
Tok
Tok
Tok
"Kay ini aku Albi, ayo kita sarapan" teriak Albi dari depan kamar Kay mengetuk ngetuk pintu kamar Kay.
Albi sudah mengetuk beberapa kali tapi Kay tak kunjung membukanya.
Klek...
"Tidak di kunci pintunya" gumam Albi menekan handle pintu Kay yang tak terkunci.
Albi pun masuk kedalam kamar Kay, sayup-sayup dia mendengar seseorang seperti sedang muntah.
Dia pun melangkahkan kakinya mencari ke asal suara tersebut, hingga kini Albi berdiri di depan kamar mandi yang ada di kamar Kay.
Albi yang takut terjadi apa-apa dengan Kay pun langsung menerobos masuk kedalam kamar mandi.
Ceklek...
Hoek
Hoek
Hoek
Albi melihat Kay yang sedang memuntahkan semua isi perutnya di wastafle.
"Kay... Kamu kenapa" tanya Albi panik sambil mendekati Kay yang sudah pucat pasi.
Hoekkk
Hoekkk
Hoekk
Belum sempat Kay menjawab dia sudah merasa mual dan muntah lagi.
Albi memijat tengkuk leher Kay. Dia menunggu Kay hingga selesai memuntahkan semuanya.
Hampir saja Kay jatuh ke bawah kalau Albi tak segera menangkapnya, wajah Kay terlihat sudah sangat pucat mungkin karena efek muntah tadi.
Albi menggendong tubuh Kay dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Tunggu sebentar, aku akan membuatkan jahe hangat untukmu" ucap Albi setelah itu keluar dari kamar Kay dan langsung menuju ke dapur.
"Den Albi sedang apa" tanya bibi ketika melihat Albi sedang berada di dapur.
"Ini bi, Albi sedang membuat jahe untuk Kay" sahut Albi yang sedang memasak jahe.
__ADS_1
"Den Albi tunggu saja di sana, biar bibi yang membuatkannya untuk non Kay" ucap Bibi langsung mengambil alih panci yang tadi di pegang Albi.
Albi pun menurut dan duduk sambil menunggu minuman jahe untuk Kay jadi.
Tak lama minuman yang Albi minta pun jadi.
"Ini den minumannya" ucap bibi sambil memberikan minuman tersebut kepada Albi.
"Terima kasih bi" ucap Albi dan mengambil minuman itu mebawanya naik ke atas menuju ke kamar Kay.
Albi begitu khawatir dengan Kay, apalagi saat ini Kay sedang mengandung calon anaknya.
Albi menaruh minuman itu di atas nakas dan membantu Kay mendudukan tubuhnya.
"Minumlah, setelah ini kita akan kerumah sakit sekalian memeriksakan kandungan kamu" ucap Albi sambil memberikan minuman yang ia bawa tadi kepada Kay.
Kay pun mengangguk kecil dan menerima minuman tersebut lalu menyesapnya.
"Kamu sudah sarapan belum" tanya Albi perhatian.
"Perutku neg, tidak enak makan" sahut Kay yang masih terlihat lemah.
"Sedikit saja, biar tidak sakit perutnya" bujuk Albi.
"Tidak mau nanti muntah lagi, aku mau mangga muda saja" pinta Kay dengan tatapan memohon.
"Tapi kamu belum sarapan, nanti kalau perutnya sakit bagaimana. Makanlah sedikit setelah itu aku akan memberikan apa yang kamu mau" ucap Albi berusaha membujuk Kay supaya mau sarapan.
"Iya, ayo ke bawah aku malas naik turun tangga" ajak Albi.
"Ck, rumah doang gedhe tapi ngga punya lift" sindir Kay Sambil menyibakkan selimut dan perlahan turun dari atas ranjang.
"Enak aja kalau ngomong, bahkan aku juga bisa memasang eskalator di rumah ini" ucap Albi tak terima di remehkan oleh Kay.
"Jangan banyak omong tuan, lebih baik tuan buktikan saja. Karena ucapan tanpa bukti itu HOAX" sahut Kay menekankan kata hoax kepada Albi.
Membuat Albi marah, ingin sekali dia melemparkan wanita di hadapannya ini kedasar jurang.
Apa dia tidak tahu kalau dirinya ini seorang sultan, bukankah Kay sudah membaca kartu namanya, atau jangan-jangan wanita di hadapannya ini tidak tahu tentang perusahaan New Saphire. Banyak pertanyaan yang ada di dalam benak Albi tentang Kay.
Kay meninggalkan Albi di kamarnya begitu saja.
"Untung sedang hamil, kalau tidak sudah aku buang dia. Aku kira dia kalem ternyata sangat menjengkelkan, jangan sampai nanti anakku mengikuti sifatnya yang menjengkelkan itu" gerutu Albi sambil keluar menyusul Kay ke ruang makan.
Terlihat Kay sudah duduk di meja makan menunggu dirinya.
"Cepat tuan, katanya mau sarapan" pinta Kay tak sabaran.
"Tadi di suruh sarapan tidak mau, sekarang malah nyuruh cepat-cepat" gumam Albi bingung dengan sikap ibu hamil satu ini.
Sang pelayanpun menyiapkan makanan dia atas meja untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Bibi maaf, boleh tidak Kay minta mangga muda" pinta Kay dengan penuh harap.
Entah ada angin apa tiba-tiba Kay ingin makan mangga muda.
Sang bibi tidak langsung mengiyakan, ia melihat ke arah tuannya terlebih dahulu meminta persetujuan.
"Berikan saja bi, supaya dia berhenti merengek" ucap Albi yang merasa tak tega melihat wajah Kay yang begitu ingin memakan buah tersebut.
Bibi mengangguk lalu beranjak ke dapur untuk mencari buah mangga yang ada di kulkas, beruntung di kulkas masih sisa satu mangganya.
"Makan, kamu janji tadi mau makan" ucap Albi.
Kay memanyunkan bibirnya lalu memasukan nasi goreng kedalam mulutnya.
Namun belum sempat ia mengunyah perut Kay terasa seprti dia aduk-aduk.
Kay bangkit dari tempat duduknya dan lari ke dapur mencari wastafle.
Hoekk
Hoekk
Hoekk
"Kay.... Ya ampun" pekik Albi panik.
Dia langsung lari menyusul Kay yang sedang muntah, Albi mendekati Kay dan memijat tengkuknya.
"Aku sudah bilang kan kalau aku tak mau sarapan, tapi tuan malah memaksa" omel Kay sambil membersihkan mulutnya dari sisa muntahan.
"Maaf, aku kan tidak tahu" ucap Albi penuh sesal.
***
Sedangkan di rumah Hardi, mereka sedang sarapan dengan begitu nikmat, tak sedikitpun mereka merasa kehilangan Kay.
"Kapan papa akan menemui keluarga Vino pa?" tanya Rani yang sudah tidak sabar ingin menikah dengan Vino.
"Nanti siang rencananya papa akan makan siang bersama pak Handoko papanya Vino untuk membahas masalah pernikahan Vino yang gagal dengan kakakmu" sahut Hardi yang tak mau menyebut nama Kay lagi.
"Lalu apa pak Handoko mau menjodohkan Rani dengan Vino pa" tanya Rani memastikan.
"Apa kamu sangat mencintai Vino nak" tanya Hardi sambil mengerutkan dahinya.
"Rani dari dulu sudah menyukai Vino pa" lirih Rani sambil menundukkan wajahnya.
"Lalu kenapa kamu tidak bilang dari awal sama papa, tau gitu papa tidak akan susah-susah mebujuk kakakmu supaya mau menikah dengan Vino" ucap Hardi.
Sebenarnya bukan Rani tak mau bilang sama papanya, tapi dia tahu kalau Vino lebih menyukai kakaknya ketimbang dirinya, makanya dia lebih memilih memendamnya dan mencari cara cantik untuk memisahkan mereka berdua.
Dan ternyata cara Rani berhasil membuat pernikahan mereka berdua batal.
__ADS_1
Rani sebenarnya manipulatif tapi semua orang tidak ada yang menyadarinya, karena Rani akan selalu berlaku baik ketika sedang berada di hadapan keluarganya dan juga orang-orang terdekatnya.