Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 27: Rencana


__ADS_3

Malam semakin larut Nadia sibuk memilih jadwal pelajaran tetapi pikiran-nya selalu memikirkan apa yang di katakan Sarah tadi sore saat di kamar.


“Lu kalo mau married ama hantu Belanda sama kaya gua tapi lu tetep bisa jalani hidup kaya biasa, yang pernah gua alamin sih lu cari tanah dari kuburan belanda.” Ucap Sarah sambil berbisik.


“Tanah kuburan belanda? buat apaan?” ujar Nadia yang membulatkan mata.


“Tu tanah buat lu bikin kaya asbak, kendi, atau apalah. Itu buat merekatin hubungan lu ama Hanson.” Ujar Sarah sambil menelan salivanya.


“Lu bikin apa?” tanya Nadia.


“Pot kecil ukuran gelas.” Ucap Sarah santai.


“Terus itu doang syaratnya?” tanya Nadia lagi.


“Sisanya sesuai syarat yang di inginin suami lu.” Ucap Sarah.


“Nadia!!!” panggilan sang ibu yang membuka pintu kamarnya membuat lamunan Nadia terbuyar.


“Kenapa bu?” ucap Nadia sambil tersenyum.


 “Jangan kemalaman tidurnya besok sekolah.” Ujarnya.


“Iya bu ini udah mau selesai kok.” Ucap Nadia sambil memasukan buku-buku pelajaran ke dalam tas-nya.


“Perlu apa?” tanya sang ibu sambil mengeryitkan dahinya.


“Ini soal....” Belum sempat Nadia menyelesaikan kalimatnya Defani sudah berada di belakang ibunya.


“Aku disini.” Ucapnya lagi.


“Aku mau ngomong sebentar ama kakak boleh ya, Bu?” kata Defani dengan wajah yang memelas.


Setelah mendapatkan izin dari sang Ibu.


“Ya udah tapi jangan kemalaman besokan pada sekolah nanti kesiangan.” Ucap sang Ibu lalu menutup kembali pintu kamar.


Defani anak kecil yang berfikiran dewasa jadi ia bisa menjaga rahasia dengan sangat rapat.


“Aku mau cerita soal Hanson.” Nadia mulai bercerita semuanya Defani termasuk orang yang tidak indigo hanya Nadia yang mempunyai kemampuan indigo dari dulu Nadia selalu mengutuk kemampuan-nya ini.


“Kak lu serius mau ngambil tanah dari kuburan Belanda!” ucap Defani dengan raut wajah yang tegang dan takut.


“Iya gua serius masalahnya dimana lagi kuburan Belanda.” Ucap Defani.


“Coba lu tanya ama si bule, pasti ada cara lain.” Ucap Defani.


“Ya udah gua mau ke bawah tidur, takut si harimau mengaum lagi.” Ujar Defani.


Nadia bingung harus apa jadi nanti ia tanyakan saja pada Hanson, Karena masih berhalangan ia tidak solat dulu jadi ia hanya menyikat gigi dan mencuci wajah serta menganti pembalut.

__ADS_1


Setelah selesai ia pergi ke kamar mengantungkan handuknya.


“Hanson, where are you?” panggil Nadia dalam bahasa Inggris.


“Ik disini kenapa je memanggil ik?” Nadia menoleh ke belakang tepat di samping jendela.


“Hanson!!” Nadia mendekat langsung pria itu memegang tangan-nya erat, Nadia menjadi takut karena sepertinya dari raut wajah Hanson menyiratkan sesuatu.


“Hanson aku...” Nadia tergagap.


“Je ingin memenuhi syarat untuk jadi vrouw ik,” Nadia mengangguk, vrouw ialah (istri).


“Hari apa je pulang cepat?” tanya Hanson Nadia menatap wajah Hanson dan melihat manik mata biru itu seolah ada keseriusan. Nadia hanya mengangguk mewakili jawaban-nya.


“Pertama je harus...” Ucapan Hanson yang terputus.


“Mengambil tanah dari kuburan belanda untuk di buat sesuatu agar menyatukan kita.” Ucap Nadia.


“Je sudah tahu, itu yang pertama dan yang kedua je harus menggunakan air mawar untuk membuatnya, terakhir kita adakan pernikahan ik yang atur.” Hanson hari ini nampak rapih memang memakai pakaian militer tetapi ia tidak menggunakan topi barret atau topi dinas hanya terlihat rambut pirang yang rapih.


“Yaudah ayo kita tidur.” Ajak Nadia menarik Hanson, Nadia ingat air mawar yang sering ia dan ibunya beli waktu ke makam mendiang sang ayah, jadi alasan apa yang pas untuk ia utarakan pada sang ibu jika nanti wanita itu bertanya sesuatu.


Malam ini Nadia merasa hidupnya tak akan selesai setelah melaksanakan solat isya ia menyalakan laptopnya dan memasukan CD yang satu paket dengan buku UN ke laptop untuk latihan soal, sesaat sedang asyiknya melakukan latihan soal gadis itu terkaget tatkala ada tangan yang menepuk bahunya.


 “Jangan kemalaman,” Rupanya sang ibu dengan suara lembut sebelum ke bawah wanita itu membelai rambut Nadia tak lupa mencium kening anaknya lalu ke bawah.


 Saat tertidur rohnya Nadia berputa-putar seolah suara jarum jam terdengar sampai ia terbangun setelah melewati pusaran waktu.


Nadia terbangun tubuhnya masih terbaring di rumah sakit Koningin Emma Ziekenhuis gadis itu memakai kebaya warna merah dengan rok batik coklat serta rambut setengah gerai dan atasnya di pasangkan sirkam rambut di taburi Mutiara imitasi.


Saat ia menoleh ke samping ada dua bendide atau pembantu sedang merapikan barang-barangnya ke dalam tas untuk di bawa pulang, karena keadaan Nadia sudah berangsur-angsur membaik.


“Sariyem, Hanson dimana?” tanya Nadia sambil di bimbing berjalan.


“Sinyo katanya lagi menyiapkan semua pernikahan dengan nyai nanti.” Ucapnya sambil menunduk, kemudian Nadia memasuki mobil klasik dengan supir berparas Pribumi, mobil tersebut melaju ke rumah terkesan klasik berwana putih dengan jendela bundar di sertai taman yang luas.


Nadia melihat ke sekeliling halaman rumah pemandangan terlihat indah.


 “Nyai kamarnya ada di atas!” ucap Asih Bendide yang baru keluar dari pintu rumah, Asih terlihat nampak muda malah lebih muda dari Nadia.


Gadis berkebaya merah dengan rambut tergelung rapih berjalan masuk sambil dituntun para Bendide menuju kamar majikan-nya untuk istirahat di ranjang yang terdiri dari empat tiang.


 “Nyai, ini makan dulu baru minum obatnya!” ucap Sariyem yang membawakan makanan.


“Terimakasih Sariyem, taruh aja di meja.” Nadia masih di posisi duduk di atas ranjang dengan punggung menyandar di sandaran tempat tidur.


“Nadia!” panggil sang empu dari ambang pintu, Nadia yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya menoleh ke pintu kamar.


“Hanson!” ujar Nadia dengan dahi berkerut tanda heran dengan sikap Hanson sedang tersenyum gembira dan masih memakai seragam militer serta topi barret warna merah.

__ADS_1


Rambutnya masih terlihat rapih tetapi sudah terlihat dari wajahnya ia sangat kelelahan.


“Kamu istirahat aja, atau mau mandi air hangat?” ucap Nadia sambil memberikan nampan makanan-nya kepada Sariyem meskipun baru beberapa suap lalu meminum obat dan Sariyem menunduk sambil membawa nampan makanan untuk keluar itu pun karena instruksi Hanson.


 Hanson berjalan mendekat ke arah Kasur dan Nadia mulai takut dengan tingkah Hanson. Hanson berjalan dengan masih memakai sepatu dan memeluk Nadia yang masih dengan keadaan terduduk di Kasur.


“Hanson ada apa?” ucap Nadia yang membalas pelukan Hanson.


“Je sangat cerdas, ik jadi di berikan rumah ini oleh pemerintah Hindia Belanda.” Ucap Hanson yang masih setia dengan senyum yang mengembang.


“Maksudnya apa? Cerdas?” Nadia bingung sambil mengerutkan alisnya dan Hanson masih setia memeluk Nadia.


“Je ingat ide yang je katakan di rumah sakit? Ternyata idenya berhasil!” ucap Hanson. Nadia mengakat alisnya.


Akhirnya mereka berdua melepaskan pelukan-nya Hanson menyambar mulut Nadia mereka melakukan ciuman yang memabukan.


“Hanson kamu ganti baju dulu!” setelah Nadia terlepas dari ciuman Hanson nafas Nadia juga tersengal. Hanson mengagguk lalu meninggalkan Nadia agar bisa beristirahat.


Nadia terbangun baru memejamkan mata satu jam ia malah memutuskan untuk berkeliling melihat isi kamarnya ia bangkit dari ranjang secara perlahan.


Tetapi tubuh Nadia tidak bisa menyeimbangkan diri lalu mulai oleng karena tak bisa seimbang beruntung Hanson masuk kamar pada saat yang tepat, ia sore ini memakai kaos militer dan celana seragam dinas sambil membawa berkas di tangan-nya lalu menaruhnya di atas meja samping Ranjang.


“Nadia!” Hanson menahan pinggang Nadia dengan satu tangan mereka setengah berpelukan dan mata warna hitam sekelam malam milik Nadia serta mata biru seperti pusaran ombak yang menenangkan milik Hanson saling beradu pandang, dengan cahaya matahari terbenam dari jendela kamar yang di teralis menambah kesan romansa bagi keduanya.


Mereka berdua tersadar dan baru menyadari mereka dalam posisi yang tak sebenarnya. “Je ingin apa? Apa je butuh sesuatu? Jangan bergerak dulu je masih sangat lemah!!” maki Hanson.


“Aku ingin melihat-lihat isi kamar apa itu salah?!” inotasi suara Nadia tak kalah tinggi.


“Kenapa je tidak panggil Bendide atau panggil ik.” Ucap Hanson mendudukan tubuh Nadia di atas ranjang baru Hanson duduk di sebelahnya.


 “Aku ingin sendiri.” Nadia.


“Ik akan bantu je lihat-lihat.” Hanson mengengam tangan Nadia lalu gadis berambut hitam itu menganggukan kepala.


Nadia di bantu bangkit oleh Hanson dan melihat-lihat isi kamar yang akan mereka tempati berdua, Nadia pertama ke meja rias di depan ada cermin bundar dan melihat semua yang terletak di atas meja serta dalam laci meja.


Semua isinya ialah perhiasan serta kosmetik bergambar ratu Wihelmina dengan warna emas mungkin Hanson sudah menyiapkan semua ini untuknya, lalu Hanson mengajak Nadia ke lemari isinya juga sungguh banyak ada ruang gantinya juga beserta gaun dan kebaya yang mewah.


 Nadia melihat semua ini hanya tersenyum tanda sangat kagum kalo begini ia akan betah tinggal selamanya di sini menjadi milik Hanson. Nadia dan Hanson tak menyadari kalo mereka mulai tertawa bersama.


 “Sariyem!! Asih!!! dan yang lain!! cepat nyalakan lampu lilin karena sudah ingin malam!!” perintah Hanson dengan suara barinton sampai ke seluruh penjuru rumah.


“Sekarang je istirahat!” Hanson berujar lembut sambil mengusap halus pipi Nadia yang tembam.


“Besok siang je harus bersiap untuk menikahi ik.” Hanson mencium puncak kepala Nadia lalu membopong atau menggendong tubuh Nadia untuk menidurkan-nya di atas Kasur.


Hanson menyelimuti tubuh Nadia dengan lembut lalu mengambil berkas yang berada di atas meja dan pergi berlalu ke luar kamar.


Nadia istirahat karena ia masih sangat lemah tubuhnya seolah mati rasa jadi ia mengesampingkan posisi tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2