
Malam jum’atnya Nadia sedang mengerjakan PR dari guru sosiologi yang tentunya amat banyak karena besok hari jum’at PR sekolah terakhir besok di kumpulkan, tiba-tiba Hanson di sampingnya sedang memakai seragam tak seperti biasanya ia memakai baju kemeja dan celana atau dasi di kerahnya.
“Nadia ik sebenarnya ingin bicara sesuatu pada je...” Ucap Hanson.
“Bicaralah Hanson aku sedang mengerjakan tugas.” Kata Nadia sambil fokus mengerjakan bukunya.
“Jika suatu saat Ibu je tahu tentang hubungan ini dan menyuruh ik pergi...” Hanson yang belum menyelesaikan kalimatnya langsung di potong Nadia.
“Berhentilah bicara melantur Hanson!” Ujar Nadia berdiri dari kursi meja belajar.
“Sekarang kamu tidur duluan aku ingin melanjutkan belajar.” Nadia berujar.
Setelah kepergian Hanson ia jadi teringat ucapan Putri, ‘Cinta terkadang indah dan kadang juga dapat melukai.’ Setelah cukup lama termenung ibunya membuka pintu dan mengatakan belajarnya jangan terlalu kemalaman.
“Iya Bu bentar lagi.” Kemudian sang ibu menutup pintunya. Nadia menghembuskan nafas setelah selesai ia ke kamar kecil untuk membersihkan diri sebelum tidur.
DUK!! DUK!! DUK!!
Suara itu terdengar dari lemari yang ada di dekat jendela kamar, Nadia terperajat mendengar suara itu saat sudah mengambil handuk dari gantungan kamarnya.
Dia memutuskan mendekati lemari itu dengan berjalan pelan ia mengengam gangang lemari sebelum membukanya ia memejamkan matanya sambil menelan salivanya.
Terbukalah lemari itu, “AAAAAA!!!” Nadia dipojokan ke tembok dengan leher yang dicekik oleh seorang penari berwajah tengkorak.
“Uhuk...Uhuk...Uhuk...” Nadia terbatuk-batuk lantaran cekikan di lehernya sudah terlepas dari iblis itu .
“jangan beraninya melukai Nadia...” gadis tersebut langsung menetralkan nafas untuk melihat apa yang terjadi.
“Eyang Puspasari...” Nadia bicara lirih sambil terbatuk-batuk.
“Nadia keluar kamar sekarang!” Perintah Puspasari pada Nadia.
“Iya eyang!!” Nadia segera keluar kamar untuk menuju kamar mandi membersihkan diri.
Setelah keluar dari kamar mandi Nadia segera ke kamar membantu sang nenek melawan penari berwajah tengkorak tersebut.
Gadis itu memegang pistol gaib yang diberikan Hanson untuk memberikan efek jera kepada wajah tengkorak sebelum melepaskan gulungan kertas yang isinya tulisan doa ia berdoa terlebih dulu.
“BISMILLAH ATAS IZIN ALLAH AKU INGIN MENGUSIR IBLIS ITU!! ALLAHUAKBAR.” Nadia melempar gulungan kertasnya yang berupa doa, sontak penari berwajah tengkorak tersebut berteriak kepanasan kemudian berlari keluar jendela kamar menghilang di tengah kegelapan malam sambil terus berteriak kepanasan.
Nadia melepaskan nafas lega akhirnya bisa mengusir Hantu berwujud iblis itu, Nadia langsung memeluk eyang Puspasari.
“Sekarang kamu tutup jendela ya, nduk. Abis itu kamu tidur.” Puspasari bicara pada Nadia.
__ADS_1
“Iya Eyang...” Nadia bicara lirih ia buru-buru menutup jendela kamar kemudian menidurkan diri di atas ranjang kamarnya.
Dia melepaskan rohnya berjalan melewati lorong waktu suara jam berdeting memenuhi setiap lorong dan sangat kencang membuat Nadia menutup kedua telingannya lalu ia sampai di Batavia ia membuka matanya melihat Anna sedang menata beberapa pelengkapan anak, ia juga membelikan keranjang dorong untuk cucu pertama mereka.
“Mama!!” Nadia memanggil Anna, gadis tersebut mengubah posisi yang tadinya berbaring menjadi terduduk.
“Nadia! Je sudah bangun! Teman-teman Hanson akan mengunjungimu nanti jadi ik menyuruh Darmi agar merapikan je.” Setelah mengatakan hal itu Anna langsung pergi berlalu keluar kamar, Nadia hanya terduduk di kasur sambil membaca buku karena tentu saja pada zaman ini mana ada yang namanya ponsel pintar.
“Nadia!” Willem datang dari ambang pintu kamar menghampirinya.
“Papa!” Nadia menutup bukunya lalu menaruhnya di meja samping kasur.
“Ada apa papa?” ujar Nadia menatap Willem.
“Ik heran dengan teman je? Putri yang memutuskan menikahi anak buah Hanson?” Nadia yang mendengar hal itu langsung terperajat dan hampir berdiri.
“Papa...apa Putri? maksud aku...dia sudah menikah dengan Sersan William van Ort...” Nadia menatap mertuanya.
“Jaa. Ik heran apa je tahu...” Willem menghentikan bicaranya saat teman-teman Hanson memasuki kamar dan di situ juga ada Putri yang memakai gaun berwarna biru toska di permanis dengan topi jarring-jaring.
“Put...Putri...” Nadia tergagap lantaran tak percaya apa yang ia lihat.
“Nadia gimana kabar lu?” Putri menghampiri temannya dengan senyum bahagia.
“Menner maaf bolehkah aku bicara pada menantumu?” Putri bicara pada Willem yang terduduk di kasur kamar.
“Put...lu bukannya?” Nadia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Gua waktu minum ramuan harapan itu sebelum balik...gua udah mutusin hidup ama William, Nad...” Jelas Putri.
Nadia hanya mengelengkan kepalanya tanda tak percaya keputusan bodoh apa yang diambil temannya.
“Put... asal lu tahu keluarga lu nangis kalo tahu---” Pembicaraan Nadia di potong cepat oleh Putri.
“Asal lu tahu bokap sama nyokap gua gak peduli gua...mereka cuman mentingin ego.” Jelas Putri pada Nadia yang membuat mata keduanya berkaca-kaca.
“Jadi lu broken home...” Kata Nadia menatap Putri.
“Karena itu gua milih hidup sama William. Gua bahagia hidup sama William dan asal lu tahu gua udah nikah ama dia waktu lu, Bella, sama Vella, balik ke alam dan waktu seharusnya.” Putri menjelaskan bahwa ia sudah bahagia hidup sama Sersan William van Ort.
“Cinta yang gua kasih buat William tulus sampai gua relain semuanya termasuk hidup gua...itu bukti cinta gua.” Putri pergi keluar kamar Nadia setelah mengatakan isi hatinya.
Kata-kata Putri seolah menyindir Nadia karena ia belum bisa memutuskan hidup antara waktu dan dimensi yang mana.
__ADS_1
Nadia sesegukan mengusap perutnya yang sudah mulai besar pikirannya masih bimbang memilih hidup bahagia di zaman ini atau ibu dan adiknya, Nadia anak paling dewasa ia yang paling bertanggung jawab atas adiknnya.
Darmi seorang kacung atau bendide yang berusia paruh baya sedang membersihkan tubuh Nadia dengan baskom dan kain bersih, “Nyonya jangan diam saja nanti jabang bayinya kasian kalo terlalu stress...” Nadia terbuyar dan langsung tersenyum menatap Darmi.
“Maksih Bi.” Darmi mengangguk segera mengambil baskom kemudian keluar kamar setelah merapikan Nadia.
Siang ini Batavia sedang hujan jadi cuacanya tak terlalu panas membuat Nadia sedikit bersyukur.
“Nadia nanti sore, sepupu ik akan kemari untuk memeriksa je.” Nadia mengangguk saat Hanson sedang berpakaian dinas.
“Kapan kamu akan pulang Hanson?” tanya Nadia.
“3 hari ik akan pulang...apa yang je inginkan?” aanya Hanson pada Nadia yang terduduk di kasur. Nadia menyebutkan keinginanya yaitu manisan, Nadia belakangan ini sangat suka makanan manis sejak hamil.
Sebelum Hanson berangkat ia mendekati istrinya untuk memeluk sekaligus mencium puncak kepala istrinya.
“Ik berangkat, Liefste.” Ucap Hanson setelah itu membawa perlengkapannya dan mengemblok tas ransel tentaranya di belakang punggungnya.
Nadia berusaha bangkit dari ranjang untuk melihat keluar jendela kamar dari lantai atas, ia tersenyum tipis melihat Hanson naik mobil jeep tanpa atap bersama teman-temannya dan di belakang mobil ada bendera belanda berukuran kecil.
Mobil tersebut berjalan keluar gerbang lalu ditutup kembali oleh Ardi sang kacung rumah ini. Nadia tersenyum tipis kemudian kembali menidurkan diri di atas ranjang tempat tidurnya sembari menatap langit-langit kamar.
Malam harinya setelah makan malam dokter Stefania memeriksa tubuh Nadia.
“Bibi ada luka lecet di ******** Nadia...” Jelas Stefania pada Anna maartje van Buthjer dalam bahasa belanda.
“Apa bagaimana mungkin bisa?” ucap Anna dalam bahasa belanda membuat Nadia hanya diam tanda tak mengerti artinya.
Stefania menjelaskan luka lecet itu dari hasil bercinta dengan Hanson yang mungkin terlalu parah, Anna sangat tak percaya pada putranya itu sifatnya yang hyper melebihi suaminya Willem Van Buthjer.
Nadia meminum obat kemudian tertidur tiba-tiba si jubah hitam muncul di waktu saat ia masih di Batavia untuk memberitahu Nadia sebuah pesan.
“The...black robe...” Nadia tergugup telinganya berdengung hanya suara jarum jam yang ia bisa dengar.
Kali ini si jubah hitam membawa pedang yang mengeluarkan kilat cahaya di tangannya sambil menghunuskannya ke arah perut Nadia yang mulai besar.
“Nadia kau harus ikut denganku!” Si jubah hitam bicara dengan suara bergema mengerikan.
“Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu.” Setelah si jubah hitam mengatakan hal itu entah mengapa Nadia seolah berbaring di lorong waktu.
“Nadia jika bayimu lahir maka kamu tak boleh merawatnya jangan mengatakan kenapa. Di saat itu selesaikan masalahmu dengan musuh nenek buyutmu, kamu juga tak akan bisa melepaskan rohmu untuk ke masa dimana Hanson pernah hidup.” Jelas si jubah hitam.
Nadia mulai paham maksudnya jadi ia mulai membuka mata keadaannya sudah mulai berubah ia sudah kembali suara azan subuh juga mulai berkumandang.
__ADS_1
Nadia segera mengambil wudhu dan melaksanakan solat setelahnya ia sudah rapih dengan seragam hari jum’at yakni baju muslim biru dan rok putih disertai kerudung putih.
Nadia ke sekolah dengan mengendarai angkutan umum lalu menyebrangi jalan raya kemudian harus melanjutkan berjalan ke dalam gang, baru sampai di sekolah di tambah di sekolah ia harus menaik 3 tangga untuk sampai ke kelas.