
Nadia kembali ke tubuhnya ia tebangun jam 4 pagi ia menoleh ke samping ternyata ada Hanson dengan wujud hantu sedang membelakangi Nadia, sambil menunggu adzan subuh Nadia melakukan rutinitasnya membaca aplikasi novel di handpone sambil mendengarkan music lewat earphone.
Nadia pura-pura tidur saat neneknya memasuki kamarnya lalu membangukan gadis tersebut, selayaknya sedang berakting ia berpura-pura baru bangun tidur.
“Nadia bangun solat dulu, Nduk.” Ucap sang Nenek.
“Alina bangun udah subuh...” Ujar sang nenek yang menepuk-nepuk pipi kedua cucunya dengan tangannya yang sudah keriput.
“...Iya Eyang.” Ujar Nadia dengan keadaan yang setengah mengantuk Nadia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Setelah melakukan solat subuh ia memakai lotion dan lip balm di bibirnya, tak lupa rambutnya di sisir untuk di kuncir.
Hari ini gadis bertubuh padat tersebut mengenakan seragam batik hijau dan rok putih dan kerudung putih.
“Nadia hari ini Eyang beli nasi uduk, nih uang saku kamu sama bekal kamu.” Ucap sang Nenek.
“Makasih Nek.” Ujar Nadia tersenyum dengan mulut penuh dengan makanan.
“Eyang bikin kue dong.” Pinta Nadia.
“Kue apa?” tanya Eyang.
“Kue lumpur ama pie.” Ucap Nadia.
“Yaudah nanti pulang sekolah, sekarang kamu siap-siap kerjain soal yang bener.” Ucap Neneknya.
“Iya Eyang.” Ujar Nadia yang menyuapkan nasi uduk ke mulutnya dengan sendok.
“Eyang pie-nya rasa coklat tapi.” tiba-tiba Alina yang sudah mandi sedang memakai baju lengan Panjang dan celana bahan berwarna hitam di padukan dengan kerudung segi empat yang senada dengan bajunya yakni maroon.
“Hati-hati...Nduk.” Nadia menyalimi tangan neneknya yang pagi ini memakai kaos bali dan celana Panjang.
Alina yang mengantarnya ke sekolah dengan menggunakan motor sekalian kuliah karena da jadwal kuliah pagi.
Sesampainya di sekolah Nadia memasuki kelas dan pagi ini sepertinya biang gossip sedang bicara.
“Eh guys...masa gua denger si dia....” Ucap Arina.
“Serius lo.” Ucap mereka serempak, dengan jengah Nadia memilih keluar kelas sambil membawa buku.
“Pasti yang kemaren gua nemuin mayat di rumah itu.” Batin Nadia.
Sekarang kamis dan hari terakhir mata pelajaran UANBM adalah Prakarya, seni budaya, akidah ahlak, bahasa arab.
Sebenarnya ia kalo hari biasa masuk dari senin sampai sabtu karena sekarang ulangan jadi waktunya di irit.
__ADS_1
“Ik tahu apa yang je pikirkan, Liefste.” Ucap Hanson.
Gadis tersebut hanya tersenyum menaggapi Hanson, “Nadia!” panggil Nissa sambil menepuk pundaknya.
“EH Nissa bikin gua kaget aja.” Ujar Nadia.
“Yaudah hari ini lu jadi kemana?” Tanya Nissa.
“Eh ke kelas 9D yuk.” Ajak Nadia bersama Nissa.
“YDH.” Nissa menurut menghabiskan waktu bersama Ananda dan Ningrum sambil bersenda gurau.
Momen-momen inilah yang nanti akan di rindukan oleh Nadia, tiada lagi momen terkenang indah selain berkumpul dengan sahabat-sahabatnya.
Tak terasa bel masuk berbunyi setelah semua-nya memasuki kelas yang mengawas kali ini pak mawan, mereka kembali ke kelas masing-masing.
“Anak-anak saya akan bagikan kertas ujian dan kalo sampai saya tahu ada yang mencontek akan saya robek dan ganti dengan kertas yang baru!” Pak Mawan langsung membagikan kertas ujian baru beberapa menit saja ketahuan mencontek kali ini bukan biang gossip tetapi anak laki-laki yang menjadi jatah omelan guru sontak pak Mawan langsung merobeknya tentu hal itu membuat seisi kelas menahan tawa.
“Ayo kerjakan!” ucap Pak Mawan.
“Nadia!” panggil Hanson di sebelah kanan.
Nadia langsung menoleh, “ada apa?” Tanya Nadia dengan berbisik.
“Je bisa mencontek sekarang, guru dan teman-teman je tak akan bisa lihat.” Nadia langsung membulatkan matanya.
“Je bisa lihat nanti!” setelah itu Hanson kembali menghilang di sertai senyuman, Nadia menarik nafas yang dalam dan mencoba mengeluarkan kertas dari saku bajunya.
Hanson membuat Pak Mawan mengatuk agar Nadia bisa leluasa mengerjakan soal ujiannya beruntung Pak Mawan mengawas dua pelajaran Prakarya dan seni budaya jadi dua waktu abis prakarya langsung dilanjut seni budaya.
Tak berselang lama bel berbunyi menandakan istirahat Nadia yang sudah selesai segera memasukan kembali kertasnya ke dalam saku bajunya tak lupa nanti berterimakasih untuk suaminya, waktu pun habis yang lain belum selesai tapi ditarik secara paksa oleh Pak Mawan.
Nadia keluar kelas.
“DOR!” ternyata Dian dan Rika sudah berada tepat di depan pintu kelas yang mampu membuat Nadia tergejolak kaget.
“Ah! Lo berdua kebiasaan deh.” Ucap Nadia.
“Woy ayo.” Ujar Rika sambil menarik Nadia menuju kelas 9A mereka janjian istirahat bersama di kelas 9A.
“Woy gua mau ikut test di man 14 mingdep (minggu depan).” Ujar Ananda antusias.
“Gua mah SMK biar gua langsung kerja, mau ngambil perkantoran, lagian gua udah daftar kemaren bareng abang gua.” Ucap Dian.
Mereka asyik berbincang dan baru juga setengah makan dengan menyebalkan bel kelas berbunyi dan di lanjutkan dengan pelajaran akidah ahlak dan bahasa arab kali ini, kelas Nadia sangat sial lantaran yang mengawas Bu Fina lagi udah begitu dua jam mata pelajaran sekaligus.
__ADS_1
Tetapi lagi-lagi Hanson membantu Nadia dengan membuat ilusi seolah kalo Nadia tidak membuka contekan sama sekali.
Tak terasa waktu pun berlalu setelah mengerjakan bahasa Arab Adzan zuhur berkumandang para murid segera mengumpulkan kertas soal beserta jawaban karena waktu dan jam sudah habis lalu bersiap mengambil mukena, sarung dan sajadah untuk melaksanakan solat zuhur berjama’ah di Aula yang luas.
Karena masjid sekolah sedang di renovasi, Nadia mengambil Wudhu bersama dua friendzonenya Ananda dan Ningrum, setelahnya tiga gadis tersebut berjalan menuju Aula yang sudah di siapkan sambil bercakap-cakap ringan.
Saat di Aula mereka tak hentinya berbicara tentang Instagram dan fasion kecantikan, Sontak mereka semua menjadi terhenti tatkala pak Anton sudah komat langsung para makmum merapikan barisan solatnya.
Nadia, Ningrum, dan Ananda buru-buru memakai mukena. Setelah melaksanakan solat para murid wanita memakai kerudungnya lagi yang sudah selesai boleh berkemas dan pulang sebelum pulang tentu saja Nadia kelas 9D karena pulang bareng Ningrum.
“Woy Ningrum!!” panggil Nadia di luar kelas 9D.
“WOY BEB’S, SABAR YA.” Ujar Ningrum setelah berkemas Ningrum dan Ananda keluar kelas mendekati Nadia di depan pintu, para gadis mencari tempat duduk lalu membeli makanan.
“Ningrum mau beli apa lagi?” tanya Nadia sambil memakan potongan siomay di baluri saus kacang.
“Udah gua kenyang.” Ujar Ningrum setelah puas berbicara Panjang lebar mereka bangkit untuk pulang.
Mereka berdua berjalan melewati area komplek tersebut tetapi banyak murid dari satu sekolah juga.
“Ningrum itu ngapain dah si Tony ama Aris naik sepeda begitu.” Ucap Nadia melihat Tony dan Aris berboncengan dengan Tony mengayuh sepeda dan Ares di depan.
“Busset dah.” Ujar Ningrum sambil menuntun sepedanya.
“Biarin aja mau latihan akrobat ama sirkus kali.” Ucap Nadia, perkataan Nadia membuat Ningrum tertawa renyah.
“Apa yang lucu?” Tanya Nadia.
“Gak.” Jawab Ningrum simple.
Tak terasa dua gadis berseragam putih-batik tersebut sudah sampai di persimpangan jalan karena terlalu asyik mengobrol Ningrum dan Nadia berpisah sambil tos ala persahabatan, Ningrum ingin mengarah ke luar area komplek sedangkan Nadia terus berjalan memasuki komplek.
Setelah Nadia berpisah dengan Ningrum, anak laki-laki yang sedang berjalan dan naik sepeda memperhatikan Nadia yang berjalan sambil diam dengan memegang tas ranselnya, gadis itu merasa ada yang membuntuti dari belakang dengan rasa takut yang luar biasa Nadia mempercepat langkah kakinya.
Gadis tersebut berhenti sejenak di rumah Fera sambil melihat sekeliling rumah itu sekarang sudah lebih baik tetapi sayang garis polisi masih menghiasi rumah tersebut.
Kemudian gadis itu melanjutkan jalan pulang sesampainya di rumah neneknya yang dari luar terlihat sangat antik dengan jendela bundar yang terbuat dari kayu, serta di setiap gerbangnya di tumbuhi tanaman yang membuat rumah terkesan asri dan sejuk.
Nadia masuk rumah melepas sepatu dan membersihkan diri, ia menyalimi neneknya yang sedang membuat kue.
“Nek, aku pulang!” ucap Nadia menyalimi neneknya.
“Eh udah pulang, Nduk.” Kata neneknya yang sedang memanggang kue, gadis berseragam sekolah tersebut hanya menganggukan kepala sebagai jawabannya.
Nadia segera memasuki kamar dan menganti seragam sekolahnya dan tak sabar menunggu Defani pulang karena kata sang Ibu waktu semalam Defani boleh pulang kamis depan jadi ia tinggal menyiapkan hari kelulusannya saja.
__ADS_1
Nadia merebahkan diri di atas Kasur sambil memandang langit-langit kamar dan memikirkan calon anaknya yang tiada mata gadis itu mengeluarkan air tanda kesedihan.