Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
Bab 20 : Sebuah permintaan Raisa sebelum pulang


__ADS_3

 


Diruang tamu keluarga ada seorang wanita baya bertubuh gempal dengan pakaian mewah dan rambutnya di sanggul rapi itu adalah Neneknya Raisa, di sebelahnya ada seorang wanita yang terlihat masih muda dengan gaun pendek dan rambut hitam Panjang gerai menambah pesona tersendiri.


Setelah Nadia di persilahkan duduk di sofa ruang tamu itu, dua wanita itu yang tak lain adalah Ibu dan Nenek dari Raisa mulai bertanya keheranan.


“Hallo Nak ada perlu apa ke sini? sepertinya kita tak saling mengenal.” Ucap Ibunya Raisa.


Nadia menelan salivanya lalu menyalimi kedua wanita itu, “maaf Tante Sinta nama saya Nadia, saya adalah teman baik Raisa.” Kedua wanita tersebut mengerutkan kening tanda keheranan lalu saling menatap sejenak.


 “Maaf Nadia setahu saya anak saya tak punya teman lebih tua.” Ujarnya.


“Saya bertemu putri anda saat di pemakaman waktu itu, saya mohon maaf atas kelancangan saya tapi itu benar adanya.” Ujar Nadia.


 “Saya memiliki kemampuan bicara dengan mahluk halus, ternyata Raisa memilih saya agar menyampaikan pesan kepada kedua orangtuanya.” Lanjut Nadia.


Sinta antara percaya dan tak percaya kepada gadis ini.


“Kami pikir, percaya dengan kamu!!! saya tahu kamu hanya ingin uang Nak, berhentilah melantur!!” ucap pria yang memakai baju santai lalu turun dari tangga yang menuju ke ruang tamu.


“Om Darren!! saya bisa buktikan bahwa saya benar, saya juga tahu tentang awal kehidupan Om dan Tante, dan juga tahu tentang kehidupan penderitaan Raisa.” Ujar Nadia yang nampak merah padam.


 “Memang apa yang kamu tahu.” Ucap Darren dengan sengit, “Darren jaga sikap kamu!!” ujar Ibunya Darren.


“Mas Darren jangan gitu.” Ujar Sinta.


“Saya tahu pada awalnya Raisa mengalami trauma karena ulah Neneknya itu semua karena hasil hubungan di luar pernikahan.” Nadia menjeda ucapannya.


Darren langsung diam ternyata benar gadis ini memiliki kemampuan indigo, “Raisa meninggal karena mengalami cacat jantung.” Tambah Nadia. 


“Kisah hidupnya amat menderita aku juga tahu bahwa Raisa berlari saat bertemu dengan Neneknya lalu selang infus yang di tangannya lepas dan mengeluarkan darah selanjutnya mengenai baju Om Darren.” Ujar Nadia yang wajahnya sedikit menantang menghadap Darren.


 “Saya minta maaf atas kelancangan saya Om dan Tante tapi saya mau membantu Raisa, dan saya juga membawa pesan dari Raisa untuk keluarganya menghilaskan dia.” Ucap Nadia.


Sinta mengeluarkan air mata lalu berjalan mendekati Nadia, tak lama wanita tersebut mengengam ke dua bahu Nadia lalu berkata.


“Apa Raisa ada disini?” ujar Ibunya.


Darren berjalan menuruni tangga dengan mendekati ruang tamu lalu mulai bicara sambil berjalan mengarah ke Nadia.


  “Kalo kamu bisa melihat dan kamu sahabat putri kami, apa yang ingin dia sampaikan?” ujar Darren yang menatap Nadia penuh harap.


“Raisa ada di samping saya. Dia ingin keluarganya mengiklaskan kepergiannya dan mencoba hidup dari awal agar tidak ada beban.” Nadia mengambil tangan Raisa lalu menyatukannya dengan tangan kedua orangtuanya yang sudah berdiri tepat dihadapannya.

__ADS_1


“Raisa ngomong sama saya ini terakhir kalinya ia bertemu kalian,” air mata Nadia tumpah begitu juga dengan Sinta dan Ibunya Darren, kecuali Darren yang berusaha menahan air matanya.


“Dia sangat menyangi Mama dan Papanya, dan sesuai harapannya juga ia wafat disaat keluarganya bersatu dan ia wafat di pelukan Papanya. Raisa akan pergi dengan tenang jika kalian mengiklaskannya.” Ucap Nadia yang menangis.


“Kami berusaha menghiklaskannya.” Kata Darren yang mewakili istri dan Ibunya bicara.


“Raisa setelah kamu pergi aku sebagai sahabatmu ingin meminta sesuatu.” Raisa yang sebelum pergi melewati cahaya putih berhenti lalu bertanya apa permintaanya.


“Sampaikan salam dan rasa sayangku kepada Ayah aku hanya itu saja sebagai balasan persahabatan kita.” Pinta Nadia.


Cahaya itu hanya bisa dilihat oleh Nadia tidak dengan Sinta, Darren mau pun Ibunya. Setelah selesai.


“Siapa nama kamu?” tanya Ibunya Darren.


“Nama saya Nadia, Bu.” Ujar Nadia.


“Sekarang panggil saya Nenek sama kaya Raisa.” Tambahnya.


“Iya Nenek.” Ucap Nadia yang mengukir senyum tipis di bibirnya sambil menyeka air mata. “


Ya udah urusan saya udah selesai disini, saya permisi.” Saat Nadia ingin menyalimi keluarga Raisa.


“Kenapa buru-buru Nak, makan siang disini dulu.” Ujar Darren.


“Tidak perlu saya makan di rumah saja.” Kata Nadia tertunduk sopan.


“Disini aja Pak.” Ujar Nadia yang menurunkanya di golden age.


“Neng Nadia ini ada sedikit uang dari Tuan,” ujar sang supir.


“Gak usah Pak.” Ucap Nadia.


“Gak baik non nolak rezeki.” Akhirnya Nadia mengambilnya agar lebih adil ia memberikan sebagianya kepada sang sopir. 


“Makasih Non, oh ya Tuan mau meminta nomer handpone Nak Nadia.” Ujarnya.


“Saya gak hapal Pak,” ucap Nadia, “ya udah alamat saja.” Nadia mengangguk lalu memberikan alamat rumahnya.


Setelah itu ia turun sebelum turun ia harus menyalimi sang supir bagaimana pun ia lebih tua dari Nadia.


“Saya permisi Pak assalmualaikum.” Ucap Nadia sebelum menuruni mobil.


“Walaikumsallam.” Ujar sang supir.

__ADS_1


Singkat cerita Nadia sampai di rumah dan sudah pasti kena semprot marah dengan Ibunya.


“Darimana kamu Nadia?!” suara bass itu mengejutkan Nadia baru juga ia melepas sepatu.


“Tadi ke rumah temen sebentar Bu.” Ucap Nadia berbohong.


“Ya udah aku mau ke atas.” Ujar Nadia lalu menyalami sang Ibu.


Nadia buru-buru ke atas untuk menganti bajunya dengan lebih santai. Setelah melaksanakan solat zuhur Nadia menuruni tangga untuk makan siang, dengan membawa handponenya.


“Bu soto bogornya mana?” tanya Nadia kepada sang Ibu yang sedang melayani orang beli.


“Di samping kompor, tinggal kamu hangatkan saja kuahnya.” Jelas sang Ibu.


Nadia makan dengan lahap tak sadar handponenya berdering, saat sedang makan sambil memeriksa siapa penelponenya. Ternyata itu adalah Ananda memanggilnya dengan menggunakan video cal di whatsAAp.


“Kenapa Nan?” tanya Nadia sambil memakan soto Bogornya dengan menggunakan nasi. Nadia menghabiskan siang ini Bersama sahabatnya lewat video call.


“Eh rencana pada mau masuk mana?” Tanya Nadia.


 “Gua mau SMK aja biar langsung kerja.” Ucap Rika.


“Gua mau di man empat belas.” Kata Aprilia.


“Nad!! Nadiaa!!” panggil sang Ibu.


“Eh gua udahan ya nyokap gua manggil, bye.” Kali ini Nadia pamit.


“Ya udah.” Ucap para sahabatnya serempak.


 “ETTTDAH APAAN SI?” gerutu Nadia.


“Iyyyaa Bu.” Sahut Nadia. Nadia menghampiri sang Ibu.


“Ada apa Bu?” tanya Nadia melihat sang Ibu yang asyik memainkan handponenya.


“Hari minggu Bude Agni mau ngajak ke kota tua? mau


 ikut gak?” Ibu yang melempar pertanyaan kepada anaknya. Nadia diam untuk berpikir sejenak dan tak lama Ibunya gemas melihat anaknya diam.


 “Nadia!!” sang Ibu menepuk lengan Nadia.


“Mau Bu.” Nadia yang tersadar dari lamunan akhirnya ingin ke kota tua.

__ADS_1


“Jangan suka ngelamun.” Marah sang Ibu, sebenarnya ibunya paham anaknya indigo tapi wanita itu hanya ingin Nadia bersikap seperti orang normal, dan bisa menyeimbangkan antara mana yang gaib dan mana yang kenyataan.


“Ya udah sekarang kamu fokus UN aja.” Ucap sang Ibu Nadia melanjutkan makan soto bogor.


__ADS_2