
Raka membawa semua keluarga Wijaya datang ke mansion keluarga Dirgantara untuk memenuhi undangan makan malam bersama.
Kedatangan mereka langsung di sambut hangat oleh nyonya Amira dan juga Tuan Satria.
"Selamat datang di mansion kami tuan Rudi" sapa Satria kepada Rudi Wijaya selaku kepala keluarga Wijaya.
"Terima kasih atas undangannya tuan Satria, jangan kapok karena saya membawa banyak pasukan" sahut Rudi di sertai candaan untuk mencairkan suasan supaya tidak canggung.
Karena ini merupakan kali pertama keluarga Wijaya datang ke Mansion keluarga Dirgantara.
Berbeda dengan Eva yang langsung akrab dengan Amira, karena mereka berdua sering bertemu di acara-acara sosialita.
"Ayo kita langsung saja ke ruang makan" ajak Satria membawa semua keluarga Wijaya menuju ke ruang makan.
Saat sudah di ruang makan mereka duduk di kursi masing-masing.
Satria mulai menatap satu persatu wajah keluarga Wijaya, dia penasaran dengan wanita yang bernama Kay yang di maksdu oleh istrinya.
Deggg....
Jantung Satria berdegub kencang saat melihat mata Kay yang mirip dengannya.
"Perasaan apa ini, kenapa perasaanku merasa dekat saat melihatnya. Dan kenapa matanya begitu mirip denganku" Batin Satria terus menatap mata Kay.
"Ayo silahkan di makan" ucap Amira mempersilahkan semuanya untuk makan.
Semua mulai menyantap makanan yang ada di atas meja.
Satria membiarkan mereka makan terlebih dahulu, usai makan barulah ia akan bertanya tentang Kay.
Kalau Satria terus menatap Kay, sedangkan Arya justru terus menatap wajah Narendra yang terlihat datar.
Membuat Narendra berhenti menyuapkan makanannya kedalam mulut. Dia merasa risih karena terus di tatap oleh Arya.
"Kenapa om lihat Narend terus" tanya Narendra tak suka.
"Om cuma heran saja, kenapa wajahmu begitu datar, coba kamu tersenyum pasti kamu akan semakin tampan" sahut Arya semakin membuat Narendra jengkel.
"Terserah, orang wajah Narend kenapa om yang ribet" seru Narendra.
__ADS_1
Arya berdecak kesal, ternyata bocah kecil itu berani melawannya.
"Diam Ar, biarkan dia makan jangan kamu ganggu" ucap Amira memarahi putranya.
Arya akhirnya diam, Narendra pun kembali memasukkan makanannya kedalam mulut.
"Masih kecil tapi cara makannya begitu elegan. Haisss....aku lupa kalau dia keturunan keluarga Wijaya, sudah pasti mereka akan di ajarkan table manner sejak dini" Batin Arya.
Selang berapa lama mereka semua menyelesaikan makan malamnya, Satria mengajak keluarga Wijaya untuk mengobrol di ruang tamu.
Mereka membagi dua kelompok, para istri sendiri dan para suami sendiri.
"Ini putra kedua mu tuan Rudi? " tanya Satria yang baru melihat Albi, selama ini yang kesorot media hanya Raka.
"Iya tuan Satria, dia lama kuliah di luar negeri, makanya tidak pernah kelihatan" sahut Rudi.
"Pantas saja saya tidak pernah melihatnya, apa dia juga bergabung di perusahaan Wijaya" tanya Satria lagi.
"Tidak, dia lebih memilih mendirikan perusahaannya sendiri yang ia beri nama New Saphire" jawab Rudi.
"Hah New Saphire? Jadi perusahaan itu milik anda, saya kira milik tuan Robby, karena tiap kali saya meeting dengan perusahaan itu yang datang selalu tuan Robby" timpal Arya terkejut.
Satria mengalihkan pembicaraan sebelum putranya itu kembali bersuara.
"Maaf saya mau tanya, itu yang hamil siapa?" tanya Satria.
"Oh, itu Kay om istri saya" jawab Albi sopan.
"Hanya Kay saja?, sepertinya saya tidak dengar kalau tuan Rudi kembali menikahkan putranya" tanya Satria lagi.
"Nama dia Kayla Wijaya, saya memang sengaja menyembunyikannya dari publik" jawab Albi sengaja tak menyematkan nama Marligh di belakang nama istrinya.
Karena saat ini Marligh sudah tak menganggap istrinya sebagai putrinya, jadi dia tak akan menyematkan marga Marligh pada nama istrinya.
Satria mengangguk mengerti. Pantas saja tidak ada media yang memberitakan tentang pernikahan mereka, ternyata memang sengaja di sembunyikan.
"Istrimu mengingatkanku dengan seseorang, tapi yasudahlah...mungkin saja mata mereka hanya mirip" ucap Satria mencoba menepis apa yang ada di pikirannya.
"Mirip siapa kalau boleh saya tahu om" tanya Albi penasaran sambil menatap intens kedua mata Satria.
__ADS_1
"Mirip putri saya yang menghilang dua puluh lima tahun yang lalu" jawab Satria dengan senyum yang di paksakan.
"Maaf, kalau saya sudah mengingatkan pada putri anda yang hilang" ucap Albi tak enak hati.
Satria hanya tersenyum dan di sertai dengan anggukan. Bukan Albi yang salah, tapi dia sendiri yang sudah memulainya lebih dulu.
"Mungkin hanya kebetulan" Batin Albi ketika melihat mata Satria yang begitu mirip dengan istrinya.
Setelah cukup lama mengobrol, akhirnya keluarga Wijaya pamit undur diri.
Dan kini di Mansion Dirgantara hanya ada mereka bertiga.
"Bagaimana dad" tanya Arya.
"Segera kamu selidiki tentang Kay Ar, daddy yakin kalau dia adikmu yang hilang, daddy masih ingat di bahu sebelah kanan terdapat tanda lahir yang bberbentuk mirip intang" jawab Satria meminta Arya mencari tahu tentang Kay.
Karena feeling dia mengatakan kalau Kay adalah putrinya yang selama ini mereka cari.
"Bagaimana caranya Arya melihat tanda lahir itu dad, yang ada nanti Arya di teriakin warga di kira ingin memperkosanya" tanya Arya bingung.
"Kamu ini bodoh sekali, kamu bisa tunjukan foto adikmu ke Albi dan biarkan dia yang akan melihatnya, bila perlu kita lakukan tes DNA" sahut Satria kesal.
Putranya ini pintar berbisnis namun hal seperti ini saja dia tidak tahu caranya.
"Kenapa tadi daddy tidak langsung tanya saja sama Albi, dad" ucap Arya.
"Karena daddy ingin menyelidikinya terlebih dahulu, dan Daddy juga ingin tahu siapa yang sudah mengambil putri daddy di rumah sakit saat itu" sahut Satria.
*****
Sementara di apartemen Vino, setelah acara pernikahan selesai keesokan harinya Vino langsung memboyong Rani ke apartemennya.
"Kita tidur di kamar masing-masing" ucap Vino datar karena tak ingin tidur satu ranjang bersama istrinya.
"Kenapa pisah kak, kan sekarang kita sudah jadi suami istri? " tanya Rani tak terima.
"Hanya status, selebihnya kita hidup masing-masing, jangan pernah kamu mencampuri urusan pribadiku, begitu juga sebaliknya, dan kamu tidak perlu melayaniku" jawab Vino.
"Dan aku peringatkan sama kamu jangan pernah sekali-sekali kamu ceritakan rumah tangga kita kepada keluargamu,karena aku tak ingin mereka tahu dengan kondisi rumah tangga kita. Dan aku minta sama kamu saat di hadapan orang tua kita, kita harus bersikap biasa saja selayaknya pasangan suami istri, ingat itu baik-baik!" lanjutnya memperingati Rani.
__ADS_1
Tubuh Rani langsung lemas, ia tak menyangka kalau Vino akan memperlakukan dirinya seperti ini, kalau tidak mencintainya kenapa dia mau menikahinya, pikir Rani.