My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 18. Keluarga Kayla


__ADS_3

Tiga bulan berlalu, kini kehamilan. Kay sudah memasuki bulan ke empat, hubungan Albi dengan istrinya semakin harmonis.


Mereka berdua sudah berkomitmen untuk menjalani pernikahannya selayaknya suami istri pada umumnya, Kay dan Albi juga ingin menikah satu kali seumur hidup.


"Kay, maukah kamu menjalani pernikahan ini dengan serius, bukan untuk anak yang ada di kandunganmu, tapi untuk kita" ucap Albi sambil memegang kedua bahu Kay.


"Apa kau sudah mulai menyayangiku?" tanya Kay serius.


"Aku tak tahu, yang jelas saat ini aku tak ingin jauh darimu, aku merasa nyaman berada di dekatmu" sahut Albi. Kay mengangguk mengerti.


"Baiklah, aku akan menerimamu sebagai suamiku, tapi aku mohon sama kamu tolong jangan pernah kamu menghianatiku" ucap Kay sambil tersenyum manis kepada Albi.


Albi mengangguk lantas memeluk istrinya dan mencium kening istrinya.


mungkin mereka berdua belum bisa memahami perasaannya, namun apa salahnya ia mencoba toh ini demi pernikahannya pikir Kay.


Sedangkan Vino sampai sekarang masih belum bisa menemukan informasi tentang Albi, Albi memang sengaja menutup data pribadinya.


Kebetulan dulu saat masih remaja dia juga kuliah di luar negeri, jadi tidak terlalu kesorot oleh media kalau dia berasal dari keluarga Wijaya, yang sering ke sorot oleh media hanya Raka wijaya kakak Albi.


Sedangkan di perushaanya sendiri, Albi tidak selalu ikut meeting dengan kliennya, hanya orang-orang tertentu saja yang ia temui.


Secara perlahan Albi sudah bisa mencintai istrinya begitupun dengan Kay.


Hari ini hari weekend, Albi ingin mengajak istrinya untuk jalan-jalan, sekalian nyicil membeli perlengkapan bayi.


Mereka berdua sudah berada di salah satu mall terbesar di kota ini.


"Kita mau kemana dulu sayang?" tanya Albi kepada sang istri.


"Kita ketoko baju dulu ya Bi, aku mau nyari baju hamil, bajuku banyak yang sudah tidak muat" sahut Kay


"Belilah, yang kamu mau sayang" ucap Albi sambil mencium tangan istrinya yang ia genggam.


Mereka menuju ke sebuah toko baju yang cukup terkenal dengan harganya yang mahal.


"Pilihlah yang kamu mau, aku tunggu di sini" ucap Albi di balas anggukan oleh Kay.


Kay mencari baju yang cocok untuk dirinya, semakin hari perutnya semakin membesar, banyak baju yang sudah tidak muat lagi di pakai oleh Kay, sehingga mengharuskan dia beli baju serta dalaman baru untuknya.

__ADS_1


Usai mendapatkan yang ia cari, Kay membawanya ke kasir dan membayarnya.


"Bi, ayo aku sudah selesai" ucap Kay menghampiri suaminya.


"Kok cuma sedikit?" tanya Albi ketika melihat belanjaan istrinya cuma hanya sedikit.


"Cuma butuh ini,nanti kan bisa beli lagi" sahut Kay, dia tidak ingin membeli barang yang tidak penting, dia hanya membeli yang di butuhkan saja.


Arga mengangguk paham, istrinya memang tidak terlalu suka berbelanja beda dengan wanita lain.


"Bi aku lapar, kita makan dulu ya" ujar Ksy manja. Membuat Albi tersenyum dia senang melihat istrinya yang manja dengannya.


"Anak daddy mau makan apa sayang" tanya Albi sambil mengusap perut buncit istrinya.


"Makan sushi Daddy" jawab Kay menirukan suara anak kecil, Albi tertawa kecil mendengarnya.


Albi bangun dari tempat duduknya lantas menggandeng tangan istrinya dan berjalan menuju ke restoran Jepang yang di inginkan istrinya.


Mereka berdua masuk kedalam restoran dan mencari tempat duduk yang masih kosong.


Mereka berdua memesan makanan yang mereka suka, Albi memperingati istrinya hanya boleh makan yang matang.


Di sudut lain masih di restoran yang sama, Rani dan keluarganya melihat Kay yang sedang makan dengan Albi dengan kondisi perut yang sudah membuncit.


"Pah, bukannya itu kak Kay" tunjuk Rani kepada orang tuanya.


"Mana?" tanya Hardi sambil mengikuti arah yang di tunjukkan oleh Rani.


"Dengan siapa dia?" tanya Hardi yang tak mengenali Albi.


"Itu lelaki yang waktu itu mengaku menghamili kak Kay pah" sahut Rani.


"Ck, papah kira mereka akan menjadi gembel, tapi sepertinya tidak" cetus Hardi.


"Tidak mungkin mereka menjadi gembel pah, Rani dan Kak Vino pernah bertemu mereka di salah satu toko pakaian merk ternama" ucap Rani.


Hardi mengamati wajah Albi, namun dia tidak mengenali kalau Albi merupakan salah satu keturunan keluarga Wijaya.


"Sepertinya dia bukan pria sembarangan, aku harus mencari tahu tentangnya, siapa tahu pria itu bisa aku manfaatkan untuk kemajuan

__ADS_1


Perusahaanku" Batin Hardi.


Hardi merupakan orang yang gila harta dan gila kedudukan.


"Ayo kita samperin dia" ajak Hardi.


"Buat apa pah, biarin ajalah" ucap mama lisa


"Kita harus mengundang Kay untuk datang ke acara pernikahan Rani dan Vino ma" ucap Hardi alasan membuat Lisa merotasi bola matanya malas.


Akhirnya dengan terpaksa Lisa mengikuti suaminya dan juga Intan menghampiri Kay.


"kak Kay bagaimana kabarmu Kak" sapa Rani ketika jaraknya sudah dekat dengan Kay.


Kay yang merasa namanya di sebut pun menoleh, dengan tatapan rumit Kay melihat keluarganya yang berdiri di hadapannya.


"Maaf, saya bukan kakakmu" cetus Kay membuat Rani mengepalkan tangannya marah.


Namun dengan cepat Intan merubah raut wajahnya menjadi sendu karena mendengar ucapan Kay yang tak mengakui sebagai saudaranya.


"Kak aku Rani, adikmu" ucap Rani sambil menatap Kay sendu.


Kay hanya melengoskan wajahnya kesamping, dia masih sakit hati dengan perlakuan keluarganya yang tak mau mendengarkan penjelasannya, terlebih ibu serta adiknya tak mau menolongnya.


"Jangan kurang ajar kamu Kay, sudah untung Rani masih mau mengakuimu sebagai kakaknya, meskipun kamu sudah mencoreng nama baik keluarga, apa selama ini papah mengajarimu seperti ini hah" ucap Hardi yang tidak suka dengan reaksi putri sulungnya.


"Papah yang mana?, saya tidak mempunyai papah, bukankah anda sendiri yang sudah mengusir saya dan tidak boleh mengakui anda sebagai ayah saya" sahut Kay sambil tersenyum miring ke arah mereka.


Marlyn yang tidak suka dengan Kay pun langsung melayangkan tangannya ke pipi Kay.


Plakkk.....


Marlyn menampar pipi Kay, Kay memegangi pipinya sambil menatap sinis kearah mamah nya.


"Sayang" ucap Albi, namun Kay mengangkat tangannya seolah mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


Albi geram dengan keluarga Kay.


"Jaga ucapanmu Kay, bagaimanapun kamu itu lahir dari rahim saya" Sentak Marlyn.

__ADS_1


"Lalu saya harus apa hah?, bukankah kalian yang mengusir saya dan tidak mau mengakui saya sebagi putri anda, bahkan kalian yang di sebut orang tua tidak mau sedikitpun mendengarkan penjelasan saya, anda lebih memilih diam dan membiarkan suami anda mengusir saya, lalu sekarang anda mengaku kalau saya lahir dari rahim anda. Saya justru ragu dengan kata-kata anda yang mengatakan saya lahir dari rahim anda" ucap Kay sambil memegangi pipinya.


__ADS_2