
Nadia melihat masalalu Fera yang bahagia dengan ayah dan ibu serta adik laki-lakinya namun hal tak di inginkan terjadi rumahnya kerampokan dan seluruh keluarganya di bunuh dan sebelum Fera di bunuh juga ia di perkosa dulu lalu di bunuh dan jasad keluarga rumah ini dikuburkan secara tak layak di belakang halaman rumah dekat pohon kamboja.
“Jadi namamu? Fera.” Tanya Nadia Hantu itu memakai dress putih dengan wajah yang cantik sambil tersenyum tak lagi memakai dress putih berlumuran darah, “baik aku akan berusaha mengabulkan permintaanmu.” Ucap Nadia.
Gadis itu segera berlari ke luar rumah antik tersebut menuju rumahnya untuk menemui neneknya terlebih dahulu kemudian memberitahu sang nenek hal apa yang terjadi saat ia memasuki rumah itu, kemudian Nadia dan neneknya melapor ke ketua RT dan Rw agar jasad keluarga yang di rumah itu di kuburkan secara layak.
Polisi mengusut semuanya, Nadia menolak ditanyai ini dan itu jadi saat kejadian itu terjadi dia lebih memilih masuk kamar sampai neneknya kembali pulang.
Malam tiba lokasi itu masih banyak orang. Alina segera pulang saat tahu jika adik sepupunya berhasil menemukan mayat di rumah yang terkenal banyak hantunya dari banyak orang, saat Nadia sedang memilih jadwal pelajaran di kamar sendirian lampu mati nyala sendiri begitu juga dengan gorden buka dan tertutup sendiri.
Nadia ingin keluar tetapi hasilnya nihil pintu tak terbuka seberapa keras mengoyangkan kenop pintu, tak lama ada suara yang mampu membuatnya tenang suara yang mengatakan jangan takut.
“Jangan takut Nadia, ini aku Fera.” Jeda. “Aku ingin berterimakasih padamu.” Fera tepat berada di belakangnya ia nampak cantik dengan baju putih dan wajahnya bersinar seperti rembulan. Nadia hanya diam mematung.
“Kamu gadis yang baik, aku berharap yang terbaik untukmu.” Fera mengulurkan tangannya lalu di balas uluran tangan oleh Nadia.
“Sama-sama...sekarang...kamu...pergi...dengan tenang.” Ucap Nadia yang terbata-bata, perlahan Fera menghilang dengan tersenyum tipis membuat Nadia ikut menyunggingkan senyuman ada perasaan tenang di hati tatkala bisa membantu orang.
“Nadia!” Panggil neneknya.
“Ada apa eyang?” tanya Nadia saat dirinya sedang sibuk membaca buku sambil mencatat beberapa sumber untuk hari kamis.
“Ini ibumu mau ngomong.” Kata neneknya menyerahkan handpone pada Nadia yang sedang belajar.
“Ibu...” Ucap Nadia yang meraih handpone itu dari Neneknya.
“Hallo Bu, kenapa?” tanya Nadia, “......” Kata sang Ibu di panggilan telephone.
“Oh iya, soal ini jangan di bahas lagi nanti aja ngomongnya pas di rumah.” Ucap Nadia.
“.....” Kata ibunya di panggilan telephone.
“Oh Yaudah.” Ucap Nadia dengan senyum manisnya.
“Eyang ibu nih mau ngomong.” Nadia keluar kamar dan menyerahkan handpone kepada neneknya yang sedang menonton televisi, setelah memberikan handponenya kembali Nadia memasuki kamarnya lagi.
Alina pulang ia membelikan martabak telur dan menyuruh adik sepupunya makan agar belajarnya tambah semangat.
“Nad, ini aku beli martabak telor kamu makan dulu keluar kamar!” perintah kakaknya.
“Iya Kak,” Nadia sangat senang dengan segera ia menutup buku-bukunya dan pergi ke dapur untuk makan dulu. Nadia dan Alina sedang makan martabak telurnya Alina mulai membuka percakapan.
“Nad gimana ceritanya kamu bisa nemuin mayat keluarga di rumah itu? padahalkan udah lama banget?” tanya Alina sambil mengigit matabaknya.
“Aku kemaren kan di temuin ama hantu rumah itu, terus dia minta dikuburkan secara layak. Yaudah pulang sekolah aku langsung ke rumah itu.” Cerita Nadia.
“Oh, jadi gitu. Berarti...” Belum sempat Alina menyelesaikan kalimatnya sang Eyang tiba-tiba bersuara dari ruang keluarga.
“Nadia bukunya di beresin buat besok.” Kata neneknya.
“Iya Eyang nanti dulu.” Jawab Nadia sambil minum teh tanpa gulanya, setelah selesai Nadia dan Alina merapikan semuanya dan beralih ke kamar tidur.
Nadia melanjutkan untuk belajar dan mencatat sumber, sedangkan Alina sibuk menyusun tugas dari dosennya.
Mereka berdua sedang fokus pada urusan masing-masing sampai akhirnya Hanson berdiri tepat di samping Nadia.
“Nadia!” Panggil Hanson.
“Ada apa Hanson?” tanya Nadia.
Alina tahu kalo adiknya sedang bicara sendiri pasti sedang bicara dengan dunia tersendiri jadi ia mulai terbiasa dengan tingkah adik sepupunya, “sudah jam 11 malam sebaiknya je cepat tidur,” setelah mendengarkan penuturan Hanson gadis berkaos ungu tersebut melirik jam dinding dan benar saja sudah menunjukan pukul 11 malam.
“Kak Alin aku tidur duluan ya.” Ucap Nadia.
“Yaudah.” Jawab Alina. Nadia langsung ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menyikat gigi setelah selesai ia menggunakan cream malam dan lotion lalu langsung tidur karena ia sudah solat isya tadi lebih awal.
Nadia mulai melepaskan roh dari tubuhnya berjalan melewati pusaran waktu dan ia mendengar suara jarum jam dengan keras sampai mendekap kedua telinganya dengan tangannya.
Dia terbangun di saat keadaan masih subuh dan melihat Hanson masih setia tertidur di sofa sambil memegang tangan kirinya perlahan Nadia melepaskan tangannya dan pergi mandi dengan air hangat kemudian menyiapkan air hangat untuk mandi suaminya.
Sesudah selesai ia ke dapur melihat para jongos menyiapkan bahan masakan.
__ADS_1
“Selamat pagi.” Sapa hangat Nadia.
“Selamat pagi, Nyai.” Balik sapa para Bendide sambil tersenyum. Nadia membuat teh hangat campur jahe karena udara di Buitenzorg pagi ini cukup dingin yang membuat dirinya mengigil.
Nadia duduk di perpustakaan dekat dengan patio sambil membaca buku, tiba-tiba Hanson mendatanginya lalu mencium pipi bagian kiri.
“Goed morgen, Liefste.” Ucap Hanson.
“Pagi juga.” Ucap Nadia yang menaruh bukunya di meja.
“Kamu harum apakah sudah mandi?” tanya Nadia.
“Jaa.” Ucap Hanson.
“Ik hari ini harus dinas, yakni upacara pagi.” Kata Hanson sambil membalikan tubuh istrinya dan membuat wajah mereka berhadapan meskipun tinggi Nadia Hanya sebawah dadanya Hanson.
“Seragammu belum aku siapkan! aku harus siapkan sekarang!” belum sempat Nadia melewati Hanson tetapi Hanson sudah menarik tangannya.
“Hanson apa yang kamu...” Ucapan Nadia terputus tatkala Hanson menariknya ke dalam dekapannya.
“Sudah ik siapkan, ayo ke meja makan untuk sarapan bersama.” Ajak Hanson sambil menarik tangan Nadia.
Di meja makan Nadia melihat menu sarapan pagi ini daging yang di haluskan dengan kentang goreng dan beberapa sayuran kecil berupa kacang-kacangan di satu piring untuk saus ada mayonise dan saus pedas sebagai penambah masakan.
Hanson mengambil satu lembar roti tawar lalu menambahkan daging di piringngya yang sudah ia campurkan dengan sayuran dan saus untuk di taruh di atas roti tawar sama seperti Nasi.
Nadia mencoba apa yang Hanson lakukan pertama dia mengambil sendok menaruh daging yang di haluskan di piring kecil lalu mencampurkannya dengan sayuran berupa kacang-kacangan lalu menaruhnya di selembar roti tawar seperti yang Hanson lakukan, rasanya sangatlah enak tetapi tetap saja masih asing karena Nadia tak terbiasa memakan roti melainkan nasi.
Setelah selesai sarapan Hanson memakai seragam militernya dengan lencana di bagian kanan dan di samping lengan tentu saja Nadia membantu memakaikan seragam untuk suaminya, terakhir Nadia memakaikan topi militernya di kepala Hanson.
Mereka berdua berjalan menuruni tangga untuk sampai depan rumah.
Nadia bukan menyalimi suaminya tetapi mereka berciuman dan Hanson berangkat dengan mobil militer yang sudah di sediakan pemerintah hindia belanda untuknya.
Setelah mengurusi Hanson Nadia kembali ke dalam rumah ia ke dapur sebentar dan menanyakan para bendide apa kalian sudah makan atau belum.
Jawaban mereka belum Nadia menyuruh makan dulu termasuk Sarto dan Saefoel.
“Tapi kalian harus sarapan ya.” Kata Nadia yang menyerupai perintah.
“Iya Nyonya terimakasih atas perhatiannya.” Sahut Marsih yang ingin mencuci piring bekas sarapan.
“Saya mau ke kamar dulu.” Setelah itu Nadia pergi ke kamar para Bendide sangat bersyukur dalam hati karena mempunyai majikan yang baik.
Nadia ke kamar merapikan rambutnya dengan menguncir karena ia ada rencana sarapan bersama di rumah Mevrouw Eva pagi ini.
Nadia menuruni tangga lalu berjalan membuka gerbang rumahnya untuk berjalan ke rumah keluarga Van derhoff yang terletak di sebrang rumahnya, “selamat pagi Mevrouw Van Derhoff,” ucap Nadia.
“Maaf aku datang terlambat,” sambungnya.
“Goed morgen sayang, tak apa ayo kita habiskan waktu bersama.” Ujar Eva yang sedang membaca buku duduk di kursi halaman depan rumah, Nadia dan Eva menghabiskan waktu dengan minum teh bersama lalu para bendide mengantarkan nampan berisi roti bakar isi selai storberry dan coklat.
Dua wanita itu berbincang hangat di halaman depan rumah dengan di temani anjing peliharaan keluarga Van Derhoff di bawah kakinya.
“Kapan putramu berangkat?” tanya Nadia sambil meminum teh lalu menguyah roti bakar.
“Barusan sebelum kau datang.” Jawab Eva yang mengunyah roti bakar isi coklat.
Pagi ini Eva memakai gaun renda sampai betis warna putih dengan gaya lengan Panjang mekar di pergelangan tangannya warna hijau, dan rambut pendek yang tren pada masa itu.
Mereka berbincang hangat sampai tak sadar suami Eva datang dan turun dari mobil.
“Tuan van derhoff.” Ucap Nadia berdiri dengan membungkukan kakinya gadis tersebut ketakutan melihat pria tinggi besar dengan seragam militer di penuhi lencana di kanan dan kirinya rambutnya pirang gelap sama seperti istrinya, mata biru, dan kumis berwarna yang sama.
“Hei, Nyai apa je...” Belum sempat sang kolonel menyelesaikan kalimatnya sudah di potong Nadia, “menemukan pertambangan guna membantu militer,” ujar Nadia.
“Maaf telah lancang memo...” Ucapan Nadia terhenti karena di potong cepat oleh tuan Van derhoff.
“Tak apa.” Ujar Tuan van derhoff dengan menyunggingkan senyuman tipis.
“Sebaiknya aku pulang,” ucap Nadia.
__ADS_1
“Kenapa buru-buru.” Ujar Eva mengeryitkan keningnya, “tak apa ik akan masuk agar je berdua bisa menghabiskan waktu sambil bergossip.” Kata kolonel van derhoff masuk sambil berteriak memanggil para bendide dan jongos.
Nadia bisa bernafas lega setelah pria tinggi besar itu masuk.
“Nadia kenapa je takut dengan suami ik?” tanya Eva sambil minum teh nya, “bukannya suami je juga tentara.” Sambung Eva menaruh tehnya di lapik.
“Aku hanya belum terbiasa saja,” ucap Nadia.
“Besok apakah kita harus berjalan sambil belanja?” saran Eva.
“Tentu saja, bersama putramu?” tanya Nadia.
“Tentu jika kau tak keberatan mevrouw buthjer.” Ucap Eva.
“Tentu tidak, Eva.” Ucap Nadia, mereka menghabiskan waktu sampai tak terasa menjelang petang karena terlalu asyik mengobrol, tak lama putra Eva yang bernama Jason pulang sekolah.
“Hallo Jason,” sapa hangat Nadia.
“Hai Nyai. Wah ternyata kau memang berbeda dari inlander lainnya pantas tuan van buthjer menyukaimu sudah gitu cerdas lagi.” Ucap bocah berumur 7 tahun itu.
Nadia heran anak belanda bisa berbahasa melayu dengan fasih.
“Munah! Bawa Jason masuk!” perintah Eva kepada pengasuh putranya.
Seorang wanita Pribumi seumuran Nadia datang tergopoh-gopoh sambil mengajak Jason masuk rumah, Eva tidak mau Jason putranya banyak bicara.
“Sepertinya suamiku akan pulang.” Pamit Nadia kepada Eva.
“Baiklah, sebentar lagi juga makan malam.” Ujar Eva sambil capaka-capiki dengan Nadia sebelum kembali pulang ke rumah. Nadia diantarkan sampai gerbang depan.
“Nadia jam berapa besok jalan dan berbelanja bersama?” tanya mevrouw Van Derhoff.
“Mungkin pagi habis sarapan karena udara pagi masih sejuk.” Ujar Nadia sambil mengedikan bahunya.
“Baiklah sampai besok.” Ucap Eva sambil melambaikan tangannya, “kamu juga, Eva.” Balas Nadia.
Gadis tersebut memasuki rumah ia melihat ada seorang wanita belanda paruh baya duduk dengan santainya di sofa ruang tamu.
“Madame apa yang kau lakukan...” Ucap Nadia kepada wanita belanda asing ini setelah di perhatikan lebih detail wajah milrip Hanson.
“Ik ben Hanson, Mama.” Ucap wanita itu.
“Ya ampun Mama!” Nadia segera mengambil tangan kanan wanita tersebut untuk di cium.
“Maafkan aku...” Ucap Nadia gugup.
“Tak apa.” Wanita itu membawa koper.
“Ratih! Marsih tolong siapkan kamar dan bawa koper ini ke kamar.” Marsih dan Ratih datang tergopoh-gopoh untuk melaksanakan perintah majikannya.
“Nama je Nadia van buthjer.” Ucap Wanita itu Nadia tersenyum canggung lalu menganggukan kepalanya.
“Nama ik Anna Maartje van buthjer.” Kata Anna memperkenalkan diri.
“Apa je...” Belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya ada mobil di pekarangan rumah, sudah di pastikan itu suara mobil Hanson.
“Nadia ik...” Ucapan Hanson terhenti tatkala melihat wanita di hadapannya dan akhirnya satu kata terucap.
“Mama.” Dan Hanson langsung menghambur ke pelukan Ibunya. Nadia membungkukan kakinya lalu meninggalkan ibu dan anak itu berdua, tentu karena bahasanya juga sulit di mengerti.
Nadia memilih ke dapur untuk mengambil minum dan menyuruh Arum untuk membantunya menyiapkan minuman agar mertuanya betah saat sedang mengambil teh tiba-tiba saja Nadia merasa pusing perlahan kesadarannya menghilang dan tubuh gadis tersebut tumbang, Arum berteriak panik Hanson dan Anna langsung berlari ke dapur.
“Ada apa ini?” Tanya Hanson.
“Astaga Nadia!” Hanson langsung membopong tubuh Nadia ke kamar dan memanggil dokter, ia melihat darah di antara tungkai milik Nadia.
Nadia sadar ia mendengar penjelasan dokter dengan bahasa sulit di mengerti sedang bicara dengan Hanson dan Anna di luar kamar, gadis tersebut pusing dan bingung apa yang sebenarnya terjadi dan ada mevrouw van derhoff juga ada apa ini sebenarnya.
“Nadia je harus sabar, semoga ada gantinya.” Ucap Eva yang duduk di Kasur sambil mengenggam tangannya.
“Ada apa sebenarnya ini? Jelaskan padaku, Hanson! Mama!” ucap Nadia.
__ADS_1
“Je baru saja keguguran.” Ucap Hanson hal itu membuat Nadia cukup syok dan tak tahu harus berbuat apa ia diam dan Nadia kembali pingsan karena merasa pusing.