
Mama eva mengajak Kay untuk membeli cincin pernikahan untuk pernikahannya dengan Albi nanti.
Pernikahan Albi dan Kay akan di gelar secara tertutup, hanya dihadiri oleh orang-orang dan kerabat terdekatnya saja, sedangkan untuk pesta resepsi pernikahannya akan di lakukan setelah Kay melahirkan.
"Alana, kamu mau ikut mama sama Kay tidak? kita mau ke mall mencari cincin pernikahan" tawar Eva, sebisa mungkin ia bersikap adil dengan keduanya, biar tidak menimbulkan kecemburuan dia antara keduanya.
"No ma, Alana mager" tolak Alana yang masih nyaman dengan posisinya saat ini yang sedang rebahan di sofa sambil nonton drakor kesukaannya.
"Ayo Al, dari pada nonton manusia plastik itu lebih baik kamu ikut mama jalan-jalan" bujuk mama Eva.
Mama Eva terkadang bingung dengan menantunya satu itu yang lebih suka nonton drakor ketimbang pergi jalan-jalan.
"Mama sembarangan aja kalau ngomong, meskipun plastik tapi dia tetap tampan ma, bahkan suami Alana saja kalah tampan sama dia" sahut Alana tidak terima.
"Hai, yang kamu bilang kalah tampan itu anak mama" ucap mama Eva tidak terima.
"Hehehehe....maaf ma" ucap Alana sambil nyengir kuda.
Membuat mama Eva menggelengkan kepalanya, meskipun begitu Eva tidak marah dengan Alana.
Kay menatap keduanya bingung, mereka berdua seperti anak dan ibunya bukan seperti menantu dan mertua.
Biasanya menantu dan mertua akan lebih sering berselisih. Tidak seperti yang ia lihat saat ini, Mereka malah terlihat akrab dan kompak.
"Kamu jangan aneh melihat kita Kay, kita berdua memang seperti ini, meskipun terkadang menantu mama satu ini emang suka kurang ajar sama mama" ucap Eva sambil menggoda Alana.
Membuat Kay mengulum senyum geli melihat Alana mencebikkan bibirnya sebal.
Menurut Kay keluarga Albi sangat seru, tidak seperti keluarganya yang selalu memikirkan kekayaan dan selalu menjaga image.
Membuat Kay tak leluasa menjalani kehidupanya, banyak larangan ini dan itu dari orang tuanya, mereka mau anak-anaknya terlihat baik dan anggun di depan masyarakat agar nama baik keluarga tetap terjaga. Tidak boleh melakukan kesalahan.
"Ayo Kay lebih baik kita tinggalkan saja kakak iparmu itu, biarkan saja dia sibuk dengan manusia plastik itu"
"Iya ma"
Akhirnya mereka pergi berdua saja tanpa Alana, mereka berdua pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang ada di kotanya, rencananya Albi nyusul setelah menyelesaikan meetingnya nanti.
__ADS_1
"Kita kemana dulu ma" tanya Kay.
"Lebih baik kita nyari tas dulu saja Ra, mumpung kartu Albi ada sama mama, kapan lagi kita bisa menguras isi ATM nya" sahut mama Eva.
Kebetulan sebelum pergi tadi mama Eva minta uang sama Albi untuk membeli cincin pernikahannya, dan putranya itu langsung memberikan blackcard nya kepada mama Eva.
"Jangan ma, nanti Albi marah" ucap Kay tak ingin di bilang aji mumpung.
"Kau tak perlu takut, Albu tak mungkin berani memarahi kita" Kata mama Eva begitu semangat menuju ke toko tas branded.
Entahlah saat ini Kay harus senang atau sedih, dia bersyukur keluarga Albi bisa nerima dirinya, namun di sisi lain dia sedih karena orang tuanya tak mencarinya.
Mereka berdua masuk kedalam toko tas branded merk kremes.
"Kamu pilih saja yang kamu suka Kay" ujar mama Eva kepada Kay.
"Tidak mom, Kay sedang tidak butuh tas" ucap Kay membuat mama Eva menghembuskan nafasnya sabar.
Calon menantunya ini mungkin masih segan dengannya.
"Kalau begitu biar mama saja yang pilihkan untukmu" ucap mama Eva memaksa.
mama Evamembelikan tas kremes dengan harga begitu fantastis. bahkan dulu ketika masih di keluarga Marligh, Kay tidak pernah membeli tas dengan harga yang mencapai hampi 1M.
"Ma, ini terlalu mahal ma, nanti Albi marah" protes Kay.
"Kau tenang saja Kay, harga tas ini tidak akan membuat anak Mama bangkrut." ucap mama Eva membawa tas itu kekasir.
Kay hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Usai membayar tas belanjaannya Eba mengajak Kay menuju ke toko baju, pokok nya hari ini Eva benar-benar memanjakan calon menantunya itu.
"Kamu suka yang mana sayang" tanya mama Eva
"Yang simple saja ma " sahut Kay.
"Ternyata selera kamu sama seperti Alana, dia juga lebih suka yang simple"
__ADS_1
Ucap mama Eva dengan semangat.
Saat mereka berdua sedang sibuk memilih baju, tak sengaja Kay di kagetkan dengan suara Rani adiknya yang memanggilnya.
"Kak Kayla" panggil Rani membuat Kay menoleh.
Kay bisa melihat Rani yang sedang bergelayut manja di tangan Vino.
"Kay kamu sedang apa di sini" tanya Vino dengan tatapan penuh kerinduan.
"Memangnya apa yang kamu lihat" sahut Kay, lalu kembali fokus memilih baju. Ia terlalu malas meladeni mereka berdua.
"Kak Kay bekerja di sini? kak Kay lebih baik resign saja kasihan kandungan kak Kay, biar nanti Rani yang akan membiayai kebutuhan kak Kay tanpa sepengetahuan papa" ucap Rani yang terlihat begitu peduli dengan kakaknya.
Sifat Rani yang seperti ini sering dia gunakan, kepribadian palsu untu berinteraksi dengan orang lain. la sering berkamuflase di lingkungan sekitarnya terutama di depan keluarganya.
Rani juga termasuk ahli manipulator yang handal, tipuan yang dia sering dilakukan untuk mempertahankan Agar selalu menjadi yang terbaik.
Dia sering menipu untuk mendapatkan simpatik pada orang sekitarnya, sehingga lawan biacaranya sering yang di anggap jahat oleh orang yang melihatnya. Dan buruknya dia tidak pernah menyesal, dia akan mengulanginya terus menerus.
*****
"Jangan panggil aku kakak, karena aku bukan kakakmu lagi" ucap Kay.
"Kay, kamu tidak boleh seperti itu dengan Rani, bagaimanapun juga maksud dia baik, dia hanya tidak ingin terjadi apa-apa dengan kandunganmu, tapi bukannya respon baik yang dia dapatkan malah kamu berbicara seperti itu" ucap Vino yang tak suka dengan ucapan Kay.
"Lalu saya harus apa tuan Kay?, apa saya harus memelas meminta belas kasihan kepada mereka semua yang sudah membuangku hah" mungkin karena efek hamil membuat Kay gampang tersinggung dan mudah emosi.
Mama Eva yang mendengar suara calon menantunya yang seperti sedang marah pun akhirnya menghampirinya.
"Kamu kenapa sayang" tanya mama Eva khawatir kepada Kay.
"Aku tidak kenapa-napa ma" sahut Kay lalu menarik nafas dan menghembuskannya.
mama Eva menoleh ke arah Rani dan juga Vino.
"Mereka siapa Kay? Apa mereka berdua temanmu" tanya mama Eva.
__ADS_1
"Bukan ma, mereka berdua hanya pengunjung toko ini ma, tadi mereka mengira kalau Kay bekerja di sini" jelas Kay membuat mama Eva manatap Vino dan Rani dengan tatapan tak suka.
Bagaimana bisa mereka mengira kalau calon menantunya sebagai karyawan toko.