Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 26: Pemantapan Materi


__ADS_3

 


Sepulang sekolah setelahnya para murid tidak pulang dulu karena ada pemantapan materi buat UANBM minggu depan, untuk itu para murid di persilahkan istirahat dulu sehabis solat zuhur berjama’ah.


“Nadia ik sangat tidak terima jika je di cacimaki oleh dua perempuan binal tadi.” Ucap tegas Hanson tetapi malah di jawab Nadia di tempat sepi. Nadia sengaja ke tempat sepi agar tidak seorang pun mendengar ia sedang berbicara sendiri takut di sangka tak waras padahal ia sedang bicara dengan Hanson.


 “Jadi tadi kamu yang bikin Wulan jatuh?” ucap Nadia dengan mata merah.


“Jaa, ik bikin perempuan itu menderita jika dia berani melukai je, calon istri ik.” Nadia hanya bisa menepuk jidatnya.


“Hanson kamu tahu disini tidak hanya aku yang berkemampuan seperti ini, banyak para guru serta murid.” Ucap Nadia dengan suara berbisik, “ik weet het, lieve.” Ucap Hanson yang artinya aku tahu, sayang.


Ucapan-nya mampu membuat Nadia diam tanda tak mengerti bahasa yang di katakan Hanson.


“Kamu ngomong apa?” tanya Nadia sambil mengeryitkan dahi-nya, “ik tahu, sayang.” Ucap Hanson sambil mendekat lalu memegang dagu Nadia.


 Di saat wajah hanson mendekati wajah-nya Nadia gadis itu merasa nyaman jadi ia menutup matanya dan tak lama suara bel masuk berbunyi menandakan jam istirahat sudah berakhir di lanjutkan pemantapan materi untuk UANBM minggu depan.


 


TIBA DI KELAS WAKTU PEMANTAPAN MATERI


Di kelas beberapa anak melihat aneh ke arah Nadia yang berjalan memasuki kelas dan ada juga yang mengobrol saat Nadia masuk kelas seolah bersikap biasa saja, gadis itu menatap tajam orang yang berani melihatnya satu persatu membuat anak perempuan itu mengalihkan pandangannya. Sesaat memasuki kelas dan guru matematika sekaligus wali kelas Nadia datang untuk mengajar.


Di tengah jam pelajaran Nadia merasa bosan dengan mulut menguap dan melihat Nissa yang sebangku sedang bercermin.


Nadia juga ikut bercermin bersama Nissa saat sedang bercermin di kaca Nadia melihat sesosok genderuwo berdiri tepat di belakang sampai gadis itu membulatkan mata, beberapa anak yang duduk di belakang saat sedang fokus memperhatikan Bu Gita menerangkan jadi terganggu tatkala mencium aroma nanah bercampur busuk.


Nadia menoleh ke belakang gendoruwo itu melambaikan tangan badannya berbulu dan wujudnya mengerikan hampir membuat Nadia muntah karena baunya.


“Bu!” Nadia mengakat tangannya.


"Kenapa Nadia?” tanya Bu Gita.


“Saya mau ke kamar mandi Bu, agak mual.” Ujar Nadia.


“Oh, iya. Silahkan.” Nadia langsung berlari ke kamar mandi menuju wastafel.


Beberapa anak juga mengakat tangannya ke atas, “saya juga Bu.” Kata beberapa anak yang duduk di barisan belakang dan mereka semua juga berlari ke kamar mandi karena muntah.


Tiga kelas yang berisi anak perempuan semua di satukan dalam satu kelas dan anak yang tersisa termasuk guru menjadi heran melihat tingkah para murid barisan belakang yang tiba-tiba mual.


 Setelah jam pulang yakni jam 4 sore para murid di haruskan solat berjama’ah dulu, pulang sekolah Nadia seperti biasa tidak ada murid yang mau satu kendaraan umum dengan gadis malang itu, sangat bagus berarti ini kesempatan-nya untuk bicara dengan Hanson perihal masalah bagaimana ia nanti akan menikah.


“Nadia,” ujar Hanson yang duduk di sebelahnya.


 “Apa Hanson?” ucap Nadia pelan sambil membaca buku.

__ADS_1


“Liat itu,” Nadia melihat sekilas ke belakang dan ia melihat ternyata Hanson membawa pasukan mengikuti angkutan umum yang di tumpangi Nadia serta ada menaiki kuda.


“Hanson jangan katakan soal apapun lagi, ini udah mulai rame.” Ucap Nadia sambil menelan salivanya.


“Bang kiri!” Nadia memberikan uang-nya untuk turun di gang Golden Age. Nadia berjalan sepertinya sepi ini kesempatan untuk bicara dengan tunangan-nya.


“Apa maksudnya tadi?” Nadia bertanya pada Hanson yang berada tepat di sampingnya dengan pakaian kemeja pendek klasik serta celana coklat Panjang dengan kaki yang tak menapaki tanah di sertai rambut pirang yang tertimpa angin.


“Ik hanya menyuruh anak buah ik buat menjaga je,” Ujarnya sambil merangkul pundak Nadia.


“Hanson kita jangan lewat kuburan itu.” Nadia ketakutan, “tak apa ada ik,” ucap Hanson meyakinkan Nadia. 


Nadia melewati kuburan yang di batasi tembok semen menjulang tinggi. 


Saat di jalan sedang sepi tiba-tiba dari pohon kecapi yang tinggi turunlah seorang wanita berbaju putih dengan rambut Panjang.


Nadia langsung berhenti sedangkan Hanson menyuruh Nadia ke belakangnya, kuntilanak itu semakin menakutkan tatkala kepalanya tiba-tiba jatuh menggelinding ke tanah dengan rasa marah yang luar biasa Hanson menyuruh anak buahnya untuk menghalau hantu perempuan liar itu, salah satu prajurit bule menendang kepalanya sampai jatuh ke comberan.


Nadia yang awalnya ketakutan menjadi menahan tawa tatkala kuntilanak itu mencari kepalanya di selokan, Hanson langsung menarik tangan Nadia untuk meninggalkan tempat itu, serta pasukan yang di belakang mengikuti.


Sesampainya di rumah ia kedatangan tamu pas di selidiki lagi ternyata ia melihat Sarah rekan kerja mendiang ayahnya saat menjadi polisi dulu.


 “Bu aku pulang.” Nadia melepas sepatu dan kaos kaki lalu menaruh di rak, saat memasuki ruang tamu untuk menyalimi sang ibu ia melihat ayahnya Sarah, Nadia langsung menyaliminya.


 Sarah langsung melihat ke sekeliling rumah awalnya ia amat kaget karena banyak hantu tentara di setiap sudut rumahnya Nadia, Sama persis seperti rumahnya Sarah.


“Nad, ajak Sarah ke atas.” Ucap Sang ibu lalu Nadia mengangguk dan mengajak Sarah ke atas.


“Nadia emang gua denger lu mau married bareng letnan satu Hanson van Buthjer.” Ucap Sarah sambil berjalan di samping Nadia dengan menaiki tangga nada bicaranya berbisik agar ayahnya Sarah dan ibunya Nadia tidak tahu rahasia dua gadis indigo itu.  


“Iya, bener.” Ucap Nadia dengan melepas seragam sekolah, Kemudian mengantungkan-nya agar tak bau apek.


Setelahnya ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


“Oh, ya gua lupa kenalin.” Ucap Sarah setelah Nadia masuk kamar.


“Ini Pauline kalo lu pasti tahu Pauline 'kan?” Nadia hanya tersenyum lalu berkata iya, Sarah menunjuk seorang gadis kecil berambut merah kecoklatan sambil menggunakan gaun warna putih disertai rompi coklat dan di tangan-nya membawa boneka.


“Sar gua mau cerita kejadian pas gua PM di kelas tadi anjay.” Ucap Nadia dengan wajah jijik sambil bergidik ngeri.


“Lu mau cerita apaan, tuh muka biasa aja napa udah kaya abis ngeliat monster aja.” Ucap Sarah sambil memangku Hellene.


“Yes, tebakan lu bener tadi gua lagi PM kan gua ngaca bareng temen gua masa di belakang gua liat gendoruwo berdiri mana baunya bikin gua muntah lagi.” Curhat Nadia.


 “Gila!! gua selama ini paling benci ama gendoruwo.” Aku Sarah dengan wajah jijik bercampur kesal karena mengingat masalalunya, “kenapa?’ tanya Nadia.


“Iya begitulah gara-gara tuh mahluk gua pernah sekali hampir ke bunuh.” Kata Sarah.

__ADS_1


Nadia memperhatikan Hellene dipangkuan Sarah lebih dominan berambut coklat di banding merah.


“Eh Nad, lu ketemu Hanson dimana?” tanya Sarah yang duduk di lantai kamar sambil memangku Hellene.


“Siapa nama lengkap Hellene?” tanya Nadia.


 “Hellene Elizabeth Van Der Zind.” Ucap Sarah sambil mengelus puncak kepala anaknya.


“Terus bokap ama nyokap lu tahu?” ucap Nadia.


“Ya gak lah itu Namanya kematian buat anak gua, kalo dia manggil orang pintar buat nyelakain dua anak gua gimana?” ujar Sarah.


“Hallo apa ik tertinggal sesuatu?” Hanson datang dengan menembus tembok.


“Oh, Letnan van buthjer.” Sarah memberikan tanganya untuk di kecup punggung tangan-nya oleh Hanson.


“Senang bertemu denganmu?” ucap Sarah.


“Dimana suami je?” tanya Hanson.


“Dia di rumahku tidak ikut.” Ucap Sarah.


“Ini anak-anak je dan Rudolf.” Jeda “Antje dan Hellene.” Kata Hanson dengan senyum mengembang.


“Hanson kamu bisa keluar dulu,” Nadia menatap Hanson lekat, “aku dan Sarah ingin bicara...soal kewanitaan.” Ucap Nadia sambil membentuk gunting dengan jarinya. Hanson mengangguk Kemudian keluar kamar dengan menembus tembok.


“Sarah jadi gua ketemu, Hanson di kota tua.” Ujar Nadia sambil tersenyum.


“Kalo ketemu Rudolf dimana?” tanya Nadia.


“Di makam peneleh.” Ucap Sarah singkat sambil menidurkan putri bungsunya yang bernama Hellene di pangkuan-nya.


“Oh, kampung bokap lu dong.” Ucap Nadia.


“Nah gua mau curhat soal tadi gua balik sekolah.” Ujar Nadia dengan ragu.


“Curhat aja, lagian gua pendengar yang baik.” Kata Sarah meyakinkan Nadia.


“Tadi gua balik sekolah, gua kan lewat kuburan pas balik tiba-tiba ada Tante-Tante turun dari atas pohon...”  Perkataan Nadia mampu membuat Sarah tertawa pelan.


“Maksud lu kuntilanak.” Ucapnya.


“Iya,” Nadia.


“Terus lanjutin.” Ujar Sarah.


“Terus dia berdiri di depan gua untung ada penjaga, si Hanson udah nyuruh gua buat mundur dan tante itu tiba-tiba kepalanya ngelinding sendiri ke tanah, terus di tendang kepalanya ama salah satu anak buahnya Hanson.”  Setelah Nadia menyelesaikan ceritanya Sarah langsung tertawa lepas.

__ADS_1


Hari ini Nadia menghabiskan waktu bersama sahabatnya sekaligus anak teman kerja sang ayah sambil bercerita dan bersenda gurau, Nadia senang akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama teman lama-nya.


__ADS_2