
"Sayang, kamu tuh bisa duduk diam aja gak sih, kenapa harus kesana kemari nanti kalau kamu jatuh terus perut kamu meletus gimana" omel Albi ketika melihat istrinya tidak bisa diam, ada aja yang ibu hamil itu cari.
"Aku kan cuma mau ambil buah di kulkas, Bi" sahut Kay sebal karena akhir-akhir ini suaminya menjadi lebih posesif, kemanapun Kay pergi pasti Albi akan mengikutinya. pria itu takut istrinya kepleset terus jatuh.
"Kan ada aku sayang, kamu bisa bilang sama aku nanti aku yang akan ambilkan untuk kamu" ucap Albi. Istrinya selalu aja melakukan semuanya sendiri, padahal di sebelahnya ada dirinya.
Kay menghela nafas pelan, kalau sudah begini dia cuma bisa nurut. Kalau tidak di turutin yang ada suaminya akan terus mengomelinya.
"Jangan cemberut, mau minta apa hmm" tanya Albi sambil menempelkan keningnya ke kening sang istri membuat hidung keduanya saling beradu.
"Minta pulau" jawab Kay asal.
"Okay," ucap Albi mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Robby.
Tuttt...
Tuttt...
Tuttt...
"Iya tuan, ada apa" ucap Robby dari sebarang sana.
"Carikan aku pulau, dan beli atas nama Nyonya" ucap Albi. Membuat Kay mengangga.
Kay langsung merebut ponsel milik suaminya dan mematikan panggilannya.
"Kamu ini apa-apaan sih Bi, kan aku cuma bercanda kenapa malah beli beneran" ucap Kay kesal.
Dia tak habis pikir dengan suaminya, semudah itu suaminya membelikan pulau pribadi untuknya, padahal dia hanya asal bicara saja.
"Beneran juga ngga apa sayang, aku jarang memberikan hadiah untukmu" sahut Albi santai.
"ALBI WIJAYA" pekik Kay kesal.
"Jangan teriak-teriak sayang, nanti tenggorokanmu sakit" ucap Albi.
Ingin sekali Kay memukul kepala suaminya. Buat apa beli pulau, lagian mereka juga tidak akan tinggal di pulau. Sayang uangnya pikir Kay.
"Kamu apakan Kay Al" tanya daddy Rudi saat melihat menantunya cemberut.
"Minta pulau giliran di beliin malah ngambek" jawab Albi membuat Rudy terkekeh.
"Tapi dad, tadi Kay cuma bercanda tidak beneran minta pulau" rengek Kay dengan wajah frustasi.
"Biarin aja sayang, percuma dia kerja setiap hari kalau uangnya tidak di gunakan" ucap Rudy.
"Kalau begitu beli mall aja sekalian" cicit Kay.
"Albi sudah memiliki Mall sayang" ucap Rudy membuat Kay tercengang, dia tidak tahu kalau suaminya sekaya itu.
__ADS_1
Albi tertawa kecil melihat keterkejutan istrinya.
Bagi Rudy tak jadi masalah, mereka para laki-laki di rumah Wijaya bekerja memang untuk membahagiakan istrinya. Hanya sebuah pulau tak jadi persoalan untuk Rudy, dia malah senang melihat putranya yang begitu menyayangi istrinya.
"Sering-sering lah meminta sesuatu dari suamimu sayang, biar saldo di ATM Albi berkurang" ucap Rudi tersenyum mengejek putranya.
Kay hanya diam mengangguk kecil, biasanya mertua akan marah kalau putranya membelikan sesuatu yang berlebihan untuk istrinya, tapi keluarga Wijaya berbeda, dia malah menyuruh Kay untuk sering-sering minta sesuatu dari putranya.
Setelah itu Rudy pergi meninggalkan mereka berdua.
"Percuma kamu mengadu pada mertuamu sayang, yang ada mereka akan mendukungku" ucap Albi.
Kay melengoskan wajahnya sebal. Albi yang gemes langsung menarik istrinya dan memeluknya gemas.
"Lepas Bi, engap aku nya" rengek Kay. Albi pun melepaskan pelukannya.
Kini matanya beralih melihat dada istrinya yang semakin besar.
"Sayang" panggil Albi.
"Hmmm"
"Makin besar sayang, kira-kira sudah ada ASInya belum ya" ucap Albi, langsung Kay menutupi dadanya.
"Kamu ini mesum sekali" cebik Kay sebal.
"Cuma penasaran aja sayang" ucap Albi.
"Kenapa hmmm" tanya Albi.
"Pegel Bi" jawab Kay manja.
"Mananya yang pegel" tanya Albi.
"Pinggangnya pegel" jawab Kay.
Lalu Albi sedikit memiringkan tubuh istrinya, Albi memijit pinggang istrinya dengan pelan.
"Sayang, kapan kamu siap bertemu orang tua kandungmu hmm" tanya Albi hati-hati supaya tidak menyinggung istrinya, sudah dua bulan ini Albi tak kunjung mendapat jawaban istrinya.
"Aku takut mereka tidak akan mau menerimaku Bi" sahut Kay membuat Albi menghela nafas pelan.
Menurut Albi ketakuatan istrinya ini tidak berdasar.
"Apa kamu tidak mau bertemu orang tua kandungmu hmm" tanya Albi.
"Mau, tapi nanti saja setelah melahirkan ya, Bi" jawab Kay.
"Baiklah"
__ADS_1
Albi merasa kasihan dengan nyonya Amira yang tiap hari menanyakan kabar istrinya.
Tak lama salah satu pelayan di rumah Albi datang menghampirinya.
"Ada apa bi" tanya Albi.
"Ada tuan Marligh tuan" jawab bibi.
"Mau ngapain dia datang kemari, mengganggu saja" gerutu Albi.
"Suruh mereka masuk bi" ucap Albi.
Sang pelayan pun berlalu, dia mempersilahkan Hardi dan yang lainnya masuk kedalam.
Baru saja masuk langsung membuat hati Rani panas, dia melihat Kay yang sedang duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke tubuh Albi dan Albi masih setia mengusap pinggang istrinya.
"Silahkan duduk" ucap Albi mempersilahkan mereka duduk.
Hardi dan yang lain duduk di hadapan Kay dan Albi.
"Kamu ngantuk hmm" tanya Albi yang melihat istrinya meguap.
"Tidak Bi" jawab Kay.
Albi mengangguk lalu mengusap kembali pinggang istrinya.
"Ada apa kalian datang kemari? " tanya Albi dengan wajah datarnya.
"Tujuan kami kemari ingin berbicara dengan Kay" jawab Marlyn.
"Katakan atau tidak sama sekali" tegas Albi, tak akan membiarkan istrinya mengbrol sendirian dengan mereka.
"Kak, Rani kesini mau minta tolong sama kak Kay. Rani mau pisah kak sama kak Vino, tapi Rani tidak bisa cerai begitu saja karena perusahaan papah yang akan menjadi taruhannya" ucap Rani.
"Langsung saja, jangan bertele-tele" sahut Albi, dari tadi Kay hanya diam menempel di tubuh suaminya, usapan tangan suaminya di pinggangnya semakin membuatnya ngantuk.
"Rani minta kak Kay gantikan Rani menjadi istri kak Vino, kak Vino sangat mencintai kak Kay kak. Meskipun kami sudah menikah kak Vino masih menyayangi kak Kay, dan itu membuat hati Rani sakit. Kakak bisa membayangkan hati wanita mana yang tak sakit ketika tahu suaminya lebih mencintai wanita lain daripada dirinya." ucap Rani.
Mata Kay yang tadinya ngantuk kini langsung membulat sempurna.
Apa adiknya itu tidak sadar kalau di hadapannya ini ada Albi suaminya, bisa-bisanya dengan entengnya dia meminta dirinya menggantikan posisinya menjadi istri Vino.
Albi menatap tajam mereka, suasana di ruangan itu menjadi mencekam.
"Apa-apaan ini tuan Hardi" ucap Albi dengan nada dingin
"Saya mohon tuan Albi, kalau Kay tidak mau menggantikan posisi Rani maka tuan Baskoro akan menarik semua investasinya dari perusahaan saya" ucap Hardi memohon.
"Itu bukan urusan saya dan istri saya. Yang bermasalah itu rumah tangga putri anda, lalu kenapa harus melibatkan istri saya, Ingat, istri saya bukan putri anda jadi tidak ada hubungannya istri saya dengan perusahaan anda" ucap Albi tidak terima.
__ADS_1
"Tapi setidaknya Kay mau balas budi karena selama ini kami sudah mengasuhnya dan membesarkannya hingga seperti sekarang" Sahut Marlyn.
Albi tersenyum sinis mendengar pernyataan Marlyn.