
"Kamu kenapa sih Al, Laura itu cantik kenapa kamu masih tidak tertarik dengannya, memangnya kamu mau mencari wanita yang seperti apa? Semua wanita yang mama kenalkan sama kamu, kamu selalu menolaknya" cerocos mama Eva.
Albi mengusap telinganya yang terasa berdengung mendengar ocehan mamanya.
"Sabarlah ma, nanti Albi juga akan menikah mama tunggu saja" ucap Albi santai.
"Menikah dengan siapa hah? Kamu saja tidak pernah menggandeng perempuan, lalu wanita mana yang akan kamu nikahi, awas saja kalau wanita itu tidak bener mama tidak akan merestuinya".
Albi menghela nafasnya sabar, suasana hati mama nya sepertinya sedang tidak baik.
"Istrimu pa, selalu saja memaksaku menikah" ucap Albi pada papanya
"Dia juga mama mu Al, lagian kamu sudah tua tidak juga mau nikah" sahut Rudi membuat Albi berdecih sebal, ternyata papa nya sama saja.
Albi melihat kedatangan Narendra dari arah tangga, ini kesempatan dia untuk kabur dari ocehan mamanya.
"Sudah belum boy" tanya Albi kepada sang keponakan.
"Sudah om, kata mommy boleh ikut"
Jawab Narendea sambil tersenyum ke arahnya.
"Yasudah ayo kita jalan, kuping om sudah budeg mendengar ocehan omamu itu" ucap Albi sambil menyindir sang mama.
Membuat nafas Eva semakin memburu, lama-lama putranya itu semakin kurang ajar.
"Albi....." teriak mama Eva memanggil putrnaya yang sudah lebih dulu kabur sambil menggendong Narendra.
Albi dan Narendra tertawa terbahak-bahak mendengar suara teriakan Eva dari dalam rumah.
Albi membawa masuk keponakannya kedalam mobil. Dia mengendarai mobilnya mampir ke
Supermarket terlebih dahulu.
"Ayo turun, kita beli cemilan dulu buat kamu" ajak Albi.
Narendra pun membuka pintu dan turun dari mobil om nya.
Dia menggandeng tangan om nya masuk kedalam supermarket.
Narendra membeli beberapa coklat yang berbentuk bulat menyerupai telur dan mengambil minuman juga beberapa cemilan lainnya.
"Sudah om" ucap Narendra.
"Yasudah, ayo kita ke kasir" ajak Albi.
Albi menghitung belanjaan Narendra di kasir. Usai membayarnya Albi dan Narendra kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat Kay.
"Ini rumah siapa om? Kenapa kita kesini" tanya Narendra ketika melihat mobil om nya berhenti di rumah yang di tinggali Kay.
__ADS_1
"Ini rumah Aunty Kay, jangan bilang siapa-siapa boy kalau om ajak kamu kesini, ini cuma rahasia kita berdua." ucap Albi tegas kepada keponakannya, ia tak mau keponakannya itu membocorkan rahasianya, bisa runyam urusannya nanti.
Narendra mengangguk paham, dia memang seidkit berbeda dengan sang kembaran yang lebih cenderung banyak omong, Narendra kaku jarang mau bicara kalau tidak di ajak bicara duluan.
Mereka berdua memasuki rumah tersebut, Narendra menenteng belanjaan miliknya.
"Kay dimana bi" tanya Albi ketika melihat pelayan rumahnya yang ingin menyambut kedatangannya.
"Non Key sedang ada di dapur tuan, sepertinya dia sedang membuat susu" sahut bibi.
Albi pun meminta bibi kembali ke belakang, kemudian Albi ke dapur melihat Key.
"Kamu sedang apa" tanya Albi tiba-tiba dari arah belakang, membuat Key kaget dan hampir saja menjatuhkan gelasnya.
"Yaampun tuan, kenapa mengagetkan sih untung saja gelas yang saya pegang tidak jatuh" kesal Kay.
"Maaf, kalau aku mengagetkanmu" ucap Albi penuh sesal.
Lantas Kay pergi meninggalkan Albi begitu saja, dia menuju ke ruang tengah untuk melanjutkan nonton televisi.
Tiba di ruang tengah dia di kagetkan dengan keberadaan Narendra yang sedang duduk sambil memakan coklatnya.
Glukk....
Kay menelan salivanya kasar, dia tiba-tiba ingin coklat yang sedang di makan Narendra.
Dia akhirnya berjalan mendekati Narendra.
Narendra berhenti memakan coklatnya, dia melihat kearah Kay.
"Aku Narendra aunty keponakannya om Albi, Aunty siapanya om Albi" jawab Narendra dan balik bertanya kepada Kay.
"Emmm....aunty" tiba-tiba Albi memotong ucapan Kay.
"Aunty ini temannya om Albi boy, namanya aunty Kay" ucap Albi yang baru saja datang dari arah dapur.
Narendra mengerti lalu kembali memakan coklatnya. Sejak tadi Kay melihat coklat yang di pegang Narendra dengan menelan salivanya.
la ingin memintanya namun Kay takut bocah kecil itu akan menangis.
"Apakah enak?" tanya Kay basa basi
"Enak, aunty mau" jawab Narendra lalu menawarkan coklatnya kepada Kay.
"Apakah boleh?" tanya Kay ragu.
"Boleh, Narend masih punya banyak di kantong" jawab Narendra sambil memberikan satu buah coklatnya kepada Kay.
"Terima kasih" ucap Kay dengan mata berbinar menerima coklat yang di berikan Narendra.
__ADS_1
Kay membukanya dan langsung memakannya, hanya dua kali suap coklat tersebut langsung habis di makan Kay.
Wajah Kay kembali murung ketika melihat coklat yang ada di tangannya habis.
Albi sejak tadi hanya memperhatikan interaksi keduanya.
"Aunty mau lagi" tanya Narendra yang melihat wajah murung Kay.
"Tidak, nanti punyamu habis" tolak Kay yang sebenarnya masih ingin.
"Tidak apa, nanti Narend bisa minta belikan lagi sama om Albi" ujar Narendra sambil memberikan dua coklat lagi kepada Kay.
Kay tersenyum sumringah menerima coklat tersebut.
"Apakah dia sedang ngidam seperti kata dokter tadi pagi" batin Albi.
Kay memakan coklatnya dengan mulut belepotan.
"Belepotan seperti anak kecil" ucap Albi sambil mengelap bibir Kay dengan menggunakan tissu.
Bibir Kay sudah bersih hingga bibir itu terlihat seksi di mata Albi.
"Bibir ini yang aku nikmati malam itu, ingin sekali aku menikmatinya lagi" gumam Albi dalam hati.
Albi mencoba menepis pikiran mesumnya terhadap Kay.
"Istirahatlah, ini sudah pukul 9 malam tidak baik ibu hamil tidur terlalu larut" titah Albi.
"Iya tuan" sahut Kay patuh.
"Hai boy, aunty tidur dulu ya lain kali kesini lagi main sama aunty" ucap Kay.
"Iya aunty," sahut Narendra sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang masih menyisakan coklat.
Sedangkam di rumah Hardi sedang di langsungkan acara makan malam bersama keluarga Vino.
"Bagaimana pak Baskoro" tanya Hardi.
"Perjodohan ini harus tetap terjadi, sama Rani pun tak masalah, saya malah bersyukur akhirnya putra saya tidak jadi menikah dengan Kay yang liar itu" sahut Baskoro.
"Saya juga menyesal sudah mempunyai putri seperti dia pak Baskoro, dan saya lebih memilih membuangnya ketimbang menjadi aib keluarga" ucap Hardi yang begitu tega dengan Kay.
"Anda sudah mengambil keputusan yang tepat tuan Hardi" ucap Baskoro.
Rani full senyum mendengar keputusan mereka berdua. Sepertinya rencana nya telah berhasil membuat semua orang membenci kakaknya itu.
Sedangkan Vino dari tadi hanya diam saja, dia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan ayahnya bagaimanapun juga dia sudah menyukai Kay, namun dia tidak bisa melawan ayahnya atau dirinya akan di coret dari hak waris.
"Bagaimana kalau mereka bertunangan dulu tuan Hardi" usul Baskoro.
__ADS_1
"Sepertinya itu bukan ide yang buruk pak, bagaimana kalau dua bulan lagi kita adakan pesta pertunangan mereka" sahut Hardi.
Akhirnya dua bulan lagi mereka bersepakat akan melangsungkan pertunangan antara Rani dan Vino.