
"Sayang, ayo masuk, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan" ucap Albi membuat Kay menoleh keasal melihat suaminya yang menyusulnya.
"Tolong Bi, susah bangunnya perutnya kegedean" rengek Kay sambil merentangkan kedua tangannya.
Albi mendengus kesal, sudah tahu perutnya besar masih aja banyak tingkah.
"Hai nyonya, memangnya siapa yang suruh kamu duduk di sini, kalau mau duduk tuh di kursi, susah kan bangunnya" omel Albi sambil membantu istrinya berdiri.
"Dedeknya minta main air" ucap Kay mencari alasan.
"Dedeknya apa kamunya hmm" gemas Albi sambil memencet hidung istrinya.
Sedangkan tangan satunya memukul bokong sintal istrinya gemas, istrinya ini tidak bisa diam.
"Iya Bi maaf," ucap Kay mencebikkan bibirnya sebal.
"Maaf-maaf, jangan di ulangi lagi, nanti kalau kamu jatuh ke kolam gimana" oceh Albi sambil melepaskan tangannya dari hidung istrinya.
"Renang lah, kan aku bisa renang" sahut Kay ngeyel.
"Ngga usah ngeyel, sudah gerimis ayo masuk" ucap Albi.
Albi merangkul bahu istrinya dan membawanya masuk kedalam rumah.
Mama Eva terkekeh melihta wajah cemberut menantunya, ia bisa menebak kalau menantunya itu habis di marahi putranya.
"Kenapa bibirnya Kay" goda mama Eva menahan tawa.
"Tanya saja putranya ma, cuma duduk di tepi kolam aja ngga boleh" sahut Kay sambil melirik kearah suaminya
"Bukan ngga boleh sayang, aku takut kamu nyungsep" timpal Albi menghela nafas sabar.
"Kan aku sudah besar, masak nyungsep" balas Kay.
"Pinggir kolam itu licin sayang, nanti kalau kamu kepleset terus kejebur Ke kolam gimana" Albi tak mau kalah.
Mama Eva dan papanya tergelak melihat putra dan menantunya yang terus berdebat, mereka berdua tak ada yang mau mengalah.
*****
Keesokan harinya, Satria sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit mengambil hasil tes DNA kemarin.
"Sayang, sudah belum" panggil Amira tak sabar.
"Haiss... lya baby sebentar" sahut Satria buru-buru memaka Kemejanya.
Istrinya tak sabaran ingin segera mengetahui hasil tes DNA tersebut.
"Kamu ini lama sekali, cuma pakai kemeja aja lama" gerutu Amira.
Satria menghampiri istrinya dan mencium bibirnya gemas, setelah cukup lama Satria melepas tautan bibirnya, Satria mengusap bibir istrinya yang membengkak akibat ulahnya.
"Ayo" ajak Satria tersenyum.
__ADS_1
Amira merangkul lengan suaminya, mereka menaiki mobil menuju ke rumah sakit.
Mereka ketemuan dengan Arya dan juga Albi di rumah sakit, ia ingin Albi tahu langsung hasil tes DNA antara dia dan Kay, biar tidak ada kecurigaan di antara keduannya.
"Ayo masuk" ajak Satria ketika sampai di rumah sakit, dia melihat Albi dan juga Arya yang sudah sampai lebih dulu.
Ceklek...
Mereka berempat masuk kedalam ruang dokter.
"Mana hasil tes DNA nya" tanya Satria to the point, padahal dokter belum mempersilahkan mereka duduk.
"Ini tuan" ucap Dokter sambil memberikan hasil tes DNA yang masih tersegel kepada Satria.
Dengan jantung yang berdegub kencang Satria membuka amplop tersebut secara perlahan, Semua tegang melihat kearah Satria.
"Cepat dad" desak Arya, ia juga tidak sabar ingin mengetahui hasil tes tersebut.
Satria mengeluarkan surat hasil tes DNA dari dalam amplop tersebut dan membacanya.
99% hasil tes tersebut menyatakan kalau Satria merupakan ayah biologis Kayla.
"MOM" panggil Satria dengan mata berkaca-kaca.
la tak menyangka akhirnya bisa bertemu dengan putri kandungnya yang selama ini ia cari.
Amira langsung memeluk suaminya dan menangis haru, ia masih punya kesempatan bertemu dengan putrinya.
"Adel ketemu Dad" lirih Amira.
"Iya mom" sahut Satria.
Arya juga menangis haru, akhirnya ia bisa bertemu dengan adiknya.
Akhirnya mereka memutuskan keluar dari ruangan itu, dan mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.
"Bagaimana Al, anda bisa lihat sendiri hasilnya bukan" tanya Satria sudah tidak lagi memanggil Albi dengan Sebutan tuan.
Albi mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Saya pelan-pelan akan membicarakan masalah ini dengan istri saya dulu tuan Satria, saya takut istri saya shock dan akan membahayakan kandungannya." jawab Albi.
Amira dan Satria mengangguk mengerti, Satria pernah menemani istrinya hamil tentu dia tahu kekhawatiran Albi.
"Tapi bolehkan saya bertemu dengan Kay?" tanya Amira.
"Boleh, anda bisa datang ke kediaman Wijaya" jawab Albi tersenyum.
Dia juga ikut bahagia mengetahui istrinya masih memiliki keluarga kandung.
"Lalu apa yang akan anda lakukan kepada keluarga Marligh" tanya Albi menatap Satria.
Satria mengepalkan tangannya mendengar nama keluarga Marligh. Dia marah dengan Hardi yang ternyata sudah mengambil putrinya.
__ADS_1
"Nanti kau akan tahu" jawab Satria tersenyum penuh maksud.
"Jangan gegabah, atau anda akan di benci oleh Kay nantinya, meskipun Hardi bukan keluarga kandungnya tapi dialah yang mengasuhnya sejak kecil." ucap Albi memperingati Satria
Meskipun saat ini Kay sedang kecewa dengan keluarga Marligh, Albi yakin kalau istrinya itu pasti masih memiliki rasa sayang terhadap kedua orang tuanya itu, bagaimanapun Hardi dan Marlyn yang merawatnya sejak bayi.
"Aku tahu, aku akan pikirkan lagi hukuman apa yang pantas untuk keluarga Marligh" ucap Satria.
Setelah cukup lama mengobrol Albi pamit pulang terlebih dahulu, dia memilih pulang daripada kembali ke perusahaanya.
****
"Sayang" teriak Albi memanggil istrinya.
"Ada apa kamu teriak-teriak" tanya mama Eva.
"Istri Albi mana mom" tanya Albi.
"Dia sedang camping bersama Nayla di halaman belakang" jawab Mama Eva.
Albi menganga, tingkah istrinya makin hari makin random.
"Camping ma" tanya Albi memastikan pendengarannya.
"Iya, katanya dia bosan" ucap mama Eva.
Albi menggelengkan kepala, istrinya ini aneh, dia ajak liburan tidak mau malah milih camping di rumah.
"Albi kebelakang dulu ma, ibu hamil satu itu semakin meresahkan" ucap Albi membuat mama Eva terkekeh.
Albi melepaskan dasinya serta jasnya dan menaruhnya di sofa, kemudian dia menyusul istrinya ke halaman belakang.
"Sayang kamu lagi ngapain" tanya Albi ketika jarak dia sudah dekat dari tenda yang istrinya tempati.
"Bi lihat, Aku lagi camping sama Nayla" adunya kepada suaminya
"Iya om, ini selu sekali" sahut Nayla girang.
"Selu-selu, camping gini doang di bilang seru, seruan juga di Villa Opa" ucap Albi.
"Bialin, silik aja bisanya" ketus Nayla.
Albi mendengus sebal dengan keponakannya itu.
"Ayo liburan sayang, dari pada di sini kamu cuma di suruh ngasuh bocah itu doang" ucap Albi sambil melirik ke arah Nayla yang sedang menatapnya tajam.
"Aunty Kay nya nda mau, jadi nda usah di paksa" sahut Nayla galak sambil melipat tangannya di depan dada.
"Om kan ngajakin aunty Kay, bukan kamu, kenapa kamu yang jawab" seru Albi.
"Nay mewakili aunty Kay, lya kan aunty" sahut Nayla minta dukungan sama Kay.
"Iya sayang" ucap Kay.
__ADS_1
"Itu dengelin" ucap Nayla tersenyum penuh kemenangan karena merasa mendapat pembelaan dari Kay.