Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 49


__ADS_3

para murid baru di perbolehkan tidur Nadia masih menggunakan jacket merahnya tak lama ia ke wastafel karena merasa mual ia terkejut yang di muntahkan berupa belatung dan darah.


Nadia lansung membersihkan wastafelnya dengan air kran kemudian gadis berjacket merah itu berlari ketakutan menuju tenda tim mahameru untuk tidur. saat sedang nyenyaknya tidur ia malah membangunkan kak Gita.


“Kak Gita aku kebelet kencing.” Ucap Nadia, akhirnya Nadia keluar tenda menuju kamar kecil yang terletak tak jauh dari area sungai sambil di temani Vella, Putri, dan Bella.


Tak lupa senter selalu ada di tangan masing-masing gadis itu. Setelah selesai giliran putri baru Bella selanjutnya, selesai para gadis itu segera kembali ke tenda tetapi mereka semua mendengar bunyi suara gamelan.


“Bell, lu denger suara gamelan gak?” tanya Vella.


“Iya gua juga denger.” Jawab Putri.


“Lu Nad? ama lu Bell? denger gak.” tanya Putri. Bella adalah tipe orang yang penakut jadi ia hanya mengatakan, “gua gak denger apa-apa. Udah ayo balik ke tenda.” Ujar Bella dengan ketakutan.


Nadia merasa dirinyalah yang paling di incar karena selain rambut, kuku, dan darahnya yang berarti juga bermanfaat untuk mahluk-mahluk dunia lain. Ia juga tengah mengandung buah cintanya dari Hanson yang berarti keturunan hantu penjajah.


Nadia jadi mengingat nasihat ayah mertuanya tadi siang saat ke rumah tersebut, gadis berjacket merah itu membelai perutnya sambil berjalan bersama ketiga temannya meskipun berbeda kelas.

__ADS_1


“Eh kok kita gak sampai-sampai ya!” kata Putri.


“Eh lu jangan ngomong yang gak-gak deh, gua 'kan jadi afraid.” Ucap Bella sambil memukul pelan Putri.


“Lu perhatiin dong dari tadi kita gak sampai-sampai padahal kita tinggal nanjak aja, juga nih kamar mandi...” Tunjuk Putri ke belakang yang tiba-tiba kamar mandinya hilang dan di gantikan dengan rimbunnya hutan tanpa ada kehidupan.


“Lah kamar mandinya dimana? eh anjir kok ilang!!” ujar Putri yang juga mulai takut.


“Tuh kan kita pasti di jebak ama penunggu sini!!” kata Bella yang ketakutan.


Nadia sendari tadi hanya diam tak banyak bicara hanya selalu bersama teman-temannya.


“Eh sumpah ini kita dimana?” Ucap Bella.


 “Mana gua tahu, Ijah. Ini semuanya berubah jadi hutan.” Ujar Vella.


Mereka berjalan sambil mencari jalan keluar sampai akhirnya para gadis tersebut mendengar bunyi suara gamelan.

__ADS_1


“Eh lu denger suara gak, pasti ada orang lagi hajatan coba siapa tahu kita bisa minta tolong.” Usul Putri.


“Yaudah ayok.” Tanpa banyak berbasa-basi mereka segera menghampiri arah suara itu. Ternyata benar ada seorang wanita penari jaipong sedang menari sendiri di tengah ribunnya pepohonan tanpa ada seorang pun kecuali mereka.


“Maaf Mbak___Bu, kita mau nanya?” ucap Putri, saat penari itu memperlihatkan wajahnya yang berupa kerangka tanpa adanya kulit menutupi tulang wajahnya. Sotak mereka langsung berteriak dan berlari ketakutan.


 “AAAA SETAN!!” ucap 4 gadis tersebut berlari tanpa sadar para gadis itu sudah melewati sebuah perbatasan antara dunia gaib dan dunia manusia.


“Eh berhenti!!” Nadia yang tadi diam akhirnya mengeluarkan suara juga tiba-tiba menyuruh teman-temanya berhenti lantaran ia tahu telah melewati perbatasan.


“Ngapa deh?” tanya Vella dengan nafas tersengal.


“Kita balik yuk, perasaan gua gak enak.” Ucap Nadia.


“Nad udahlah daripada balik kita di tongolin ama tuh hantu penari jaipong bermuka tengkorak.” Ucap Putri yang terengah-ngegah.


“Eh berhenti kita udah...” Belum sempat Nadia menyelesaikan kalimatnya mereka semua di perlihatkan wujud penari itu lagi di depannya sambil tertawa mengerikan di belakang penari tersebut juga ada dua gendoruwo yang membuat gadis-gadis itu mundur perlahan karena takut tanpa sadar kaki mereka berempat di tarik untuk menengelamkan diri ke dalam tanah.

__ADS_1


__ADS_2