
Kay berdiri dia penasaran mengambil berkas milik Albi yang berada di atas nakas.
la membuka berkas hasil penyelidikan tersebut dan membacanya, Kay membuka lembar demi lembar agar tidak ada yang terlewat sedikit pun.
Kay menggigit bibir bawahnya saat membaca bagian yang janggal yang ada di informasi tersebut.
"Apa semua informasi ini benar? Kalau memang benar, lalu dimana orang tua kandungku?" gumam Kay bertanya-tanya didalam benaknya.
Kay memegang rambut milik sang papah yang ada di plastik kecil.
"Aku harus lakukan tes DNA untuk memastikan semuanya" tekad Kay.
Kay bertekad akan melakukan tes DNA untuk memastikan semua kecurigaan suaminya.
Dia juga tidak mau terus-terusan di bohongi oleh orang tuanya.
Kay siap-siap mengganti pakaiannya, dia merias sedikit wajahnya agar tidak terlihat sembab karena habis menangis.
Dia mengambil tasnya dan memasukkan berkas tersebut kedalam tas.
"Kamu mau kemana sayang" tanya mama Eva. Saat melihat menantunya menghampirinya.
"Kay mau pergi dulu sebentar ma" jawab Kay.
"Sarapan dulu, Kamu kan belum makan pagi, bubur yang kamu beli masih di atas meja belum kamu makan" ujar mama Eva.
"Kay buru-buru ma, nanti Kay makan di luar aja" ucap Kay.
"Yasudah hati-hati" peringatnya kepada sang menantu.
Kay pergi menggunakan taksi yang sudah ia pesan, ia tak mau memakai sopir karena dia tak ingin ada yang mengetahui dirinya pergi kerumah sakit.
Taksi yang dia tumpangi sampai di rumah sakit, Kay turun dan langsung masuk kerumah sakit menemui dokter.
"Silahkan masuk nyonya Kay" sapa Dokter ramah.
Kay masuk dan langsung duduk di kursi yang ada di depan meja dokter.
"Saya ingin melakukan tes DNA dok" ucap Kay sambil memberikan sample milik Hardi dan miliknya kepada dokter.
"Kapan hasilnya keluar dok" tanya Kay, dia tak sabar ingin tahu yang sebenarnya.
"Dua minggu hasilnya baru bisa keluar"
"Tidak bisa lebih cepat dok?"
"Tiga hari paling cepat"
__ADS_1
"Baiklah, tolong nanti kabari saya kalau hasilnya sudah keluar" pinta Kay. Dia harus sabar menunggu selama tiga hari untuk mengetahui hasilnya.
Usai berdiskusi dengan dokter Kay pergi meninggalkan rumah sakit, dia mampir ke cafe terlebih dahulu untuk makan pagi sekaligus makan siang.
Dari tadi bayi yang ada di kandungannya sudah protes ingin minta makan.
Kay memesan minum dan makanan lumayan banyak, padahal dia hanya seorang diri tapi porsi makannya untuk bertiga.
Makanan yang di pesan Kay datang, wanita hamil itu langsung menyantapnya, dia sudah sangat lapar karena belum makan dari pagi tadi.
Saat sedang asik makan, tiba-tiba ada seorang pria yang duduk di hadapannya.
"Hai, kau sendirian aja, mana suamimu?" tanya orang itu yang tak lain Arya.
Kay tersedak karena kaget akibat ulah Arya yang datang tiba-tiba.
"Maaf, aku membuatmu terkejut" ucap Arya menyesal sambil memberikan tissu kepada Kay.
"Tuan ini kek hantu aja, tiba-tiba nongol" ketus Kay smabil merebut tissu dari tangan Arya.
"Aku hanya bertanya, kenapa kamu malah mengataiku hantu" sahut Arya tidak terima.
"Memang saya harus jawab apa, ini jam kerja tentu aja suamiku sedang ada di kantornya. memangnya anda seperti pengangguran saja jam segini masih di cafe"
Arya menggelengkan kepalanya, ia tak menyangka kalau Kay segalak ini, padahal pertama kali bertemu di rumahnya wanita itu nampak kalem dan pendiam.
"Makan tinggal makan tuan, itu masih banyak meja yang kosong kenapa tuan malah duduk sini, mengganggu saja".
"Ya Tuhan, semoga wanita yang ada di hadapanku ini bukan adik kandungku, bisa darah tinggi aku kalau memiliki adik seperti dia" Ucap Arya dalam hati.
Arya terus memandang Kay yang sedang makan, wanita hamil itu terlihat begitu rakus.
Melihat cara makan Kay menbuat Arya sudah kenyang lebih dulu, padahal makanannya belum datang.
"Uhhh... Kenyangnya" ucap Kay sambil menyandarkan tubunya di kursi.
"Gimana kamu ngga kenyang, lihatlah kamu menghabiskan semuanya ," ucap arya menunjuk piring yang ada di hadapannya yang sudah kosong.
Kay mengendikkan bahunya. Dia menatap layar ponselnya ternyata suaminya tidak menghubunginya.
Biasanya suaminya itu akan mengingatkan dia makan, apalagi tadi pagi Kay tidak ikut makan bareng keluarganya.
Kay menatap sendu kearah luar jendela.
Arya mengerutkan keningnya saat melihat perubahan raut wajah Kag yang terlihat sedih. Arya jadi tak tega melihat wajah sendu Kay.
"Kenapa wajahmu berubah jadi sedih, apa kamu sedang ada masalah" tanya Arya ingin tahu.
__ADS_1
Kay hanya menggelengkan kepalanya, dia mengambil tasnya dan beranjak dari kursi yang ia duduki.
"Saya permisi dulu" pamit Kay kepada Arya.
Arya menatap punggung Kay yang berjalan menuju kasir.
"Spertinya dia lagi ada masalah, terlihat ada kesedihan dari dalam matanya" tebak Arya.
Setelah membayar Kay pergi dari restoran, dia ingin ke kantor suaminya sambil membawakan makan siang untuk suaminya.
Dia harus memperbaiki hubungannya dengan suaminya.
Zara menaiki taksi menuju ke perusahaan New Saphire milik Albi.
Kay menghampiri meja resepsionis terlebih dahulu.
"Ada yang bisa saya bantu nyonya" tanya resepsionis.
"Saya ingin bertemu tuan Albi, apa beliau ada di tempat" tanya Kay.
Kay tidak mengatakan Albi suaminya, di samping pernikahannya yang di rahasiakan ini juga kali pertama Kay datang ke perusahaan suaminya.
"Apa sebelumnya sudah membuat janji? " tanya resepsionis di balas gelengan oleh Kay.
"Kalau begitu mbak nya tidak bisa bertemu, pak Albi sedang tidak ada di tempat" ucap resepsionis.
Kay menghela nafas sabar, ternyata tidak mudah menemui suaminya.
Saat Kay menoleh tak sengaja netranya bersitatap dengan mata Albi, suaminya baru saja turun dari mobil bersama Robby dan seornag wanita yang tidak Kay kenal. Albi mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berjalan begitu saja tanpa menyapanya.
Hati Kay terasa perih saat suaminya tak mau menyapanya.
Sekuat tenaga Kay menahan air matanya agar tidak jatuh, ia tak mau menunjukkan kerapuhannya di hadapan orang lain.
"Tuan, itu ada nyonya Kay" ucap Robby memberi tahu bos nya.
"Biarin saja, aku tidak menyuruhnya datang kemari" sahut Albi.
"Memangnya dia siapa Al" tanya wanita itu yang tak lain Laura, wanita yang dulu pernah mau di jodohkan dengannya.
Albi hanya diam tidak menjawab pertanyaan Laura.
Kebetulan Albi baru saja selesai meeting bersama Laura, dia sedang ada projek pembuatan iklan bersama Laura, dan kebetulan Laura model iklannya.
"Pulanglah, meeting kita sudah selesai" usir Albi kepada Laura.
Karena tidak ingin membuat Albi marah, Laura pamit undur diri.
__ADS_1