
Putri, Bella, dan Vella hanya bisa berdiam di dalam ruangan.
“Gimana nih udah hampir tiga hari kita disini? Nadia juga mana blom tahu dimana?” ucap Bella yang seperti ingin menangis.
“Yaudah sabar aja.” Ucap Putri. Dilihat dari mereka semua Putri lah yang memiliki mental kuat dan pemikiran tenang.
“Yaudah coba kita cari...” Belum sempat Vella menyelesaikan kalimatnya seorang membuka pintu dia seorang pemuda seumuran Vella, Nadia, Putri, dan Bella.
“Busset deh, ganteng banget anjay...” Bisik Bella. “Yang begini aja lu semangat 45.” Ucap Vella sambil menoyor Bella.
“Siapa lu?!” Putri nampak mengentak.
“Berani sekali kamu mengentakku!!” ujar Pria itu yang mengenakan baju ala kerajaan dulu tetapi sangat mewah.
“Aku adalah pangeran di kadipaten ini!!” ungkapnya.
“Wow anjay pangeran, woy...” Bisik Bella.
“Eh Ijah itu siluman emang lu mau!!” ucap Vella yang bisa melihat wujud mereka yang tak bisa dilihat oleh manusia normal.
“Kalo yang begitu gua mau...” Ujar Bella antusias.
“Eh bisa diem kagak sih, lu berdua!!” ucap Putri, pasalnya Putri juga bisa melihat wujud mereka semua.
“Apa mau lu?!!” tanya Putri sekali lagi tanpa ada rasa takut, Vella ketakutan karena bisa melihat wujud asli pria di hadapannya berbadan manusia dan berkepala seekor buaya.
Mereka bertiga mundur dengan tangan Putri yang menghalangi dua sahabatnya.
“Aku adalah kanjeng pangeran Argani.” Ucapnya bangga sambil memerkan namanya.
“Terus apa mau lu?!!” ucap Putri.
“Kalian harus mau jadi selirku.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Ogah amat gua mau kawin ama buaya!!” teriak lantang Vella sambil memeluk Bella.
‘Hah Buaya, jadi yang mereka bedua liat buaya. Ih jahat banget sih gak ada yang mau kasih tahu gua dari awal...” Batin Bella yang awalnya terpesona dengan Argani karena ketampanannya ia malah menjadi takut.
Tak lama seorang prajurit melapor menyuruh pangeran mereka untuk menemui ibunya yang sedang terluka saat berusaha menghentikan belanda yang membakar rumah penduduk.
Argani pergi ke kamar ibunya sedangkan 3 gadis itu hanya terduduk pasrah tatkala pintu di tutup kembali percuma saja mereka berteriak minta tolong.
“Woy jadi gimana, nih kita? gua ogah mata kawin ama buaya.” Kata Vella.
“Lu tenang dulu kata Nadia...” Ucapan Putri terputus tatkala istana Angalarang terguncang seperti ada gempa.
“Eh ini napa ya?” ujar Bella ketakutan mereka bertiga berusaha keluar lewat jendela maupun lewat pintu tapi hasilnya nihil sama sekali tak ada jalan keluar, “ya allah gua gak mau mati sekarang...” Kata Bella sambil nangis.
Nadia hanya bisa terkulai lemas di kursi yang sudah disiapkan oleh sang Ratu, tak lama pintu terbuka memperlihatkan kanjeng ratu yang terluka.
Nadia juga melihat saat darahnya yang ada di cangkir emas di oleskan oleh dayang-dayang pada setiap luka di tubuhnya seketika luka itu langsung hilang dan kulit sang ratu menjadi sangat mulus lagi.
Di situ juga ada Argani, melihat Nadia dengan hati yang berdetak kencang.
“Nadia ini adalah kanjeng pangeran Argani pewaris kadipaten ini.” Jelas Senopati seolah tak mengenal Nadia.
“Biyung siapa gadis itu?” tanya Argani sambil mendekati Nadia.
“Dia adalah Nadia van buthjer!” ucapnya marah. Sang ratu mengambil pecut untuk memecut Nadia saat pecutannya ingin mengenai tubuh Nadia, Argani yang sudah tertarik pada Nadia menendang pecutannya dari tangan ibunya dan mengambil pecut itu.
“Apa yang kamu lakukan, Argani?” tanya ibunya sambil melotot marah ke anaknya.
“Aku jatuh cinta pada gadis itu, biyung.” Ucapannya membuat Senopati Wisena, dan para siluman yang ada di ruangan itu membulatkan mata tanda tak percaya dengan pernyataan calon raja mereka.
“Kamu sudah gila Argani!! dia menantu Willem Van Buthjer.” Ucap ibunya sambil memegang kedua bahu putranya.
“Aku tak peduli biyung!!” Argani.
Mata Nadia melihat sesuatu cahaya yang berkilau dari balik punggung kanjeng ratu, dia jadi mengingat satu hal yang pernah dibicarakan kakek buyut dalam bentuk tentara jepang yang jarang sekali muncul kecuali Nadia dalam keadaan terdesak.
“Nadia sayang kamu sudah dewasa sebaliknya kamu tahu semuanya, kamu tahu siluman itu yang selalu mengambil rambut, kuku, juga darahmu. Mereka juga ingin mengambilmu setiap siluman berwujud hewan-manusia biasanya memiliki mustika di setiap tubuh mereka jika mustika itu dimiliki olehmu maka kamu bisa meminta sesuatu.” Ucap kakeknya yang bernama Daichi Kogawa.
‘Apa itu mustika yang dimaksud kakek?’ batin Nadia yang masih terkulai lemah karena darahnya yang di ambil.
“Kalian semua keluar dulu!!!” perintah kanjeng ratu.
Para patih keluar termasuk Senopati Wisena, Nadia sedikit was-was tatkala Argani menatapnya sambil tersenyum.
“Nadia van Buthjer mau kah kamu menjadi pasangan hidupku?” tawar kanjeng pangeran Argani.
“Tentu tidak!!!!” tolak Nadia.
“Karena kamu bukan manusia.” Lanjutnya, “lalu kenapa kamu menikahi letnan van buthjer?” tanya Argani yang murka karena penolakan Nadia.
“Karena aku sudah menikah dan aku mencintainya.” Ujar Nadia yang mundur ketakutan.
“Argani hentikan!!” ucap kanjeng Ratu.
__ADS_1
“Gadis itu benar, kamu tak mungkin bisa menikahinya karena ia termasuk golongan hantu Belanda apalagi ia tengah mengandung.” Jelas sang ratu.
Argani tentu sangat kecewa dan marah ia memutuskan untuk keluar ruangan dalam wujud seekor buaya.
Entah mengapa Nadia semenjak di alam ini perutnya semakin membesar seperti hamil 5 bulan, “Nadia Sabrina van buthjer...” Ucap sang ratu sambil berjalan memutari Nadia.
“Apa salahku yang mulia? tolong lepaskan aku?” mohon Nadia sambil memeluk perutnya.
“Dengar, salahmu!! menjalin hubungan dengan hantu belanda yang artinya kalian berdua sudah melanggar hukum alam itu yang pertama.” Ucap sang ratu sambil mencengram dagu Nadia membuat air mata di pipi gadis itu luruh.
“Dan yang kedua apa salahku?” tanya Nadia.
Hal itu malah di jawab tawa jahat oleh sang Ratu dan tiba-tiba giginya berubah jadi taring, sontak Nadia ketakutan ia malah memilih memejamkan matanya karena takut.
“Buka matamu! aku akan tunjukan rahasia padamu!?” ucap sang ratu.
Entah mengapa Nadia dengan berani membuka matanya secara pelan, ternyata wujud kanjeng ratu sudah kembali jadi cantik lengkap dengan pakaian keraton dan rambut yang dihiasi emas.
Nadia di tarik paksa untuk melihat ke sebuah kolam lalu wanita siluman tersebut menggunakan kekuatannya untuk memperlihatkan sesuatu tentang masa dimana para Raja Nusantara berkuasa sampai ada pedagang eropa datang, saat itu bangsa Eropa berambisi mengusai nusantara dan seluruh daerah Asia sampai satu-persatu kerajaan runtuh di tangan bangsa Eropa dan di hancurkan karena orang dalam yang berhianat seperti Senopati Wisena.
Terakhir Nadia juga melihat ada beberapa kerajaan yang bersekutu lewat gaib demi menyelamatkan rakyatnya, termasuk kerajaan Angalarang yang meminta agar kerajaannya aman sebagai gantinya mereka harus hidup di air sebagai seekor buaya tetapi mereka sama seperti manusia normal mati.
“Kamu mengerti kenapa kami...” Nadia mengambil pisau yang di berikan senopati Wisena tadi untuk membunuh ratu atau pangeran jika ada kesempatan, Nadia menunsuknya tepat di mana mustika itu terlihat.
“Terkutuk kau Nadia!!” kata-kata terakhir sang ratu saat Nadia menikam sang Ratu buaya dengan sebuah pisau perak yang di berikan oleh senopati Wisena, gadis itu melihat tubuh manusia wanita itu berubah menjadi buaya yang tewas dari darah yang keluar berubah menjadi mustika berwarna putih.
Nadia segera mengambil mustika itu lalu memasukannya ke dalam kantung jacketnya untuk ia berikan pada papa mertuanya nanti, saat itu suara Argani seperti berteriak ia segera melihat keluar ruangan apa yang terjadi sebenarnya.
“Nadia!!” panggil seseorang yang ia kenal ternyata itu adalah Sersan William van Ort.
“Sersan Van Ort!!” ucap Nadia yang melihat bawahan suami serta mertuanya berjalan kemari sambil membawa tas ransel dengan seragam lengkap.
“Nadia, kijk achter je uit!” ujar Sersan van Ort yang memperingatkan Nadia.
DORR!!!
Suara tembakan di lepaskan oleh William lantaran Nadia ingin di serang oleh salah satu prajurit dari belakang, prajurit tersebut menjadi tak bernyawa dan berubah menjadi buaya.
“Nadia!! Ayo kita pergi!!” ajak Sersan William.
“Tunggu dulu William!!” Nadia menghentikan William.
“Ada apa lagi!? Akan bahaya je dan calon anak je jika berada di sini.” Ucapnya.
“Teman-temanku juga disekap tolong selamatkan mereka dulu!!” Ujar Nadia.
“Aku akan selamatkan mereka sendiri!!” Nadia menghempaskan kasar lengannya dan berlari ke ruangan dimana teman-temannya di tahan, suara ricuh masih terjadi bunyi suara peluru dilepaskan dan korban di dua pihak berjatuhan. Nadia berhasil membuka pintu dari luar.
“Nadia!!!” teriak Bella, Putri, dan Vella sambil memeluk Nadia.
“Lu...” Vella belum sempat menyelesaikan kalimatnya tapi sudah di selak oleh Sersan William Van Ort.
“Sebaiknya kalian cepat pergi dari sini ik akan antar ke mobil jeep.” Ajak William yang pada akhirnya di setujui oleh empat gadis itu.
William selalu membawa senapannya dan mengarahkannya ke segala arah kepada yang berusaha mencegat mereka.
Suara riuh masih terdengar Vella, Putri, maupun Bella melihat dan mendengar semua ini pertama kali hanya bisa berteriak ketakutan sambil berjalan hanya Nadia yang bersikap tenang karena sudah terbiasa.
3 gadis itu juga melihat salah satu dayang di bawa paksa ke sebuah kamar oleh 3 tentara Belanda membuat mereka tak tahu harus berbuat apa. Baru beberapa langkah untuk sampai mobil tentara belanda tiba-tiba kaki Putri di panah oleh Kanjeng pangeran Argani.
“Astagfirullah Putri.” Ujar Nadia.
“Eh tolongin Putri kasian tuh!” Ujar Bella dengan panik.
“je bertiga diam disini biar ik akan selamatkan teman je.” William menerobos masuk lalu mebopong tubuh Putri untuk ke mobil.
“Je tahan ini akan sangat sakit.” Ucap William. Tanpa tak terduga Putri menahan sakitnya sambil mengenggam tangan Sersan William van Ort setelah tercabut anak panahnya.
“UPS...Ma-af, Ser-san.” Ucap Putri.
“Tak apa.” Jawab William dengan senyuman mampu membuat hati Putri bergetar tatkala melihat senyuman itu.
“Je akan di obati saat sampai nanti di markas!” Ucap William.
Nadia dan William membantu memapah Putri untuk naik di jeep mobil, saat sedang ingin menaiki jeep mobil entah bagaimana Putri tak bisa naik dan rasanya sangat sakit.
Putri jatuh di pelukannya William mereka saling berpandangan mata biru milik wiliam rambut merahnya yang tertutup topi militer, di sertai mata hitam dan wajah Putri yang menggoda.
“EHM!!” Vella dengan jail berdehem. “Maaf, je pada tunggu disini ik harus ke dalam selamatkan anak buah ik.” Ujar William.
“Iya William.” Patuh Nadia.
“Nad gimana ceritanya lu bisa kenal sama tentara belanda, terus apa hubungannya?” Ucap Vella yang kepo alias ingin tahu.
“gua bingung harus mulai dari mana?” Ucap Nadia.
“Yaudah pelan-pelan aja ceritanya.” Ucap Bella yang juga ingin tahu, Nadia mengangguk dan menceritakan semuanya jika dia menikahi hantu belanda dan hamil.
__ADS_1
Toh, mereka semua akan lupa jika keluar dari dunia ini.
“KOM OP!!” salah seorang tentara berteriak, “Kom op!! iederreen trekt zich terug!” Suara William menyuruh pasukannya kembali untuk pergi karena sebagian prajurit sudah gugur dari angalarang.
“Nadia je nanti disuruh menemui komandan.” Ujar William sambil menyetir.
“Papa maksudnya?” tanya Nadia yang diangguki kepala oleh William, “lalu teman-temanku?” tanya Nadia sekali lagi.
“Mereka sudah di siapakan satu kamar bertiga.” Kata William.
Sesampainya di markas Nadia di hujani pelukan serta ciuman dari ayah mertuanya karena terlalu khawatir dengan calon cucunya.
“Nadia!! Je...” Ucap Willem.
“Papa nanti dulu ada teman-temanku. Bella, Putri, dan Vella. Dan kenalkan kalian ini Hellen.” Mereka semua canggung untuk perkenalan pertama karena Vella, Putri, dan Bella.
Tak bernah berteman apalagi bicara dengan orang bule.
“Astaga kaki gadis itu...” Ucap Willem.
“Papa tadi kaki Putri terkena anak panah.” Kata Nadia.
“Ayo obati dulu!” perintah Willem, Putri mengangguk saat baru berjalan ia sempoyongan beruntung sebelum terjatuh William menangkap Putri kemudian mengendong Putri ke ruang perawatan para tentara.
“Hellen antarkan mereka ke kamar yang di sediakan!” perintah Baron ayahnya Hellen menyuruhnya untuk mengantarkan Bella dan Vella menuju kamar tamu yang biasa di tempati para kolega Willem dan Baron saat bertamu.
“Jaa papa!!” Patuh Hellen lalu mengantarkan teman-teman Nadia ke kamar.
“Ik sudah tebak je pasti punya kejutan Nadia.” Kata Willem sambil tersenyum setelah kepergian Hellen dan teman-temannya.
“Tentu Papa.” Nadia mengeluarkan sesuatu dari kantung jacketnya yaitu mustika dari tubuh sang ratu yang ia bunuh.
“Ini bukti jika aku sudah membunuh kanjeng Ratu, tapi aku belum bisa membunuh putranya Argani.” Ucap Nadia.
“Tak apa seperti ini saja je sudah dapat membantu ik, kemarilah biarkan ik memeluk je.” Nadia menghambur kepelukan mertuanya.
“ini Papa, aku serahkan mustika ini padamu.” Ucap Nadia, pria paruh baya tersebut mengagguk lalu menerimanya.
“Sebaliknya je istrirahat.” Ujar Willem sebelum Nadia pergi ke kamar sendiri ia di kecup keningnya oleh Willem.
Setelah kepergian Nadia Willem menyimpan mustika itu di bajunya.
“Je sekarang tahukan mengapa ik merestui hubungan anak ik dengan gadis itu.” Kata Willem sambil menuangkan Winenya kemudian menengguknya.
Putri sedang di obati, tak lama William masuk ruangan.
“je naam is Putri?” tanya Willem.
“Iya Tuan.” Jawab Putri sambil tersenyum malu.
“Aku harus ke kamar bersama teman-temanku, Tuan.” Putri sambil melihat wajah William tentu karena tampan.
“Tapi keadaan je masih lemah...” Willem dengan lembut.
“Aku ingin ke kamar aku bisa jalan sendiri.” Ucap Putri percaya diri, baru berjalan terbata-bata Putri di gendong oleh William mau tak mau Putri mengalungkan tangannya di leher William mereka saling bertatapan sejenak.
Putri merasa nyaman saat menaruh kepalanya di dada Wiliam begitu juga William menyandarkan dagunya di kepala Putri sambil membopong Putri sampai ke kamar.
“Terimakasih, Sersan.” Putri tersenyum sebelum masuk William memanggil Putri. “Putri!” sotak gadis itu melihat William lagi tiba-tiba.
CUP!! satu ciuman mendarat di pipi Putri yang mana membuat Putri terdiam mematung.
“GOED NACTH.” Ucap Wiliam lalu pergi keluar meninggal Putri yang kedua pipinya sudah merah. Putri masuk ke dalam kamar membuat teman-temannya keheranan melihat tingkahnya yang selalu senyum-senyum.
Nadia ditempatkan di kamar yang terpisah dengan teman-temannya karena ini perintah dari Willem yang ingin menantunya aman sedangkan teman-teman Nadia di tempatkan di kamar tamu yang biasa di tempati oleh kolega Willem Van Buthjer atau Baron van Jong.
Nadia di kamar melihat indahnya bulan di malam hari memikirkan ibu dan adiknya yang sekarang pasti tengah khawatir termasuk keluarga Vella, Putri, maupun Bella.
Tak lama Hellen van Jong teman dekatnya Hanson masuk ke kamarnya sambil membawakan sebuah gaun agar Nadia nyaman memakainya.
“Ya ampun Hell! Terimakasih...” Ucap Nadia di sertai senyuman.
“Sama-sama.” Balas Hellen, Nadia memperhatikan Hellen apa mungkin anaknya nanti seperti Hellen karena yang ia pernah dengar dari suaminya kalo Hellen itu anak Indo-Belanda dari gundik Ayahnya karena istrinya Menner van Jong tak bisa memiliki seorang anak dikarenakan masalah pada rahimnya.
“Hellen duduklah dulu sini.” Ajak Nadia. “Ada apa Nadia?” Hellen sambil mengerutkan keningnya.
“Jendral van Buthjer dan papa ik bisa marah jika kita masih belum tidur.” Ucapnya.
“Aku berpikir apa mungkin anak ku jika perempuan akan secantik dirimu...” Nadia sambil mengenggam tangan Hellen.
Gadis berambut pirang kecoklatan di sertai bintik-bintik hitam di wajahnya hanya tersenyum saat di puji Nadia.
“Semoga saja Nadia, sebaliknya je ganti baju...dan istirahat.” Jeda. “Dan semoga calon anak je dan Hanson bisa istirahat.” Ucap Hellen ramah yang sebenarnya hatinya masih memiliki perasaan kepada Hanson, tapi takdir tak mempersatukan dirinya dengan Hanson malah ayahnya dengan tega menjodohkannya dengan orang jerman yang sangat ia tak suka.
Akhirnya Hellen pergi keluar kamar Nadia berjalan melewati lorong yang memperlihatkan taman untuk menuju kamarnya, Nadia menganti bajunya dengan gaun yang santai saat diantarkan Hellen tadi, ia melepas jacket merahnya dan celana hitam bahannya, serta kerudung coklat yang ia kenakan.
Setelah selesai Nadia melepaskan ikat rambutnya lalu mengambil sisir untuk menyisir rambutnya, ia melihat ke cermin entah bagaimana perutnya tak bisa membuncit di dunianya. Karena terlalu lelah ia menidurkan dirinya di kasur empat tiang.
__ADS_1