Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 38


__ADS_3

 


Seketika roh-nya kembali ke dalam tubuhnyas setelah melewati lorong waktu yang di arahkan oleh the black robe.


“Nadia bangun solat dulu, Nduk.” Ucap sang Nenek, “Alina bangun udah subuh...” Ujar sang Nenek yang menepuk-nepuk pipi kedua Cucunya dengan tangannya yang lembut dan keriput.


“Ehmmm...masih ngantuk Eyang.” Ujar Nadia.


“Bangun toh...udah siang.” Dengan keadaan yang setengah mengantuk Nadia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


 Setelah melakukan solat subuh ia memakai lotion dan lip balm di bibirnya, tak lupa rambutnya di sisir untuk di kuncir.


Hari ini gadis bertubuh padat tersebut mengenakan seragam putih-biru dan kerudung putih.


“Nadia hari ini eyang masak cumi asam manis, nih uang saku kamu sama bekal kamu.” Ucap sang Nenek.


“Makasih Eyang.” Ujar Nadia tersenyum dengan mulut penuh dengan makanan.


Nadia melihat Alina yang sudah mandi sedang memakai jaket dan celana bahan berwarna hitam di padukan dengan kerudung langsung warna navy.


“Hati-hati...Nduk.” Nadia menyalimi tangan neneknya yang pagi ini memakai kebaya coklat. Saat di jalan Nadia memberanikan diri bercerita dengan Alina yang mengantarnya ke sekolah dengan menggunakan motor tetapi jadwal kuliahnya siang jam 10.


 “Kak Alin semalem aku ke dapur ada kuntilanak nyamperin aku. Ngakunya dia hantu rumah di persimpangan jalan rumah kita kak.” Curhat Nadia kepada Kakak sepupunya.


“SERIUS KAMU NADIA!!” kata Alina dengan kaget. “Dua rius, Kak.” Ucap Nadia berusaha meyakinkan kakak sepupunya.


“Terus gimana lagi?” tanya Alina penasaran.


“Yah...kak udah sampai nanti saat aku pulang aja.” Ucap Nadia di sertai tawa karena berhasil membuat Alina kesal.


“Yaudah naik lagi sampai kamu abis cerita.” Alina membalas Nadia membuat wajah Nadia merah.


Nadia yang sudah menyalimi kakaknya segera masuk gerbang sekolah meskipun pagi ini gadis tersebut mendapatkan donpress berupa saliman di jidatnya.


Sesaat menaiki tangga Nadia juga harus berurusan dengan mahluk dari planet tak jelas, “pagi Nadia wahai tulang rusuk-ku...” Ucap Budi sambil mengerlingkan mata sebelahnya.


 TING...TING...TING.


“Heh Budi pagi-pagi udah godain cewek!! masuk kelas!!” Suara melengking itu mampu membuat Budi beserta lainnya menelan saliva lantaran suara itu dari Bu Fina yang terkenal killer.


 “Eh Bu Fina...pagi ini cantik banget Bu.” Ucap Budi. “Iya Bu, kaya Selena Gomez.” Lanjut Bima.


“Pada masuk kelas!” ujar Bu Fina yang mempertahankan wibawanya.


“Ini baru mau ke kelas bu.” Sahut teman Budi.


“Nadia kamu juga masuk kelas!” perintah Bu Fina pada Nadia.


“Iya bu.” Patuh Nadia.


Hari ini adalah Hari Rabu pelajaran untuk UANBM Matematika, bahasa indonesia, ilmu pengetahuan alam, dan PKN.


Pagi ini Nadia tak mendengar bahan baru untuk di gossipkan lantaran para biang gossip sedang sibuk mencatat rumus contekan untuk matematika.


Nadia menoleh ke samping dan melihat Hanson karena jam ulangan belum dimulai Nadia pura-pura ke kamar kecil untuk membenarkan kerudungnya padahal ia ingin bicara dengan Hanson, Di kamar kecil sekolah.


“Apa yang ingin kamu sampaikan Nadia?” Tanya Hanson di sebelahnya dalam wujud Hantu.


“Hanson aku harus ke rumah itu untuk menelusurinya.” Kata Nadia.

__ADS_1


“Jangan bodoh Liefste, ik tak akan izinkan.” Larang Hanson.


Mereka berdua berdebat karena hal kecil wajar saja pasangan suami istri memang seperti itu. Hanson pada akhirnya setuju lantaran rengekan Nadia yang sulit di tolak.


“Oke...ik akan izinkan jika ik ikut dan bawa beberapa anak buah ik.” Tegas Hanson. Nadia senang ia memegang tangan Hanson yang dingin kemudian Hanson menghilang.


Nadia memasuki kelas untuk pelajaran matematika karena bel sudah berbunyi yang ngawas bu Fina guru killer bahkan karena Killer, Bu Fina mendapatkan beraneka ragam julukan dari murid seantero sekolah.


 “Mampus yang ngawas Tiger woman lagi...” Ucap anak laki-laki dengan suara berbisik.


“Anak-anak saya akan bagikan kertas ujian dan kalo sampai saya tahu ada yang mencontek akan saya robek dan ganti dengan kertas yang baru!” Bu Fina langsung membagikan kertas ujian baru beberapa menit saja gadis-gadis biang gossip ketahuan mencontek dan bu Fina langsung merobeknya.


“Neng-neng nyontek kok, berjamaah.” Ujar Bu Fina yang membuat seisi kelas menahan tawa.


“Ayo kerjakan!” ucap Bu Fina.


“Nadia!” panggil Hanson di sebelah kanan. Nadia langsung menoleh.


“Ada apa?” tanya Nadia dengan berbisik.


 “Je bisa mencontek sekarang, guru dan teman-teman je tak akan bisa lihat.” Nadia langsung membulatkan matanya.


“Tapi...bagaimana bisa.” Ujar Nadia dengan suara pelan.


“Ik akan jelaskan nanti!” Setelah itu Hanson kembali menghilang di sertai senyuman, Nadia menarik nafas yang dalam dan mencoba mengeluarkan kertas dari saku bajunya.


Bu Fina dan yang lain tak melihat apapun seolah Nadia sedang mengerjakan biasa, Nadia merasa panik tatkala Bu Fina berada tepat di belakangnya.


Tapi keajaiban terjadi Bu Fina melewatinya dan melihat ke arah dirinya tetapi tak mengambil atau merobek kertas ulangannya yang di lakukan Bu Fina pada sekumpulan gadis biang gossip, hal tersebut membuat Nadia tersenyum tipis dan lega secara bersamaan.


 Nadia yang sudah selesai segera memasukan kembali kertasnya ke dalam saku bajunya tak lupa nanti berterimakasih untuk suaminya, waktu pun habis yang lain belum selesai tapi ditarik secara paksa oleh Bu Fina.


“Gila tuh, si Tiger woman, kesel bat gua.” Dumel para murid mulai pada berisik dan tak lama pengawas kedua datang yakni Pak Iwan, untuk pelajaran bahasa Indonesia kali ini Hanson membuat Pak Iwan mengatuk agar Nadia bisa leluasa mengerjakan, tak berselang lama bel berbunyi menandakan istirahat Nadia keluar kelas.


“Woy ayo.” Ujar Rika sambil menarik Nadia menuju kelas 9A, mereka janjian istirahat bersama di kelas 9A.


 “Woy gua udah daftar online dong, di man 14.” Ujar Ananda antusias.


“Gua mah SMK biar gua langsung kerja, mau ngambil perkantoran.” Ucap Dian.


Mereka asyik berbincang dan baru juga setengah makan dengan menyebalkan bel kelas berbunyi dan di lanjutkan dengan pelajaran PKN dan Ilmu pengetahuan alam.


 Tak terasa waktu pun berlalu setelah mengerjakan IPA Adzan zuhur berkumandang. Para murid segera mengumpulkan kertas soal beserta jawaban karena waktu dan jam sudah habis lalu bersiap mengambil mukena, sarung dan sajadah untuk melaksanakan solat zuhur berjama’ah di Aula yang luas karena masjid sekolah sedang di renovasi.


Nadia mengambil Wudhu bersama Ananda dan Ningrum karena Nissa sedang datang bulan, setelahnya tiga gadis tersebut berjalan menuju Aula yang sudah di siapkan sambil bercakap-cakap ringan.


Saat di Aula mereka tak hentinya berbicara tentang liburan dan Instagram, Sontak mereka semua menjadi terhenti tatkala pak Anton sudah komat langsung para makmum merapikan barisan solatnya. Nadia, Ningrum, dan Ananda buru-buru memakai mukena.


Setelah melaksanakan solat para murid wanita memakai kerudungnya lagi yang sudah selesai boleh berkemas dan pulang sebelum pulang tentu saja Nadia kelas 9D karena pulang bareng Ningrum.


“Woy Ningrum!!” panggil Nadia di luar kelas 9D.


“WOY BEB’S, SABAR YA.” Ujar Ningrum setelah berkemas Ningrum dan Ananda keluar kelas mendekati Nadia di depan pintu, para gadis mencari tempat duduk lalu membeli makanan.


“Ningrum mau beli apa lagi?” tanya Nadia sambil memakan potongan siomay di baluri saus kacang.


“Udah gua kenyang.” Ujar Ningrum setelah puas berbicara Panjang lebar mereka bangkit untuk pulang.


“Eh Nad, sebelum balik gua mau beli batagor dulu buat sepupu gua.” Ucap Ningrum.

__ADS_1


“YDH Tapi GPL Ya.” Ucap Nadia.


“IYA BEB.” Ucap Ningrum sambil menepuk bahu Nadia sedangkan Ananda memutar bola matanya jengah dengan melipat kedua tangannya di dada.


 “Ningrum kayanya lu cuek amat.” Ucap Nadia sambil berjalan pulang melewati area komplek.


“Maksud lu?” ujar Ningrum sambil menuntun sepedanya.


“Itu anak laki banyak yang liatin kita.” Ucap Nadia.


“Yaelah Nad-Nad cuek aja ngapain pusing toh dia juga punya mata.” Ucap Ningrum.


“Iya juga sih.” Batin Nadia dalam Hati, tak terasa dua gadis berseragam putih-biru tersebut sudah sampai di persimpangan jalan karena terlalu asyik mengobrol Ningrum dan Nadia berpisah sambil tos ala persahabatan.


“Besok bareng lagi!” Ucap Ningrum.


“Iya bareng.” Jawab Nadia. Ningrum ingin mengarah ke luar area komplek sedangkan Nadia terus berjalan memasuki komplek.


Nadia terus berjalan melewati rumah-rumah antik bergaya khas kolonial.


Tak terasa dia sudah sampai di rumah yang di tuju dekat gang luas yang mengarah masuk tepat ke jalan rumah neneknya Nadia, rumah kosong itu sudah sangat tua dan tak terurus, dia dengar-dengar terakhir kali pemilik yang menempati rumah ini tahun 60-an sudah cukup lama sekali.


 Nadia sudah berdiri di depan gerbang rumah yang di rumorkan banyak hantunya oleh orang-orang. Perlahan ia memejamkan matanya menghembuskan nafas dan melihat sekelilingnya, angin semilir berhembus pelan menerbangkan kerudung dan rok birunya ia melihat ke samping kanan ternyata Hanson sudah berada tepat di sebelahnya.


 “Nadia ik akan selalu di samping je.” Ujar Hanson dengan tersenyum lalu di balas tersenyum juga oleh Nadia, saat ingin memegang gerbang rumah itu dengan sangat misterius gerbang rumahnya terbuka sendiri seolah ada pemilik rumah yang mempersilahkan Nadia masuk sebagai tamu.


Gadis berseragam putih-biru tersebut perlahan melangkahkan kakinya masuk ke halaman depan, rumah ini sangat bagus tetapi sayang sudah tak terawat rumput liar sudah memanjang dimana-mana, tembok rumah yang tak terawat, dan masih banyak lagi.


 Nadia dan Hanson sudah berdiri tepat di depan teras rumah saat itu pintunya terbuka sendiri gadis tersebut melangkah memasuki rumah, Hanson membawa beberapa pengawal dan ada yang ikut masuk rumah juga.


Mata gadis itu melihat sekeliling rumah tangannya memegang lemari bupet di atasnya nampak berdebu dan sudah ada beberapa barang yang rusak sampai Nadia bersin, Nadia terus berjalan untuk menaiki anak tangga yang terbuat dari kayu jati masih kokoh ia memasuki salah satu kamar yang terletak di lantai atas.


 Kamar yang bagus dan antik tetapi ada noda bekas darah pembunuhan yang sudah membeku di atas Kasur saat Nadia berjalan mendekati lemari yang terbuka karena melihat beberapa kain yang menyerupai pakaian yang sudah rusak dan ada laba-laba seolah di lemari ada sebuah jawaban.


 “Nadia hati-hati.” Ujar Hanson yang memperingatkan istrinya, sedangkan Nadia hanya mengangguk sebagai jawaban.


 Gadis berseragam putih-biru itu berjalan ke mendekati lemari yang berada di samping kasur, perlahan ia membukanya.


Tiba-tiba rasa takut mulai merasuki dalam diri Nadia tatkala sebuah tangan manusia keluar dari lemari di susul satu tangan lagi perlahan ia berjalan mundur lalu sesosok seorang wanita memakai baju di penuhi darah berwujud hanya setengah badan yakni sampai pinggang keluar merangkak dari dalam lemari yang sudah reyot.


Tiba-tiba pintu kamar tertutup dengan kencang Nadia mempercepat berlari ke pintu kamar dan berusaha membuka kenop pintu yang tak kunjung terbuka, lantaran pintu tak bisa di buka ia ketakutan sampai punggungnya menyentuh dinding dan secara tak terduga kakinya terseret sendiri hingga membentur dinding hingga sedikit lecet seolah gadis itu tak boleh keluar dari sana.


 Nadia memikirkan cara keluar dari rumah ini untuk segera pulang ke rumah karena neneknya pasti sangat khawatir.


Punggung Nadia menyandar di tembok kamar saat kakinya terseret dan melihat ke atas dinding tersebut, gadis itu melihat bingkai foto anggota keluarga yang berfose hitam putih dengan pakaian tren tahun 60-an, ada ibu, ayah, anak laki-laki, serta anak perempuan yang seumuran dengannya.


“Itu bukannya hantu waktu datengin gua semalem.” Ucap Nadia mengobrol pada Hanson.


“Akhirnya kamu datang, Nyai.” Ucap seorang wanita yang merangkak itu berubah menjadi hantu yang semalam mendatanginya.


Nadia memberanikan diri untuk mendongkak kepalanya menatap sosok di hadapannya ternyata tebakannya tak meleset ia benar hantu yang semalam mendatanginya, dengan cepat Hanson menyuruh Nadia mundur dan para anak buah Hanson yang berwujud hantu siap menodongkan senjata.


 “Nadia tetap di belakang ik.” Kata Hanson yang berusaha melindungi Nadia.


“Menner biarkan saya bicara dengan nyai.” Ucap Hantu wanita penunggu rumah itu.


“Saya janji tak akan menyakiti nyai.” Mohon hantu wanita itu.


“Biarkan ia bicara!” Perintah Nadia.

__ADS_1


“Tapi nyai...” Salah satu anak buah Hanson. “Biarkan ia bicara!” Tegas Nadia.


Nadia mendekati Hantu itu mereka saling menatap wajahnya tak menyeramkan seperti awal ia berjumpa, Nadia melihat kesedihan dan harapan dari wajah hantu ini, tangan Nadia terangkat dan menyatukan tangannya pada hantu ini ia merasakan dingin seperti meredam tangannya di tumpukan es batu.


__ADS_2