My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 24. Resepsi Rani


__ADS_3

Kay, Albi dan Raka naik keatas pelaminan untuk memberikan selamat kepada sang pengantin.


"Tuan Raka, senang tuan Raka bisa datang keacara pernikahan putri saya" sapa Hardi ramah.


Raka diam, dia hanya membalasnya dengan senyum dan anggukan.


"Selamat atas pernikahan putri anda" ucap Raka dan langsung turun dari atas panggung.


la terlalu malas meladeni orang-orang penjilat seperti Hardi ini.


Kini giliran Albi dan Kay memberikan selamat kepada mereka.


"Ck, akhirnya kamu datang juga, aku yakin kamu kesini karena ingin makan enak" decak Marlyn menyindir Kay.


Kay menatap sendu kedua orang tuanya, niatnya datang ke acara ini hanya untuk memberikan selamat kepada adiknya, tapi mamahnya malah menghinanya.


Sebegitu besarkah kesalahannya hingga membuat orang tuanya begitu membencinya.


"Jaga ucapan anda nyonya, Kalau bukan karena undangan dari putrimu istri saya juga tidak akan hadir di acara ini, dia kesini karena menghargai kalian yang masih ia anggap keluarga" tegas Albi.


"Kenapa kamu harus marah, orang yang saya ucapkan benar kok, kalian pasti tidak pernah makan makanan enak makanya kalian datang ke acara ini".


Albi menatap sinis Marlyn, jangankan untuk makan enak, untuk membubarkan acara pernikahan putrinya saja dia mampu, karena hotel yang di tempati mereka saat ini merupakan milik Albi.


"Diam mah, jangan buat diri kita malu" tegur Hardi membuat Marlyn diam.


Kini Hardi melihat ke arah Kay yang hanya diam saja.


"Apa kabarmu Kay" tanya Hardi.


Kay tak menjawabnya, dia lebih memilih mendekati Rani dan juga Vino.


"Selamat atas pernikahanmu Ran" ucap Kay.


"Terima kasih kak Kay sudah mau hadir di acara pernikahan Rani" ujar Rani sok ramah.


Kay mengangguk, lalu dia giliran memberikan selamat kepada Vino.


"Selamat" ucap Kay singkat.


"Bagaimana kabarmu Kay? Apa kamu bahagia hidup bersama suamimu" sahut Vino yang tak nyambung.

__ADS_1


"Jangan terlalu memikirkan kebahagiaan istri orang lain, lebih baik anda pikirkan saja kebahagiaan istri anda sendiri" sahut Albi yang sudah jengah dengan tingkah Vino yang sejak tadi memperhatikan istri cantiknya.


"Ayo sayang" lanjutnya mengajak istrinya turun dari atas panggung.


Vino terus memperhatikan punggung Kay yang semakin menjauh dari atas panggung.


"Aku senang bisa melihatmu lagi Kay, meskipun hanya sebentar itu sudah cukup mengobati rasa rinduku denganmu" Batin Vino.


Rani mengepalkan tangannya, dia merasa geram dengan tingkah suaminya yang terus menatap kakaknya, padahal saat ini dia sudah mempunyai istri tapi suaminya itu lebih memilih memperhatikan istri orang lain ketimbang istrinya sendiri.


"Kenapa kak Vino terus memperhatikan kak Kay, apa kak Vino masih mencintai kak Kay? tanya Rani dengan wajah di buat sesedih mungkin.


"Aku rasa tanpa aku menjawab pun kamu tahu siapa wanita yang aku cintai selama ini" sahut Vino.


Jleb....


Hati Rani bak tertusuk belati, rasanya begitu sakit dan perih saat suaminya secara terang-terangan mengucapkan kalau suaminya lebih mencintai orang lain dari pada dirinya.


Rani sekuat hati menahan tangisnya, jangan sampai dia menangis di depan orang banyak atau dia akan di tertawakan oleh kakaknya.


Pikiran orang picik memang selalu begitu, padahal tak sedikitpun Kay ingin menertawakan adiknya, ia justru kasihan dengan adiknya, Kay tahu kalau Vino hanya terpaksa menikahi adiknya bukan karena benar-benar mencintainya.


Seperti dirinya dulu yang terpaksa menerima perjodohannya dengan Vino hanya karena bisnis orang tuanya.


"Lihatlah Hardi, suami Kay terlihat begitu akrab dengan tuan Raka, apa mereka memiliki hubungan bisnis atau hanya sekedar kebetulan saja" ucap Baskoro sambil mengamati Albi yang sedang ngobrol dengan Raka.


"Tidak mungkin kalau hanya sekedar kebetulan, kemungkinan besar suami Kay juga sama-sama pebisnis makanya dia bisa dekat dengan tuan Raka" sahut Hardi.


Menurut Hardi bukan kebetulan, ia yakin kalau suami Kay bukan orang biasa. Kalau orang biasa tidak mungkin bisa sedekat itu dengan Raka Wijaya yang notabene nya pengusaha sukses dan kaya raya.


Bahkan dirinya yang sama-sama pebisnis aja sulit untuk mendekati Raka.


"Kalau begitu bagus Har, kamu bisa minta tolong sama Kay supaya suaminya itu mau mengenalkan kita sama tuan Raka" ucap Baskoro dengan tersenyum licik.


"Aku sudah membuang dia, mana mungkin dia mau membantu kita" Sahut Hardi yang tak yakin dengan putrinya.


"Kamu coba saja dekati dan rayu putrimu, siapa tahu dia akan luluh" saran Baskoro.


Hardi mengangguk, lantas dia dan Baskoro berjalan dan melangkahkan kakinya menghampiri Kay yang sedang duduk satu meja dengan Raka.


"Kay, boleh papah ikut gabung disini" sapa Hardi meminta ijin kepada putrinya.

__ADS_1


"Silahkan saja, bukankah kursi ini untuk umum" sahut Kay tanpa melihat ke arah Hardi.


Hardi dan Baskoro menahan marah ketika melihat respon Kay yang terkesan tidak menghormatinya.


Namun meskipun begitu mereka berdua tetap duduk dan bergabung di meja itu.


"Kamu mau makan apa sayang" tanya Albi yang tak peduli dengan kehadiran Hardi dan juga Baskoro.


"Lah memangnya Kay belum makan? " tanya Raka kepada adiknya.


"Belum" sahut Albi sambil mengelus ngelus pinggang istrinya.


"Wah parah sih lo, gue kalau jadi Kay bakal menghukum mu tidur di luar" ucap Raka mengompori adik iparnya.


"Sayangnya istriku Kay bukan lo" seru Albi.


"Aku mau kue itu boleh ngga, Bi" bisik Kay di telinga suaminya sambil tatapannya menunjuk ke arah kue yang ia mau.


Albi gemes dengan tingkah malu-malu istrinya.


"Boleh, bentar aku ambilkan" ucap Albi sambil mengusap kepala istrinya.


Raka berdecak kesal melihat kemesraan mereka, pasalnya dia hanya sendirian tidak membawa istrinya, dia sudah seperti obat nyamuk untuk mereka berdua.


Tinggal lah Raka dan Kay di meja itu bersama Hardi dan Baskoro, Tak sedikit pun mereka berdua menyapa Hardi dan juga Baskoro.


"Tuan Raka kenal putri saya?" tanya Hardi mencoba memberanikan diri untuk mengajak Raka bicara.


"Putri anda? Yang itu?" tanya Raka pura-pura tidak tahu sambil menunjuk ke arah Rani yang sedang berada di atas panggung.


"Bukan tuan, tapi Kay, Kay ini putri sulung saya" Jawab Hardi tersenyum.


"Putri yang di buang" sindir Kay.


Entahlah Raka tidak begitu tahu dengan permasalahan mereka berdua, bahkan selama ini ia tidak menanyakan keluarga Kay kepada adiknya.


"Saya sudah mengenal Kay lama, bahkan aku sudah menganggapnya sebagai adik saya sendiri" ucap Raka.


"Bagaimana bisa" tanya Hardi tak percaya.


"Memangnya apa yang tidak bisa di dunia, Kay baik makanya saya menganggapnya seperti adik saya sendiri"

__ADS_1


Yang di ucapkan Raka tidak salah, nyatanya memang Kay adik iparnya yang sudah ia anggap adik kandung ya sendiri.


__ADS_2