
Waktu begitu cepat, hari ini merupakan hari yang di tunggu-tunggu oleh keluarga besar Marligh dan juga keluarga Baskoro.
Hari penikahan antara Rani dan Vino pun tiba. Johan sudah duduk di hadapan penghulu untuk mengucap ijab qabul.
Akad nikah dan prosesj ijab Qabul baru saja selesai dilaksanakan.
Dengan balutan kebaya berwarna putih dipenuhi payetan payetan melekat ditubuh Rani yang tengah tersenyum sumringah dan jas berwarna senada yang Vino kenakan.
"Gimana para saksi, sah...?" tanya penghulu
"Sah, sah, sah " sahut semua para saksi secara bersamaan
Baru saja Vino mengucapkan ijab qabul, kini dia dan Rani sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
Rani merasa puas akhirnya dia berhasil menjadi istri dari seorang Vino Baskoro.
Sejak tadi Rani terus tersenyum namun tidak dengan Vino yang selalu memasang wajah datarnya tanpa senyum di bibirnya.
Rani menyematkan cincin dijari tangan Vino begitu juga dengan Vino, dia juga memakaikan cincin di jari tangan Rani.
Malam hari acara pesta pernikahan mereka akan di adakan hotel bintang lima, banyak rekan bisnis Hardi dan Baskoro yang juga di undang ke acara tersebut.
Di waktu yang sama. Raka menghampiri adiknya yang sedang duduk bersama istrinya di ruang keluarga.
"Al, lo dapat undangan dari keluarga Marligh nggak?" tanya Raka kepada adiknya.
Albi melihta ke arah istrinya yang hanya acuh mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Raka.
"Tidak, yang di undang dia" sahut Albi sambil menunjuk istrinya.
"Kok Kay, memangnya dia kenal keluarga Marligh" tanya Raka bodoh.
Sudah pasti istrinya tahu keluarga Marligh, orang jelas-jelas istrinya berasal dari keluarga itu, kakaknya ini amnesia atau gimana.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu kak? Kay kan berasal dari keluarga Marligh" sahut Albi memutar bola matanya malas.
Raka menepuk keningnya, dia lupa nama belakang Kayla, apalagi saat pernikahan tidak ada satupun keluarga Kay yang hadir.
"Terus kalian mau datang ngga? Kalau mau datang bareng ayo, kakak malas sendirian"
"Memang kak Alana kemana" tanya Albi heran, tumben kakak iparnya itu tidak menemani kakaknya, biasanya Alana selalu menemani Raka ke acara-acara rekan bisnisnya.
"Kak Alana lagi jagain Nayla yang sedang tidak enak badan" sahut Raka.
Albi menatap istrinya yang masih tak bergeming.
"Kamu mau datang ngga sayang?" tanya Albi.
"Tidak" sahut Kay singkat.
la tahu sebenarnya istrinya ingin hadir keacara tersebut, bagaimanapun juga Rani itu adik satu-satunya yang ia miliki, namun rasa sakit dihatinya membuat dia enggan untuk hadir keacara keluarga itu.
"Aku temani kalau kamu memang mau hadir" ucap Albi. Ia tak mau istrinya terus memendam kangen dengan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Albi masih belum menemukan bukti yang kuat kalau Kay bukan anak Hardi, jadi dia masih menganggap kalau keluarga Marligh itu masih keluarga istrinya.
"Boleh deh" tanya Zara lirih.
"Iya, aku akan menemanimu karena aku harus memastikan keselamatanmu" ucap Albi.
Kay mengangguk sambil tersenyum bahagia melihat suaminya yang begitu mengkhawatirkannya.
"Aku ganti baju dulu" ucap Kay.
"Ayo, aku juga harus ganti baju" ajak Albi.
Akhirnya mereka berdua beserta Raka menuju kekamarnya untuk bersiap-siap terlebih dahulu.
"Bi, aku pakai baju apa? gaunku tidak ada yang muat" keluh Kay. Karena saking lamanya tidak pergi keacara-acara formal membuat dia lupa membeli gaun baru.
Albi terkekeh melihat istrinya mengerucutkan bibirnya sambil berdiri di depan cermin.
"Memangnya tidak ada yang lain hmmmm" tanya Albi sambil memeluk ya dari belakang.
"Tidak ada, kemarin aku lupa beli gaun baru" sahut Kay.
"Sebentar, aku ke kamar kak Alana dulu" ucap Albi sambil mecium pipi chubby istrinya.
Albi berpikir kakak iparnya mempunyai gaun bekas Alana hamil dulu yang bisa Kay pinjam dulu.
Tok
Tok
Tok
Ceklek....
Terlihat Alana yang keluar membuka pintu.
"Ada apa Al? " tanya Alana yang melihat adiknya berdiri di depan kamarnya.
"Kak Alana masih punya gaun hamil ngga? Punya Kay sudah pada ngga muat" Jelas Albi.
"Ck, gaya elit, tapi beli gaun buat istri sulit" cibir Alana kepada adik iparnya membuat Albi mendengus sebal.
"Tunggu bentar, kakak ambilkan dulu" lanjut Alana kembali masuk kedalam kamarnya mengambil gaun untuk Kay.
Tak lama terlihat Alana menghampiri Albi sambil membawa beberapa gaun.
"Ini Al semoga ada yang cocok dan muat ya" ucap Alana sambil memberikan gaun tersebut.
"Banyak amat, Kay cuma butuh satu kak" ucap Albi.
"Kak Alana tidak tahu selera Kay seperti apa, jadi biar Kay sendiri aja yang memilihnya, mana yang cocok untuknya" sahut Alana, Albi mengangguk mengerti.
Albi membawa gaun-gaun itu kembali kekamarnya.
__ADS_1
Ceklek.....
Albi masuk kedalam kamarnya setelah ia membuka pintu kamarnya.
"Sayang ini bajunya" ucap Albi sambil memberikan gaun dari Alana tadi.
Dengan senang hati Kay langsung menerimanya.
"Kok banyak bi? " tanya Kay ketika melihat empat gaun dari tangan suaminya.
"Kak Alana suruh kamu memilihnya sendiri" sahut Albi.
Akhirnya mereka berdua memakai pakaiannya. Kay memoles wajahnya dengan sedikit make up supaya terlihat fresh.
"Sudah sayang" tanya Albi yang melihat istrinya baru selesai memakai lipstiknya.
"Sudah Bi, yuk" sahut Kay mengulurkan tangannya kearah suaminya.
Albi menyambut uluran tangan istrinya, mereka berdua turun kebawah menemui Raka yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Ayo kak" ajak Albi.
Mereka bertiga masuk kedalam mobilnya dan langsung meluncur ke hotel dimana acara pesta pernikahan Rani dan Vino di langsungkan.
Sopir yang mereka tumpangi sudah sampai di tempat acara. Mereka bertiga keluar dari dalam mobil dan berjalan beriringan masuk kedalam hotel.
Pesta pernikahan Rani dan Vini di rayakan begitu meriah, terlihat ballroom begitu mewah dan megah.
Kedatangan mereka bertiga menjadi pusat perhatian para tamu undangan yang hadir di acara tersebut.
Albi tak sedikitpun melepaskan rangkulannya di pinggang sang istri.
Sedangkan di atas pelaminan, Rani dan juga Vino begitu penasaran ketika para tamu undangan mengalihkan pandangannya ke pintu masuk ballroom.
"Ada apa kak" tanya Rani kepada suaminya.
"Aku juga tidak tahu" sahut Vino sambil mencoba melihat ke arah mereka.
Dari atas pelaminan Rani mengerutkan keningnya ketika melihat siapa yang baru saja datang dan menjadi pusat perhatian semua para tamu undangannya.
"Pah, bukannya itu kak Kay" ucap Rani ketika melihat kedatangan Kay.
"Mana" tanya Hardi membelalakan matanya.
"Itu lho pah" jawab Rani sambil menunjuk ke arah Kay datang.
Hardi pun mengikuti arah yang di tunjukkan oleh putrinya.
Hardi mengamati dua pria yang datang bersama Kay.
"Bukannya itu tuan Raka Wijaya, kenapa Kay bisa datang dengannya? Apa mungkin dia kenal dengan keluarga Wijaya, setahuku Kay tak pandai bergaul seperti Rani" Batin Hardi bertanya-tanya.
Hardi terus menatap ke arah Kay, dia bisa melihat kalau Kay cukup akrab dengan Raka wijaya.
__ADS_1
Sedangkan Vino, dia juga ikut menatap kearah Kay yang terlihat begitu mesra bersama suaminya.
"Dia terlihat begitu bahagia dengan suaminya" Batin Vino tanpa mengalihkan sedikit pun tatapannya dari Kay.