Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 47


__ADS_3

“Nadia!! Nadia bangun...” Kata sang ibu sambil menguncang-guncangkan tubuhnya, Nadia masih setengah mengantuk berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena waktu jam kumpul ospek jam 5 pagi abis solat subuh di lapangan SMA garuda bangsa.


Setelah mandi Nadia bersiap sarapan dan memakai sepatu dengan di antar pak Hartono sebagai tukang ojek sang ibu membayarnya 35 ribu, sesampainya di sekolah para murid berkumpul meskipun masih gelap, Nadia duduk di sebuah teras yang berjejer para murid.


“Ih Gedung sekolahnya creepy.” Ujar teman yang duduk di sebelahnya bernama Bella satu timnya yakni Mahameru.


“Woy Nadia.” Salsa mengejutkan Nadia, ya Salsa teman pertamanya tetapi beda tim yakni Rinjani.


“Apaan sih lu, Sal. Kagak lucu sumpah.” Ucap Nadia yang sepertinya tidak mood karena masih pagi.


 “Yaelah sensi banget lu.” Ledek Salsa. Diantara Nadia dan Salsa saat sedang bercengrama datanglah Budi teman MTS nya dulu.


“Hallo Nadia, morning.” Ujar Budi di sertai gerlingan genit di matanya.


“Budi mulai mengeluarkan pantun receh-nya. “Meski banyak bunga di taman, bunga mawar yang aku pilih. Meski pun wanita banyak pilihan, Tetapi hanya Nadia yang ku pilih.” Ucap Budi.


“Woy Budi pagi-pagi udah ganjen aja.” Tegur Kakak kelas yang menjadi ketua tim Nadia Nanti.


“Cepet balik dah lu ke tim lu. Nama tim lu emang apaan?” tanya kak Gita Kakak kelas Nadia yang berbeda satu tingkat.


“Nama tim saya majapahit, Kak.” Ucap Budi patuh.


 “Yaudah kamu gabung sekarang sama tim kamu!” perintah Gita.


“Iya Kak.” Patuh Budi.


Mereka semua berkumpul sebelum masuk mobil truk sebagai pengakut mereka ke sebuah tempat ospek nanti yaitu, daerah bogor yang masih Kawasan gunung dan perhutanan.


Nadia malah banyak berbincang dengan Salsa dibandingkan teman sekelasnya. Sesampainya di tempat yang di tuju Nadia memperhatikan rumah-rumah para penduduk masih ada yang seperti jaman Belanda tapi jendela, pilar, dan pintunya sudah di ganti hanya arsitektur bangunannya saja yang masih sama tetapi tak semua rumah seperti jaman Belanda ada juga rumah yang sudah modern.

__ADS_1


Para murid di suruh berbaris di lapangan yang sudah di sediakan dengan matahari yang terik di atas langit, sampai seorang murid ada yang pingsan karena terlalu lama berbaris dan mendengarkan nasihat.


 Nadia lebih banyak diam karena sendari tadi sudah ada yang memperhatikan dirinya dari jauh serta ada bahaya yang mengitai dirinya dan calon anaknya ia terus membelai perutnya.


“Pssstt, Nadia.” Panggil seseorang yang membuat Nadia mengarah ke asal suara itu.


Nadia terkejut lantaran yang ia lihat itu adalah Hellen sesosok hantu belanda yang menghuni salah satu rumah Belanda yang kosong tak terawat.


Nadia mengenal Hellen dari Ayah mertuanya Mayor Jendral Willem melaluinya lah ia bisa tahu siapa Hellen yaitu seorang gadis belanda campuran Pribumi anak dari kolega Ayah mertuanya.


Nadia melambaikan tangannya kecil pada Hellen, sampai pada akhirnya para murid di suruh ke tenda per-tim yang sudah disediakan oleh sekolah satu tim menempati satu tenda.


Nadia mengikuti Kak Gita menuju tendanya yang terletak di atas jurang yang bawahnya kali juga terdapat batu-batu besar yang masih ada.


Setelah menaruh tasnya Nadia menyipitkan mata tatkala ia melihat ke bawah kali yang airnya mengalir deras ada seorang perempuan bukan sedang mandi atau mencuci melainkan hanya berdiri di atasnya saja memakai kebaya serta membawa bakul di tangannya.


Perlahan perempuan tersebut menghilang di susul dengan air sungai yang berubah warna menjadi merah darah ia melihat ada para mayat korban kerja paksa di ceburkan ke sungai entah zaman G30 SPKI atau jaman penjajahan.


“AAAA!” jerit Nadia yang terbuyar dar lamuannnya.


“EH Dek, kamu kenapa teriak-teriak?” tanya Gita pada Nadia.


 “Gak kak, kaget aja.” Ucap Nadia sambil tersenyum.


“Yaudah ayo kita suruh kumpul ke lapangan makan siang dulu.” Ajak Gita, Nadia menganggukan kepala. Vella gadis yang sedang menepuk pundak Nadia tadi adalah tipe orang yang penasaran.


‘Apa ya yang Nadia liat tadi? apa jangan-jangan tuh bocah indigo.’ Batin Vella dalam hati.


“Vel ayo!” ajak seorang gadis.

__ADS_1


“Ayo.” Vella berjalan ke lapangan menyusul teman-temannya.


Mereka semua makan siang di lapangan dengan nasi box dan sudah ada air minum makanannya harus habis kalo tak habis maka teman satu timnya harus membantu menghabiskan makanannya.


Sesudah makan siang para murid menyiapkan untuk solat zuhur bagi yang muslim sedangkan yang lagi haid dan non muslim di suruh kumpul di sebuah aula menyerupai saung tetapi luas untuk tempat para guru sekolahnya, Nadia secara diam-diam mengendap-ngendap keluar dari aula yang berupa saung untuk pergi ke rumah yang di tuju.


Nadia berjalan keluar dengan ilusi yang dibuat oleh Hellen berwujud hantu, teman dekat suaminya untuk melewati para Kakak kelas saat sedang berjaga di area yang di tugaskan untuk menjaga para murid tak keluar dari area ospek atau perkemahan dengan di buat tidak melihatnya berjalan oleh ilusi yang dibua Hellen.


Nadia mengikuti kemana Hellen yang berupa hantu pergi ke rumah itu yang terletak tak jauh dari area perkemahan hanya menuruni tanjakan yang masih berupa tanah bukan beton.


Rumah itu nampak sangat antik pilar dan jendala berbentuk bundar dengan gaya Eropa, rumah berasiktektur Belanda itu ada halaman luas yang di tumbuhi rumput liar.


“Hei!! Je!!” Nadia langsung menoleh ke belakang tatkala seorang tentara berwujud hantu belanda menodongkan senjata gadis yang berpakaian ospek itu langsung mengakat tangannya.


“Je bisa lihat kami?!” Nadia mengangguk dengan takut.


Gadis tersebut melihat sekeliling rumah banyak para penjaga yang berseragam belanda.


“Hou op!!” teriak Hellen yang berjalan di belakang Nadia menghampiri.


“zij was de vrouw van Majoor Hanson van buthjer en de schoondochter van General-Majoor Willem.” Kata Hellen dalam bahasa Belanda. Dua hantu belanda tersebut langsung meminta maaf pada Nadia.


“No problem.” Ujar Nadia dalam bahasa inggris.


“Ayo Nadia kami sudah menunggumu.”  Ajak Hellen sambil menarik tangan Nadia, tentu gadis itu bisa merasakan dingin.


Saat Nadia di depan pintu tak lama pintunya terbuka sendiri seolah ia diizinkan masuk, Nadia sedikit terkejut lantaran rumahnya tak berpenghuni tetapi masih sangat bersih.


“Nadia!!” panggil di belakangnya membuat gadis itu menoleh, ia melihat wujud berdarah seperti habis di bantai dengan luka tembak di dada sampai mulutnya mengucapkan satu kata dengan terbata-bata.

__ADS_1


“Pa-pa. Papa Willem.” Ucap Nadia.


__ADS_2