
"Kamu sedang tidak bercanda kan pah?, tidak mungkin pria itu berasal dari keluarga Wijaya" ucap Marlyn shock, dia masih tidak percaya dengan ucapan sang suami.
"Pada kenyataannya pria itu memang keluarga Wijaya mah, papah mendengarnya sendiri kalau pria itu memanggil tuan Raka dengan sebutan kakak" sahut Hardi.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, kita harus kesana pah, kita akan semakin dihormati jika orang-orang tahu kalau kita besanan dengan keluarga Wijaya" ucap Marlyn begitu antusias, bahkan bibirnya tersenyum lebar.
"Ayo, keluarga Baskoro juga sudah menunggu kita di depan" ajak Hardi kepada istrinya.
Dengan senyum bahagia mereka berdua keluar dari kamarnya dengan saling bergandengan.
Hardi dan Marlyn turun ke lantai dasar untuk menemui keluarga Baskoro yang sudah menunggunya di ruang tamu, dia situ juga sudah ada Rani dan Vino.
"Ayo" ajak Hardi kepada mereka.
Baskoro mengangguk, kemudian dia beranjak dari sofa yang ia duduki begitu juga dengan Rani dan Vino.
Vino sengaja memperlihatkan kemesraannya dengan Rani di hadapan orang tua dan juga mertuanya, dia merangkul bahu Rani hingga masuk kedalam mobilnya.
Mobil mereka berjalan beriringan membelah jalanan ibu kota menuju ke mansion Wijaya.
Di tempat lain, Albi dan Raka baru saja pulang dari kantor, mereka ikut duduk di samping istrinya masing-masing.
"Sayang, kamu nangis kenapa?" tanya Albi yang melihat istrinya menangis sesegukan, kakak iparnya juga sama.
"Meleka nangis kalena nonton dlakol om, mama sama aunty aneh, tadi teltawa sekalang malah nangis, Nayla sampai pusing lihat meleka beldua" Jawab Nayla sambil rebahan di sofa karena baru pulang dari rumah sakit.
"Besok lagi jangan bolehin mereka berdua nonton drakor Nay" ucap Albi.
"Siap om, tapi nanti beliin Nay es klim ya" sahut Nayla memperlihatkan deretan giginya.
"Iya nanti kalau kamu sudah sembuh om belikan" ucap .
Albi yang kesal langsung mematikan televisinya, dia paling tidak suka kalau istrinya nonton pria lain selain dirinya, apalagi sampai menangisinya.
"Tidak usah nonton drakor lagi, gantengan juga suamimu" kesal Albi.
"Kenapa di matiin hikss....." tanya Kay sambil menangis.
"Aku tidak suka lihat kamu menangis sayang, gara-gara Film aja kamu sampai sesegukan seperti ini" jawab Albi sambil mengelap air mata istrinya dengan menggunakan tissu.
"Tapi ceritanya bagus Bi" rengek Kay tidak terima.
"Bagusan juga nonton kartun" sahut Albi.
"Ayo kita ke kamar. Aku mau mandi sayang badanku sudah lengket semua" ajaknya kepada sang istri.
Kay berdiri dan berjalan mengikuti langkah suaminya yang mambawanya naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Sampai di kamar Albi langsung melucuti pakaiannya lalu ia masukkan ke keranjang pakaian kotor, dan setelah itu dia menghilang di balik pintu kamar mandi.
Kay masuk ke ruang ganti dan mengambilkan pakaian ganti untuk suaminya.
Tiga puluh menit kemudian Albi keluar dari dalam kamar mandi.
"Kamu tidak usah menyiapkan keperluanku sayang, nanti kamu lelah aku bisa mengambilnya sendiri" ucap Albi sambil memakai pakaiannya.
"Kalau tidak boleh semua terus aku ngapain" keluh Kay.
"Kamu bisa makan dan tidur sayang, gitu aja terus biar kamu ngga capek" sahut Albi.
"Memangnya kamu mau kalau badan ku nanti berubah jadi segedhe gajah karena keseringan makan dan tidur" seru Kay.
"Tidak masalah yang penting aku tetap cinta" ujar Albi sambil menguyel-uyel pipi chubby istrinya.
Kay yang kesal pun menepis tangan suaminya dari pipinya.
"Sakit ih, kenapa di uyel-uyel seperti itu" Kesal Kay.
"Habisnya pipimu gemesin, bulat kek bakpau" ucap Albi cengengesan.
Kay merotasi bola matanya jengah dengan tingkah suaminya.
Tok
Tok
Tok
"Buka Bi" titah Kay, Albi pun mengangguk.
Ceklekk...
Albi membuka pintu kamarnya, ternyata bibi yang mengetuknya.
"Ada apa bi" tanya Albi.
"Di luar ada tamu yang mencari nyonya Kay tuan" jawab bibi.
"Siapa?"
tanya Albi mengeryitkan dahinya, pasalnya selama ini tidak ada satupun teman istrinya yang datang ke rumahnya, ia malah sempat mengira kalau Kay tidak memiliki teman.
"Dari keluarga Marligh katanya tuan" jawab Bibi.
Albi mendengus kesal, dia sudah bisa menebak kedatangan mereka ke rumahnya, apalagi kalau bukan mau menjilat.
__ADS_1
"Terima kasih bi, suruh mereka nunggu" ucap Albi.
Sang bibi pun pamit dari hadapan Albi. Sedangkan Albi menutup pintu kamarnya kembali.
"Siapa Bi" tanya Kay sambil duduk di tepi ranjang.
"Bibi sayang, dia bilang kalau di bawah ada keluarga Marligh yang sedang mencarimu" sahut Albi.
"Ngapain mereka mencariku? Memangnya ada kepentingan apa" tanya Kay bingung.
"Aku tidak tahu sayang, kalau kamu tidak mau menemuinya biar aku yang turun dan bilang sama mereka" Jawab Albi.
Kay menghela nafas panjang.
"Kita temui aja Bi, aku ingin tahu tujuan mereka datang kesini tuh mau apa"
Mereka berdua turun kebawah menuju ke ruang tamu menemui keluarga Marligh dan keluarga Baskoro.
Albi merangkul mesra pinggang istrinya membuat siapapun iri melihat kemesraan mereka, terutama Vini dan Rani.
"Ada apa mencariku" tanya Kay sambil mendudukan bokongnya di sofa bersama suaminya.
"Kita kesini hanya ingin mengunjungi mu nak, memangnya salah kalau orang tua ingin mengunjungi putrinya sendiri" jawab Hardi lembut
"Tidak ada yang salah selama tujuannya benar, yang salah itu kalau datang kesini karena maksud tertentu" ucap Kay memberikan sindiran kepada keluarganya.
"Kamu tidak boleh begitu sama orang tua nak, apalagi sama ayahmu yang sudah membesarkanmu seperti sekarang, namanya orang pasti pernah melakukan kesalahan, dan tugas kita sebagai sesama manusia harus memaafkannya" ucap istri Baskoro sok bijak.
"Apa yang mesti di maafkan, orang minta maaf aja tidak" sahut Kay dengan gaya angkuhnya.
Kalau bukan di kediaman keluarga Wijaya sudah pasti mereka akan memaki Kay habis-habisan, tapi saat ini mereka sedang berada di rumah orang jadi mereka harus bisa menahan emosinya.
"Ada tamu rupanya" ucap mama Eva tiba-tiba yang baru pulang bersama suaminya.
"Iya ma" sahut Kay tersenyum.
mama Eva mendekati Kay lalu mencium kedua pipi menantunya dengan sayang.
"Kenapa kak Kay selalu beruntung, dia terlihat begitu di sayangi oleh mertuanya dan juga suaminya. Andai aku yang ada di posisi kaka Kay saat ini, pasti hidupku bakal di penuhi dengan kebahagiaan" gumam Rani dalam hati.
mama Eva dan tuan Rudi ikut duduk bergabung dengan mereka.
"Mereka keluargamu nak" tanya Rudi.
"Dulu pa" jawab Kay. Tuan Rudi mengangguk mengerti.
"Ada apa kalian datang ke rumah saya" tanya Rudi dengan nada dingin.
__ADS_1
"Kedatangan kita kemari ingin berkenalan dengan keluarga nak Albi, bagaimana pun nak Albi sudah menikahi putri saya jadi saya juga harus tahu keluarga menantu saya" sahut Hardi.
"Sekarang anda sudah kenal, lalu apa lagi yang ingin kalian ketahui dari saya" timpal Albi.