
Nadia merasa heran kenapa ia berada di pusaran waktu tidak kedunia masa kolonial atau ke masa dirinya tinggal seolah ia terjebak, dengan rasa gemas dan tak sabaran gadis itu berlari semakin ia berlari suara jarum jam semakin terdengar semuanya nampak biru seolah ilusi optik dan di setiap lorong terdapat berbagai macam bentuk jam, mulai dari yang kuno hingga modern.
Tiba-tiba ada yang memegang pundaknya gadis itu seolah takut untuk menoleh ke belakang tetapi rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya, ia menoleh dan langsung membulatkan mata tanda terkejut lantaran ada The Black Robe atau si jubah hitam yang menepuk pundaknya dengan tudung yang Panjang untuk menutupi wajahnya.
kali ini ia membawa barang berupa bola sihir di tangan kanannya dan di tangan kirinya memegang sebuah tongkat Panjang dari atas kepala hingga kakinya di atas tongkat juga ada pisau berbentuk sabit warna silver.
Nadia ingin berlari tetapi seolah kakinya sulit di gerakan dan semua anggota badannya seketika juga sulit di gerakan.
“Kamu Nadia! mana yang nanti kamu akan pilih!” ucap si jubah hitam yang tiba-tiba barang di tangannya menghilang di gantikan dengan sebuah arang hitam dan sebatang emas.
Tangan Nadia tanpa di suruh mengambil keduanya padahal ia hanya ingin lari saja meninggalkan mahluk aneh ini yang terus saja menganggu hidupnya.
“Dengar Nadia, aku adalah jawaban yang selama ini kamu cari. Jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan dalam hidupmu silahkan tanyakan padaku bila kita bertemu lagi.” Ujar The Black Robe.
Nadia akhirnya bersyukur mulutnya bisa di gerakan lagi meskipun anggota tubuh yang lain masih sulit, “siapa kamu sebenarnya?” tanya Nadia dengan Nada yang ketakutan.
The Black Robe menjelaskan bahwa dia hanya dikirim untuk membantu gadis-gadis yang mempunyai diri yang special seperti Sarah dan Nadia.
Tiba-tiba saja emas dan arang yang ada di tangan Nadia melayang dan pindah kembali ke tangan The Black Robe.
“Bersiaplah!” kali ini Nadia di tarik oleh si jubah hitam tangannya di gengam kuat lorong waktu seolah memutarnya dengan cepat seperti putaran, “kamu ingin jawabankan atas ke khawatiranmu.” Ucap The Black robe yang awalnya Nadia tak mengerti karena keadaan yang seperti ini.
“Kamu tenang saja perutmu tak akan membesar di waktumu tinggal tetapi akan besar di waktu masa kolonial.” Ucap Si jubah hitam terakhir kalinya lalu Nadia terhempas seolah ia jatuh dari atas air terjun yang sangat tinggi dan matanya terbuka saat dirinya terjatuh dari atas tempat tidurnya, “argh!” mengelus kesakitan perutnya.
Pelan-pelan ia terduduk di atas Kasur matanya menatap jam yang menunjukan pukul 5 pagi, ia berjalan tertatih ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat subuh.
“Nadia!!” panggil sang ibu dari lantai bawah, “iya Bu.” Sahut Nadia yang sedang membereskan tumpukan buku lama di lemari kecil khusus buku untuk diisi dengan buku SMA nanti. “Kamu turun dulu!” perintah sang ibu.
Nadia yang sedang membereskan bukunya langsung meninggalkan bukunya yang berserakan dan turun ke bawah.
“Iya Bu, sebentar!” ujar Nadia yang mengambil sisir lalu menyisir rambutnya sebentar tanpa sadar rontokan rambutnya jatuh kelantai helai demi helai, setelah merasa rambutnya rapih Nadia menguncir rambutnya ke belakang.
Rambutnya belakangan ini mudah rontok di tambah lagi semakin lanjang setelah selesai ia segera turun ke bawah untuk memenuhi panggilan Ibunya, baru saja gadis itu menutup pintu kamar dan ingin menginjakan kakinya ke tangga rambut-rambutnya yang ada di lantai dalam kamar tiba-tiba yang mengambilnya seorang wanita berpakaian kolosal memakai kemben warna hitam dengan rok batik coklat gelap, di sertai hiasan bunga rambutnya.
Wajahnya cantik hanya saja sorot matanya menjelaskan bahwa ia sangat ambisius. Setelah selesai mengambil rambut milik Nadia yang rontok dan jatuh ke lantai wanita berpakaian kemben tersebut mengubah wujudnya menjadi ular kobra warna hitam dan di kepalanya ada tanda setelahnya ia menghilang.
“Kenapa, Bu?” tanya Nadia.
“Begini katanya skak Alin ke rumah jam 11 soalnya dia ada tugas gitu ama dosennya, apalagi sebentar lagi Dia mau lulus.” Jelas sang Ibu.
“Oh yaudah gak apa, aku mau ke atas lagi beresin buku-buku SMP.” Ujar Nadia.
“Yaudah, mandi kamu!” Perintah sang Ibu sekali lagi.
“Iya Bu.” Jawab Nadia sambil menaiki tangga untuk menuju kamarnya, Nadia masuk kamar tiba-tiba saja ia mendengar suara ribut-ribut dari balkon saat sedang memasukan buku-bukunya ke dalam tas.
“Apaan lagi si nih?!” dengus kesal Nadia.
Gadis itu sangat jengkel lantaran jam pagi begini sudah ada yang berisik di balkon terasnya, Nadia mengambil kunci pintu untuk membuka pintunya yang menghubungkannya dengan teras balkon. Tangan Nadia meraih kunci itu di atas bupet yang ada televisi untuk membuka pintu.
Nadia langsung menegang saat yang terjadi di balkon tubuhnya seolah kaku dan sulit bergerak, ia melihat seorang wanita dengan kemben hitam dan bunga sebagai hiasan rambut dan kakinya berwujud ular sedang di todongkan senapan oleh hantu anak buah suruhan Hanson dari berbagai sisi.
Gadis itu tak bisa berkata apapun lagi seketika wanita berkaki ular itu menatap Nadia dengan senyuman, gadis itu mundur tiga langkah saat itu wanita tersebut mengeluarkan lidah ular dari mulutnya sambil mendesis.
Nadia merasa pusing dan kesadarannya memudar saat itu juga ia pingsan di depan pintu balkon.
“Nadia...Nadia!! bangun!” seseorang tiba-tiba saja menguncang-guncang tubuhnya. Nadia membuka matanya saat Alina Kakak sepupunya menguncang-guncang tubuhnya, gadis itu terduduk sambil memijat kepalanya seolah berputar-putar karena terlalu pusing.
“Kamu ngapain tiduran disini?” ujar Alina heran.
“Udah mandi belum?” Tanya Alina menghujani Adik sepupunya dengan berbagai pertanyaan.
“Belum, yaudah tunggu aku mandi dulu.” Ucap Nadia lalu segera ke kamar mengambil handuk kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai Nadia menggunakan celana jeans dan atasan warna coklat gelap dipadukan cardigan warna biru muda, di sertai memakai kerudung segi empat berwarna coklat susu. Nadia segera memakai sepatu sport berwarna orange.
Setelah rapih Nadia dan Alina berboncengan dengan motor menuju sekolah garuda bangsa.
...⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─...
Sesampainya di sekolah Garuda Bangsa Nadia amat terpukau dengan sekolahnya nampak elit dan bagus. Ia hampir saja tersasar saat pertama kali mengelilingi bangunan ini, sekolahnya di area perkotaan dan sangat bagus ada mall dan berbagai café.
Nadia mengikuti Kakak Alina ke ruang tata usaha dengan menaiki tangga.
__ADS_1
Setelah berbincang tentang eskul dan lainnya Nadia dan Alina keluar ruang tata usaha sebelum turun ke bawah menuju parkiran Nadia dan Alina berselfie terlebih dahulu yang memperlihatkan pemandangan taman dari depan ruang tata usaha selesai berfoto mereka berdua menuju parkiran motor.
Alina dan Nadia singgah sebentar di alfamart bersebelahan dengan sekolah, Nadia mengambil yougurt sedangkan Alina membeli berbagai macam jajanan untuk camilan.
Gadis berbaju coklat gelap dengan cardigan biru muda tersebut memilih menunggu di luar alfamart sambil menunggu Alina membayar jajanannya di kasir.
Sesaaat Nadia menunggu di motor depan alfamart sambil memainkan ponselnya dan meminum yougurt yang tadi barusan di beli.
“Kamu kenapa susah di beri tahu!” Suara bariton itu sukses membuat Nadia menoleh ke asal suara itu tepat di sampingnya.
“Apa mau kamu Kakek!!” jeda. “Biarin gua jalanin rumah tangga gua sendiri!! Dan lo urusin hidup lo!!” Nadia dengan kesal memaki Kakek tua itu dan tak peduli lagi aturan beretika serta sopan santun karena sudah terlalu muak lantaran Kakek ini selalu menganggunya.
Tanpa sadar juga Nadia bicara sendiri berteriak sendiri beruntung kondisi jalanan rada sepi hanya ada motor lewat dan pengunjung alfamart serta hanya ada pedagang kecil yang berdagang depan alfamart.
“Dek, ngapain ngomong sendiri? Ngomong ama siapa?” tegur pedagang cilok yang mendekatinya.
“Eh Pak, tadi ada kakek in...” Nadia langsung terdiam lantaran saat menoleh lagi Kakek tua membawa cangkul dengan topi anyaman rotan sudah hilang entah kemana.
“Gak ada siapa-siapa, Neng. Tadi saya liat Neng ngomong sendiri.” Ucap pedagang cilok tersebut. Nadia langsung kegok entah harus berbuat apa dan alasan apa.
“Nadia kamu...” Alina keluar dari Alfamart sambil membawa kresek belanjaan di tangan kanan dan kirinya.
“Kamu mau cilok?” tanya Alina.
“Gak Ksk tadi...” Perkataan Nadia dipotong cepat oleh pedagang cilok.
“Tadi Neng ini ngomong sendiri kaya maki orang gitu,” jelas pedagang cilok tersebut.
Nadia hanya menunduk kepalanya.
...⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─o\=\=[]:::::::::::::::...
Singkatnya Alina dan Nadia pulang menggunakan motor dan Nadia hanya mengatakan jika ada mahluk menyebalkan yang berusaha menganggunya. Alina juga menasihati adiknya agar ia tak berbuat seperti itu takut di sangka tak waras.
Sesampainya di rumah. Ibunya sedang bersantai sambil memainkan ponselnya.
“Gimana tadi?” tanya sang ibu. “Nih bu tinggal bayaran sama tanggal 16 ambil buku ama ukur seragam aja.” Ucap Alina.
Setelah sangat Lelah Nadia ke atas kamarnya dan merebahkan diri di Kasur spring bed sembari membuka matanya dan menatap langit-langit kamar tanpa menganti pakaian.
Gadis itu sangat lelah pada hidupnya yang selalu berhubungan dengan hal gaib sendari kecil, “Nadia!” panggil Hanson yang berwujud hantu terduduk disebelah sambil mengenakan kemeja pendek dan celana hitam tahun 30-an, ia terduduk sambil melipat tangannya di dengkul.
“Ada apa, Hanson?” ujar Nadia yang terduduk di Kasur spring bednya.
“Ik ingin kasih tahu je.” Ujar Hanson terputus-putus.
“Jika di samping rumah je terhubung dengan sungai dan secara otomatis banyak sejenis kerajaan siluman.” Jelas Hanson.
“Lalu apa yang salah, Hanson. Biarkan saja asalakan mereka tidak menganggu...” Hanson langsung menghentikan kalimat Nadia dengan mengenggam tangannya.
Gadis tersebut tersenyum tatkala tangannya di gengam oleh si tampan meskipun ia rasakan sangat dingin.
“Para siluman itu mengincar rambut, kuku, dan darah je, selama ini.” Nadia langsung menegang tatkala Hanson mengucapkan kalimat itu.
“Ap---pa?” ujar Nadia terputus-putus.
“Tapi untuk apa? dan....kamu tahu dari mana?” tanya kepada Hanson. Nadia membulatkan mulutnya dan menutupnya dengan tangan.
“Karena anak buah ik sudah mempergoki beberapa kali, bahkan ada yang menangkapnya.” Ucap Hanson. Nadia mengeryitkan dahinya lantaran heran bagaimana cara menangkapnya.
Hanson mengajaknya ke kamar mandi berada tepat di samping kamar, Nadia keluar pintu terlebih dahulu sebelum memasuki kamar kecil yang tepat berada di sebelah kamarnya, sedangkan Hanson sudah sampai di kamar mandi dengan menembus tembok saat masuk kamar mandi.
“Apa yang ingin kamu tunjukan Hanson.” Ujar Nadia. Hanson tak menjawab dengan posisi melayang hantu belanda itu menunjukan tangan ke ember yang berisi air, betapa terkejutnya Nadia saat melihat yang ada di dalam ember hijau tersebut.
Ember tersebut berisi 4 biawak berwarna coklat panjangnya kisaran satu meter sedang seperti diikat, Nadia langsung berlari ke luar dan berteriak histeris lantaran yang ia lihat barusan membuat Ibu dan Adiknya berlari ke atas untuk menyantakan apa yang terjadi pada Nadia, gadis berbaju kardi biru tersebut langsung mengatakan bahwa ada biawak di ember kamar mandi.
“Apa!! Biawak!” sang ibu langsung berlari masuk ke kamar mandi untuk melihatnya, Nadia dan Defani saling memeluk tanda ketakutan.
“Kamu jangan bohongin Ibu, Nadia!!” ucap Ibunya dengan marah.
“Serius Bu!! tadi ada biawak!!!” kata Nadia bersungguh-sungguh.
“Yaudah kamu cek sendiri kalo gak percaya!!” Nadia langsung berlari ke kamar mandi untuk mengecek keadaan dan benar saja ternyata biawaknya sudah tidak ada di ember.
__ADS_1
Gadis itu langsung mencari alasan yang tepat, “mungkin udah pergi kali Bu.” Ujar Nadia.
“Iya!! Pergi karena denger suara kamu yang sember kaya knalpot.” Ledek ibunya disertai gelak tawa begitu pun Defani.
“Enak aja suara aku merdu, kaya burung bulbul.” Ujarnya.
“Yaudah Ibu mau lanjutin masak!” Ibunya langsung turun ke bawah disusul Defani.
Mata adiknya tersebut memincing tanda ingin tahu hal yang terjadi pada sang Kakak karena Defani adalah tipe anak yang selalu ingin tahu.
Nadia sedikit was-was untuk masuk kamar mandi karena ingin menganti bajunya dengan lebih santai. Setelah selesai Nadia kembali merebahkan diri di kamarnya.
Aneh sekali tadi secara jelas ada biawak di ember seperti terikat ia benar-benar butuh jawaban langsung dari suami hantunya apa arti dari semua ini.
Malam harinya Nadia di kamarnya sedang membaca novel berjudul The Duke’s Quandary karyanya Callie Hutton.
Gadis itu membaca bukunya dengan hujan deras di luar juga di temani snack jajanan yang tadi siang di beli di alfamart, saat sedang asyiknya membaca tiba-tiba ponselnya berdering tentu saja Nadia mengakat panggilan dengan perasaan kesal, ia melihat ternyata itu dari Ananda sahabatnya ia mengakat panggilan sambil memakan snack.
Nadia yang sedang asyik memakan snack tetapi ia malah mendengar ribut-ribut dari samping kamar satunya yang berada di depan di jadikan sebagai kamar tamu.
“Defani jangan berisik!” tegur Nadia yang menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga setelahnya baru menaruhnya lagi di telinga sambil menelpone sahabatnya.
Suara itu bukan Defani tapi pemilik suara itu adalah Hanson.
“Nan udah dulu, Adek gua lagi butuh gua.” Bohong Nadia dan langsung mematikan ponselnya lalu membiarkan di atas Kasur, Nadia membuka pintu kamarnya untuk keluar kamar saat di samping Kamar yang mengarah ke tangga Nadia hampir saja menjerit tatkala apa yang ia lihat.
Ternyata ia melihat banyak biawak berbentuk kadal sedang ingin bertempur dengan pasukan berwujud hantu Belanda yang dipimpin oleh Hanson yang memakai seragam lengkap dengan lencana, Nadia langsung mencerna atas apa yang terjadi sebenarnya ini.
“Woy!!! pada berhenti!!” teriak lantang Nadia membuat kedua kubu yang ingin bertempur itu langsung berhenti dan melihat Nadia.
Para biawak merubah wujud menjadi prajurit memakai baju ala kerajaan jaman dulu.
Nadia langsung bergetar hebat atas apa yang barusan ia lihat lututnya lemas ia langsung terduduk di lantai sambil mengigit jarinya dengan ketakutan, Hanson memerintahkan anak buahnya memasang senapan dan mengarahkannya ke para siluman itu.
Beruntung satu persatu setelah di tembaki menggunakan peluru siluman tersebut menjadi hilang, Hanson langsung merasuki tubuh Nadia untuk membawanya ke dalam kamar agar sedikit lebih tenang.
Setelah Hanson merebahkan tubuh Nadia di atas Kasur ia langsung keluar dari tubuh gadis itu, Nadia terbaring di kasur yang masih setengah sadar melihat Hanson berwujud hantu di depannya mengatakan jika ia akan mengajak Nadia ke suatu tempat sambil mengulurkan tangannya.
Nadia dengan lemah menyambut tangan Hanson untuk ikut ke suatu tempat yang mungkin bisa menjelaskan semuanya.
Nadia mengikuti Hanson ia bisa melihat tubuhnya yang terbaring di Kasur sambil memejamkan mata. “Hanson apa yang terjadi aku keluar dari tubuhku? Ada apa ini?” tanya Nadia.
“Nanti je akan tahu.” Hanson menjeda kalimatnya untuk menghadap Nadia wajah keduanya saling berhadapan lalu memegang kedua pundak Nadia, Hanson lansung menyambar pipi kanan Nadia untuk di cium dengan bibirnya yang tipis kemerahan.
Tangan kirinya Nadia di gengam erat oleh Hanson dengan menggunakan seragam militer mengajaknya masuk ke dalam tanah dengan menembus.
Nadia turun menembus tanah dalam wujud roh seolah ia ingin muntah seperti naik wahana di jugle.
Sesampainya di tempat yang di tuju Nadia merasa kepalanya berputar-putar tangannya juga memegang kepalanya.
Setelah keadaannya lebih baik ia mengedarkan pandangannya sambil berkedip 3 kali ternyata yang ia lihat adalah tawanan Hanson yang berupa mahluk berwujud aneh yang ingin masuk atau lebih tepatnya disebut penyusup ke rumahnya.
Hanson semakin erat mengenggam tangan Nadia seolah meyakinkan Nadia semua akan baik-baik saja.
Nadia melihat manusia berjongkok dengan tangan di atas kepala menghadap tembok sel tahanan memakai baju prajurit jaman kerajaan dulu dan dapat di tebak mereka siluman biawak sudah terlihat dari belakangnya ada ekor seperti biawak. Nadia melihat tentara belanda yang tentunya berwujud hantu sedang berjaga di setiap sel tahanan.
Ada juga sosok mahluk yang di tawan oleh Hanson yakni seorang wanita dengan baju kebaya ungu sangat cantik seperti seorang putri keraton tetapi dari pinggang sampai bawah kakinya berwujud ular, tangannya di rantai oleh para anak buah Hanson begitu juga ekornya seperti di buat lumpuh oleh para hantu belanda tentu saja jadi tak bisa di gerakan.
“Nadia mereka yang berani menyusup ke rumah je.” Ujar Hanson.
“Kenapa kamu tawan mereka seperti ini Hanson?” tanya Nadia sambil melihat iba pada wanita berkaki ular tersebut.
“Karena mereka sudah lancang ingin melukai je, dengan mengambil rambut, kuku, dan darah je.” Jelas Hanson.
Hantu Belanda yang berseragam militer dengan lencana masih setia memegang erat tangan Nadia lalu tangan satunya menangkup wajah Nadia.
“Ik lakukan ini karena tak ingin melihat je terluka. Ik hou van je.” Setelah menyelesaikan kalimatnya Hanson mencium bibir Nadia.
“Sudah waktunya je kembali ke tubuh je,” kata Hanson dengan menarik tangan Nadia keluar dari tempat tahanan untuk keluar, Hanson mengajak Nadia menembus tanah dengan naik ke atas. Sekembalinya Nadia dari dalam tanah tempat Hanson menawan para tahanan, gadis tersebut bisa melihat tubuhnya terbaring dengan posisi yang salah di atas kasur.
Secara otomatis Nadia memasuki tubuhnya kembali saat terbangun gadis tersebut terbatuk-batuk sambil memegang lehernya dengan satu tangan karena merasa seperti di cekik.
Nadia melihat jam dinding sudah menunjukan pukul 10 malam, sontak ia langsung ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat isya dulu. Setelah selesai Nadia merapikan mukenanya dan pergi mengistirahatkan diri.
__ADS_1