My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 40. Bukan darah daging Marligh


__ADS_3

"Lebih baik kak Kay pergi, jangan buat gaduh di rumah ini, bukankah papah juga sudah bilang kalau kakak bukan lagi bagian dari keluarga Marligh, lalu untuk apa kakak masih di sini" usir Rani dengan gaya angkuhnya.


"Ck, tanpa kau suruh pun aku akan pergi nona Marligh, aku juga sudah muak hidup dengan orang-orang pembohong seperti kalian, terutama kamu" ucap Kay sambil menunjuk kearah Rani.


"Jangan kamu fikir aku tidak tahu apa-apa tentang mu Ran, selama ini aku diam karena aku masih menganggap mu sebagai adikku, tapi untuk kali ini tidak lagi, jadi jangan pernah berfikir kamu bisa mengambil suamiku seperti kamu ngambil Vino dariku" ucap Kay penuh penekanan.


Tangan Rani mengepal kuat, wajahnya merah padam menahan amarah.


"Maksudmu apa berbicara seperti itu Kay?, Vino membatalkan pernikahan kalian karena kesalahan kamu sendiri bukan karena Rani" sela Marlyn membela Rani.


"Aku tidak peduli masalah itu nyonya, aku malah bersyukur putrimu bisa merebut Vino dariku, karena tanpa putrimu aku tidak akan bisa menikah dengan suamiku," sahut Kay semakin membuat hati Rani panas.


"Tapi aku kasihan melihat putrimu sepertinya tidak bahagia dengan pernikahannya" ejek Kay.


Rani yang sudah geram dengan kakaknya langsung mengangkat tangannya ingin menampar Kay.


"BERANI KAMU MELUKAI ISTRI KU, MAKA AKU TAK SEGAN-SEGAN MEMATAHKAN KEDUA TANGANMU"


suara Albi menggelegar menghentikan gerakan tangan Rani yang ingin memukul wajah istrinya.


Kay menoleh mendengar suara suaminya.


"Sayang" panggil Kay.


"Kamu ini nakal sekali, sudah aku katakan kalau mau pergi bilang dulu sama akau tapi kamu malah pergi sendiri, bagaimana kalau sampai kamu terluka hmm" gemas Albi memencet hidung istrinya gemas.


"Aku tidak apa-apa, aku kesini hanya ingin memastikan saja, kamu benar aku bukan anak kandung Tuan Hardi" ucap Kay tersenyum sambil memeluk suaminya.


"Kamu dari tadi selalu saja bilang bukan anak suamiku, lalu kamu anak siapa hah? Aku yang mengandungmu, aku juga yang melahirkanmu tapi kamu dengan kurang ajarnya bilang kalau kamu bukan anak suamiku, itu artinya kamu juga tidak mengakuiku sebagai ibumu" teriak Marlyn histeris.


Dari tadi dia sudah menahan emosi, karena antara Kay dan Hardi tak ada yang mau menjelaskannya. Suaminya dari tadi hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaannya.


"Kamu bisa tanyakan langsung sama suamimu itu nyonya Marlyn" sahut Kay dan berbalik menghadap suaminya.


"Ayo Bi, kita pulang" ajak Kay di balas anggukan oleh Albi.

__ADS_1


Sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah Marligh, Albi berbalik menatap Rani tajam.


"Aku peringatkan sama kamu nona Rani, jangan pernah kamu mencoba menyakiti istri saya atau saya akan membongkar kebusukan kamu selama ini" tegas Albi memberi sedikit ancaman kepada Rani.


Setelah itu Albi langsung membawa istrinya pergi dari rumah keluarga Marligh.


sebelum menyusul Kay kerumah Hardi, dikantor Albi mencoba menghubungi istrinya, namun telponnya tidak di angkat sama Kay, dia melacak keberadaan istrinya lewat gps, dan ternyata istrinya ada di rumah keluar Marligh.


Karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya, Albi langsung menyusulnya. Dan benar saja, istrinya hampir saja mau di tampar oleh Rani, untung dia datang tepat waktu.


*****


"Jelaskan sama aku pah, apa benar Kay bukan anakku? Kalau Kay bukan anakku lalu kemana anakku pah?" ucap Marlyn sambil mengguncang tubuh Hardi.


"Tenang dulu mah, jangan seperti ini" ucap Hardi sambil memegangi tangan istrinya.


"Dari tadi kamu menyuruhku tenang tapi kamu tidak mau menjawab pertanyaanku pah. Apa karena semua ucapan Kay benar makanya kamu hanya diam saja, JAWAB PAH" ucap Lisa dan meninggikan suaranya di akhir, dia sudah kesal dengan suaminya yang terus bungkam.


Hardi memejamkan matanya dan menghembuskan nafas berat. Apakah dia harus membongkar semua rahasia yang sudah ia simpan selama ini, lalu bagaimana dengan istrinya? apa dia akan marah kalau tahu selama ini dirinya sudah membohonginya. Pikiran Hardi kacau, dia bingung harus jawab apa. Karena semua yang di katakan Kay benar kalau Kay memang bukan putri kandungnya.


"Oke papah jawab, tapi kamu harus tenang dulu jangan seperti ini" ucap Hardi menarik tangan istrinya dan membawanya masuk kedalam pelukannya.


Steven Mencoba menenangkan istrinya, agar emosi istrinya stabil.


Dia tidak mau membahas masalah Kay sebelum istrinya tenang, ia takut istrinya akan depresi.


"Ran, tolong ambilkan air minum untuk mamahmu" titah Hardi dan Rani mengangguk.


Intan beranjak ke dapur mengambil air minum untuk mamahnya.


Tak lama Rani datang sambil membawa air minum, dan ia memberikan air minum tersebut kepada mamahnya.


Marlyn pun menerimanya dan lansung meminumnya.


"Jelaskan sekarang pah" tegas Marlyn yang sedikit lebih tenang.

__ADS_1


"Benar, Kay bukan anak kita mah" jawab Hardi sambil menghela nafas pelan.


Marlyn menutup mulutnya tak percaya, ia tak menyangka ternyata selama ini suaminya membohonginya. Dia mencoba menahan emosinya karena masih ingin mendengar cerita suaminya lebih lanjut.


"Lalu dimana putriku pah, dimana putriku yang sudah aku lahirkan waktu itu pah?" tanya Lisa mencoba menguatkan hatinya menunggu jawaban suaminya.


"Putrimu suda meninggal" jawab Hardi lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Putrimu meninggal usai kamu lahirkan, putrimu mengalami gagal jantung akibat lahir prematur" lanjutnya.


Tubuh Marlyn mendadak lemas mendengar cerita suaminya, dia masih tak percaya kalau bayi yang ia lahirkan ternyata sudah meninggal.


Rani mendekati mamahnya dan ingin memeluk mamahnya namun langsung di tepis oleh Marlyn.


"Lalu siapa Kay pah" tanya Marlyn.


"Kay adalah bayi yang papah ambil di rumah sakit yang sama tempat kamu melahirkan mah" sahut Hardi.


"Lalu apa kamu tahu siapa orang tua Kay?" tanya Marlyn penuh selidik.


"Tidak" jawab Hardi


la sengaja menutupi identitas asli Kay, dia tidak mau membuat istrinya semakin sakit hati kalau dia memberitahu identitas Kay yang sesungguhnya.


"Kenapa kamu membohongi mamah pah?" ucap Marlyn menatap suaminya dengan tatapan kekecewaan.


"Papah lakukan ini semua demi kebaikan kamu mah, papah tidak mau melihat kamu depresi karena kehilangan anak kita,"


"Tapi dengan kamu seperti ini kamu sama saja menyakiti anak aku yang sudah meninggal pah. Bahkan sampai sekarang aku tak pernah tahu makamnya dan tak pernah mendoakannya" ucap Marlyn.


"Maafkan papah mah" ucap Hardi menyesal.


Dia ingin memeluk istrinya namun Marlyn langsung menolaknya.


"Biarkan aku sendiri pah" ucap Marlyn setelah itu ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Meskipun suaminya melakukan ini semua demi kebaikannya tapi tetap saja tindakan suaminya itu salah, dia kecewa dengan suaminya karena sudah membohonginya selama ini.


__ADS_2