
"Sayang" Albi masuk bersama dengan dokter bersalin.
"Biii" sahut Kay lemah.
"Bertahanlah demi aku dan baby" ucap Albi mencium kening istrinya sambil meneteskan air matanya.
Kay tersenyum sambil mengangguk lemah menatap suaminya.
Dokter mulai melakukan pembiusan, membuat area bawah tubuh Kay mati rasa.
Sementara di luar ruangan, Arya dan Raka baru saja tiba di rumah sakit bersama Alana.
Mereka dari kantor langsung meluncur ke rumah sakit setelah mendapat kabar kalau Kay mengalami kontraksi.
"Ma, gimana Kay" tanya Alana kepada mertuanya.
"Dokter sedang melakukan operasi caesar" jawab Mama Eva.
Alana mengangguk lalu duduk di sebelah Mama mertuanya. Mereka semua berdoa untuk keselamatan Kay dan juga baby nya.
"Apa yang terjadi pa, kenapa bisa seperti ini" tanya Arya mengkhawatirkan keadaan adiknya.
"Semua terjadi karena keluarga Marligh... "jawab Satria menceritakan semuanya kepada sang putra.
Tangan Arya mengepal kuat hingga punggung tangannya memutih.
la marah mendengar adiknya di perlakukan sedemikian rupa oleh keluarga Marligh.
Arya duduk di sebelah daddy nya, dia akan fokus melihat keselamatan adiknya terlebih dahulu, setelah itu baru dia akan mengurus keluarga Marligh.
Tak lama terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan, semua mengucap syukur saat mendengar suara tangis bayi tersebut.
Oeekk....
Oeekkk
Oekkk
"Dad, itu suara cucu kita" ucap Amira memeluk suaminya.
"Iya mom, kita sudah menjadi opa dan oma sekarang" sahut Satria menangis haru sambil memeluk istrinya.
Tak lama Albi keluar dan langsung memeluk mama nya
"Maafkan Albi ma, maafkan Albi yang selalu membuat mama kesal, maafkan Albi yang terkadang suka membantah ucapan mama" melihat perjuangan istrinya melahirkan anak nya membuat Albi teringat dengan mama nya yang sudah melahirkan serta merawatnya sejak masih di dalam kandungan.
Albi merasa banyak dosa dengan sang mama.
"Sudahlah, mama bangga mempunyai putra seperti kamu" ucap mama Eva sambil menepuk pelan bahu Albi.
__ADS_1
Albi melepas pelukannya dari tubuh mama nya.
"Bagaimana kondisi Kay, boy" tanya Rudy.
"Kay baik-baik saja pa, dia sedang beristirahat" jawab Albi tersenyum.
Semua yang ada di situ merasa lega mendengar kondisi Kay.
"Selamat sudah menjadi ayah sekarang, kini tanggung jawabmu bertambah, kamu tidak cuma seorang suami tapi juga seorang ayah. Sayangi anak dan istrimu bahagiakan dia, jangan sampai kamu mengecewakan mereka" ucap Rudi menepuk bahu putranya.
"Iya pa, terimakasih" ucap Albi.
Amira mendekati Albi dan menatapnya.
"Terima kasih sudah menjaga dan selau melindungi putri tante," ucap Amira.
"Albi hanya menjalankan kewajiban Albi sebagai suami Albi tan. Albi terima kasih sama tante karena sudah melahirkan putri yang hebat seperti Kay" ucap Albi.
Rudi dan yang lainnya bingung mendengar obrolan Albi dan Amira, mereka tidak mengerti dengan maksud mereka berdua.
Selama ini Albi belum menceritakan kalau keluarga Dirgantara adalah keluarga kandung Kay, mereka tahu kalau Kay bukan putri kandung Hardi tapi mereka tidak tahu kalau Kay putri keluarga Dirgantara yang hilang.
"Sebentar, maksud kamu apa Al? papa ngga ngerti" sela Rudy.
"Kay anak kandung nyonya Amira dan tuan Satria pa, Kay di nyatakan hilang setelah beberapa hari di lahirkan" jawab Albi.
"Ya tuhan, pantas saja Kay mirip dengan tuan Satria daripada Hardi Marligh" ucap Rudi sambil menepuk bahu Satria.
"Silahkan tuan Albi, baby nya sudah bisa di adzani" ucap Perawat.
"Baik sus" sahut Albi.
Dia masuk kedalam ruangan dan suster langsung memberikan bayi berjenis kelamin laki-laki itu kepada Albi.
Albi mengadzani putranya sambil meneteskan air mata, ia tak menyangka sekarang dia sudah menjadi seoarang ayah.
Usai di adzani perawat kembali membawa bayi tersebut.
Albi melihat perawat mendorong brankar istrinya dan memindahkannya ke ruang perawatan, Albi bisa melihat wajah pucat istrinya yang masih terlelap.
Setelah di pindahkan ke ruang perawatan mereka semua masuk kedalam ruangan Kay. Perawat masuk mendorong baby box kedalam ruangan Kay.
Semua gemes melihat bayi mungil yang ada di dalam box tersebut.
"Kau sudah menyiapkan nama Al ?" tanya Raka.
"Kaivan Arkatama WIJAYA"
"Nama yang bagus" ucap Rudi dan juga Satria.
__ADS_1
*****
Sedangkan di rumah Hardi sedang terjadi pertengkaran besar. Hardi marah saat tahu Rani yang menjebak Kay.
"Papah tak menyangka sama kamu Rani, Kenapa kamu tega menjebak Kay hah, kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu menyukai Johan, dengan begitu Kay tidak akan menjadi korban"
"Karena kebodohan kamu itu membuat keluarga kita hancur, dan bahkan saat ini perusahaan kita terancam hancur" lanjut Hardi membentak Rani.
"Lalu Rani harus bagaimana pah, papah melarang Rani untuk bercerai dari Vino. apa papah meminta Rani untuk pasrah melihat kak Vino bermain wanita di depan mata Rani sendiri hah" sentak Rani.
"Itu salahmu sendiri, kalau dari awal Vino menikah dengan Kay tidak akan ada kejadian seperti ini" sahut Hardi.
"Dan kamu mah, aku sudah bilang jangan mengusik Kay tapi kalian nekat mendatangi Kay dan meminta Kay untuk menceraikan Albi. Apa kalian bodoh harusnya dengan melihat kedekatan mereka kamu bisa menebak kalau Albi begitu menyayangi istrinya." ucap Hardi marah.
Marlyn berdiri dari tempat duduknya menatap tajam kearah Hardi.
"Kamu menyalahkanku lantas bagaimana dengan kesalahanmu pah, bahkan tindakanmu jauh lebih gila. kamu mengambil anak mantan kekasihmu lalu aku yang di suruh mengasuhnya. Apa kamu pikir aku tidak punya hati hah" ucap Marlyn dengan nada tinggi.
"Kalau aku tidak mengambil bayi itu, dari dulu kamu sudah masuk Rumah sakit jiwa karena kehilangan anakmu itu" sahut Hardi.
#Flasback On#
"Bagaimana kondisi putri saya dok" tanya Hardi.
"Maaf tuan, bayi anda tidak bisa di selamatkan, kelahiran prematur membuat bayi anda mengalami gagal jantung" jawab dokter.
"Ba-yi saya meninggal dok" tanya Hardi dengan mata berkaca-kaca.
Dokter menganggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan kondisi istri saya dok" tanya Hardi.
"Anda bisa melihatnya tuan, nyonya Marlyn terus berteriak histeris setelah mengetahui bayinya meninggal" ucap dokter.
Hardi mengangguk lantas masuk kedalam ruangan Marlyn.
Terlihat perawat sedang memegangi Marlyn yang terus memberontak.
"Bagaimana ini dok" tanya Hardi.
"Saya akan memberikan suntikan penenang untuknya" jawab Dokter.
Dokter memberikan suntikan penenang kepada Marlyn, dan tak lama Marlyn mulai tenang dan memejamkan matanya.
"Apa istri saya bisa sembuh dok" tanya Hardi.
"Kemungkinan istri anda akan sembuh setelah memiliki anak lagi tuan, untuk lebih jelasnya anda bisa membawanya ke psikiater tuan" ucap dokter tersebut.
Hardi mengangguk mengerti, dia menyusuri lorong rumah sakit, tak sengaja dia melihat Amira yang sedang di dorong di brankar seperti mau melahirkan.
__ADS_1
"Amira" gumam Hardi.