My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 20. Sore yang panas


__ADS_3

"Rob, kamu tolong cari tahu tentang asal usul Kayla sekarang juga, aku butuh informasi itu secepatnya"


perintah Albi kepada sang asisten lewa panggilan telponnya.


"Baik tuan" jawab Robby patuh langsung mematikan panggilannya.


Tanpa banyak kata Robby langsung mencari tahu informasi tentang asal usul istri bosnya itu.


Sebenarnya Robby penasaran, namun dia tidak berani tanya sama bosnya itu.


Sedangkan di kamar Albi, setelah menghubungi Robby, Albi ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri.


Terlihat Kay begitu gelisah dalam tidurnya.


"Kenapa Sayang? " tanya Albi lembut.


"Pegel Bi, tolong usapin punggungnya" jawab Kay sambil memejamkan matanya.


Albi pun memiringkan tubuh istrinya dan membawanya kedalam pelukannya, lantas Albi mengusap usap punggung istrinya dengan penuh kasih sayang, hingga membuat Kay nyaman dan kembali terlelap di pelukan suaminya.


Albi tidak tega melihat istrinya yang selalu kesulitan saat mencari posisi tidur. Tak jarang Kay juga sering mengeluh karena punggungnya pegal atau ngga kakinya yang pegal.


Albi mengusap punggung istrinya sambil ikut memejamkan matanya. Tak lama mereka berdua tidur siang bersama.


Hingga menjelang sore Kay membuka matanya, dia melihat wajah tampan suaminya yang tepat berada di hadapannya.


Cup


Cup


Cup


Kay iseng menciumi seluruh wajah suaminya yang masih terlelap, membuat Arga Albi dan akhirnya membuka matanya.


"Nakal" ucap Albi sambil


mengecup bibir istrinya lalu menggesek gesekan hidungnya ke hidung istrinya.


"Bangun sudah sore" ucap Kay.


"Memangnya ini jam berapa?" tanya Albi yang masih ingin bermalas malasan di atas tempat tidur bersama istrinya.


"Sudah jam empat sore, Bi" sahut Kay.


Bukannya bangun Albi justru menyusupan kedua tangannya masuk ke dalam pakaian istrinya. Dia meremas dada sang istri yang semakin hari ukurannya semakin besar.


"Sepertinya bukan perutmu saja yang membesar honey, tapi dada mu juga ikut membesar" ucap Albi vulgar.


"Dasar mesum" ujar Kay.


"Biarin saja mesum sama istri sendiri kecuali aku mesum sama istri orang lain" sahut Albi yang masih memainkan dada istrinya.


"Coba saja mesum sama istri orang, nanti aku akan menghilang sambil membawa anakmu, biar kamu tidak bisa melihat kami lagi" ancam Kay membuat Albi membulatkan matanya.

__ADS_1


Dia hanya bercanda tapi istrinya menanggapinya dengan serius.


"Tidak sayang, aku hanya bercanda. Jangan bicara seperti itu aku takut kehilangan kalian" ucap Albi sambil menduselkan ke ceruk leher istrinya.


"Mana bisa aku meninggalkanmu Bi, kamu saja selalu memberiku bodyguard" ucap Kay sambil mengusap kepala suaminya.


"Sengaja biar kamunya ngga kabur" sahut Albi nyengir sambil menatap wajah istrinya.


Kay hanya merotasi bola matanya malas, memangnya dia mau kabur kemana, keluarga saja tidak punya pikirnya.


lebih dari lima belas menit sudah keduanya saling berpeluk manja.


"Ayo mandi, setelah itu kita ke bawah" ajak Kay kepada suaminya.


"Aku pingin sayang" pinta Albi dengan wajah yang sudah di penuhi kabut gairah.


"Pingin apa?" tanya Kay bingung.


"Jenguk baby" jawab Albi mengusulkan kepalanya ke dada sang istri


"Tidak boleh menolak sayang, nanti kamu dosa" lanjutnya sambil menyusurk leher sang istri membuat Kay tak berkutik.


perlahan tangan Albi membuka baju sang istri.


Kay kalah kalau suaminya sudah mengeluarkan kata-kata keramat.


Perlahan tangan Albi membuka baju sang istri.


Keduanya saling bercumbu menuntaskan nafsu satu sama lain.


lenguhan demi lenguhan tak luput dari mulut Kayla yang terus dihujami kenikmatan oleh suaminya hingga keduanya meraup kenikmatan bersama.


Usai melakukan kegiatan sore yang panas, sepasang suami istri itu turun kebawah, terlihat keluarga Albi sedang berkumpul di ruang keluarga.


Sejak tadi senyum Albi tak pernah luntur dari wajahnya, wajah pemuda itu terlihat sumringah, namun berbeda dengan Kay yang seperti kesal dengan suaminya.


"Kamu kenapa Kay?" tanya Alana yang melihat adik iparnya mengerucutkan bibirnya.


Kay tidak menjawab, dia hanya melirik ke arah Albi, Alana pun paham melihat lirikan mata adik iparnya itu, dia menatap wajah Albi yang terlihat berbinar.


"Sudah tidak usah kesal, kamu juga menikmatinya kan" bisik Alana di telinga Kay membuat wajah Kay langsung merona.


Kakak iparnya itu memang ceplas ceplos, tapi meskipun begitu Alana selalu baik padanya.


Albi menarik tangan istrinya untuk duduk.


"Jangan cemberut terus sayang, nanti mama mengira aku ngapa-ngapain kamu" bisik Albi.


"Tapi kan benar kamu sudah ngapa-ngapain aku" ketus Kay.


Albi menekan kepala istrinya gemas, giliran sudah selesai adegan ***-*** baru protes, tadi pas nglakuin istrinya justru keenakan sambil menjerit jerit memanggil namanya.


*****

__ADS_1


Di rumah Hardi, setelah pulang dari mall, dia langsung masuk kedalam ruang kerjanya, dia duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Dia membuka laci kerjanya dan diambilnya foto dari dalam laci tersebut.


Di tatapnya foto tersebut dan di usap, entah foto siapa yang sedang Hardi lihat, hanya dia dan tuhannya yang tahu.


Tiba tiba pintu ruangan kerja Hardu di ketuk dari luar.


Tok


Tok


Tok


Ceklekk.....


Pintu di buka oleh Marlyn, Hardi buru-buru memasukkan fotonya kedalam laci meja kerjanya, Hatdi seperti menyembunyikan sesuatu dari istrinya.


"Ada apa mam? " tanya Hardi setelah menetralkan kegugupannya, ia tak mau istrinya curiga.


"Kamu sedang apa pah? Bukannya hari ini hari libur memangnya apa yang sedang papah kerjakan" tanya Marlyn sambil meletakkan secangkir teh di atas meja kerja suaminya.


"Hanya ada sedikit pekerjaan yang tertunda mam, tapi sebentar lagi selesai kok" kilah Hardi.


"Baiklah, kalau begitu lanjutkan mamah mau ke dapur dulu" ucap sang istri di balas anggukan oleh Marlyn.


Marlyn keluar dari ruang kerja suaminya.


"Huh, hampir saja" ucap Hardi bernafas lega.


Setelah istrinya keluar dari ruangannya Hardi kembali membuka laci meja kerjanya dan di lihatnya foto tersebut.


"Maafkan aku" ucap Hardi sambil memandangi foto itu.


Setelah puas memandangi foto itu, Hardi menyimpan kembali fotonya kali ini ia memasukkannya kedalam dompetnya.


Hardi keluar dari ruang kerjanya menuju ke taman belakang, Marlyn dan Rani ikut bergabung dengan ayahnya sambil menikmati secangkir teh dan kudapan bikinan Marlyn.


"Bagaimana persiapan pernikahan kamu Ran?" tanya Hardi sambil menyesap teh nya.


"Sudah hampir selesai pah" sahut Rani.


"Baguslah, dengan begitu kerjasama antara perusahaan papa dengan tuan Baskoro semakin kuat, itu akan membuat perusahaan kita semakin maju" ucap Hardi dengan tersenyum puas.


Rani dan Marlyn ikut senang mendengar ucapan Hardi, itu artinya nama mereka akan semakin besar di hadapan publik.


"Apa kamu yakin kalau Kay akan datang ke pernikahanmu Ran" tanya Marlyn.


"Rani tidak begitu yakin mam, tapi Rani berharap kak Kay mau datang kepernikahan Rani, karena Ranj ingin kak Kay melihat Ranj bersanding dengan kak Vino di pelaminan" ucap Rani penuh maksud.


"Dan semoga dia menyesal karena telah menyia-nyiakan Vino" sahut Marlyn.


Hardi hanya diam saja tak ikut menimpali ucapan mereka, sedikit di benaknya dia masih memikirkan ucapan Kay saat di Restoran tadi.

__ADS_1


__ADS_2