
Usai Albi pergi dari perusahaannya Satria langsung menemui putranya di ruangannya.
"Cepat temani daddy kerumah sakit" ajak satria maksa.
"Ngapain daddy ngajak Arya ke rumah sakit, daddy sakit?" tanya Arya penasaran.
"Sudah jangan banyak tanya, nanti kamu juga akan tahu" ucap Satria.
Arya merotasi matanya malas, minta di temani tapi maksa.
"Cepat Ar, kamu ini lelet sekali seperti perempuan aja" ucap Satria tak sabaran.
Dengan perasaan dongkol Arya mengikuti langkah daddy nya keluar dari perusahaannya.
Mereka naik mobil menuju ke rumah sakit, dari tadi Arya hanya diam malas mengajak daddy nya berbicara.
Setibanya di rumah sakit mereka langsung masuk dan menuju ke ruang dokter.
"Berapa lama hasilnya keluar" tanya Satria mengutarakan tujuannya.
"Dua minggu tuan" jawab dokter.
"Saya mau hasilnya besok" tegas Satria mengintimidasi dokter itu.
"Tapi tuan.." ucap dokter langsung di potong oleh Satria.
"Jika besok belum keluar hasilnya maka aku akan merobohkan rumah sakit ini" ancam Satria.
"I-ya tuan, besok hasilnya keluar" ucap dokter takut.
Arya hanya mengelus dadanya sabar, dia merasa kasihan melihat wajah tertekan dokternya.
"Sudah dad, kasihan dokternya" tegur Arya.
"Ayo kita pulang, besok kita kembali kesini lagi" ajak Satria sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Maafkan daddy saya dok, dia sedang PMS" ucap Arya sebelum keluar dari ruangan tersebut.
*****
"Berantakan sekali meja kerjanya" gumam Marlyn saat melihat ruang kerja suaminya berantakan.
Marlyn merapihkan berkas yang berserakan di atas meja kerja suaminya, dan memasukkannya kedalam laci.
Tapi siapa sangka Marlyn menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Deg
__ADS_1
Marlyn memegangi dadanya yang seperti di remas, hatinya sakit mengetahui suaminya masih menyimpan foto mantan kekasihnya.
"Bukankah ini foto Amira" gumam Marlyn sambil melihat foto yang ia temukan di dalam laci meja kerja suaminya.
"Kenapa dia masih menyimpan foto Amira, apa mungkin dia masih menyukainya" gumam Marlyn bertanya dalam hati.
Marlyn mengambil foto tersebut dan segera keluar dari ruang kerja suaminya, ia ingin menanyakan langsung dengan suaminya.
Sore hari Hardi pulang dari perusahaannya, dia masuk sambil menenteng tas dan jasnya.
Hardi mengerutkan dahinya ketika melihat istrinya tak menyambutnya seperti biasa. Marlyn malah asik main ponselnya.
Lantas ia menghampiri istrinya dan merampas ponsel dari tangan istrinya.
"Kenapa di ambil" seru Marlyn tak terima.
"Aku pulang bukannya menyambutku malah asik dengan poselmu" ucap Hardi.
"Menyambut seorang suami yang diam-diam masih menyimpan foto mantan, Begitu" sindir Marlyn tersenyum miring menatap Suaminya.
"Maksudmu apa mah, aku tidak mengerti" tanya Hardi tidak mengerti.
"Kamu tidak mengerti apa pura-pura tidak mengerti hah, aku tahu kamu diam-diam masih menyimpan foto Amira pah. Apa selama ini kamu masih mencintainya hah, katakan pah katakan" ucap Marlyn meluapkan emosinya.
"Foto apa, jangan sembarangan kamu mah" Hardi masih mengelak.
"Foto apa kamu bilang hmm" sahut Marlyn sinis.
"Masih mau mengelak hah, aku menemukan foto itu di laci meja kerjamu. Aku tak menyangka ternyata selama ini kamu masih memikirkan wanita lain di belakangku pah" ucap Marlyn dan memelankan suaranya di akhir kalimat.
"Aku memang masih menyimpan fotonya tapi tidak pernah sedikitpun aku memikirkannya, aku mencintaimu mah" ucap Hardi akhirnya mengakuinya.
Marlyn menggelengkan kepalanya gak percaya, kalau memang mencintainya harusnya dia tak menyimpan foto mantannya.
"Kalau kau benar mencintaiku harusnya kamu tak menyimpan foto mantanmu pah" sahut Marlyn menatap Hardi dengan tatapan kecewa.
"Sungguh aku mencintaimu, aku tidak mungkin menghianatimu mah" ucap Hardi menyakinkan istrinya.
Marlyn pergi begitu saja dari hadapan suaminya, ia memasuki kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Hardi menghela nafas sambil mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut, ia menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Akhirnya yang selama ini ia simpan ketahuan juga sama istrinya, tak munafik Hardi memang masih menyimpan sedikit rasa untuk Amira. Tapi bukan berarti dia tak mencintai istrinya.
la mencintai istrinya, namun Amira memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya.
*****
__ADS_1
"Sayang kamu lagi apa? Kenapa sendirian yang lain kemana" tanya Albi yang baru pulang dari kantornya, tak sengaja dia melihat istrinya duduk sendirian di sofa.
"mama lagi pergi sama kak Alana dan kembar" sahut Kay menghampiri suaminya dan mengambil alih tas serta jas dari tangan suaminya.
"Lalu kenapa kamu tidak ikut hmmm" tanya Albi dan mengecup kening istrinya.
"Tidak, aku lagi malas jalan-jalan" jawab Kay.
Kay malas ikut ibu mertuanya sama kakak iparnya belanja, mereka kalau belanja lama dan itu akan membuat Kay lelah.
Kehamilan Kay sudah memasuki bulan ke 7 dan itu membuat Kay makin gampang lelah.
"Apa kamu tidak mau pergi liburan hmm, dari awal menikah aku belum pernah membawamu pergi berlibur sayang" tanya Albi, ia merasa kasihan dengan istrinya yang tak pernah ia ajak pergi berlibur.
"Nanti aja nunggu baby nya lahir" tolak Kay sambil memeluk tubuh suaminya dari samping.
"Yasudah, kalau ingin pergi jalan-jalan bilang saja, nanti aku temani" ucap Albi.
Kay mengangguk tersenyum. Lalu mereka berjalan menuju ke kamarnya.
"Sayang, kamu mau kemana" tanya Albi.
"Aku ingin kekamar mandi, menyiapkan air untuk kamu mandi" jawab Kay.
"Tidak usah, kamu duduk aja di sini aku takut kamu ke pleset sayang" larang Albi, ia ngeri lihat perut besar istrinya, apalagi istrinya itu tidak bisa diam.
Kay nurut dan duduk di tepi ranjang sambil mengerucutkan bibirnya. Albi memasuki kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Setelah menyiapkan baju ganti suaminya, Kay keluar kamar dan turun kebawah menuju ke kolam renang yang ada di halaman belakang, ia duduk di tepi kolam sambil kakinya menjuntai masuk kedalam kolam.
Albi keluar dari dalam kamar mandi menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang sudah menghilang.
"Bumil satu itu kenapa tidak bisa diam sih" dumal Albi.
Albi segera memakai bajunya, dan segera keluar menyusul istrinya.
"Kamu mau kemana Al" tanya mama Eva yang baru saja pulang bersama suaminya.
"Kenapa mama pulang sama papa, kata Kay mama pergi sama kak Alana" bukannya menjawab Albi malah memberikan pertanyaan.
"Kakakmu sama papa mu nyusulin mama ke mall, mana mama belum selesai belanja sudah di suruh pulang" gerutu mama Eva.
"Besok kamu masih bisa belanja ma" timpal Rudy membuat nana Eva menggerutu.
Albi menahan tawa melihat mama nya yang sedang kesal, papa nya tak jauh beda dengan dirinya. Semua pria di keluarga Wijaya memang posesif.
"Kamu belum jawab pertanyaan mommy Al," ucap mama Eva.
__ADS_1
Albi menepuk keningnya, dia lupa kalau mau menyusul istrinya.
"Albi mau nyusulin menantu mama di kolam renang, bumil satu itu meresahkan tidak bisa diam, Albi takut dia kesandung rumput" ucap Albi.