
"Darimana aja kak, sudah jam 12 malam kenapa kak Vino baru pulang?" tanya Rani saat melihat Vino baru sampai di rumahnya, setahu dia suaminya itu selalu pulang sore, kalau pun lembur pasti cuma sampai jam 7 malam tidak sampai tengah malam seperti ini.
"Berisik" ketus Vino meninggalkan Rani.
"Kak, bisakah kita menjalani rumah tangga kita selayaknya suami dan istri, kita sudah beberapa minggu menikah tak sekalipun kakak menganggapku" ucap Rani membuat Vino menghentika langkahnya lalu membakikkan tubuhnya menghadap Rani.
la tersenyum sinis menatap Rani.
"Bukankah pernikahan ini hanya kamu yang menginginkannya, lalu kenapa kamu protes, aku sudah mengabulkan keinginanmu dengan menikahimu. Lalu apa lagi hmm?" ucap Vino.
"Bisakah kak Vino membuka hati kak Vino untukku? Kita jalani semuanya dari nol kak" pinta Rani menatap sendu ke arah Vino.
"Tidak! Karena dari awal aku memang tak pernah menyukaimu, kamu dan keluargamu yang memintaku untuk menikahimu" tegas Vino.
"Bukankah orang tua kak Vino juga sama aja, kita ini di jodohkan kak, jadi keluarga kita sama-sama ikut andil dalam pernikahan kita" sahut Rani tak terima.
"Lalu maumu apa hah? Kalau kau menyuruhku untuk mencintaimu aku tidak bisa!! Kalau kau mau cerai silahkan bilang sendiri sama orang tuamu" ucap Vino dengan nada tinggi.
Tak sedikitpun Vino merasa tertarik dengan Rani. Awalnya dia mencoba menerima keberadaan Rani demi perusahaan papahnya, namun lama kelamaan Vino merasa tidak nyaman dengan hatinya, dia sudah berusaha menyukainya tapi tidak bisa.
Vino meninggalkan Rani begitu saja, ia capek pulang kerja bukannya di sambut dengan cara yang baik malah diajak ribut.
Nyatanya Vino tidak pergi kemana-mana, dia hanya menghabiskan wkatunya di perusahaannya. Hidup satu atap dengan orang yang di tidak di cintainya tentu membuat dirinya tidak betah berlama-lama di rumah dengannya.
Selama ini Rani juga tidak berusaha untuk membuat Vino jatuh cinta, Rani tidak pernah melayaninya selayaknya seorang istri yang melayani suaminya, perempuan itu tidak pernah membuatkan makan dan minum untuk Vino.
"Andai aku berada di posisi kak Kay, pasti aku akan bahagia karena di cintai pria sempurna seperti tuan Albi, bahkan suamiku sendiri masih menyimpan perasaan untuk kak Kay" gumam Rani berjalan menuju ke kamarnya sendiri.
*****
Di dalam kamar Albi, dia sedang mengusap usap perut istrinya, wanita hamil itu minta di usap perutnya barulah ia bisa tidur.
"Sepertinya anakku juga ikut manja seperti mommy nya, mau tidur aja minta diusap dulu perutnya" gumam Albi tersenyum, dia merasakan perut istrinya berkedut.
Anaknya ini selalu bereaksi kalau sedang di omongin.
"Okay baby, daddy tidak akan membicarakanmu, tapi diamlah biarkan mommy tidur" ucap Albi terkekeh.
Tak lama perut istrinya berhenti berkedut, Albi menahan tawa, ingin sekali dia menertawakan baby nya yang menurutnya lucu. Masih di dalam kandungan aja udah bisa protes.
"Lebih baik aku ambil rambut Kay sekarang aja, biar besok bisa aku kasih langsung ke tuan Satria" gumam Albi.
Dengan perlahan Albi menarik tangannya yang ia gunakan untuk alas kepala sang istri.
Lalu Albi membuka laci nakas nya dan mengambil gunting, ia menggunting rambut istrinya setelah itu ia masukkan kedalam plasti.
Setelah selesai Albi ikut memejamkan matanya menyusul istrinya yang sudah terlelap.
Pagi hari Kay lebih dulu membuka matanya, dia melihat ke samping ternyata suaminya masih terlelap.
"Pagi suami baik" ucap Kay dan mencium kening suaminya.
Kay hendak beranjak dari tempat tidurnya namun suaminya memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Temani aku tidur dulu sayang, masih ngantuk" gumam Albi masih memejamkan matanya.
"Aku kebelet, mau ke kamar mandi" ucap Kay akhirnya Albi melepaskan pelukannya.
Kay turun dari tempat tidur dan berjalan memasuki kamar mandi. la tak cuma buang air kecil tapi sekalian membersihkan tubuhnya.
Tiga puluh menit berlalu Kay keluar dari dalam kamar mandi, ia menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang masih tidur dengan posisi meringkuk memeluk bantal gulingnya.
"Bangun Bi" ucap Kay sambil menggoyangkan tubuh Albi.
"Jam berapa sayang" tanya Albi sambil merenggangkan otot tubuhnya.
"Sudah jam tujuh" jawab Kay.
Albi mendudukan tubuhnya dan bersandar di headboard ranjang.
"Sini peluk dulu" ucap Albi sambil merentangkan tangannya.
Kay tersenyum dan langsung masuk kedalam pelukan suaminya.
"wangi, kamu sudah mandi hmm" tanya Albi sambil menghirup aroma dari vanilla dari tubuh Kay.
"Sudah Bi" jawab Kay sambil mendongakkan wajahnya melihat kearah suaminya.
Albi menggesek gesekkan hidungnya ke hidung istrinya.
"Bau" ucap Kay menjauhkan wajahnya dari wajah sang suami.
"Mana ada, meskipun baru bangun juga masih wangi yang" sahut Albi.
"Enak saja" kesal Albi lalu menc*um bibir istrinya dengan paksa.
"Mmmmm..." Kay terus memberontak namun tenaga Albi lebih kuat.
Setelah melihat istri kehabisan nafas barulah Albi melepas tautan bibirnya.
"Morning kiss baby" ucap Albi membuat Kay mengerucutkan bibirnya sebal.
"Buruan mandi" ketus Kay.
"Siap nyonya" sahut Arga bercanda, Zara melengoskan wajahnya ke samping, Albi menahan tawa melihat istrinya merajuk.
Setelah Albi masuk kedalam kamar mandi, Kay merapihkan tempat tidur dan mengambilkan baju ganti untuk suaminya, ia menaruhnya di atas tempat tidur.
Kay keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur, terlihat mertuanya sudah berada di dapur.
"Pagi maa" sapa Kay.
"Pagi sayang" sahut mama Eva tersenyum.
"Kamu mau ngapain" tanya mama Eva saat melihat Kay mengambil gelas.
"Kay ingin membuat teh untuk Albi ma" jawab Kay, sambil menuang air panas kedalam cangkir yang sudah ia beri teh.
__ADS_1
mama Eva tersenyum melihat menantunya yang selalu mmeperhatikan putranya.
"Kamu mau kemana lagi" tanya mama Eva ketika melihat Zara ingin beranjak dari dapur sambil membawa teh yang baru saja ia bikin.
"Kay mau ke atas ma, mau kasihkan teh ini kepada Albi" jawab Kay.
"Ya ampun Kay, kan sebentar lagi Albi turun, buat apa kamu repot-repot naik turun, nanti kamu lelah" ucap mama Eva.
Kay mengangguk lalu menaruh gelas tersebut di atas meja makan.
Tak lama Albi dan juga kakak iparnya turun kebawah, begitu juga dengan Rudi.
Mereka duduk di tempatnya masing-masing. Para istri melayani suaminya. Mereka makan dengan suasana hening, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang ada di ruangan itu.
Usai menyelesaikan makan paginya mereka pamit pergi ke kantor masing-masing.
Pagi ini Albi tak langsung pergi ke perusahaanya, dia lebih dulu pergi ke prusahaan Dirgantara.
"Pak Satrianya ada" tanya Albi kepada respsionis yang ada di perusahaan Dirgantara.
"Maaf tuan siapa" tanya resepsionis sopan.
"Saya Albi dari New Saphire" jawab Albi membuat mata resepsionis membulat, ia tak menyangka bisa bertemu langsung kepada pemilik perusahaan raksasa tersebut.
"Tuan Satrian ada di ruangannya tuan, anda bisa langsung ke ruangannya yang ada di lantai dua puluh" ucap resepsionis.
Albi mengangguk kemudian menuju ke arah lift, dan masuk kedalam lift menuju ke lantai dua puluh.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" teriak seseorang dari dalam ruangan.
Ceklek...
Albi membuka pintu dan masuk kedalam ruangan tuan Satria.
"Selamat pagi tuan Satria" sapa Albi.
"Pagi tuan Albi" sahut Satria, ia tak menyangka Albi datang ke perusahaannya.
Satria beranjak dari tempat duduk dan menghampiri Albi. Dia mempersilahkan Albi duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Ini sample rambut istri saya, anda bisa melakukan tes DNA dengan menggunakan rambut itu" ucap Albi tanpa basa-basi.
"Terima kasih tuan Albi" ucap Satria dengan mata berbinar mengambil rambut milik Kay.
"Apapun hasilnya nanti, tolong jangan beri tahu istri saya, saya tidak mau kandungan istri saya terganggu karena hal ini" tegas Albi.
"Meskipun saya ayah kandungnya?" tanya Satria memastikan.
__ADS_1
"Iya, meskipun hasilnya menunjukkan anda Ayah kandungnya, saya minta anda jangan memberitahunya sekarang, tunggu sampai istri saya melahirkan" ucap Albi.
Satria menghela nafas panjang dan mengangguk, tak masalah yang terpenting saat ini dia akan melakukan tes DNA terlebih dahulu untuk memastika kecurigaannya selama ini.