My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 8. Laura


__ADS_3

Setelah mengantar Kay berbelanja Albi lansung meluncur ke kantornya, ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Tiba di gedung New Saphire Albi langsung di sambut oleh Robby.


"Selamat siang tuan" sapa Robby.


"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Albi, saat ini Albi dalam mode kulkas sepuluh pintu, super dingin.


Dia langsung menuju ke ruangannya di ikuti Robby di belakangnya.


"Jangan ada yang menggangguku hari ini Rob" titah Albi yang sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.


"Tapi tuan, nanti ada meeting bersama perusahaan dari jepang" ucap Robby.


Albi menghela nafas panjang, tidak bisakah dirinya santai sejenak.


"Baiklah, kamu siapkan berkasnya saja" ucap Albi.


Robby mengangguk mengiyakan, setelah itu dia pergi keluar dari ruang kerja Albi.


Albi duduk di kursi kebesarannya sambil memainkan pulpen, ia tak fokus mengerjakan pekerjaanya. sejak tadi dia hanya memikirkan bagaimana caranya ngomong sama mamanya nya tentang Kay.


"Arggghhhh....." teriak Albi sambil mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


"Apapun yang terjadi nanti aku harus berani ngomong sama mama, aku tidak boleh menjadi pria pengecut" gumam Albi.


Albi kembali fokus mengerjakan pekerjaannya, ia sudah memutuskan untuk bicara dengan mamanya, nanti setelah pulang kerja ia akan langsung menemui mamanya di mansion utama keluarga Wijaya.


Tak perduli nanti mamanya nya akan marah atau bagaimana yang penting dia sudah jujur.


Tak mungkin juga ia terus menyembunyikan Kay dari keluarganya, bangkai yang di simpan pasti akan tercium juga.


Hingga tiba-tiba Robby masuk kedalam ruangan Albi.


"Ada apa Rob" tanya Albi sambil mendongakkan kepalanya.


"Meetingnya akan segera di mulai tuan, tuan takeshi sudah menunggu di ruangan rapat" ujar Robby.


"Baik, saya akan segera kesana" kata Albi sambil bangkit dari tempat duduknya.


Kemudian dia berjalan dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kerjanya menuju ke ruang meeting.


Ceklek....


"Selamat datang di perusahaan saya tuan Takeshi" sapa Albi ketika masuk kedalam ruangan meeting sambil mengulurkan tangannya kepada tuan Takeshi.


"Suatu kehormatan bagi saya bisa bekerjasama dengan anda tuan Albi" ucap tuan Takeshi sambil menyambut uluran tangan Albi kepadanya.

__ADS_1


Albi pun mempersilahkan mereka kembali duduk.


Meeting pun di mulai, mereka membahas konsep pembangunan hotel yang akan mereka kerjakan.


"Baik, saya suka konsep anda tuan. kapan pembangunannya akan di mulai" Albi sangat puas dengan konsep yang di tawarkan oleh perusahaan dari Jepang tersebut.


"Kemungkinan bulan depan kita akan mulai mengerjakannya" jawab tuan Takeshi.


Albi mengangguk setuju, semakin cepat di kerjakan akan semakin lebih baik.


Mereka berdua pun menandatangi surat kontrak kerja sama dengan perusahaannya.


Hampir satu jam lebih akhirnya meeting mereka selesai. Tuan Takeshi beserta asistennya pamit undur diri meninggalkan perusahaan New Saphire.


Albi kembali keruangannya, dan kembali berkutat dengan berkas-berkasnya.


Hingga pukul 7 malam Albi memutuskan untuk pulang, dia merapihkan semua berkas yang berserakan di atas meja kerjanya dan mematikan laptopnya.


Usai semuanya rapih barulah Albi beranjak dari ruangannya dan pergi meninggalkan gedung perusahaan miliknya.


Albi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil menikmati suasana malam yang ada di kotanya.


Mobil Albi memasuki pelataran mansion orang tuanya.


Telihat ada sebuah mobil yang entah milik siapa yang juga parkir di pelataran rumahnya, sepertinya di rumahnya sedang kedatangan tamu.


"Lihatlah, akhirnya yang kita tunggu datang juga" ucap Eva sambil menghampiri putranya.


"Malam ma" Sapa Albi sambil mencium pipi mama nya.


"Kenalin nih Al, namanya Laura anak teman mama, dia baru saja pulang dari luar negeri menyelesaikan study nya" ucap Eva yang begitu antusias meperkenalkan Laura kepada putranya.


Albi menghela nafasnya pelan, sepertinya dia harus menundanya lagi untuk cerita dengan sang mama.


"Hmmmm" gumam Albi tanpa minat.


Laura pun bangun dari tempat duduknya dan menghampiri mereka berdua, Laura mengulurkan tangannya kepada Albi mengajaknya berjabat tangan.


Albi pun menerimanya ajakan berjabat tangan dengan Laura sebagai bentuk penghormatan.


"Laura" ucap Laura sambil tersenyum memperkenalkan diri.


"Albi" sahut Albi dengan wajah datar.


Setelah itu Albi melepaskan jabatan tangannya dengan Laura.


"Albi lelah ma, mau ke kamar dulu" ucap Albi menghindari Laura

__ADS_1


Dia malas meladeni mama nya yang tak pernah menyerah menjodohkannya dengan anak teman-temannya, padahal dia sering menolaknya namun mama nya tidak pernah kapok.


"Nanti dulu Al, kamu ngobrol dulu sama Laura, kasihankan dia sudah jauh-jauh datang kemari ingin bertemu kamu" bujuk Eva kepada putranya.


Albi hanya menaikkan bahunya acuh, lalu pergi begitu saja naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.


Sampai di dalam kamarnya Albi langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya.


"Apa yang sedang Kay lakukan ya, apa dia sudah minum susunya atau belum" gumam Albi yang tiba-tiba kepikiran dengan Kay.


"Lebih baik aku mandi, setelah itu aku akan menengoknya" imbuhnya.


Albi pun bangkit dari tempat tidurnya, lalu dengan langkah gontai Albi jalan menuju kekamar mandi, di bukanya semua bajunya dan dia mengguyur tubuhnya di bawah pancuran air shower.


Tiga puluh menit kemudian Albi keluar dari dalam kamar mandi, ia menuju ke walk in closet untuk memakai bajunya.


Usai memakai baju Albi bersiap-siap untuk menemui Kay.


"Om Albi mau kemana" tanya Narendra ketika melihat omnya baru saja keluar dari kamar.


"Om Albi mau keluar boy" jawab Albi.


"Boleh nda Narend ikut" pinta Narendra dengan tatapan memohon.


Albi menghela nafasnya, keponakannya itu selalu saja mengikutinya.


"Yasudah ayo, tapi bilang dulu sama mama sana" ucap Albi.


Narendra pun langsung lari mencari keberadaan mommy nya.


"Mommy, Narend mau ikut om Albi ya" ucap Narendra meminta izin kepada mamanya yang sedang duduk bersama suaminya.


"Memangnya om Albi mau kemana" tanya Alana.


"Tidak tahu, Narend cuma mau ikut saja soalnya bosen di rumah terus" sahut Narendra tak mengerti om nya akan pergi kemana.


"Yasudah sana tapi jangan merepotkan om Albi" ucap Alana memperingati putranya.


Narendra pun mengangguk dan pergi menemui Arga yang sudah menunggunya di bawah, sepertinya Laura juga sudah pergi dari rumahnya.


"Bagaimana Albi bisa laku, kalau anak-anakmu terus mengikutinya, pasti orang akan mengira kalau Albi sudah mempunyai anak" ucap Alana.


"Biarin saja, dengan begitu kita bisa bermesraan tanpa gangguan darinya" sahut Raka mengerlingkan matanya nakal.


"Ingat, masih ada Nayla pap" ucap Alana mengingatkannya.


Sedangkan di bawah mama Eva sedang memarahi putranya.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih Al, Laura itu cantik kenapa kamu masih tidak tertarik dengannya, memangnya kamu mau mencari wanita yang seperti apa? Semua wanita yang mama kenalkan sama kamu, kamu selalu menolaknya" cerocos mama Eva.


__ADS_2