
Nadia membuka matanya perlahan cahaya putih yang memenuhi penglihatannya memudar di gantikan langit-langit rumah sakit, aroma obat juga menyeruak di indra penciumannya. Nadia berusaha menoleh ke samping brankar rumah sakit melihat ibunya sedang tidur.
“I__bu.” Panggil Nadia membuat ibunya terbangun.
“Nadia! Alhamdulillah kamu udah sadar.” Sang ibu tersenyum haru lantaran putrinya sudah sadar, ibunya memberikannya segelas air untuk Nadia yang tangan kanannya di infus.
“Ibu teman aku gimana?” tanya Nadia.
Sang ibu menghembuskan nafas dan hanya mengatakan, “mereka baik sebaliknya kamu istirahat aja karena kondisi kamu masih lemah.” Nadia menganggukan kepala lalu sang ibu dengan penuh kasih menyelimuti tubuh Nadia.
Nadia kembali tidur ia berjalan melewati lorong waktu saat sedang berjalan ia menoleh ke belakang ada the black robe atau si jubah hitam berlari mengejarnya, Nadia dan Sarah memang takut dengan the black robe jika soal wajahnya Sarah dan Nadia belum sama sekali melihat, si jubah hitam biasanya hanya memberikan pesan atau pertanda.
The balack robe akan menemui remaja yang memiliki kemampuan indigo atau indera ke-6 jika saat sedang aktivitas seperti sekolah atau lainnya melalui wujud kucing hitam pembawa pesan.
Nadia terus berlari seolah the black robe membuat ilusi agar ia tak menemukan ujung dari lorong waktu ini, suara jam semakin nyaring dengan tenaga yang tak kuat Nadia pasrah dia langsung terduduk saat mendongkakan kepalanya ke atas ternyata the balck robe sudah berdiri di hadapannya, Nadia berdiri dengan nafas tak beraturan ia bangkit tubuhnya seolah tak bisa di gerakan.
Di tangan si jubah hitam tangan kanan memegang sebuah miniature kecil berbentuk labirin, sedangkan di tangan kirinya sebuah dadu berbentuk kubus ukurannya setelapak tangan.
“Aku kesini ingin memberitahumu, Nadia.” Ucapnya.
“Labirin ini artinya akan ada sebuah teka-teki yang harus kamu selesaikan, sedangkan dadu ini adalah penentu jalanmu menyelesaikan teka-teki ini.” Jelasnya.
Nadia sedikit tak paham tapi ia akan berusaha mengerti dengan masalah yang ia hadapi selanjutnya, pikirannya tentang teka-teki langsung beralih ke sofu atau kakeknya yang mengatakan harus mencari tahu sendiri akar permasalahan yang terjadi di masa lampau.
Gadis itu juga merasa penari yang berwajah tengkorak itu akan menjadi musuh besar dalam hidupnya.
“Bersiaplah!!” Tiba-tiba si jubah hitam menarik tangannya dan menghempaskannya ke zaman kolonial di mana Jakarta masih disebut sebagai Batavia.
Gadis itu terbagun saat dokter Stefania Van Buthjer sedang menyuntikan vitamin di lengannya, Nadia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang ia tempati saat bersama Hanson.
__ADS_1
Disitu juga ada ayah dan ibu mertuanya serta Hanson, setelahnya Stefania bicara dengan suaminya Nadia dalam bahasa Belanda.
Nadia terbaring diatas ranjang dengan perut yang sedikit membesar dengan lingkar hitam di bawah matanya, Hanson dan Willem langsung menatap Nadia dengan khawatir.
Willem mendekati menantunya itu untuk mengusap perutnya Nadia, “Hanson!! Ik tidak mau seperti waktu itu!! Menantu ik dan calon cucu ik bisa dalam bahaya!!” Maki Willem pada putranya.
Hanson memutar bola matanya jengah kemudian pemuda berambut pirang tersebut berbicara kepada sepupunya dokter Stefania dalam bahasa belanda, wajahnya Hanson langsung cemberut yang membuat Nadia hampir melepaskan tawa.
Mungkin karena efek kehamilan yang membuat suasana hatinya tak menentu, Nadia membaringkan tubuhnya di atas ranjang empat tiang udara panas di Batavia seolah di hiraukan olehnya karena yang terpenting ialah tubuhnya yang terasa lemah dan di tambah perutnya yang membesar.
Nadia duduk di kasur dengan menyadarkan tubuhnya ia di temani Stefania yang sudah mulai dekat, ternyata Stefania mengatakan jika Hanson tak boleh berhubungan intim dengannya sementara waktu karena kodisinya yang masih lemah. Pantas saja wajah Hanson kesal setengah mati yang membuat Nadia ingin melepas tawa.
“Stefania dimana Brechtje?” tanya Nadia pada sepupu Hanson, “je tidak tahu?” Nadia hanya menggelengkan kepala dan sedikit terkejut sekaligus penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan adik iparnya itu.
“Brechtje dikirim oleh paman ke Rotterdam untuk kuliah.” Jelas Stefania sambil meminum teh dan memakan camilan.
“Brechtje ingin menjadi seperti je.” Jelas Stefania.
Tentu saja hal ini membuat Nadia sedikit terkejut sekaligus senang ternyata dirinya dijadikan panutan oleh adik iparnya.
Tak lama Hanson masuk kamar, “maaf gadis-gadis menganggu waktu kalian, bolehkah ik bicara dengan istri ik? Stefania?” ucap Hanson sambil menunggu jawaban sepupunya.
“Tentu boleh tapi aku takut kau menerkam Nadia saat lengah.” Ledek Stefania dalam bahasa belanda membuat Nadia terdiam tanda tak tahu artinya.
“Hey awas kau!!” Hanson kesal dan saat itu Stefania berlari keluar lalu Hanson masuk kamar mengunci pintu.
Hanson menatap Nadia ia mendekati istrinya yang terduduk di kasur dengan menyadarkan punggungnya di atas bantal.
Hanson melepas pakaiannya, mulai dari kemeja coklat, celana hitam, terakhir **********. Nadia wanita normal tentunya munafik jika tak tergoda dengan tubuh atletis milik Hanson di tambah kulitnya berwarna putih gading, Hanson berjalan mendekat.
__ADS_1
“Hanson kamu dengarkan nasihat Stefania tad...” Hanson mencumbu area leher Nadia membuat gadis tersebut mengeluarkan suara dari mulutnya, setelahnya mereka bercinta peluh membasahi tubuh mereka.
“Nadia!! Hanson!!” Suara Anna memanggil keduanya dari depan kamar.
“Je istirahatlah.” Hanson menyelimuti tubuh polos Nadia dengan selimut tipis.
“Jaa mama!” Hanson yang menjawab panggilan ibunya.
“Hanson aku harap kau tak menerkam menantuku, dia sedang mengadung.” Ucap Anna dari luar kamar memakai bahasa Belanda, Nadia hanya bisa mendengar sayup-sayup suara Hanson dan ibunya menggunakan bahasa Belanda ia memiringkan tubuhnya sambil menyelimuti dengan selimut melihat ke arah jendela kamar yang memperlihatkan cahaya senja di langit Batavia, meskipun agak sesak dengan posisi miring tapi ia merasa nyaman dengan posisi ini.
Perlahan matanya tertutup karena merasakan kantuk, Nadia berjalan melewati lorong waktu tetapi bukannya sampai di rumah sakit tempat raganya terbaring ia malah memasuki sebuah cahaya yang terdapat area perkampungan.
Dari kejauhan ia melihat seorang wanita memakai kebaya coklat dan rok batik sepertinya sedang menunggu seseorang, Nadia ingin berjalan mendekat tapi tubuhnya seolah kaku dan tak bisa di gerakan ia hanya bisa menonton tak lama seseorang yang memakai baju tentara Jepang datang sambil membawa setangkai bunga mereka nampak bahagia.
Seolah ini adalah trailer film, adegan berganti wanita berkebaya itu memakai kemban penari dan ia menjadi penari yang terkenal sampai desa lain mengundangnya ia juga hampir disentuh tentara jepang tapi saat tahu itu adalah kekasih atasan mereka, membuat para jepang itu menciut dan menjauh.
Adegan berganti lagi menjadi seorang penari yang sukses dan ada juga penari yang iri, ia menjadikan senjata jika Puspasari ialah penghianat dengan menjalin hubungan bersama seorang penjajah.
Tak lama Adegan terakhir memperlihatkan keduanya berlari dan di belakangnya di kejar-kejar oleh para warga sedangkan penari yang dianggap penghianat tersebut sudah menggendong seorang bayi laki-laki, dengan marah anak buah jepangnya memperkosa wanita penari yang berani mempropokator atasannya yang membuat dalam bahaya.
Tubuh Nadia disedot oleh sebuah fakum penyedot debu keluar dari lorong yang salah dengan suara jam di telingannya membuat Nadia menutup kedua telingannya.
Sesaat itu ia langsung terbagun di ranjang rumah sakit tubuhnya berkeringat ia mencari sang ibu yang tak ada, ibunya sedang mengambil baskom air untuk membersihkan tubuhnya.
“Nadia kamu kok, keringetan padahal ruangan ini ada AC...Loh.” Ujar sang ibu yang heran.
“Yaudah sini ibu bersiin dulu badan kamu.” Ucap ibunya yang disambut anggukan kepala oleh Nadia. Selama tubuhnya dibersihkan Nadia memikirkan sebuh kode teka-teki yang membuatnya penasaran jadi ia putuskan untuk meminta bantuan pada Sarah lewat via whattsaap.
Nadia terkejut saat membuka handponenya di grup sekolah di kabarkan jika Putri telah meninggal dunia, Nadia langsung bersedih hanya dirinya, Bella, dan Vella yang selamat tapi mengapa Putri tak bisa selamat apa papa berani menawan Putri, pikiran Nadia terus berkecamuk memikirkan ini dan itu membuatnya pusing dan tak tahu harus apa.
__ADS_1