
Hari seninnya Nadia berbuat masalah ia di bully karena sifatnya yang pendiam tak hanya dia tapi juga seluruh anak perempuan di kelasnya ia hampir saja mencelakai salah satu anak laki-laki. Malam harinya di rumah tentu saja Nadia di sidang oleh ibunya karena mendapatkan informasi dari grup Whatsaap, tak kuasa gadis malang itu ingin menceritakan semuanya.
Defani adiknya melarangnya menceritakan semuanya pada ibunya tapi Nadia yang sudah terpojok tak mampu melewati ini semua kecuali menceritakan semuanya pada sang ibu.
Sungguh luar biasa sang ibu saat mengetahui bahwa putrinya menjalin hubungan dengan mahluk dari dunia lain. “Mungkin anak laki-laki di kelas ada rasa suka sama kamu!! tapi kamu menanggapinya terlalu jutek.” Ucap sang ibu.
“Ibu aku sebenarnya...” Nadia ingin bercerita tapi di tahan oleh Defani dengan memegang tangannya. Nadia melihat adiknya menggelengkan kepala tanda tak boleh cerita, “kakak pikirkan Victoria...kakak gak boleh egois.” Defani berbisik kepada kakaknya, Nadia mengangguk dan tahu apa yang harus dilakukan.
“Sebenarnya aku kemaren waktu di kota tua udah pacaran bu... ama hantu belanda namanya Hanson van Buthjer...” Nadia bicara lirih ia juga tak menceritakan jika sudah punya anak dari hasil hubungan berbeda dunia itu.
“Nadia!! Nadia!! kok pacaran ama hantu coba kamu ke kuburannya paling tinggal tulang doang!!” sang ibu berkacak pinggang dengan marah. “Dia selalu marah jika ada cowok yang suka sama aku...” Nadia menunduk dengan takut. “Tapi aku suka sama dia bu, di umurnya yang masih muda udah menyandang pangkat letnan.” Ucapnya Nadia di sertai uraian air mata.
“Tapi dia kan hantu, umurnya ama kamu juga kalo masih hidup udah kakek-kakek!!” ujar ibunya. Defani menahan tawa mendengar kalimat yang terlontar dari mulut sang ibu yang menurutnya lucu. “Bu aku juga di bawa ke alamnya dia!!” sang ibu saat ingin menghubungi seseorang dari ponselnya langsung terhenti.
“Maksudnya gimana?” tanya sang ibu kembali menaruh ponselnya. “Aku...aku dibawa ke Batavia yang sekarang Jakarta dan Buitenzorg yang sekarang jadi bogor karena dia dinas bu.” Jelas Nadia membuat sang ibu melongo tak percaya mendengar penjelasan anaknya.
Nadia juga bisa berbicara bahasa belanda yang tentu membuat sang ibu semakin tercengang, sedangkan Defani hanya tersenyum karena ia sudah tahu sejak awal. Nadia memang suka berbagi cerita pada sang adik. Nadia di kelas menjadi tak ada teman karena sikapnya yang aneh contohnya tertawa sendiri, bicara sendiri, tak bisa mengendalikan emosi, dan lainnya.
Beruntung sang ibu ada kenalan dari teman kerja mendiang ayahnya Nadia yang juga bisa meruqyah. Setelah habis di siding Nadia kembali tidur ke lantai atas membaringkan diri di kasur. “Mama...” seorang anak kecil perempuan tidur di sebelahnya. “Victoria...nu slaap je met mama.” Nadia tersenyum ia mencium anak perempuan itu kemudian memeluknya.
Nadia berjalan kakinya tak menapaki bumi ia berjalan di lorong waktu, kedua tangannya seolah diikat dengan rantai yang sangat kuat. “Nadia!” Suara itu amat ia kenal. “Hanson!” ucap Nadia ia menoleh ke samping kanan dan amat terkejut Hanson berjalan sambil membawa anak perempuan hasil hubungan mereka. “Hanson apa-apaan ini?” ujar Nadia tak suka.
__ADS_1
“Mama aku sayang mama sama papa.” Ucap anak perempuan itu yang memakai gaun kotak-kotak berwarna coklat dan pita di kedua kerah bajunya.
“Victoria...aku amat menyayangimu...” Ucap Nadia berlinangan air mata dengan tangannya yang masih terikat, posisi mereka berada di lorong waktu. “Kalo gitu ikut ik sama papa ke lorong waktu...” Tawar Victoria kepada Nadia yang menatap kedua mata anaknya yang warna biru sama seperti Hanson.
“The black robe gua harap lu muncul sekarang karena gua perlu solusi.” Nadia memejamkan kedua matanya dengan linangan air mata ia sama sekali tak tahu harus berbuat apa selain si jubah hitam yang mampu menyelesaikan masalahnya.
“Hou op!” suara lantang itu membuat Nadia membuka matanya ternyata the black robe sudah menjawab panggilannya, “Victoria!! ibumu tidak bisa lagi bersatu denganmu karena mereka sudah di pisahkan mulai besok!” Jelas the black robe.
“NEE!!” Victoria berteriak di lorong waktu sampai gemanya terdengar. “Hanson! Nadia! aku akan ambil keputusan untuk kalian jika masih belum memutuskan permasalahan ini!! semua ini untuk Victoria kalian berdua orang tuanya jangan sampai salah langkah.” Ucap Si jubah hitam. “Aku akan beri waktu untuk kalian berunding.” Lanjut si jubah hitam kemudian langsung menghilang.
“Nadia je harus ikut bersama ik tinggalkan hidup je yang menderita itu, jadilah istri ik.” Hanson menawar pada Nadia. “Aku tidak bisa meninggalkan ibu dan adikku sendirian Hanson...” Ujar Nadia lirih. “Je akan bahagia ik jamin itu, jadilah istri ik dan jadilah ibu untuk anak kita, Victoria.” Ujar Hanson. “Maaf Hanson aku harus menjaga ibu dan adikku, akau bisa...” Ucapan Nadia di potong oleh Hanson dengan kasar. “Jadi je tak mau maka ik akan paksa je!!” Hanson dengan murka.
“Nadia jika kamu sudah di bersihkan maka kamu masih punya hak untuk ke Batavia merawat Victoria! dan kamu Hanson tak boleh ke rumah Nadia karena bisa beresiko fatal. Jadi keputusannya Victoria Alexandra van Buthjer akan tetap bersama kalian, Nadia jalankan kehidupanmu di Batavia sampai kamu menikah dan punya anak!! Karena apa yang kamu tanam itulah yang kamu akan petik!!” Nadia diam seribu kata termasuk Hanson.
Nadia terbangun di Batavia udaranya amat panas ia menoleh ke belakang punggungnya ternyata Hanson sedang tidur membelakanginya sambil memeluk tubuhnya. “Hanson lepaskan aku, sudah pagi ayo kita bangun.” Nadia dengan suara serak khas bangun tidur, Hanson malah semakin mempererat pelukannya. Seorang anak kecil mengetuk kamar mereka, “Mama! Papa! Bangun!” suara anak kecil menggedor-gedor pintu kamar mereka. “Hanson bangun! Itu suara Victoria!” Nadia berusaha melepaskan dari tangan besar suaminya.
Merasa tak di gubris oleh kedua orang tuanya Victoria secara pelan membuka pintu kamar mereka, gadis kecil itu masuk ke dalam selimut ranjang, dengan sangat jail tangan Victoria mengelitiki kaki ayahnya membuat pria itu membuka matanya kemudian tertawa. Nadia akhirnya bernafas lega lantaran ia bisa terlepas dari Hanson, “Victoria, je anak nakal.” Hanson bangun sambil mengendong manja putrinya. Nadia yang melihat keakraban antara suami dan anaknya mengukir senyum ia jadi teringat dengan mendiang ayahnya yang telah tiada. Hanson menyekolahkan putrinya di Europeesch Lagere School (ELS), Victoria memang pintar tapi hanya ada satu pelajaran saja yang ia tak bisa, seperti matematika.
Pagi ini Victoria memakai gaun kotak-kotak warna merah, kedua lengan baju warna putih seperti kemeja, dipadukan pita sebagai hiasan di depan bajunya, tak lupa kaos kaki dan sepatu. “Kamu pilih mau pita warna apa?” Nadia menawarkan pada Victoria. “Biru muda ma! Yang ini.” Victoria amat antusias. Nadia merapikan rambut putrinya kemudian ia menyisir poni rambut depan putrinya, Victoria amat mengemaskan.
Setelah selesai Victoria siap pergi ke sekolah dengan di antar Nadia juga Hanson, Batavia tak terlalu panas pagi ini karena awan sedang mendung yang sepertinya akan turun hujan. Nadia tersenyum melihat anak-anak bule sedang sekolah suasananya seperti luar negeri saja pikir Nadia, “lieve...ayo kita ke acara kantor?” Hanson merangkul Nadia untuk menggiring ke mobil di perjalanan Hanson membicarakan ingin punya anak laki-laki, tentu saja hal itu membuat Nadia menatap Hanson tak percaya.
__ADS_1
Sesampainya di kantor acara Hanson Nadia menggamit lengan suaminya menuju ke dalam kemudian ia bicara dengan Elsje dan yang lainnya, saat sedang menikmati acara. Tanah, dan beberapa benda tiba-tiba bergetar membuat yang lainnya panik. Para wanita berteriak ketakutan menuju keluar Gedung yakni lapangan untuk baris para tentara, “Hanson!!” Nadia berteriak mencari suaminya dan ternyata Hanson berada di antara para pria teman-temannya. “Hanson aku menghawatirkan Victoria.” Ujar Nadia. “Astaga, ik lupa...Victoria.” Hanson bingung bagaimana caranya ke sekolah anaknya, saat gempanya telah usai Hanson dan Nadia meminta izin agar bisa ke sekolah untuk menjemput putrinya.
Sesampainya di sekolah banyak orang tua murid menjemput anak mereka karena khawatir banyak anak-anak perempuan yang menangis di pelukan ibu mereka karena ketakutan termasuk Victoria, “liefste je tak apa?” ucap Hanson kepada Putrinya tetapi hanya di jawab isak tangis oleh anaknya. “Ayo kita pulang Hanson? kasihan Victoria.” Kata Nadia sambil mendekap putrinya ke dalam pelukannya. Nadia duduk di sebelah Hanson yang sedang menyetir mobil, Nadia mempelai Victoria yang tertidur di pelukannya.
Nadia turun dari mobil sambil mengendong Victoria yang terlelap di tubuhnya ia menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu untuk menidurkan putrinya di kamarnya, Nadia tersenyum saat memasuki kamar Victoria ternyata Hanson tahu tentang selera anak perempuan meskipun nampak klasik tetapi di setiap sudut terdapat mainan anak perempuan, seperti boneka. Saat Nadia ingin keluar kamar tangannya di tahan oleh Victoria, “aku disini saja kamu mandi istirahat.” Ujar Nadia kepada Hanson.
Pria berambut pirang itu menganggukkan kepala sebelum keluar kamar Victoria, Hanson terlebih dahulu mencium kening putrinya yang sedang tidur pulas setelahnya ia pergi mandi. Nadia menemani Victoria yang tidur sepertinya ketakutan karena gempa ia akan waspada takut ada gempa susulan, saat waktunya makan siang Nadia terbangun untuk makan siang. “Victoria! My dear come on! Wake up.” Nadia sedikit menggoyangkan tubuh Victoria, “Victoria...” Nadia menempelkan punggung tangannya di kening putrinya.
Betapa kaget dan paniknya Nadia saat mendapati tubuh putrinya panas, “Hanson!!” Nadia berteriak memanggil suaminya. “Ada apa Nadia? siang-siang suaramu hampir memecahkan kaca!!” Ucap Hanson. “Victoria...tubuhnya.” Hanson datang dengan kemeja pendek dan celana bahan, “Astaga, demam.” Hanson mengangkat tubuh Victoria dan membawanya ke dokter. “UHUK...UHUK...UHUK.” Victoria terbatuk-batuk. Hanson menyetir mobilnya menuju rumah sakit.
Di rumah sakit Koningin Emma Ziekenhuis.
Nadia masih setia memeluk Victoria yang wajahnya sudah pucat, rumah sakit ini sangat anti belum ada yang namanya AC atau pendingin ruangan. Seorang dokter laki-laki berambut pirang dan bola matanya warna coklat datang umurnya tak berbeda jauh dari Hanson.
Setelah di periksa hasilnya Victoria tak boleh salah makan karena ada penyakit lambung yang sepertinya diturunkan dari Nadia, “apa diantara kalian berdua ada yang punya riwayat penyakit lambung?” tanya dokter tersebut dalam bahasa belanda, “Ik...ik dokter.” Ucap Nadia dengan lirih.
“Nyai sepertinya je tahu bagaimana cara menangani putrimu, seperti tidak telat makan atau sembarangan mengonsumsi makanan.” Jelas sang dokter sambil menaruh kacamatanya di tumpukan berkas tepat di depannya. “Jaa dokter ik paham.” Ujar Nadia dalam bahasa belanda. Hanson dari tadi menatap Nadia. Hanson mengendarai mobilnya dalam diam termasuk Nadia, diposisi ini gadis itu tahu jika dalam hati suaminya pasti menyalahkan dirinya karena menurunkan penyakit pada keturunannya.
Victoria terlelap karena sangat lelah perjalanan jauh dari rumah sakit, tanpa di duga Hanson sambil mengendarai mobilnya mengambil salah satu tangan Nadia kemudian mengecup punggung tangan istrinya. “Jangan terlalu menyalahkan diri je.” Ucap Hanson yang membuat Nadia mengukir senyuman tanda ternyata Hanson dapat memahami dirinya.
__ADS_1