Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 28 : Pindah dari Batavia ke Buitenzorg


__ADS_3

Nadia terbangun dari tidurnya masih dengan keadaan di tempat biasa, arwahnya belum kembali ke dunia yang seharusnya mungkin belum jam empat pagi dimensinya.


Nadia mengedipkan mata berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamarnya.


Gadis itu mengulingkan tubuhnya ke samping sontak ia langsung melihat wajah Hanson yang sangat lugu saat tidur, pipi yang putih dan sehalus gading, bibir merah yang penuh serta alis dan rambut yang berwarna pirang.


Nadia melihat secara seksama wajah pria yang pertama kali ia lihat di pagi hari. Nadia terduduk di atas ranjang berhias empat tiang itu lalu Nadia melihat di tralis jendela ia melihat burung-burung gereja sedang bertengger di tralis itu, Nadia hanya tersenyum kecil karena jarang melihat pemandangan seperti ini.


 Akhirnya Nadia bangkit dari ranjang lalu mendekati jendela itu sambil melihat burung gereja yang sedang bertenggger di tralis saat sedang focus dengan burung gereja ia tak menyadari ada sepasang tangan yang melingkar di pinggang berisi milik-nya, Nadia melihat siapa sang pelaku ternyata si pirang.


 Hanson memeluknya lalu mencium pundak dan leher Nadia setelahnya menyandarkan dagunya di pundak gadis berambut hitam itu, gadis tersebut membalasnya dengan mencium pipi kanan merah delima milik Hanson.


“Ayo bersiap.” Nadia hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


Nadia di pakaikan gaun renda dengan gaya bahu telanjang ala ratu Victoria dengan renda mengelilingi bahunya tetapi berlengan pendek, gaun itu berwarna putih pucat dengan model bawahnya berwarna kemerahan.


 Rambut Nadia yang Panjang-nya sampai sepinggang di buat ikal bawahnya atau keriting gantung, serta atasnya di kepang ke samping dengan bando Mutiara yang di pakaikan di kepalanya ia siap untuk melangsungkan pernikahan di bawah rumahnya atau di taman belakang rumah yang sudah di hias.


Setelah selesai acara semuanya langsung bertepuk tangan Hanson tidak memakai pakaian jas hitam tetapi memakai seragam militer dan topi dinas lalu terakhir ia berfoto hitam-putih tidak berwarna karena pada masa itu teknologi belum begitu canggih.


Semuanya nampak menikmati acara, Hanson berkumpul dengan rekan-rekan kerjanya sambil meminum anggur sedangkan Nadia hanya duduk sendirian.


 “Apa aku boleh duduk disini?” suara itu sukses membuat Nadia menoleh, ternyata itu ialah Sarah membawa serta dua anaknya Antje dan Hellene.


“Sarah lu datang ke acara married, gua?” ucap Nadia sambil tersenyum senang.


“Iyalah mana mungkin gua lupa acara bahagia temen gua.” Ucap Sarah.


 “Eh lu cantik bener.” Puji Sarah sambil bicara hangat.


“Oh ya, BTW Kan waktu gua disini sampai jam tiga pagi. Kalo lu sampai jam berapa?” tanya Sarah sambil menggandeng kedua anaknya.


“Jam empat pagi.” Ucap Nadia.


“Ydh gua mau ke suami gua dulu.” Nadia hanya mengangguk dan membiarkan sahabatnya itu pergi.


Nadia mulai banyak bicara dengan Elsje puteri dari Letnan Jendral serta Nyonya Belanda yang usianya terpaut jauh olehnya, istri dari Letnan Kolonel Gorthen dan istri dari Mayor Dietje, yakni Anna Gorthen dan Maria Dietje.


“Elsje apa kamu tak ingin memiliki kekasih?” tanya Nadia sedangkan Elsje tersenyum.


“Ik sudah bertunangan dengan Kolonel Van Bough,” ucap Elsje dan saat itu dua nyonya belanda yang lebih tua itu datang dan mulai bersenda gurau.


Acaranya sampai sore tamu-tamu mulai pada sepi tinggal sisa pesta dari awal Nadia mengisyaratkan pada para Bendinde untuk mencuci piring, sendok, dan gelas kotor dari awal agar nanti tinggal membersihkan sisa acara pesta.


Ternyata ide itu cukup berhasil Nadia menyarankan semua itu agar para Bendide tidak kelelahan dalam membereskan-nya.


Setelah acara selesai Nadia masuk ke kamar ia terkejut ternyata kamar yang biasa ia tempati bersama Hanson sudah di sulap sedemikian rupa menjadi kamar ala putri negeri dongeng.


Nadia melihat Asih yang masih dengan kebaya berwarna biru tidak mahal tetapi terlihat indah serta rok batik yang menambah kesan anggun.


 “Nyi mari saya bantu untuk melepaskan gaun-nya.” Ucap Asih, Nadia menganggukan kepalanya lalu ia di bantu melepaskan gaun-nya oleh Asih dan di pakai-kan lingerie berupa gaun tipis.


 Nadia duduk di depan cermin meja rias yang hanya mengandalkan cahaya lilin sebagai penerangan Asih sibuk melepaskan jepitan rambut serta bando Mutiara yang di pasangkan di kepalanya.


 “Nyai duduk aja di Kasur nanti Mennir datang, saya mau permisi dulu untuk keluar.” Asih keluar dari kamar sebelum meraih gagang pintu ia memanggil Asih lalu mengucapkan terimakasih.


 Asih hanya mengangguk sambil tersenyum, Nadia berjalan untuk duduk di atas Ranjang menunggu Hanson lama Nadia menunggu Hanson, gadis itu mulai mengantuk saat ingin memejamkan ia membuka matanya dan terduduk tatkala melihat Hanson masuk.


Hanson sepertinya sedang mabuk tetapi masih dengan keadaan setengah sadar, ia melepas pakaiannya dan melemparnya ke sembarang tempat Nadia mulai mengerutkan dahinya gadis itu juga mulai ketakutan saat Hanson mulai mendekat.


“Hanson sebaliknya kamu...” Hanson menyumbat mulut Nadia dengan ciuman ia hanya memakai kaus dalam warna putih dan celana hitam, dan mulai melakukan hubungan yang diceritakan Sarah saat sedang berbincang tadi siang saat acara resepsi pernikahan.


Nadia kembali ke tubuh manusia-nya sontak gadis itu membuka mata tatkala ia sudah benar-benar kembali ke tubuhnya, ia melirik jam dinding di hadapan-nya ternyata pukul empat pagi pas.


Ia mulai mencari handpone-nya karena ia akan menunggu adzan subuh sambil bermain handpone, dan mendengarkan musik.


Baru 5 menit Nadia bermain handpone jendela kamar tiba-tiba terbuka dengan sangat kencang.


BRAKKK!!


 Nadia langsung bangkit untuk menutup jendela kamar yang terbuka itu.


Saat ingin menutup jendela tiba-tiba tangan-nya di hentikan oleh si pirang, “Hanson!” ucap Nadia terkejut.


Hanson memakai kemeja pendek berwarna putih serta celana coklat.


“Je sebaliknya tidur lagi, ik akan menutup jendela-nya.” Ucap Hanson sambil mencium puncak kepala milik Nadia.


Gadis itu mengangguk lalu menuruti perintah Hanson untuk kembali merebahkan tubuhnya.


Pagi ini Nadia bangun seperti biasa sang ibu sudah berkicau ia segera Mengambil handuk dan berjalan memasuki kamar mandi.


Setelah selesai mandi Nadia mengambil air wudhu dan kembali memasuki kamar tidur untuk memakai lotion dulu sebelum mengenakan seragam putih berompi hitam dan rok biru lalu memakai kerudung putih karena hari selasa, setelah itu Nadia menyemprotkan minyak wangi dan memakai lip blam.


“Hanson!!!” panggil Nadia secara cepat Hanson muncul berdiri di belakang-nya.


“Ada apa, lieve?” tanya Hanson tumben sekali istrinya pagi-pagi begini sudah memanggilnya.


“Aku mau berangkat sekolah.” Ujar Nadia sambil meraih tangan Hanson yang sedingin es, untuk di kecup.

__ADS_1


“Aku berangkat.” Ujar Nadia.


 “Oh, ya satu lagi jemput aku siang saja.” Ujarnya lagi sebelum ke bawah memulai sarapan.


Pagi ini sang ibu membelikan nasi uduk dan air putih hangat Nadia melihat Defani lalu menmanggilnya.


“Defani gua mau ngomong ama lu.” Ucap Nadia sambil berbisik.


“Emang lu mau ngomong soal apa Kak?” tanya Defani yang pagi ini memakai atasan putih-merah dengan kerudung bergo warna putih.


 “Gua semalem udah nikah ama dia, tinggal gua ke kuburan Belanda aja.” Ucap Nadia.


“Kak lu serius mau kesana.” Ucap Defani tersendak lalu meminum.


"Makanya kalo lagi makan jangan sambil ngerumpi!!” kata sang Ibu berjalan sambil memoles bedak, Nadia memegang bahu kanan Defani demi meyakinkan adiknya Nadia mengenggukan kepala.


“Emang hari apa?” ucap Defani, “hari Jum’at.” Ucap Nadia.


Seperti biasa dua gadis itu diantarkan menggunakan motor oleh sang Ibu, Nadia turun dari motor menyalimi sang Ibu lalu masuk ke area sekolah dengan menaiki tangga sekolah untuk berjalan menuju kelas-nya beruntung pagi ini biang gossip belum datang dan keadaan masih sepi jadi Nadia memutuskan untuk keluar kelas sebentar beruntung ia bertemu Dian.


“Nad, minggu depan UANBM.” Ujar Dian, “iya gua tahu.” Ucap Nadia.


“Gua juga udah nyiapin sumber.” Ujar Nadia sambil tersenyum menghirup udara pagi yang memperlihatkan awan yang masih mendung, Nadia sudah tak memperdulikan lagi ejekan dan cemoohan anak-anak baj*ngan itu karena yang ia fokuskan ialah Hanson.


Yups, Nadia sekarang tidak hanya fokus pada pada ujian kelulusan untuk masuk SMA saja tetapi fokus untuk keluarga kecilnya yang nanti ia akan bangun serta memiliki anak seperti Sarah. 


Meskipun itu dunia berbeda di mensi maupun waktu tetapi Nadia tak peduli ia malah lebih pecaya cinta, memang gadis seusia-nya tak mampu berfikir dua kali atau memikirkan resikonya malahan hanya memikirkan kesenangan belaka.


Waktunya istirahat siang setelahnya dilanjutkan dengan pemantapan materi pelajaran untuk minggu depan dari senin sampai kamis, serta hari jum’atnya tidak dan hari jum’at yang akan digunakan Nadia untuk membeli keperluan yang di maksud berupa air mawar dan tanah kuburan belanda.


Hari ini adalah hari selasa tinggal dua hari ia akan terus melakukan pemantapan materi. Tak terasa waktunya jam pemantapan materi di mulai hari ini sengaja Nadia menghindari Budi dan anak laki-laki agar Hanson tak mengusik mereka, lagian ia sudah punya suami berupa hantu Belanda.


Nadia tahu kalo Hanson dari tadi memantau dirinya hanya saja ia tak ingin menemuinya, siang ini Nadia menghabiskan banyak waktu hanya bersama Ananda dan Ningrum.


Nadia memperhatikan apa yang di terangkan sampai adzan ashar berkumandang para murid di suruh solat dulu sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.


Nadia pulang dengan menaiki angkutan umum dan Hanson mengamit lengan-nya di saat jalanan sepi mereka sangat mesra sedangkan kalo jalanan ramai Nadia bersikap berjalan seperti biasa, Hari ini lumayan beruntung karena ia lewat kuburan tidak ada ganguan lagi.


Sesampainya di rumah ia melihat pak de Ramzan sedang nongkrong bareng bapak-bapak Nadia juga menyalimi-nya sebelum sampai rumah. “Bu aku pulang,” Ucap Nadia.


“Iya, kamu udah pulang!” Nadia menyalami ibunya lalu pergi ke atas.


“Nad nanti makan bakso lewat aja, ibu hari ini gak masak.” Ujar sang ibu yang masih sibuk menonton televisi.


“Iya bu.” Ucap Nadia.


Nadia menganti bajunya dengan lebih santai dan menggantungkan baju putih serta rok birunya untuk di pakai hari rabu besok, sedangkan rompi hitamnya biar di cuci oleh ibunya.


Malam harinya setelah melaksanakan solat isya dan memilih jadwal Nadia merasa gak enak badan.


“Bu badan aku lemes.” Adu Nadia sambil mendekati ibunya.


“Kamu kenapa, Nadia?” wanita itu menghentikan sejenak saat mengajari Defani belajar dan berdiri sambil memegang kening Nadia dengan punggung tangannya.


“Badan kamu panas, yau dah Ibu buatin air jahe kamu istirahat ya.” Nadia menganggukan kepala sambil menunggu sang ibu membuat air jahe ia memilih menggunakan jacket untuk mengistirahatkan diri. Setelah jadi Nadia meminum air jahe itu.


 “Sini ponsel kamu!” Nadia menyerahkan ponsel kepada ibunya.


“Istirahat jangan main HP mulu.” Ucap sang ibu, Nadia menganggukan kepala wajahnya pucat ia amat lemah menaiki anak tangga demi mengistirahatkan dirinya, badanya sudah sedikit berkeringat itu tandanya sudah lebih baik.


  Saat itu roh Nadia mulai terlepas dari raganya dan mulai menjalankan hidupnya sebagai istri seorang letnan Hanson van buthjer di Batavia.


 Nadia membuka matanya saat sadar ia tanpa memakai busana serta melihat Hanson di sebelahnya.


Nadia memanggil Bendinde lalu memutuskan menyuruh Asih menyiapkan air hangat untuk menghilangkan perih diantara kedua tungkainya. 


Gadis itu terduduk di Kasur lalu melihat Hanson sambil membelai lembut surai pirang milik pria yang sudah berstatus suaminya ini.


Setelah selesai Nadia memilih memakai gaun pendek dengan model lengan mengembang tetapi pendek hanya sampai selutut dan rambutnya yang hitam di gerai karena masih basah, Nadia keluar sebentar untuk meminum teh tanpa gula saat memasuki kamar-nya ia mendengar suara dari kamar mandi.


Suara itu pasti Hanson yang sedang mandi, Nadia membuka lemari milik Hanson dan menyiapkan seragam-nya saat pintu kamar mandi terbuka Nadia melihat tubuh Hanson tanpa busana, Gadis berambut hitam itu langsung melebarkan mata tatkala yang ia lihat ialah tubuh Hanson yang nampak atletis.


Di tambah rambutnya yang tipis dan pirang sudah gitu basah, tubuhnya berwarna putih gading dan nampak menyilaukan karena tertimpa pantulan sinar matahari yang mengenai sedikit bagian tubuhnya yang mampu membuat Nadia menelan saliva-nya.


“Hanson...ini bajunya.” Ujar Nadia dengan sedikit ragu sambil memberikan bajunya.


“Thanks, jaa.” Ucap Hanson di sertai senyuman.


“Kamu pakai baju dulu aku mau keluar, aku tunggu kamu di meja makan.” Nadia memegang tangan Hanson lalu melepaskan-nya setelahnya segera keluar kamar untuk menuju ruang makan.


Nadia berjalan menyusuri rumah ini yang nampak masih terkesan modern pada masa itu dan nampak elegan.


Sesampainya Nadia di ruang makan ia menarik salah satu kursi kayu lalu duduk dan melihat beberapa Bendide atau baboe sedang menata makanan di atas meja dengan piring yang terbuat dari porselen dan tentu saja harganya juga sangat fantastis.


“Nyai gak makan dulu?” tanya Sariyem.


“Aku menunggu suamiku.” Jawab Nadia dengan lembut sambil tersenyum dan tak lama Hanson menuruni anak tangga karena sudah terdengar dari suara sepatu yang beradu dengan lantai tangga.


“Goede morgen, Liefste.” Sapa Hanson sambil mengecup kening-nya lalu duduk di kursi Nadia bangkit untuk melayani Hanson menaruh nasi dan lauk-pauk di piring pria itu, sekarang ia sudah siap dengan seragam militer-nya dan topi barret.

__ADS_1


“Hari ini kamu tidak libur?” tanya Nadia sambil melayani Hanson.


“Tentu tidak, Lieve. Ik tidak bisa berhenti bertugas karena belakangan ini banyak kericuhan dan masalah di Batavia.” Ujar Hanson sambil sarapan.


“Aku mengerti.” Ucap Nadia sambil tersenyum.


“Ik ingin pergi bekerja nanti je siap-siap untuk mengikuti acara nonformal di kantor ik.” Ucap Hanson, kali ini Nadia menagagguk patuh.


Siang ini Nadia menggunakan gaun untuk pergi ke acara nonformal suaminya, tetapi terkadang Nadia suka memikirkan caranya Hanson menatap Elsje.


Nadia nampak cemburu dan tak suka memang awalnya Hanson mencintai Elsje.


Nadia juga paham situasi dan posisinya berada, memang benar ia juga suka membandingkan dirinya dengan Elsje, gadis itu memang cantik tubuhnya nampak ramping juga cocok memakai busana apapun sedangkan dirinya bertubuh berisi dan padat serta wajah yang kurang menarik tetapi wajahnya cukup manis.


“Nyai! Supir sudah menunggu di bawah,” ucap Sariyem masuk kamar dengan kepala menunduk, Nadia mengangguk lalu segera menuruni tangga untuk pergi ke acara nonformal di kantor suami-nya untuk pertama kali.


Sesampainya di halaman rumah ia melihat mobil yang cukup antik.


Nadia berfikir kalo di dalam mobil tersebut tidak ada pendingin ruangan atau AC tentu saja belum ada memang pada jaman itu di karena teknologi pada masa itu cukup terbatas.


Nadia merasa kepanasan meskipun awan mendung, tak lama ia sampai di sebuah gedung yang di penuhi orang-orang Eropa bertubuh tinggi, Nadia kebingungan untuk melihat Hanson tak lama Maria Dietje menepuk pundaknya yang mampu membuat Nadia menoleh.


“Nadia, je baru datang!! Baiklah ayo kita masuk!” Nadia yang masih canggung mengandeng lengan Maria Dietje, perempuan itu sangat cantik dengan gaya rambut pendek berwarna pirang yang modis pada jaman itu.


“Madame kita mau kemana?” Ungkap Nadia.


“Tentu saja kita bicara dan berkenalan dengan istri-istri dari rekan kerja suami kita, Nak.” Ucap Maria.


Nadia sangat senang bicara dengan istri-istri yang berumur sama dengan-nya tetapi sudah ada yang memiliki seorang anak.


“Nyai Buthjer seperti je sudah sedikit lancar berbahasa Holland.” Ucap salah satu istri dari rekan kerja suaminya, nama-nya Anne.


“Aku sedang memperlancar bahasa nederland, kalo bahasa inggris aku sedikit bisa.” Ucap Nadia.


“Oh benarkah?” ucap Anne dengan wajah yang sulit di tebak sambil mengoyang-goyangkan kipasnya.


“Anne, I like your Hat and dress.” Puji Nadia sambil memuji topi biru dan gaun biru muda milik Anne.


 “Thanks...Nadia van Buthjer,” Ujar Anne.


Nadia menghabiskan waktu bersama teman barunya, tak lama Elsje datang dengan bergandengan bersama tunangan-nya lalu bergabung bersama Nadia dan Anne.


Nadia mengajak Hanson pulang lebih awal karena dirinya merasa tak enak badan dengan terpaksa Hanson berpamitan kepada rekan dan atasan-nya untuk pulang lebih awal setelah acara usai.


“Apa je...” Hanson melihat wajah Nadia mulai pucat.


“Entahlah aku sedikit mual dan pusing.” Ucap Nadia lalu Hanson menyuruh Nadia beristirahat di pundaknya.


Sesampainya di rumah Nadia di bopong Hanson ala Bride style untuk menidurkan-nya di kamar mereka, Nadia akhirnya memejamkan mata saat ia mulai merasakan kantuk.


Nadia membuka matanya saat sadar ia masih di Batavia yang artinya Ibunya belum membangunkannya kemudian menoleh ke samping melihat Hanson di sebelahnya sedang tertidur nyenyak saat ingin bangun ternyata Hanson sedang memeluknya.


“Hanson bangun kita harus bersiap!” ucap Nadia sambil mencubit hidung mancung Hanson.


“Ik masih mengantuk, Liefste.” Hanson malah mempererat pelukan-nya.


“Kita akan tertinggal kereta.” Sontak Hanson langsung terduduk dan berjalan menuju kamar mandi untuk cuci wajah.


Nadia memakai kebaya dan rok batik serta rambut yang setengah gerai dan atasanya menggunakan sirkam, sedangkan Hanson menggunakan seragam militernya.


Tak lama mereka sampai di stasioen (stasiun) lalu menuruni mobil para Bendide membantu majikan-nya membawakan koper atau tas ke dalam mobil untuk di antarkan nanti ke Buitenzorg.


 Keduanya duduk berdampingan saat kereta api uap yang masih menggunakan batu bara sebagai bahan bakar telah datang dalam Hati Nadia sangat kagum dengan keadaan pada masa ini sungguh antik dan klasik, Hanson mengandeng lengan istrinya untuk segera masuk ke dalam kereta.


Sesampainya di stasioen Buitenzorg Hanson masih setia mengandeng lengan Nadia dan tak lama seorang pria paruh baya sedang memegang kertas di tangannya lalu menghampiri Hanson dan Nadia yang sedang menaruh barang-nya untuk di bawa ke Buitenzorg.


“Permisi, nyai!” Ucap pria paruh baya Pribumi dengan pakaian bagus.


“Apa benar anda istri Tuan Van buthjer?” tanya nya.


“Iya benar itu suamiku.” Tunjuk Nadia.


“Baik ajak suami anda dan saya akan membawa tuan.” Nadia mengangguk sedangkan Hanson masih berwajah datar.


 “Siapa nama anda, Pak?” tanya Nadia dengan santun.


“Nyai dan Menner bisa panggil saya Sarto.” Ucapnya dengan kepala menunduk sambil memasukan barang-barangnya ke dalam mobil.


 Hanson tetap berwajah datar pada para Bendide atau pembantu berbeda dengan Nadia yang selalu tersenyum, mereka menaiki mobil klasik diperjalanan Nadia memandang ke kaca jendela mobil menampilkan pemandangan kota Bogor yang dulu masih disebut Buitenzorg, ya masih sangat asri.


 Mereka memasuki pekarangan rumah yang cukup luas yang di sediakan pemerintah untuk Hanson, Para bendide menghambur keluar rumah sibuk membawa serta merapikan barang-barang majikan baru-nya Nadia melihat-lihat isi rumahnya nampak menawan halaman-nya cukup luas serta ada patio (taman di bagian tengah rumah).


Jendela dan pilar berbentuk bundar menampilkan bangunan khas Eropa, udara Buitenzorg sangat dingin hari ini sepertinya akan turun hujan karena terlihat siang ini langit nampak mendung, berbeda dengan udara di Batavia yang panas bogor pada masa itu masih sejuk dan dingin.


“Apa je dingin?” Hanson memeluk Nadia dari belakang dengan melingkarkan kedua tangan-nya di pinggang Nadia, saat gadis itu sedang melihat hujan dari jendela kamar tanpa menyadari kehadiran suaminya.


“Iya.” Ujar Nadia dengan jujur, Hanson mencium leher serta pundak Nadia, Hanson langsung membalikan tubuh padat Nadia lalu menyambar mulut gadis itu.


 Ciuman yang dirasakan Hanson serta Nadia sangat memabukan Nadia berbisik di telinga Hanson menyebutkan nama suaminya itu, akhirnya Hanson membawa Nadia ke ranjang dan melakukan hubungan suami-istri sampai matahari terbenam di kota yang baru saja mereka tempati, matahari terbenam menjadi saksi atas cinta mereka berdua. Hanson membiarkan Nadia tidur dan dengan lembut ia menyelimuti tubuh polos istrinya dengan selimut serta dirinya yang juga nampak tak berbusana.

__ADS_1


 “Ik hou van je, Lieve.” Hanson memeluk tubuh Nadia yang sudah pulas mungkin karena kelelahan sehabis perjalanan jauh.


__ADS_2