
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Albi sudah bersiap-siap berangkat ke kantornya, pagi ini dia ada meeting dengan perusahaan dari singapore.
Setelah berpakaian rapih Albi menghampiri istrinya yang masih bergelung di bawah selimut tebal miliknya.
"Aku berangkat kerja dulu sayang" pamit Albi sambil mencium kening istrinya yang masih terlelap.
Albi tak tega membangunkan istrinya, pasalnya istrinya sedang tidur hingga sekarang akibat ulahnya tadi malam yang terus meminta jatah sama sang istri.
Albi menuju ke bawah, dia melihat mommy nya sedang memasak dengan di bantu oleh pelayan.
"Kamu mau kemana pagi-pagi seperti ini Al? " tanya mama Eva sambil melihat jam dinding yang masih pukul 6 pagi.
"Albi ada meeting ma, titip Kau ya ma dia masih tidur" sahut Albi sambil mengecup pipi mama nya.
"Kamu tidak sarapan dulu Al" tanya mama Eva.
"Tidak sempet ma, Albi makan pagi di kantor saja nanti" jawab Albi dan beranjak dari dapur meninggalkan mama nya.
Dia pergi ke kantor bersama sopir, hanya setengah jam saja Albi sudah sampai di kantornya, kebetulan jalan masih sepi sehingga dia tidak memakan waktu lama untuk tiba di kantornya.
Sampai di kantor Albi langsung di sambut oleh asistenya yang selalu setia mengikutinya.
"Selamat pagi tuan" sapa Robby.
"Hmm... Suda siap belum berkasnya Rob" balas Arga dan menanyakan berkas yang akan di bawa untuk bahan meeting dengan kliennya.
"Sudah tuan" jawab Robby.
Arga dan asistennya menuju ke ruang meeting, masuk keruang meeting langsung di sambut oleh kliennya.
Mereka mulai melakukan meeting. Hingga satu jam lebih akhirnya meeting selesai.
"Mana hasil penyelidikanmu Rob" tanya Albi setelah berada di dalam ruangannya.
"Saya tidak yakin dengan hasil penyelidikan saya tuan, tapi setelah saya cari tahu ke rumah sakit tempat kelahiran nyonya Kay, saya menemukan hal yang ganjil, ternyata di hari itu juga istri tuan Dirgantara juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan istri tuan Hardi, tapi bayi tuan Dirgantara di nyatakan hilang di rumah sakit itu.
Saya tidak tahu pasti kalau nyonya Kay itu bayi milik tuan Dirgantara yang hilang atau bukan. Kalau ingin tahu lebih jelasnya anda bisa melakukan test DNA dengan keduanya tuan" ucap Robby menceritakan penyelidikannya.
Albi manggut-manggut sambil mendengarkan asistennya..
Mereka berdua belum berani menyimpulkan semuanya sebelum ada hasil test yang akurat.
Sebelum dia test DNA dengan keluarga Dirgantara dia harus lebih dulu melakukan test DNA dengan Hardi untuk memastikan kalau Kay itu benar anaknya atau bukan.
"Kita harus segera melakukan tes DNA antara Kay dan Hardi Rob." ucap Albi.
"Iya tuan" sahut Robby.
__ADS_1
"Kabari aku kalau kamu sudah mendapatkan semple dari Hardi" titah Albi.
Robby menghela nafas pelan, ia mengira tugasnya sudah selesai, tapi ternyata belum dan kemungkinan masih panjang.
Setelah istrinya terbukti bukan anak Hardi, baru Albi akan fokus mencari keluarga kandung istrinya.
Setelah menyelesaikan obrolannya, Robby kembali ke ruangannya untuk melanjutkan mengerjakan pekerjaannya.
Sedangkan Albi mengambil mengeluarkan ponselnya dari saku jas nya kemudian menghubungi istrinya.
"Iya Bi, ada apa?" tanya Kay
Menguap sambil mengangkat Video call dari suaminya.
Sepertinya wanita hamil itu baru bangun dari tidurnya membuat Albi menggelengkan kepalanya.
"Dasar bumil pemalas, jam segini baru bangun tidur" cibir Albi sambil terkekeh melihat muka bantal istrinya.
"Enak aja bilang aku pemalas, ini kan gara-gara kamu juga" sahut Kay tak terima.
Albi tertawa keras melihat istrinya merajuk, dia suka sekali menggoda istrinya.
"Maaf sayang, habisnya tubuhmu membuatku candu" goda Albi sambil menaik turunkan alisnya.
Wajah Kay langsung merona akibat di goda suaminya. Kay memegangi pipinya sambil matanya berkedip kedip lucu.
Albi jadi gemes lihat wajah istrinya yang malah terlihat imut.
"Memangnya aku ngapain" tanya Kay tidak ngerti.
Istrinya itu masih tidak sadar, kalau tingkahnya itu bisa membangkitkan hasrat yang ada di dalam tubuhnya.
"Lekas mandi, setelah itu makan pagi kasihan baby nya" titah Albi
Mengalihkan pembicaraan.
"Iya Bii" sahut Kay patuh.
"Biiii.." panggil Kay manja.
"Ada apa sayang? Kamu menginginkan sesuatu hmmm?" Albi tahu kalau istrinya sudah manja seperti ini pasti ada sesuatu yang dia inginkan.
"Mau keluar boleh tidak?" tanya Kay.
"Memangnya mau kemana dan sama siapa?" tanya Albi posesif.
"Pengen beli kue di tempat biasa kita beli" jawab Kay.
__ADS_1
"Nanti biar aku suruh Robby yang beliin ya, aku khawatir kalau kamu jalan sendiri sayang, apalagi perutmu sudah besar seperti itu" ucap Albi
"Baiklah, aku tunggu di rumah aja" sahut Kay tersenyum.
Dia tidak marah meskipun suaminya melarangnya keluar, dia tahu kalau suaminya melarangnya karena mengkhawatirkannya.
"I love you" ucap Albi.
"I love you more" sahut Kay.
Setelah itu Albi mengakhiri panggilannya, Albi merasa bersyukur mempunyai istri yang patuh. Selagi untuk kebaikan istrinya tidak pernah membantah ucapannya.
*****
Sedangkan di tempat lain, Satria sedang memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki tentang keluarga Kay.
Dia turun tangan sendiri, karena akan lama jika dia menyuruh putranya.
"Cari tahu orang tua Kay istri dari Albi Wijaya, saya harap kamu bisa mendapatkan hasilnya secepatnya." perintah Satria kepada orang kepercayaannya.
"Siap tuan, saya akan segera melakukan perintah anda" sahut anak buah Satria.
Setelah itu Satria menyuruh anak buahnya keluar dari ruang kerjanya.
Saat anak buahnya sudah keluar dari ruangannya, Satria mengeluarkan foto bayinya dari dompetnya.
"Apa kabarmu nak?, apa kamu hidup dengan layak? Apa keluargamu memperlakukanmu dengan baik?" Satria mengucapkan banyak pertanyaan sambil mengusap foto itu.
la takut orang yang menemukan putrinya tidak merawatnya dengan baik.
"Daddy berharap kecurigaan Daddy benar, dengan begitu Daddy bisa bertemu dengan kamu lagi" ucap Satria.
Dia memasukkan kembali foto bayinya kedalam dompetnya, dia kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.
*****
Menjelang sore Hardi mengajak semua keluarganya termasuk besannya mengunjungi mansion Wijaya.
"Kita mau kemana pah" tanya Marlyn bingung, suaminya itu tidak bilang mau mengajaknya kemana.
"Kita mau ke mansion keluarga Wijaya untuk mengunjungi Kay mah" jawab Hardi.
Jawaban Hardi semakin membuat Marlyn bingung, kenapa suaminya itu tiba-tiba ingin mengajaknya ke tempat Kay, bukankah dulu suaminya sendiri yang sudah mengusirnya, tapi kenapa sekarang ingin mengunjunginya.
Lalu kenapa harus ke mansion keluarga Wijaya, memangnya apa hubungannya keluarga itu dengan Kay, banyak pertanyaan yang ada di kepala Marlyn, karena sebelumnya Hardi belum menceritakan tentang Kay yang menjadi menantu keluarga Wijaya kepada istrinya itu.
"Karena Kay menantu keluarga Wijaya mah" ucap Hardi.
__ADS_1
Dhuarrr....
Marlyn teekejut mendengar ucapan suaminya itu, ia tak menyangka kalau nasib Kay lebih baik dari pada nasib putrinya yang hanya menikah dengan keluarga Baskoro.