
Waktu berjalan begitu cepat, kandungan Kay sudah memasuki usia sembilan bulan, semakin hari Albi semakin posesif dengan istrinya. Bahkan ia sampai rela tidak pergi ke perusahaannya demi menjaga istrinya, ia benar-benar menjadi suami siaga untuk istrinya.
Satria belum menemui keluarga Marligh, dia menuruti saran dari Albi, ia tak mau gegabah dalam mengambil keputusan, bisa saja dia membuat perusahaan Marligh gulung tikar atau memenjarakan Hardi, tapi dia tidak melakukannya.
Jangan sampai tindakannya itu membuat putrinya membencinya, ia akan bersabar menunggu waktu yang tepat.
Sedangkan di apartemen Rani semakin makin hari kelakuan Vino semakin menjadi. Bahkan pria itu sudah berani membawa perempuan lain masuk kedalam apartemennya.
"Siapa dia kak? Kenapa kaka membawa perempuan lain ke apartemen ini" tanya Rani tak terima ketika melihat Vino membawa masuk perempuan lain kedalam apartemennya, bahkan suaminya itu tak segan-segan merangkulnya di hadapannya.
"Ini apartemenku, jadi tidak ada urusannya denganmu, kalau kau tidak suka kau bisa keluar dari apartemenku" sahut Vino.
"Aku istrimu kak, apa tidak bisa sedikitpun kak Johan menghargai perasaanku?, aku bukan patung kak, aku punya perasaan" sentak Rani yang sudah merasa lelah dengan tingkah suaminya yang semakin menajdi jadi.
"Terserah" ucap Vino acuh.
Dia duduk di sofa dan menarik tangan wanita bayarannya, membuat wanita itu jatuh terduduk di atas kedua paha Vino.
Rani yang sudah muak memilih masuk ke kamarnya dan menguncinya.
Selang berapa lama Rani mendengar suara ******* dari luar kamar, suara kenikmatan seseorang yang sedang memadu kasih.
Rani menangis, dia memukul dadanya yang terasa sesak.
Suara ******* itu semakin kencang, Rani yang sudah tidak tahan akhirnya beranjak dari ranjangnya, ia berganti pakaian dan mengambil tasnya, lalu keluar dari kamar.
la melihat suaminya sedang bercinta dengan begitu lia*nya bersama wanita bayarannya, Rani pura-pura tak melihatnya dan menulikan telinganya, keluar dari apartemennya.
Vino tersenyum tipis saat melihat Rani keluar dari apartemennya.
"CUKUP! " ucap Vino, Vino meminta perempuan itu menghentikan kegiatannya.
"Tapi tuan" sahut wanita itu dengan wajah kecewa, dia belum mencapai puncaknya lantas suruh menghentikannya.
"Aku bilang cukup," sentak Vino membuat wanita itu terlonjak kaget.
__ADS_1
Vino memberikan bebebrapa lembar uang kepada perempuan itu dan memintanya segera pergi dari apartemennya.
Tujuan dia membawa perempuan ke apartemennya untuk membuat Rani sakit hati, dan berharap wanita itu segera menceraikannya.
Rani masuk kedalam mobil, dan mobil itu langsung melesak dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah orang tuanya. Hanya lima belas menit dia sampai di rumah orang tuanya.
Rani masuk kedalam rumah dengan berderai air mata.
"Kamu kenapa sayang" tanya Marlyn.
"Hikss... Hiksss... Rani ingin pisah dengan kak Vino mah," jawab Rani.
"Kenapa" tanya Marlyn.
"Kak Vino membawa perempuan lain masuk kedalam apartemen yang kita tinggali mah, bahkan mereka bercinta di ruang tamu" jawab Rani sambil menangis di pelukan mamahnya.
"Kurang ajar" geram Marlyn mendengar ucapan sang putri.
"Gimana ini pah, papah harus bilang sama tuan Baskoro, kita tidak bisa membiarkan Rani terus di sakiti sama Vino pah, jika perlu cerai saja" ucap Marlyn kepada Hardi.
"Tidak bisa mah, aku takut tuan Baskoro mancabut investasinya dari perusahaan kita" jawab Hardi.
Setelah menikah Baskoro langsung memberikan suntikan dana kepada Perusahaan Marligh. Yang Hardi takutkan kalau sampai Vino dan Rani cerai Maka Baskoro juga akan mencabut investasinya.
"Biarkan kak Vino kembali sama kak Kay aja mah, karena selama ini kak Vino masih menyimpan perasaan sama kak Kay, dengan begitu keluarga ini masih berhubungan baik dengan keluarga Baskoro" cetus Rani.
"Jangan gila kamu Rani, Kay sudah memiliki suami dan bahkan sebentar lagi dia akan melahirkan" bentak Hardi tidak setuju dengan ide gila putrinya.
Rani menegakkan tubuhnya sambil menghapus air matanya dan menatap ke arah sang papa.
"Bukannya itu lebih bagus pah, kalau kak Kay tidak hamil Rani yakin Albi tidak akan menikahi kak Kay. Bisa jadi selama ini Albi menikahi kak Kay karena terpaksa" ucap Rani
"Benar yang di katakan Rani pah, biar Rani yang menggantikan posisi Kay, mamah yakin keluarga Wijaya bisa menerima Rani" timpal Marlyn.
"Kenapa harus Kay mah, dia sudah tidak ada hubungannya dengan keluarga ini" ucap Hardi.
__ADS_1
"Bahkan saat ini papah masih membela Kay dari pada Rani anak kandungmu sendiri, dari awal Rani hanya menggantikan posisi Kay menikah dengan Vino, dan sekarang giliran Kay yang harus mau bertukar posisi dengan Rani" ucap Marlyn semakin tidak masuk akal.
Hardi menghela nafas berat, kepalanya merasa berdenyut karena tiap hari ada aja masalah yang menimpa keluarganya.
"Lebih baik kita temui dulu keluarga Baskoro" ucap Hardi tegas.
Keesokan harinya mereka langsung bertandang ke rumah keluarga Baskoro.
"Ada apa tuan Hardi, tumben pagi-pagi sudah datang kerumah saya" ucap Baskoro.
"Dimana Vino? Saya ingin bertemu dengan anda dan juga putra anda, ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada anda" ucap Hardi dengan wajah datar.
"Ada apa papah mertua mencari saya" sahut Vino yang baru saja datang ke rumah orang tuanya.
"Bagus, jika kamu sudah ada disini" ucap Hardi
"Lebih baik kita duduk dulu tuan Hardi, tidak baik kita mengobrol sambil berdiri seperti ini" sela Baskoro.
Akhirnya mereka duduk di ruang tamu, suasana mendadak tegang.
"Katakanlah nak" titah Hardi kepada Rani.
"Saya mau bercerai om, Rani sudah tidak kuat menjalani pernikahan dengan kak Vino, selama ini kita tidur di kamar terpisah dan tak pernah sekalipun kak Vino menyentuh saya.
Dan puncaknya tadi malam, kak Vino sudah berani membawa perempuan lain ke apartemen kami, bahkan mereka berdua bercinta di ruang tamu." ucap Rani dengan wajah terlihat sendu.
"Apa benar begitu Vino? " tanya Baskoro kepada putranya.
"Benar, karena dari awal Vino tidak mencintai Rani, tapi kalian tetap memaksa kami untuk menikah. Vino hanya mencintai Kay bukan Rani" jawab Vino jujur.
"Tapi Kay sudah menikah Vino, bahkan sebentar lagi dia sudah mau punya anak" ucap Baskoro sambil menghela nafas kasar.
"Vino tidak peduli, kalian bisa meminta Kay bercerai dengan Albi, biarin aja Albi mengasuh bayinya sendiri" sahut Vino tanpa beban.
Baskoro bingung, di sisi lain dia takut menyinggung keluarga Wijaya. Tapi dia juga tak mau membuat putranya semakin menggila. awalnya Baskoro menjodohkan Vino dengan Kay karena Vino sering bermain dengan wanita malam, Baskoro berpikir kalau putranya menikah dengan Kay putranya itu akan berubah, dan benar saja.
__ADS_1
Saat Vino mengenal Kay, Vino sudah mulai berubah. Sedikit demi sedikit Vino menghentikan kebiasaannya itu. Tapi Baskoro kecewa saat tahu Kay hamil dengan pria lain, dia menentang pernikahan Vino dengan Kay. dia sepakat dengan Hardi menjodohkan Rani dengan Vino.