My Wife, My Life

My Wife, My Life
Eps 14. Cincin Pernikahan


__ADS_3

"Bagaimana bisa kalian menyamakan calon menantu saya dengan penjaga toko ini, apa kalian tidak bisa membedakan antara pelayan dan pengunjing toko hah" sentak mama Eva tak terima calon menantunya di samakan dengan pelayan toko.


"Maaf nyonya, kami hanya salah paham saja" sahut Rani tak menyangka wanita tua di hadapannya ini begitu membela kakaknya.


Tiba-tiba dari arah belakang ada suara bariton yang membuat mereka menghentikan perdebatannya dan menoleh keasal suara.


"Ada apa ini ma" tanya Albi yang baru saja tiba di mall menyusul mama Eva dan juga Kay.


"Ini, enak saja mereka menyamakan calon menantu mama dengan pelayan toko," sahut mama Eva yang masih terlihat kesal mereka.


Albi menoleh melihat Rani dan juga Vino yang ternyata sedang berselisih dengan mama nya.


"Ternyata kalian. Pergilah, karena saya lagi tidak mood untuk berdebat dengan kalian berdua" ucap Albi mengusir mereka berdua, mungkin banyak orang yang bisa tertipu dengan kepalsuan yang di lakukan Rani, namun tidak dengan Albi, dia tahu kalau Rani seorang manipulator yang handal.


Makanya Albi lebih memilih mengusirnya dari pada meladeninya yang akan membuatnya muak dengan drama yang akan di mainkan oleh Rani di hadapannya.


"Kalau begitu saya pamit kak Kay, jangan sungkan untuk menghubungi Rani, karena Rani siap membantu kak Kay kapanpun kak Kay butuh " ucap Rani.


"Hmmm" gumam Kay malas meladeni adiknya, kenapa baru sekarang ingin membantunya, sedangkan saat dirinya di usir oleh orang tuanya adiknya itu ada dimana.


Bahkan dengan teganya adiknya dan juga mamanya hanya melihatnya saja tanpa sedikit pun membantunya.


"Sudah ayo ma kita langsung ke toko perhiasan saja, karena setelah ini Albi masih ada meeting lagi" ucap Albi.


"Kamu kan besok mau nikah Al, bisa tidak sih tinggalin dulu urusan pekerjaanmu itu, apa kamu tidak bosan tiap hari hanya menatap berkas-berkas yang ada di mejamu itu," Ucap mama Eva kesal kepada sang putra.


Tak sedikit pun putranya itu meluangkan waktu untuk mengurus pernikahannya, dia malah sibuk dengan pekerjaannya.


"Albu tidak bisa menunda meetingnya ma, karena meeting ini sudah di rencanakan dari jauh-jauh hari, masalah pernikahan bukankah ada mama dan Kay yang mengurusnya" sahut Albi sambil berjalan menuju ke toko perhiasan.


mama Eva hanya diam saja, tak akan menang kalau sudah berurusan dengan pekerjaan.


"Emm...tuan, maaf saya menghabiskan uang anda untuk membeli barang-barang ini, tapi saja janji, nanti kalau saya sudah kerja saya akan mencicilnya" ucap Kay yang merasa tidak enak dengan Albi karena sudah membelanjakan uangnya.

__ADS_1


"Tak masalah, kamu bisa menggunakan kartuku untuk memenuhi kebutuhanmu dan kebutuhan baby nanti," ucap Albu sambil mengelus bahu Kay.


Jantung Kay dag dig dug mendapat perlakuan yang begitu lembut dari Albi, apalagi Albi tak marah meskipun dirinya sudah menghabiskan banyak uangnya.


"Siapa yang nyuruh kamu kerja Kay mama tidak akan mengijinkannya, kalau anak mama yang menyuruhnya nanti kamu katakan sama mama, mending kamu di rumah saja temani Alana nonton manusia plastik itu" omel mama Eva .


Sesayang itukah mama sama Kay, padahal mama nya baru bertemu kemarin,namun dia sudah begitu memanjakan Kay, bahkan dia juga tak mengijinkan calon menantunya itu bekerja, Pikir Albi.


Bahkan setatus anak sepertinya akan tergeser oleh Kay.


Alana juga hanya di rumah saja Mengurus twins, mama Eva melarang Raka untuk menyuruh Alana bekerja.


"Kamu dengar sendiri bukan, kalau mama akan memarahiku kalau tahu kamu kerja" ucap Albi dengan senyum jenaka.


Kay hanya tersenyum kikuk menatap Albi.


"Kamu jangan panggil Albi tuan Kay, panggil sayang atau siapa gitu biar terdengar mesra, kan sebentar lagi kalian akan menikah." saran mama Eva


"Eh, iya ma nanti" sahut Kay malu.


"Ada yang bisa kami bantu" tanya pemilik toko kepada mereka.


"Tolong carikan kami cincin pernikahan yang paling bagus" sahut mama Eva antusias.


Pemilik toko mengambilkan dua pasang cicin pernikahan untuk mereka lihat.


Cincin itu terlihat begitu mewah, untuk yang wanita modelnya ada berlian satu di tengah agak lumayan besar sedangkan yang pria modelnya hanya polos dan ada berlian kecil di tengahnya.


"Kamu mau yang mana sayang" tanya mama Eva kepada Albi.


"Albi terserah sama Kay aja ma" sahut Albi yang menyerahkan urusan cincin kepada Kay, ia yakin selera perempuan jauh lebih bagus dalam memilih perhiasan.


"Hah, kenapa harus Kay, mama saja yang memilihnya" mereka berdua bukannya memilih malah pada saling lempar satu sama lain.

__ADS_1


"Kalian ini kenapa pada saling lempar begitu, kan kalian yang mau pakai, nanti kalau mama yang milih terus tidak cocok sama kalian bagaimana" kesal mama Eva .


"Yasudah, Kay pilih yang ini saja ma" ucap Kay memilih cincin yang terlihat begitu sederhana.


"Kenapa kamu pilih yang ini Kay, lebih baik kamu pilih yang ini saja, Kadar berliannya jauh lebih besar" ucap mama Eva .


Kay dan Albi hanya bisa menghela nafas panjang, mama nya memang agak ribet, tadi dia sendiri yang menyuruh Kay atau Albi yang memilihnya, giliran Kay milih malah protes.


"Yasudah Kay ikut pilihan mama saja" ucap Kay membuat Eva tersenyum lebar, akhirnya menantunya setuju dengan pilihannya.


"Kami ambil yang ini mbak" ucap mama Eva sambil memberikan blackcard milik Albi untuk membayar cicin pernikahan tersebut.


***


Dalam hati Rani masih bertanya-tanya, ia merasa kalau Albi bukan orang sembarangan.


"Apa kak Vino mengenal pria yang bersama kak Kay tadi kak?" tanya Rani.


"Tidak, tapi saya seperti tak asing dengan wajahnya" sahut Vino yang merasa begitu familiar dengan muka Albi.


Albi.


"Dia seperti pebisnis kak, harusnya kakak tahu kan kak Vino juga ikut masuk kedunia bisnis juga" ucap Rani.


Vino mencoba mengingat ngingat wajah Albi, ia seperti melihatnya tapi entah dimana.


"Entahlah, aku tak ingat" sahut Vino cuek.


Sepertinya keluargamu biasa saja setelah keluarnya Kayla dari rumah kalian Ran? " Tanya Vino yang merasa aneh dengan keluarga Rani.


Mereka merasa biasa saja setelah kehilangan sang putri.


"Aku tidak tahu kak, papa sama mama masih kecewa dengan kehamilan kak Kay" sahut Rani.

__ADS_1


Vino mengangguk seolah mengerti dengan perasaan kedua orang tua Kay yang sedang begitu kecewa setelah mengetahui kehamilan Kay di luar pernikahan.


"Tapi aku merasa kasihan dengan kak Kay kak, aku takut pria itu tidak memperlakukan kak Kay dengan baik, mungkin mereka pura-pura baik di depan umum saja, tapi di rumah kita tidak ada yang tahu" ucap Rani sok perhatian.


__ADS_2