
Malam ini Nadia ke balkon rumahnya untuk menikmati angin malam yang sepertinya akan turun hujan, dia berpegangan pada batas besi karena rumah sampingnya bersebelahan dengan saluran air yang menghubungkannya dengan kali ciliwung membuat tetangga sekitar rumahnya sering di masuki hewan kali ciliwung, seperti biawak, buaya kecil, ular, dan sebagainya.
Nadia malam ini mengenakan piyama berwarna merah bergambar mickey mouse ia memperhatikan langit di sertai awan mengingat pesan ayahnya.
“Nadia kamu sudah dewasa nanti kalo Ayah pergi
kamu jagain ibu, Defani, sama saudara kita yang lain. Ayah yakin Allah SWT punya jalan sendiri buat kamu asal tahu saja kamu itu special bahkan diri kamu sendiri tidak tahu special dalam diri kamu apa.” Setelah itu sang ayah mencium kening Nadia.
Gadis yang mengenakan piyama warna merah tersebut memejamkan mata sambil memegang kalung logam yang ia beli waktu berlibur ke kota tua beberapa bulan yang lalu, ia menghembuskan nafas kemudian matanya menatap gelapnya awan malam.
‘Gua siap buat masuk ke masalah yang di hadapin.’ Gumannya dalam hati tangannya memerah lantaran terlalu kuat mengengam liontin kalung berhuruf N tersebut.
Mata Nadia melihat ke bawah dari arah saluran air ada sebuah bayangan mengendap-ngendap seperti ninja Jepang dan sangat cepat seperti angin.
‘Apaan lagi tuh.’ Batin Nadia dengan rasa cuek dia memilih masuk ke dalam rumah dan menutup pintu balkon.
Dia tanpa sadar mengaruk bagian kepalanya yang gatal dan menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan saat itu beberapa helai rambut rontok dan terjatuh ke lantai.
Sejak kelas 8 atau 2 MTS/SMP rambut Nadia mulai rontok dan tiap hari minimal sekali dia harus mengumpulakan rambut-rambutnya.
Dia ingat waktu kelas 7 SMP juga ia pernah memotong kuku tangan dan kakinya saat di tinggal sebentar ingin mengambil tisu untuk menaruh kuku-kukunya yang terpotong tiba-tiba saja potongan kukunya menghilang sendiri di saat itu Nadia bingung mencarinya ke seluruh area kamar tak ada.
Sebagai gadis modern Nadia berusaha memikirkan hal yang masuk akal mungkin saja tertiup angin. Nadia ke kamar mandi untuk menyikat gigi, mencuci wajah dan berwudhu untuk solat isya.
Setelah solat Nadia mulai menyisir rambutnya menghadap cermin beberapa helai rambut rontok dan jatuh ke lantai, karena sudah terlalu mengantuk Nadia memutuskan membereskan bekas rontokan rambutnya besok saja. Ia memutuskan untuk tidur.
Sebuah tangan kekar berkulit kuning langsat memunguti rontokan rambut Nadia yang berserak di lantai, sudah di pastikan ia seorang pria samar-samar memakai pakaian ala keraton atau kolosal secara tiba-tiba merubah wujudnya menjadi biawak lalu menghilang.
Nadia mengeluarkan roh dari dalam tubuhnya berjalan melewati waktu berputa-putar seolah suara jarum jam terdengar sampai ia terbangun setelah melewati pusaran waktu.
Dia terbangun di Kasur empat tiang yang empuk tangannya mengapai ke samping dan tak mendapati suaminya ia pun terbangun dan panik. Kemudian ia baru ingat jika Hanson dua hari tidak pulang jadi ia putuskan untuk mandi dan bersiap bertemu dengan Nyonya Eva berjalan menikmati udara pagi.
Pagi ini Nadia menggunakan gaun berwarna krem dengan kerah layu warna putih di area lehernya Panjang gaunnya selutut dan terdapat tiga kancing di depannya, di sertai tali berwarna hitam di antara kerahnya sangat pantas bila di ikat pita.
...⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─...
Setelah selesai Nadia memilih menata rambutnya dengan gaya cepol, setelah rapih ia memakai topi putih lalu mengenakan sepatu sandal hitam sebagai alas kaki yang serasi.
Nadia dan Eva berjalan-jalan menikmati udara pagi Buitenzorg yang sangat asri, Eva pagi ini mengenakan dress hijau dengan lengan Panjang dengan gaya pergelangan tangan melebar, di tambah topi jarring-jaring berwarna senada, stocking hitam pun tak lupa sebagai pemanis tampilannya.
“Eva ayo kita ke restoran itu.” Tunjuk Nadia untuk sarapan Eva yang sedang membawa anjing peliharaannya lalu menempatkannya di luar restoran.
Mereka sarapan bersama sambil berbincang, setelah selesai mereka keluar restoran. Eva membawa anjingnya dengan tali, saat melewati jalan Eva dan Nadia heran lantaran banyak mobil-mobil militer berisi para tentara lewat di jalan raya depan restoran tak seperti biasanya kecuali ada kericuhan dan petinggi lewat.
Eva dan Nadia langsung saling pandang dengan heran. Orang-orang di jalan juga berhenti untuk melihat mobil-mobil yang lewat tersebut. “Ada apa ini? ya tuhan lindungi Suami dan Papaku.” Ujar Eva dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar Nadia.
“Ya allah lindungi Suamiku.” Ucap Nadia sambil mengelus pelan perutnya memohon kepada yang kuasa untuk melindungi suaminya karena ia tak mau calon anaknya mengalami nasib seperti dirinya menjadi yatim ditinggalkan sang Ayah sangat sakit hatinya seolah kehilangan setengah dalam dirinya.
“Ya tuhan!!” suara Eva meninggi membuat orang sekitar melihat wanita yang mengenakan topi jaring-jaring tersebut.
“Nadia ik ingat Jason! ik harus ke sekolah anak ik.” Sebelum Eva bergegas pergi ia memegang kedua pundak Nadia dan bibirnya yang berpoles lipstick warna merah mencolok berujar.
“Nadia cepat je pulang sekarang, sepertinya akan ada kerusuhan.” Setelah itu Eva meninggalkan Nadia dan pergi ke sekolah anaknya.
Nadia heran ada apa ini kenapa zaman ini amat aneh perasaannya campur aduk tak tahu harus berbuat apa, saat ingin pulang gadis bergaun krem tersebut membalikan tubuh ke belakang ia melihat sekelompok warga Pribumi berpakaian lusuh berjalan beramai-ramai dan di tangannya membawa senjata seperti golok dan sejenis pisau tangan.
Nadia bernafas terengah-ngengah dia memutuskan bersembunyi di balik tong besar di dekat restoran, gadis itu menjadi takut tatkala para warga Pribumi yang rata-rata pria tiba-tiba saja melempari kaca restoran membuat pengunjung keluar berlari ketakutan dan tanpa ampun para warga pribumi menghabisi orang kulit putih tak peduli wanita atau pria.
Nadia syok melihat hal itu tak hanya restoran milik orang belanda tapi semua toko milik pedagang cina juga di hancurkan, serta para pedagang pribumi mengumpulkan barang dagangannya dan segera pergi meninggalkan amukan masa yang sulit di redam.
“Hanson kamu dimana? aku takut?” Nadia masih setia bersembunyi di balik tong, meskipun tangan dan pelipis jidat bagian kanannya sedikit tergores mengeluarkan darah lantaran terkena pecahan kaca dari restoran yang dia kunjungi tadi bersama Eva.
__ADS_1
Tangan kanannya terus mengelus perutnya ia sudah berjanji kepada mertuanya untuk melindungi jabang bayi ini, ia melihat mobil-mobil lalu turunlah para tentara berparas Belanda dan ada yang berwajah campuran. keadaan bukannya semakin tenang tetapi semkin kacau. Nadia segera berlari dan keluar dari tong untuk pulang ke rumah, kedua tangannya terus memegang perutnya sambil mempercepat langkah kakinya.
Untung saja Nadia keluar di saat yang tepat saat restoran itu ingin dibakar. Saat sedang berjalan tubuhnya bertabrakan dengan sesorang karena tak fokus tanpa mau memperhatikan lebih jelas, saat ia menatap siapa yang di tabrak ternyata____Endah. ia memakai kebaya coklat sederhana dan kain batik senada, rambutnya juga ia biarkan tergerai dengan jepitan hitam menghiasi rambutnya, sambil membawa barang dagangannya berupa buah-buahan.
“Maaf, Non saya gak sengaja.” Ucapnya sambil memunguti barang dagangannya meskipun sudah ada beberapa yang terinjak oleh orang-orang yang berlari ketakutan.
“Endah!!” ujar Nadia. Wanita berkebaya coklat itu kaget tetapi keadaan seperti ini ia harus fokus dengan dagangannya.
“Maaf Mon kita gak saling kenal.” Setelah selesai mengambil barang-barang dagangannya yang jatuh, wanita itu segera berlari.
Nadia masih melamun dan ia menjadi terbuyar tatkala beberapa orang menabraknya yang hampir membuatnya terjatuh, ia hampir lupa untuk melindungi calon anaknya.
Gadis itu melanjutkan lari saat di depan pemukiman tempat tinggal para tentara Belanda yang ia tempati bersama suaminya, di depan juga sudah di jaga ketat oleh orang Eropa berseragam militer.
“OP!! OP.” Salah satu tentara menghentikan Nadia.
“Aku istri dari letnan van buthjer.” Aku Nadia yang masih setia memegang perutnya, ada beberapa orang berseragam itu tak percaya.
“Jangan sentuh aku!! Beraninya kalian!!” debrak marah Nadia saat para tentara Belanda ini kurang ngajar kepadanya sambil menampar salah satunya.
Salah seorang pria yang tadi di tampar Nadia malah memukul Nadia sampai terjatuh, tak lama teman Hanson melihat keributan itu, yakni letnan Dedrick melihat Nadia dianiaya oleh anak buahnya dan langsung berlari.
“Stop!” perintah Dedrick membuat tiga pria berseragam itu memberi hormat pada temannya Hanson. Ia bicara dalam bahasa Belanda yang sulit di mengerti Nadia, dan ia di bantu oleh orang berkulit putih berseragam yang mengawal Dedrick tadi.
“Je tak apa?” tanya Dedrick.
Nadia mengelengkan kepala tanda mewakili jawabannya kedua tangannya masih setia memegang perutnya.
“Letnan Dedrick veleuston tolong mevrouw van derhoof!! ia sedang menjemput anaknya,” ucap Nadia dengan panik karena hormon kehamilan.
“Ya tuhan!! istrinya Kolonel Van Derhoof yang je maksud.” Ujar Dedrick yang juga panik.
“Tentu saja, tolong Letnan selamatkan Nyonya Van Derhoof!” kata Nadia dengan panik
Nadia berjalan memasuki pemukiman tempat tinggalnya ia melihat rumah-rumah militer orang Belanda terkunci rapat, Nadia juga terus berjalan sambil setia memegang perutnya dengan kedua tangan di belakangnya juga di kawal 3 pria berseragam yang tadi berani kurang ngajar padanya.
Sesampainya di depan gerbang rumah ia di hampiri oleh Sarto.
"Nyonya Nadia!! syukurlah, Mevrouw Anna di dalam dan sangat khawatir.” Ucap Sarto sambil membuka gerbang lalu menutupnya, Nadia segera berlari memasuki rumah dan mendapati mertuanya sedang di tenangi oleh dokter Stefania dan seorang gadis mirip Hanson berusia 3 tahun lebih tua darinya juga menengkan mertuanya.
“Mama!” kata Nadia sambil melepas topi dari kepalanya.
“ASTAGA!! Nadia!!” ujar Anna antusias yang langsung berlari memeluk Nadia.
“Je tak apa?!” ucap Anna menghapus air matanya, pemandangan itu disaksikan dengan dua gadis Eropa di belakangnya.
“Oh gueez mijn liefste!!” Anna langsung teralih ke kening dan tangannya terluka.
“Je bent gekwetst!!” ujar Anna yang melihat lukanya.
Sontak Stefania mendekati Nadia dan menuntun gadis itu duduk disofa untuk mengobatinya, serta gadis yang tak Nadia kenal mirip Hanson duduk di sebelahnya.
“Siapa namamu?” ucap Nadia Ramah, “Mijn naam Brechtje,” ucapnya.
“Je pasti heran, ik adalah Adiknya Hanson. Memang saat hari pernikahan Hanson ik tak hadir, karena saat itu ik sedang kelulusan kuliah.” Jelasnya.
Nadia menyunggingkan senyuman ia memperhatikan Adik iparnya sangat anggun dan berpakaian modis pada masa itu, ia memakai baju berwarna putih di sertai renda di kedua sisi kanan dan kiri dengan pita merah di tengah kerah bajunya, dan rok sederhana berwarna kotak-kotak coklat.
Ia juga memperhatikan wajahnya mirip Hanson matanya biru meneduhkan juga rambutnya terurai Panjang sedada berwarna pirang di sertai ikal di bawahnya.
“Nadia...Hello!!” tiba-tiba saja Brechtje membuyarkan lamunannya dengan mengoyangkan tangannya di depan wajah Nadia.
__ADS_1
“Nadia, Mama memanggil je?” Nadia langsung menoleh ke belakangnya meperlihatkan Ibu mertuanya sedang duduk di sofa samping Stefania yang sedang mengobati lukanya.
“Je istirahat di kamar, abis ini. Ik akan suruh Ratih untuk membawakan nampan makanan untuk je.” Nadia tersenyum canggung menatap ibu mertuanya yang kadang bersikap keibuan dan kadang bersikap galak.
Nadia ke kamar dengan menaiki tangga lalu menuju kamarnya ia menaruh topinya di gantungan terbuat dari kayu yang sudah di siapkan dan merebahkan dirinya di Kasur sambil menatap langit-langit kamar, entah mengapa ia jadi merindukan Hanson.
Dia memejamkan matanya sambil mengingat saat bersama Hanson tak lama Ratih masuk kamar yang memang sengaja pintunya tak di kunci, Kacung itu membawakan nampan.
“Ini, Nyi. Di makan dulu dan susunya diminum kasian jabang bayinya.” Nadia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih kepada Ratih.
“Yaudah saya permisi.” Ucap Ratih dengan membungkuk keluar kamar.
Gadis bergaun krem itu mengambil kacang-kacangan dan telur di nampan samping Kasur di atas meja kayu, baru saja ia memasukan ke dalam mulutnya tetapi rasa mual tiba-tiba saja menjalar membuat ia mau tak mau memuntahkan isi perutnya di kamar mandi. UEKS...UEKS.
“Ya ampun, Nadia!!” Brechtje yang kebetulan lewat ingin masuk kamar mendengar Nadia mual.
“Je harus istirahat,” Ucap Brechtje.
“Aku gak mau makan itu, karena membuatku mual.” Ungkap Nadia.
“Memang makanan apa? yang Mama kasih ke je?” tanya Brechtje yang penasaran berjalan keluar kamar mandi untuk melihat isi nampan makanan di atas meja kayu samping tempat tidur dan tentu dengan marah gadis Belanda tersebut keluar kamar yang di tempati Kakak dan Kakak iparnya, entah kemana ia akan pergi.
“Ratih!! Tolong buatin saya teh hangat!” perintah Nadia setelah kepergian Adik iparnya keluar kamar. Ratih menjawab baik Nyonya.
Nadia merebahkan diri di kasurnya dengan posisi miring sambil memegang perutnya baru juga ia ingin memejamkan matanya dan harus membuka kembali lantaran rasa mual yang kembali datang, Nadia langsung kembali berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan semuanya terakhir ia mencuci wajahnya.
Nadia melihat dirinya di cermin rias di kamar dekat jendela ia melihat dirinya di cermin keadaannya sungguh kacau, hidungnya merah di tambah matanya sembab tak lupa wajahnya pucat.
“Nyonya ini tehnya.” Kata Ratih.
“Eh iya, makasih Ratih. Tolong taruh di meja saja.” Ucap Nadia santun.
Ratih menurut dan langsung berlalu keluar kamar majikannya. Nadia segera menengguk teh hangat yang di bawakan oleh Ratih di saat itu keadaan Nadia menjadi lebih baik, gadis itu terduduk di depan meja rias sambil mengusap perutnya.
“Nadia!!” Panggil sang empu di depan pintu, gadis itu menoleh
dan melihat mertuanya sedang berdiri di ambang pintu.
“Apa je baik?” tanya Anna sambil mendekati Nadia diikuti di belakangnya ada Brechtje.
“Aku...” Ucap Nadia tergugup.
Anna bisa memahami Nadia melihat keadaan gadis berbaju krem tersebut.
“Baiklah je mau apa?” tanya Anna.
“Aku...mau...makanan berdaging.” Ucap Nadia terbata-bata.
Anna mengangguk paham sedangkan Brechtje hanya memutar bola matanya jengah menganggap Nadia itu manja sekali padahal Brechtje belum merasakan bagaimana rasanya wanita hamil.
“Arum!!” panggil Anna dengan berteriak, Arum datang tergopoh-gopoh untuk memenuhi panggilan Anna.
Wanita paruh baya berambut pirang itu menyuruh Arum untuk membawakan nampan yang berisi makanan yang tidak habis oleh Nadia.
“Nadia je lebih baik istirahat, ik akan siapkan makanan berdaging nanti.” Ujar Anna sebelum pergi.
“Mama aku ingin daging sapi gak mau daging pig atau kambing.” Ujar Nadia.
“Baiklah sebaiknya je istirahat ik tak mau terjadi sesuatu dengan cucu ik.” Ucap Anna.
Nadia mengangguk paham setelah ia merebahkan diri di atas Kasur sambil memiringkan posisi tidurnya tak lupa tangannya yang selalu mengelus perutnya.
__ADS_1
Nadia paham selama ini Anna menyangi dirinya hanya karena calon anak keluarga van Buthjer tak lebih sungguh miris nasibnya tetapi bagaimana pun ada hal yang selalu ia khawatirkan, yakni perutnya.
Bagaimana jika Ibunya curiga jika perutnya semakin lama semakin tambah besar. Perlahan Nadia mulai memejamkan matanya.