
"Sayang, ayo temani mama ke acara ulang tahun teman mama" ajak Eva kepada kedua menantunya.
"Alana nggak mau ikut, paling nanti di sana cuma di ajakin ghibah sama teman-teman mama" tolak Alana.
Alana paling males kalau di ajak ibu mertuanya arisan, apalagi nanti di sana banyak teman mertuanya yang suka menyombongkan diri dan ngomongin orang.
"Kalau begitu Kay aja, biar mama ada temannya" rayu Eva.
"Kay malu ma" tolak Kay.
"Ngapain malu, kamu cantik Kay" bujuk Eva sambil merangkul Kay.
"Ikut aja Kay, sekalian kamu cuci mata biar tidak sumpek di rumah terus" saran Alana.
Kay jarang keluar kalau suaminya tidak mengajaknya keluar, karena terkadang suami posesifnya itu tidak memperbolehkan Kay keluar kalau bukan dengan dirinya.
"Tapi Kay ijin sama Albi dulu ya ma" ucap Kay, meskipun perginya sama mertuanya tapi dia harus ijin sama suaminya dulu.
"kamu ganti baju saja, biar nanti mama yang ijin sama suami kamu" pinta mama Eva, Kay pun mengangguk lalu naik ke atas menuju ke kamarnya untuk ganti baju.
Sedangkan di bawah Eva menghubungi putranya meminta ijin untuk mengajak Kay pergi ke acara ulang tahun temannya.
"Iya ma, ada apa?" tanya Albi dari sebrang telpon.
"Mama mau minta ijin bawa Kay pergi ke acara ulang tahun teman mama" sahut mommy Eva.
"Boleh, tapi jangan sampai istri Albi kecapekan ma" kata Albi memperingati mama nya.
"lya mama tahu" ucap mama Eva, setelah itu ia menutup panggilannya bersamaan dengan Kay yang juga sudah selesai ganti baju.
"Ayo ma" ajak Kay.
"Al, kamu seriusan tidak mau ikut mama? " tanya mama Eva, memastikan.
"Tidak, nanti Chika mau kesini soalnya ma" sahut Alana.
Akhirnya mama Eva, menyerah membujuk Alana supaya ikut dengannya.
mama Eva, pergi berdua bersama Kay dengan menggunakan sopir, mereka menaiki mobilnya menuju ke salah satu restoran bintang lima yang ada di kotanya.
Sampai di lokasi, mama Eva, dan Kay turun dari mobilnya, mereka berdua berjalan beriringan masuk kedalam restoran.
Semua mata tertuju kepada mama Eva, dan Kay yang baru memasuki restoran tersebut, semua teman sosialita mama Eva, penasaran dengan wanita hamil yang di gandeng oleh Eva,.
"Kamu bawa siapa Va" tanya teman Eva,.
"Oh....perkenalkan ini Kay menantu saya" sahut Eva ,memperkenalkan Kay kepada teman-temannya.
Kay tersenyum dan mengangguk pada teman teman mertuanya.
__ADS_1
"Hah menantumu yang mana? Bukankah menantumu itu namanya Alana"
Teman sosialita Eva, kaget mendengar Eva memperkenalkan Kay sebagai menantunya.
"Ini istri Albi, kalau Alana istri Raka" jelas Eva
"Memangnya kapan Albi menikah?" Tanya salah seorang teman Eva
"Sudah lama, cuma pesta resepsinya nunggu Kay melahirkan" Jawab Eva
"Apa jangan-jangan Kay hamil duluan makanya kamu merahasiakan pernikahan mereka" sahut teman eva julid.
"Tentu saja hamil duluan, memangnya ada orang langsung melahirkan tanpa proses hamil lebih dulu" jawab Eva, nyleneh.
Sementara mereka asik berdebat tentang Kay, ada sepasang mata yang terus menatap Kay secara intens, dia tak sedikit pun melepaskan tatapannya kepada Kay.
Ada perasaan aneh di dalam hatinya. Seperti sedang terhipnotis dia berjalan mendekati Kay dan mengelus rambut Kay.
"Eh" Kay kaget ketika ada yang mengelus rambutnya secara tiba-tiba.
"Maaf, aku mengagetkanmu" ucap Orang itu yang tak lain adalah nyonya Amira Dirgantara.
"Tidak apa nyonya, saya hanya terkejut saja" balas Kay sambil tersenyum manis kepadanya.
"Boleh aku mengelus perutmu? " ucap Nyonya Amira di balas anggukan oleh Kay.
"Berapa bulan? " tanyanya lagi.
"Empat bulan mau lima bulan" sahut Ka tersenyum.
Nyonya Amira menatap bola mata Kay yang begitu mirip dengan suaminya.
"Harusnya putriku sudah seumuran dengannya" Batin nyonya Amira sedih mengingat putrinya yang hilang.
*****
Sedangkan di kantor Albi, dia sedang mengobrol dengan Robby asistennya.
"Apa kamu sudah mendapatkan informasi yang aku minta Rob?" tanya Albi sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Sudah tuan" sahut Sahut Robby sambil memeberikan map yang berisi informasi yang Albi minta.
Albi membuka map tersebut, dan membaca semua informasi dengan seksama, ia tak ingin ada satupun yang terlewat.
Ekpresi wajah Albi berubah ubah ketika membaca isi map tersebut.
"Dua puluh lima tahun yang lalu istri tuan Hardi melahirkan anak perempuan namun bayi tersebut di nyatakan meninggal karena gagal jantung hingga membuat nyonya Marlyn histeris, dia tidak terima bayinya meninggal, namun setelah beberapa jam kemudian tuan Hardi mengklaim kalau putrinya kembali hidup," terang Robby.
"Bagaimana bisa? " gumam Albi merasa ada yang janggal dengan informasi tersebut.
__ADS_1
Albi menghela nafas kasar setelah membaca informasi tersebut, lalu dia meletakkan kembali map itu di atas meja.
"Selidiki semuanya, bila perlu kamu datangi rumah sakit dimana nyonya di lahirkan dulu," titah Albi.
"Baik tuan" sahut Robby patuh.
"Kalau begitu handle pekerjaanku, aku ingin menjemput istriku" ucap Albi sambil beranjak dari tempat duduknya.
"iya tuan" sahut Robby pasrah.
Alamat lembur lagi gumam Robby pelan
Albi keluar dari ruang kerjanya dan pergi meninggalkan perusahaannya menjemput istrinya yang sedang bersama sang mama.
Sampai di restoran Albi langsung masuk mencari keberadaan istrinya.
"ma, istri Albi dimana?" tanya Albi membuat mama Eva menoleh, dia menggelengkan kepalanya melihat putranya yang begitu posesif kepada istrinya, ia tahu kalau putranya datang kesini ingin menjemput istrinya.
Kejadian Kay yang di tampar oleh istri Hardi membuat Albi selalu was-was kalau istrinya pergi sendiri tanpa dirinya.
la tak akan membiarkan orang lain menyakiti istrinya, termasuk orang tua Kay sendiri.
Kemarin dia membiarkan Marlyn berhasil menampar istrinya namun tidak lain kali.
"Itu ada di sana sama nyonya Amira" tunjuk mama Eva
Albi melihat istrinya sedang ngobrol dengan nyonya Amira, mereka berdua terlihat begitu akrab padahal ini kali pertama mereka berdua bertemu.
Albi melangkahkan kakinya menghampiri istrinya.
"Sayang" panggil Albi ketika jaraknya tak sudah dekat dengan Kay.
"Bi, kamu di sini" sahut Kay tersenyum manis melihat suaminya.
"Iya, aku ingin menjemputmu" ucap Albi mencium pipi istrinya membuat Kay merona karena di tempat itu tidak hanya ada nyonya Amira saja, melainkan ada ibu-ibu yang lain.
Nyonya Amira mengulum senyum melihat keromantisan pasangan muda itu.
"Ayo kita pulang, kamu sudah terlalu lama berada di luar nanti kamu capek" ajak Albi dengan penuh perhatian.
Kay pun mengangguk setuju, dia juga sudah merasa pegal ingin rebahan.
Sebelum pulang Kay pamit sama semuanya termasuk sama mertuanya.
"Ma, Albi bawa pulang Kay duluan ya" ucap Albi.
"Maaf ma, Kay tidak bisa pulang sama Mama" ucap Kay yang merasa tidak enak dengan mertuanya, karena tadiberangkat bareng sama mertuanya namun dia pulang lebih dulu dengan suaminya.
"Tidak apa sayang" sahut mama Eva tersenyum.
__ADS_1