My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 25. Obrolan dengan Hardi


__ADS_3

Selang berapa lama Albi kembali sambil membawa sepiring kue yang di inginkan oleh istrinya.


Dia menarik kursi lantas duduk di sebelah istrinya.


"Ini sayang" ucap Albi sambil meletakan piring yang berisi kue di hadapan Kay.


"Bentar Bi" sahut Kay yang masih fokus dengan ponselnya.


Albi menghela nafas pelan, akhirnya dia menyuapi istrinya.


"Aaaa.... Sayang" titah Albi meminta Kay untuk membuka mulutnya.


Kay pun membuka mulutnya dan Albi langsung menyuapi kue kedalam mulut istrinya.


"Seharusnya kamu makan makanan yang lebih sehat Kay, jangan makan makanan seperti itu, kasihan anak yang ada di dalam kandungan kamu" ucap Hardi menegur Kay.


Kay langsung berhenti mengunyah karena mendengar Hardi yang mengkhawatirkan kandungannya.


Dia menaruh ponselnya di atas meja dan menoleh menatap Steven.


"Saya tahu mana yang baik untuk saya dan calon anak saya tuan Hardi, lagian sejak kapan tuan Hardi peduli dengan kandungan saya" ucap Kay tersenyum miring.


Ucapan Kay membuat Hardi bungkam, yang di ucapkan Kay memang benar, kalau dirinya memang tidak pernah peduli dengan kandungannya bahkan dia pernah menyuruh putrinya untuk menggugurkan kandungannya.


Drrrtttt..


Drrrttt....


Ponsel Albi berdering, dia melihat layar ponselnya kalau ternyata yang menghubunginya itu kakak iparnya.


"Kak Alana telpon nih" ucap Albi sambil menunjukkan ponselnya kepada Raka.


"Angkat Al, siapa tahu penting" sahut Raka.


"Kakak aja yang angkat, Albi males" ucap Albi sambil memberikan ponselnya kepada Raka.


Raka pun mendengus kesal dengan adiknya itu, dia pun mengangkat panggilan dari istrinya.


"Tunggu sebentar sayang, aku akan menyusulmu sekarang juga" ucap Raka panik.


Setelah panggilannya berakhir Raka mengembalikan ponsel adiknya.


"Ada apa kak? Kenapa kamu panik seperti itu" tanya Albi melihat wajah panik kakaknya setelah mendapat panggilan dari kakak iparnya.


"Nayla masuk rumah sakit, kakak harus pulang sekarang juga" sahut Raka sambil beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Hah? Kita ikut kak" sahut Kay yang juga ikut mengkhawatirkan keadaan keponakan suaminya itu.


"Ayo Bi, kita ikut kak Raka ke rumah sakit, aku ingin melihat keadaan Nayla" ajak Kay kepada suaminya.


Albi mengangguk mengiyakan, dia juga beranjak dari tempat duduknya.


"Maaf tuan Hardi kami harus pulang sekarang juga" ucap Raka mengucapkan permintaan maaf kepada Hardi karena tidak bisa mengikuti acaranya hingga akhir.


Belum juga Hardi membalas ucapan Raka, mereka bertiga sudah berlalu dari hadapan Steven.


Plakkk....


Baskoro memukul bahu Hardi pelan.


"Kamu tadi dengar tidak kalau tuan Raka menyebut dirinya kakak? Atau hanya telingaku saja yang salah dengar" tanya Baskoro memastikan.


"Aku juga mendengarnya tadi" sahut Hardi.


"Apa mungkin suami Kay itu berasal dari keluarga Wijaya?" tanya Baskoro.


"Jika itu benar, berarti suami Kay adiknya tuan Raka. Pantas saja mereka terlihat begitu akrab dengan tuan Raka." ujar Hardi.


Baskoro tersenyum penuh maksud.


"Kamu harus mencoba perbaiki hubunganmu dengan Kay, Hardi. Apa kamu tidak ingin menjadi besan keluarga Wijaya hmm" ucap Baskoro mencoba mempengaruhi pikiran Hardi.


Dengan begitu Baskoro bisa memanfaatkan kedekatannya dengan Hardi supaya bisa mendapatkan keuntungan dari keluarga Wijaya juga.


"Kamu benar, aku harus memperbaiki hubunganku dengan Kay supaya bisa dekat dengan keluarga Wijaya" ucap Hardi tersenyum licik.


Mereka mengira kalau keluarga Wijaya begitu mudah untuk di dekati.


*****


Sementara di mansion keluarga Dirgantara, setelah makan malam Satria mengajak istri serta anaknya mengobrol di ruang keluarga.


"Bagaimana Ar, kamu sudah mendapatkan informasi tentang menantu keluarga Wijaya belum" tanya Satria kepada sang putra.


"Belum, Arya belum mencari tahu" sahut Arya santai, langsung mendapatkan lemparan bantal dari sang daddy.


"Kenapa kamu tidak mengerjakannya hah, jangan sampai daddy menghancurkan perushaanmu itu" geram Satria dengan putranya.


"Perusahaan yang mana? Kalau daddy mau menghancurkan perusahaan Dirgantara mah silahkan aja" Sahut Arya berlagak bodoh.


"Ck, jangan kamu kira daddy tidak tahu kalau selama ini kamu diam-diam membuka perusahaan sendiri Ar" ucap Satria sambil tersenyum mengejek kearah putranya yang melongo.

__ADS_1


Selama ini Satria tahu kalau putranya tidak hanya menjalankan perusahaan keluarganya saja, tapi putranya itu juga mendirikan perusahaan sendiri tanpa sepengetahuannya.


Putranya itu mengira kalau dirinya tidak tahu, namun tanpa sepengetahuannya Satria membayar seseorang untuk memantau gerak gerik putranya.


"Kau memata-mataiku dad" Seru Arya.


Satria hanya mengendikan bahunya acuh. Dia melakukan semua ini untuk keselamatan putranya.


Menjadi keluarga dari seorang pengusaha nomor Satu di asia tentu tidak akan mudah, banyak pesaing bisnis yang iri dengannya dan berusaha menjatuhkannya.


Dengan begitu Satria selalu mengawasi gerak gerik orang keluarganya termasuk sang putra, sudah cukup dia kehilangan bayinya, dan jangan sampai dia juga kehilangan putra semata wayangnya.


"Mommy minta kamu segera mencari tahunya boy, kalau bukan sama kamu mommy harus minta tolong sama siapa lagi" pinta Amira dengan penuh harap.


Arya menghela nafasnya panjang, ia akan berusaha menghubungi perusahaan Wijaya besok untuk mengajaknya kerjasama, kebetulan perusahaan Wijaya juga menawarkan proposal kerjasama kepada perusahaan Dirgantara.


Sebenarnya perusahaan Dirgantara juga sudah bekerja sama dengan perusahaan New Saphire milik Albi, namun dia tidak tahu kalau perusahaan tersebut milik Albi.


Pasalnya tiap kali meeting dengan perusahaanya Albi selalu menyuruh asistennya yang mewakilinya.


"Iya mom, nanti Arya akan mencoba mencari informasi yang mommy minta" sahut Arya.


Satria merangkul bahu istrinya dan membawanya kedalam pelukannya.


"Jangan sedih baby, bukankah kamu mengenal istri tuan Wijaya, kenapa kamu tidak mencoba bertanya dengannya" ucap Satria lembut.


"Aku takut jawaban dia tak sesuai dengan apa yang aku harapkan dad, itu akan membuatku semakin sakit" sahut Amira sambil memeluk tubuh suaminya.


"Kalau kamu tidak mencobanya mana kamu bisa tahu sesuai harapan atau tidak sayang" ucap Satria lembut supaya istrinya tidak tersinggung.


Suami istri itu terus berbincang tanpa memikirkan Arya yang ada di hadapayannya.


"Berhentilah bermesraan di depan Arya dad, hargailah perasaan Arya yang jomblo ini" sindir Arya.


Bukannya melepas pelukannya, Satria justru semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri.


"Iri bilang bos, makanya nikah biar tidak jadi perjaka tua" ejek Satria.


"Selalu saja menyuruhku menikah, memangnya nyari perempuan itu mudah apa" seru Arya.


"Percuma kaya Ar, kalau nyari satu perempuan saja kamu tidak mampu". Ledek Satria.


"Aku nyari yang seperti mommy" Sahut Arya Alasan.


"Tidak akan pernah ada perempuan yang seperti mommy, mommy cuma ada satu yaitu milik daddy, jadi jangan harap kamu bisa menemukan perempuan seperti mommy" ucap Satria mode bucin sambil menciumi pipi istrinya.

__ADS_1


Amira mendorong dada suaminya, dia jengah dengan tingkah mereka berdua, selalu saja berantem.


__ADS_2