bibirnya sebal.
"Anakmu pasti pintar seperti ibunya" puji nyonya Amira tersenyum sambil mengusap bahu Kay.
"Lebih baik kita makan dulu, nanti kita bisa lanjutkan lagi obrolannya" sela Rudi.
Semua mengangguk setuju, Amira tersenyum bangga saat melihat putrinya begitu telaten melayani suaminya.
Mereka makan dengan tenang, tidak ada yang bersuara sama sekali, Twins pun tidak bersuara yang ada hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Tak lama mereka semua menyelesaikan makan malamnya, dan berkumpul di ruang keluarga.
Selesai makan Nayla terus menempel sama Kay, membuat Albi kesal.
"Nay, sana peluk mamah mu, aunty Kay itu punya om Albi tapi dari tadi kamu kekepin terus" kesal Albi.
"Nay mau, mamah bial sama bang Nalen aja, Nay mau sama aunty Kay" tolak Nay, bocah kecil itu justru mengeratkan pelukannya di tubuh Kay.
"Yasudah kamu peluk papahmu aja, kasihan tuh ngga ada yang meluk" Bujuk Albi.
"Nda boleh pelit om, kata mamah halus belbagi" ucap Nayla.
"Enak aja, istri om bukan barang yang bisa di bagi-bagi Nay" seru Albi
__ADS_1
"Memang nya yang bilang aunty Kay balang siapa, om ini aneh sekali, Nay kan cuma mau pinjam aunty Kay nya sebental" ucap Nayla.
"Sebentar apaan, dari siang juga aunty nya kamu kekepin mulu" gerutu Albi kesal lalu menghempaskan tubuhnya di sebelah sang mama.
Semua terkekeh melihat perdebatan mereka memperebutkan Kay.
"Nay sini sama papah, kasihan nanti om Albinya nangis." ucap Raka mengejek adiknya.
Nayla menengok kearah Albi yang sedang bersandar di lengan omanya.
"Om Albi nangis ya" tanya Nayla polos dengan mata berkedip kedip lucu.
Albi diam saja tak menjawab, dia melengoskan wajahnya ke sembarang arah.
"Mamah tolong ambilkan balon Nay mamah" pinta Nay heboh.
"Buat apa sayang" tanya Alana.
"Buat om Albi" jawab Nayla.
Karena biasanya Nayla kalau nangis di kasih balon sama mamahnya langsung berhenti, makanya diaberinisiatif memberikan balonnya kepada Albi supaya Albi berhenti menangis.
Semua orang tertawa keras menertawakan Albi, sedangkan Albi melototkan matanya menatap keponakannya.
"Maaf jeng, di rumahku memang seperti ini, sering sekali terjadi keributan di antara mereka" ucap Mama Eva setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Jodohkan saja, dulu putra sulung saya juga saya jodohkan" usul Mama Eva.
"Sepertinya idemu bagus" sahut Amira senyum penuh arti.
Arya menghela nafas panjang, bukan belum mau menikah, dia hanya belum menemukan wanita yang pas di hatinya.
Setelah cukup lama mengobrol akhirnya mereka pamit pulang.
"Tante pulang dulu sayang, main-mainlah ke rumah tante biar tante ada temannya" ucap Amira memeluk Kay dan mencium pipi kanan dan kirinya
"Iya lain kali tante" sahut Kay tersenyum manis.
"Hai bumil, kapan kita ngopi lagi" tanya Arya membuat Kay mencebikkan bibir sebal.
"Malas ngopi sama kamu, berisik" ketus Kay.
"Kapan kalian ngopi berdua, kenapa aku tidak tahu" sela Albi cemburu.
"Waktu istrimu lagi galau, dia bahkan memesan banyak makanan dan menghabiskannya" ucap Arya meledek Kay.
__ADS_1
Kay melototkan matanya menatap Arya, bukan nya takut Arya justru menjulurkan lidahnya menggoda Kay.
Albi menghela nafas pelan, sebenarnya dia cemburu melihat interaksi mereka berdua, apalagi ia baru tahu kalau mereka berdua pernah ngopi berdua. Ingin rasanya Albi marah, namun dia sadar kalau Arya merupakan kakak kandung Kay.
"Lihatlah tante, anak tante ngeselin" rajuk Kay mengadu sama Amira. Amira tersenyum sambil mengelus rambut panjang Kay.
Satria mendekati putranya dan menarik kerah kemejanya bagian belakang.
"Ayo pulang, kamu ini suka selalu menggoda anak orang" ucap Satria.
Kay yang melihat itu tersenyum sambil menjulurkan lidahnya meledek Arya.
Mereka sudah seperti adik kakak yang saling meledek satu sama lain.
Satria bersama keluarga pamit kepada semuanya, mereka sudah cukup senang bisa bertemu Kay meskipun Kay belum mengethaui mereka sebagai keluarganya.
Setelah keluarga Dirgantara pergi, Albi membawa istrinya masuk kedalam kamarnya.
Albi duduk di atas tempat tidur dan bersandar di sandaran ranjang, Kay tidur dan menaruh kepalanya di atas dada suaminya dan memeluknya.
"Sayang, apa kamu tidak ingin mencari keluarga kandungmu hmm" tanya Albi hati-hati.
"Entahlah sayang, aku takut mereka sudah bahagia dan melupakan aku." sahut Kay takut.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Bisa saja mereka sedang kebingungan mencari kamu selama ini" tanya Albi.
"Aku tidak tahu, aku juga tidak tahu harus mencari mereka kemana" jawab Kay.
"Apa kamu ingin bertemu dengannya" tanya Albi.
"Apa kamu sudah menemukannya" tanya Kay bangun dan menatap kedua mata suaminya.
"Jika kamu ingin maka aku akan menemukannya" jawab Albi sambil mengusap pipi lembut istrinya.
"Lalu bagaimana dengan keluarga Marligh" tanya Albi ingin tahu.
Kay hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Mereka tetap orang tuaku meskipun mereka membenciku, aku senang mereka mau merawatku meskipun aku bukan anak kandungnya" ucap Kay tulus.
Tak sedikitpun dia memiliki rasa dendam di hatinya. Namun selama ini Kay belum tahu cerita yang sebenarnya kenapa dia bisa berada di keluarga Marligh.
Albi bangga memiliki istri seperti Kay, istrinya tak hanya cantik di wajahnya saja namun hatinya juga cantik.
"Jika kamu sudah siap maka aku akan menemukanmu dengan keluarga kandungmu" ucap Albi.
__ADS_1
Kay menatap dalam kedua bola mata suaminya, ia yakin kalau suaminya sudah mengetahui keluarga kandungnya.