
"Saya terima nikah dan kawinnya Kayla Marligh binti Hardi Marligh dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" lantang Albi dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi" tanya pak penghulu kepada para saksi.
"Sah" jawab mereka kompak.
Albi lega mendengar kata sah dari para saksi pernikahannay, akhirnya Albi sah menjadi suami dari Kayla Marligh.
Sedangkan di kamar Kay, dia meneteskan air matanya, dia sedih di hari pernikahannya tidak ada kedua orang tuanya yang mendampingi pernikahannya.
"Kay, ayo kita keluar sekarang" ajak Alana yang baru saja masuk kedalam kamar Kay.
Kay menghapus air matanya dan menoleh kearah Alana.
"Baik kak" sahut Kay dengan senyum yang di paksakan.
Alana yang peka langsung mendekati adik iparnya dan memeluknya.
"Tersenyumlah, tunjukkan kepada semuanya kalau kamu bisa bahagia meski tanpa mereka" ucap Alana memberi motivasi kepada adik iparnya.
"Makasih kak" sahut Kay sambil melerai pelukannya dengan Alana.
Alana meminta kepada MUA untuk merapihkan kembali riasan adik iparnya yang rusak karena air mata.
Setelah sudah selesai, Alana membawa Kay keluar dari kamarnya.
"Kalian sudah siap" tanya mama Evayang baru saja ingin mendatangi kamar Kay, namun ternyata kedua menantunya sudah keluar dari kamar Kay lebih dulu.
Kay menuruni tangga di apit oleh mama Eva dan juga sang ipar Alana.
Mama Eva dan Alana menggandeng tangan Kay dan membawanya menemui Albi.
"Cantik"
gumam Albi dari tempat duduk nya, terpesona melihat kecantikan Kay, baru kali ini Albi melihat Kay full make up, tidak seperti sebelumnya yang hanya polos tanpa make up.
mama Eva mendudukan Kay di sebelah Albi di bantu oleh Alana.
"Tanda tangani terlebih dahulu" Penghulu meminta kedua pengantin untuk menandatangani dokumen pernikahan.
Kay dan Albi pun langsung menandatangani dokumen tersebut.
__ADS_1
Usai menandatangi dokumen pernikahan Kay memasangkan cincin di jari tangan Albi begitu juga sebaliknya.
Lalu Kay mencium punggung tangan suaminya, sedangkan Albi mencium kening Kay.
Kini mereka berdua telah sah menjadi suami istri, meski merasa ada yang kurang namun Kay bahagia karena Albi mau menikahinya, dengan begitu bayi yang ada di kandungannya mempunyai orang tua yang lengkap.
"Selamat sayang, sekarang kamu sudah mempunyai istri, jadi tanggung jawabmu bertambah apalagi kamu sudah mau mempunyai anak. mama peringatkan sama kamu jangan pernah menyakiti Kay karena bagaimana pun Kay telah mengandung benihmu, sayangi dia dan lindungi dia, akibat kesalahan yang kamu perbuat dia di buang oleh kedua orang tuanya, jadi kamu harus bertanggung jawab atas itu" ucap mama Eva memperingati putranya.
"Iya ma, terimakasih sudah mau memaafkan kesalahan Albi ma, maaf kalau Albi sudah membuat mama malu" ucap Albi tulus.
"Kamu anak mama, apapun kesalahan yang kamu buat mama akan mencoba memaafkannya, selagi kamu mau menyadari kesalahan yang kamu perbuat" sahut mama Eva.
Albi mengangguk lalu memeluk mama nya, dia bersyukur memiliki seorang ibu yang bijaksana seperti mama nya.
Mereka berdua pun melerai pelukannya, kini giliran Rudi yang memberikan selamat kepada sang putra.
"Selamat Al, akhirnya sekarang kamu jadi suami juga, dan sebentar lagi juga akan menjadi calon ayah, papa berharap kamu bisa membahagiakan istri dan anakmu kelak, karena jika kamu ketahuan menyakiti istrimu maka papa sendiri yang akan memisahkannya darimu" ucap Rudi sambil memeluk Albi.
"Iya pa, Albi akan berusaha menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk Kay dan anak Albi nanti" sahut Albi.
"papa pegang kata-katamu, karena pria sejati tidak akan pernah mengingkari ucapannya" ucap papa Rudi.
Mereka berdua pun melepas pelukannya, satu persatu semua tamu yang ikut hadir di acara pernikahan Albi dan Kay memberikan selamat kepada keduanya, begitu juga dengan Alana dan suaminya yang ikut memberikan selamat kepada sang adik.
Kay terlihat kesusahan membuka baju pengantinya, dia mau meminta tolong ke suaminya tapi dia malu, dia terus berusaha namun hasilnya nihil.
Albi menghela nafas lalu berjalan mendekati istrinya yang kesusahan membuka baju pengantinya.
"Kenapa tidak minta tolong hmmmm" ucap Albi sambil meraih resleting gaun pengantin Kay.
Deg
Kay bsia merasakan hembusan nafas Albi di tengkuknya, membuat bulu kuduk Kay meremang.
"Sudah" ucap Albi.
Lalu Kay buru-buru lari kekamar mandi.
Brak..
Kay menutup pintu kamar mandi begitu keras.
__ADS_1
Dia berdiri di balik pintu sambil memegangi dadanya yang terasa berdegub kencang.
"Kenapa deg-degan terus tiap kali berdekatan dengannya, atau mungkin aku sakit jantung atau bagaimana ya" gumam Kay konyol.
Dulu ketika sama Johan dia tidak merasakan detak jantungnya berdegub kencang pada saat berdekatan dengannya, namun ketika sama Albi, Albi meras berbeda.
*****
Di sebuah hotel bintang lima, keluarga Marligh dan juga Baskoro sedang merayakan pesta pertunangan antara Rani dan Vino.
Acara tersebut banyak di hadiri oleh kolega bisnis keduanya.
Hardi naik keatas panggung dan meminta semua orang, tamu undangan untuk memperhatikannya.
"Selamat malam semuanya, terima kasih atas kehadiran kalian semua yang sudah mau hadir dalam acara pesta pertunangan antara putri saya yang bernama Rani Marligh dengan putra tuan Baskoro yang bernama Vino Adi Baskoro".
Rani dan Vino di minta naik keatas Panggung oleh Hardi, sejak tadi Rani selalu tersenyum berbeda dengan Vino yang hanya memasang wajah datar saja.
Rani sangat bahagia karena tujuannya untuk menikah dengan Vino sebentar lagi tercapai.
Kedua orang tua Vino pun ikut naik keatas panggung sambil membawakan cincin pernikahan mereka.
"Pakaikan cincin ini di jari tangan Vino sayang" ujar mamah Vino sambil menyodorkan kotak cincin kepada Rani.
Rani mengambil satu cincin lalu menyematkannya di jari Vino.
Vino pun melakukan hal yang sama, dia menyematkan cincin ke jari Rani.
Semua orang bertepuk tangan melihat mereka berdua selesai memakaikan cincin di jadi pasangannya masing-masing.
"Apa kamu bahagia sayang" tanya mama Rani kepada putrinya.
"Tentu mah, Akhirnya aku dan kak Vino bisa bersatu" sahut Rani yang selalu tersenyum bahagia.
Sepersekian detik kemudian wajah Rani berubah jadi murung.
"Tapi Rani sedih mah, karena tidak ada kak Kay di sini" ucap Rani.
"Lebih baik kamu lupakan kakakmu itu Rani, dia hanya bisa membuat malu dan mencoreng nama baik keluarga kita" ucap Mama Rani.
"Baik mah" ucap Rani sambil tersenyum tipis yang tak bisa terlihat oleh siapapun.
__ADS_1
Padahal Rani tidak benar-benar sesih karena tidak ada kakaknya, dia hanya ingin mengetes orang tuanya masih peduli sama kakaknya atau ngga, dan ternyata tidak.
Jawaban Mamanya membuat Rani lega, ternyata orang tuanya masih membenci kakaknya, dengan begitu posisi Rani akan tetap menjadi putri satu-satunya di keluarga Marligh.