My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 39. Hasil Tes DNA


__ADS_3

Keesokan harinya, Rani datang ke rumah orang tuanya tanpa mengajak Vino bersamanya.


"Kamu kesini sayang" sapa Marlyn saat melihat kedatangan putrinya.


"Iya mah" sahut Rani singkat.


"Kamu sudah makan belum? Kebetulan mamah masak makanan kesukaan kamu" ucap Marlyn.


"Belum mah, aku belum sempet makan siang tadi" sahut Rani.


"Yasudah ayo ke ruang makan, juga ada di rumah" ajak Marlyn.


Marlyn mengajak putrinya menuju keruang makan, di ruang makan sudah ada Hardi yang sedang duduk menunggu istrinya.


"Siang pah" Sapa Rani.


"Siang nak, mana Vino" sahut Hardi menanyankan keberadaan menantunya.


"Tidak ikut, dia sedang di kantor" sahut Rani sambil mendudukan tubuhnya di samping papahnya.


"Apa kamu punya masalah sama Vino" tanya Marlyn penuh selidik, dia melihat ada guratan kesedihan di wajah putrinya.


Pada dasarnya seorang ibu lebih peka dan tahu persis apa yang di rasakan anaknya, karena ibu selalu mempunyai banyak waktu untuk anaknya dari pada seorang ayah.


"Tidak mah, Rani dan kak Vino baik-baik saja" jawab Rani dengan senyum yang di paksakan, ia mencoba menutupi masalah rumah tangganya dari orang tuanya.


"Kalau begitu kapan kalian akan memberikan cucu untuk mama" ucap Marlyn.


Rani hanya diam tak langsung menjawab, ia bingung harus jawab apa, pasalnya selama menikah Vino belum sekalipun menyentuhnya.


"Lebih baik kita makan dulu mah, nanti bisa di lanjut lagi ngobrolnya, Rani juga sepertinya sudah lapar" sela Hardi melihat keterdiaman putrinya.


Mereka bertiga akhirnya mulai menyantap makanannya, tak ada yang mengobrol yang ada hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.


Lima belas menit berlalu mereka menyelesaikan acara makan siangnya.

__ADS_1


Hardi mengajak istri serta putrinya mengobrol di ruang keluarga.


"Bagaimana kabar kak Kay, pah" tanya Rani memulai obrolan.


"papah tidak tahu, Kay tidak pernah menghubungi papah, papah juga tidak pun nomornya." jawab Hardi.


"Pasti sekarang kak Kay sudah bahagia bersama suaminya pah, apalagi suaminya itu terlihat begitu menyayangi kak Kay." ucap Rani tersenyum, namun sebenarnya ada rasa iri di hati Rani melihat keadaan rumah tangga kakaknya yang berbanding balik dengan rumah tangganya.


Dia sudah berusaha mengambil Vino agar bisa melihat kakak nya tersiksa namun kenyataanya kakaknya itu jauh lebih bahagia ketimbang dirinya.


Menikah tanpa cinta itu sangat menyakitkan, apalagi Rani tahu kalau selama ini suaminya masih memiliki rasa untuk kakaknya sendiri. Sakit? Pasti, tapi sekarang Rani bisa apa, tidak ada yang bisa Rani lakukan untuk saat ini.


"Andai Rani yang menjadi istri Albi, Mah, pasti Rani akan jauh lebih bahagia" cetus Rani membuat kedua orang tuanya mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu sayang" tanya Marlyn.


"Tidak mah, Rani hanya iri melihat kak Kay yang selalu di perhatikan sama suaminya, berbeda dengan kak Vino yang selalu acuh sama Rani" jawab Rani.


"Jangan bilang kamu menyukai Rani" tebak Marlyn.


"Jangan gila kamu Rani, Albi suami kakakmu, jangan sampai kamu merebutnya" ucap Hardi memperingtinya.


"Bukankah papah bilang kalau kak Kay bukan anak papah lagi, itu artinya kak Kay bukan kakak Rani, jadi tidak ada masalah kalau Rani ambil Albi... "


"Iya, kamu benar Rani, aku memang bukan anak Hardi Marligh, bahkan tidak ada darah Marligh yang mengalir di tubuhku" sela Kay tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan Rani.


"Meskipun aku bukan keluarga Marligh, bukan berarti kamu bisa mengambil suamiku, apa kamu masih kurang mempunyai suami seperti Vino? Atau jangan-jangan kejadian yang menimpaku dulu itu ada hubungannya sama kamu Rani" lanjut Kay.


Setelah mengetahui hasil tes DNA nya dari rumah sakit, Kay langsung shock, hasil tersebut menyatakan 100% Kay bukan anak biologis Hardi Marligh.


Kay akhirnya memutuskan datang kerumahnya dan menemui orang tuanya, namun siapa sangka ternyata dia mendengarkan obrolan adiknya dengan orang tuanya itu.


la mengira selama ini adiknya baik, namun ternyata pemikirannya itu salah, adiknya ingin menusuknya dari belakang, ia berencana mengambil suaminya.


"Apa maksud kamu Kayla! ," ucap Hardi tak paham dengan ucapan Kay.

__ADS_1


"Jelaskan maksud semua ini tuan" ucap Kay smbil memerlihatkan hasil tes DNA nya kepada kedua orang tuanya.


Deg.


Mendadak tubuh Hardi kaku melihat hasil tes DNA yang di bawa oleh Kay.


"Jangan kurang ajar kamu Kay, meskipun aku sudah mengusirmu tapi bukan berarti kamu bisa bicara sembarangan seperti ini, kamu tetap anakku, ada darah keluarga Marligh yang mengalir di tubuhmu." sentak Hardi.


"Hahahaha... Anak yang mana tuan Hardi, Anak yang selalu kau tuntut menjadi sempurna hah, aku hanya manusia biasa yang bisa saja melakukan kesalahan tapi kamu tidak pernah mau tahu, kamu hanya bisa Menuntut, menuntut, dan menuntut."


"Kini aku tahu kenapa kalian memperlakukan aku seperti itu, dan ternyata ini masalahnya. di sini menyatakan kalau saya bukan anak biologis anda, lalu saya anak siapa tuan Hardi" lanjut Kay berapi-api, Kay mencoba tegar, dia tidak mau menangis di hadapan mereka.


Marlyn hanya diam, dia masih mencerna semua perkataan Kay, dia memang tidak mengerti dengan ucapan Kay. Karena selama ini yang ia tahu Kay putrinya, putri yang ia lahirkan dari rahimnya.


"Jangan kamu percaya surat itu Kay, bisa saja hasil tes itu sengaja di buat untuk mengadu domba keluarga kita" ucap Hardi mencoba meyakinkan Kay.


"Sayangnya saya sendiri yang melakukan pemeriksaan itu tuan Hardi, dan hasil ini saya dapatkan langsung dari rumah sakit tempat saya periksa." sahut Kay tersenyum miring menatap Hardi.


Marlyn menatap wajah Kay dan suaminya secara bergantian.


"Jujurlah tuan Hardi karena tidak ada yang perlu di tutupi lagi, atau jangan-jangan istrimu juga tidak tahu mengenai hal ini, makanya anda diam karena takut istri anda mengetahui yang sebenarnya" ucap Kay.


"Diam kamu Kay!! Lebih baik kamu pergi dari rumah ini karena saya sudah mengharamkan kamu menginjakkan kaki di rumah ini lagi" bentak Hardi.


"Saya akan pergi setelah anda mengatakan yang sebenarnya, dan katakan dimana orang tua kandung saya" sahut Kay tak kalah kerasnya.


"Saya orang tua kandung kamu, tapi sekarang tidak lagi, karena saya tidak memiliki putri tidak tahu diri seperti kamu" kekeuh Hardi masih belum mau jujur.


Marlyn yang sudah pusing melihat perdebatan mereka akhirnya dia ikut angkat bicara.


"DIAM!! " pekik Marlyn.


"Ada apa ini sebenarnya pa? Tolong jelaskan semuanya sama mama" Bentak Marlyn.


"Tidak ada apa-apa mah, dasar dianya aja yang tidak tahu balas budi" sahut Hardi mencela Kay.

__ADS_1


__ADS_2