
Malam harinya Nadia sedang membaca novel lantaran besok hari sabtu ia berjanji untuk lari pagi bersama Sarah, “Nadia!” Suara itu mengaggetkan Nadia membuat ia melepaskan headset di kedua telingannya dan ia melihat kedua eyangnya.
Tumben sekali tak biasanya dua eyangnya ini menemuinya kecuali dalam keadaan bahaya seperti tadi siang seolah penari itu ingin membunuhnya. “Sofu... eyang...ada apa?” tanya Nadia mendekati keduanya. “Aku tak menyangka kau sudah dewasa dan harus tahu kebenarannya.” Ujar eyangnya dalam bentuk penari jawa.
“Besok kamu akan tahu tentang masa lalu kita, Juminten akan terus menganggu hidupmu.” Jelas sang eyang berwujud penari itu.
“Memang apa salah aku eyang? kenapa harus aku?” tanya Nadia seolah ia lelah dengan semua ini. “Nduk cahayu kamu akan tahu besok, teman kamu Sarah akan memberitahumu besok.” Eyang penari membelai rambut Nadia dengan lembut.
“Lebih baik kamu tidur sekarang!” Perintah tegas kakeknya berseragam tentara jepang, gadis itu hanya mengangguk patuh kemudian pergi mengistirahatkan diri karena besok ia akan bersepeda bersama Sarah menuju UI tempat olahraga.
Nadia tertidur pulas ia hari ini tidak ke Batavia karena ia sudah diberikan izin oleh Hanson agar menyelesaikan masalahnya dengan penari berwajah tengkorak itu, mungkin saja Hanson tak ingin permasalahan itu berdampak pada putrinya Victoria.
Nadia juga amat penasaran dengan wajah putrinya seperti apa ingin rasanya ia menimang atau memeluknya tapi apa boleh buat Hanson sudah melarangnya. Nadia membuka matanya lantaran lehernya seperti di cekik dan tubuhnya seperti di rantai dengan kuat ia membuka matanya ternyata ada ular yang melilit tubuhnya dan satunya lagi melilit lehernya.
Nadia ingin berteriak tetapi lilitan ularnya sangat kuat sampai suatu ketika suara tertawa mengerikan datang dari hadapannya itu adalah Juminten. “Nadia Sabrina...Aku sudah menunggumu untuk ini.” Ucapnya dengan pakaian penari.
“Lepaskan aku...biarkan aku bicara.” Ujar Nadia. Juminten hanya melepaskan ular dari leher Nadia saja agar gadis itu bisa bicara, “uhuk...uhuk...uhuk.” Nadia terbatuk lantaran cekikannya baru bisa lepas.
“Bicaralah!” Perintahnya, “kita bisa bicarakan baik-baik.” Kata Nadia. “Aku tahu kamu marah dan penuh dendam pada Sofu dan eyang Puspasari.” Jelas Nadia yang tubuhnya masih terlilit ular.
Juminten menatap dua manik mata Nadia yang tubuhnya terlilit mata yang polos dan penuh arti, pada akhirnya Juminten menganggukan kepala tanda setuju untuk membicarakan masalahnya dengan baik. Perlahan lilitan ular yang ada di tubuh Nadia mengendur dan ular itu kembali menjadi selendang di pinggang sang penari setelahnya Nadia terbangun saat keadaan adzan subuh.
Segera ia mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat subuh karena jam 6 ia akan ada janji bersepeda bersama Sarah ke UI Nadia membawa garam dan korek api yang seperti diperintahkan Sarah, setelah bersiap ia meminta izin pada ibunya untuk bertemu di titik temu yang sudah di janjikan.
__ADS_1
Nadia mengayuh sepedanya menuju titik temu sesampainya di tempat yang dituju Sarah baru saja datang, mereka mengayuh menuju UI bersepeda menikmati pemandangan UI yang masih asri dan juga ada hutan serta pohon karet.
Mereka mengayuh sepeda sampai tak sadar Juminten membuat Nadia dan Sarah menjadi tersasar di hutan UI entah apa salah Nadia seolah menyalah gadis malang itu atas semua permasalahan yang terjadi di masalalu.
“Sumpah Sar, kita dimana?” tanya Nadia yang terlihat panik. “Lu juga sih Nad, pake acara masuk ke hutan yang khusus jalur sepeda.” Sarah menyalahkan Nadia, keduanya berdebat sampai suara tertawa cekikikan membuat mereka menghentikan perdebatan mereka.
“Eh itu suaranya Juminten kan?” Sarah melihat-lihat seolah waspada begitu juga Nadia. “Sarah di kaki lu ada ular kobra!!” Nadia berteriak memperingatkan Sarah.
“AAAA!!” Sarah menjerit dan mereka berdua saling berpelukan tanpa di sadari Juminten ada di belakang mereka sedang menari, “Nad...bakar-bakar!” perintah Sarah sambil mengeluarkan sebuah benda panjang dari ranselnya entah apa itu, dan Nadia mengangguk patuh juga mengeluarkan sebuah korek api gas agar hantu itu tak mendekatinya.
Aroma bakar-bakar mampu membuat Juminten sedikit menjauh, dua gadis itu juga hati-hati karena takut membakar hutan secara otomatis akan di kenakan pidana. “Apa yang kamu inginkan Juminten? kenapa gak ada udahnya...” Ucap Nadia yang seolah lelah dengan semua ini.
Juminten tersenyum kemudian setuju untuk menceritakan masalahnya yang sudah berlalu bersama eyang Puspasari, Nadia dan Sarah saling memandang untuk mensetujui agar Juminten cerita semuanya karena akar permasalahan dan ujung penyelesaian berada di sumbunya.
Nadia melihat seperti layar drama di dalam matanya masa lalu Juminten dan Puspasari ternyata mereka dulunya bersaing untuk menjadi penari terbaik sampai Puspasari lah yang menjadi penari terkenal sampai menarik perhatian seorang sersan Daichi Kogawa.
Juminten yang masih dendam dengan Puspasari berusaha membelasnya pertama ia datang ke dukun untuk meminta sesuatu syaratnya Juminten harus bersemedi di gua dekat kali dan bukan sembarang orang yang bisa melihat gua itu hanya orang-orang yang berkemampuan seperti Sarah dan Nadia yang bisa melihatnya.
Juminten berhasil menaikan pamor membuat Puspasari menjadia terlunta-lunta, sebenarnya Puspasari sudah di peringatkan oleh Daichi agar tak menjadi penari lagi hubungan cinta mereka selalu di halangi oleh warga desa tempat Puspasari tinggal juga keluarganya.
Pria penjajah hanya menjadikan wanita pribumi sebagai nafsu saja itu kata keluarga dan warga desa tapi Puspasari yang buta akan cinta telinganya seolah tuli ia malah berani menjalin hubungan terlarang bersama Daichi kogawa.
Goa yang di gunakan Juminten untuk pesugihan terdapat siluman ular yang menghuninya, sampai ada kabar senter terdengar jika Puspasari hamil tentu itu kesempatan emas untuk Juminten agar memanas atau memprovokasi agar Puspasari dan keluarganya di usir dari desa ini.
__ADS_1
Puspasari berhasil melahirkan anak laki-laki ia berlari ke tengah hutan sambil di kejar sekumpulan warga desa. Sampai pasukan jepang yang di pimpin Daichi datang kemudian membunuh semuanya tanpa ada yang tersisa warga mati di tangan jepang, peristiwa berdarah itu disaksikan oleh Puspasari dan bayi laki-lakinya.
Salah satu anak buah Daichi berhasil menyeret Juminten kehadapannya wanita propokator, “Ampun tuan...ampun...” Ucap Juminten bersipuh sambil menyatukan kedua tangannya, “Gilir dia dan bunuh dia!” Perintah Daichi dalam bahasa jepang kemudian membenarkan posisi samurainya serta senapannya.
“Ayo kita pergi dari sini!” Puspasari menolak ia memang tak tahu artinya tapi ia ingin lihat apa yang terjadi dengan Juminten. Setelah selesai di gilir Juminten di bunuh dengan lehernya di sayat membiarkannya sekarat dengan darah yang keluar dari lehernya, “aku bersumpah akan kembali lewat keturunanmu!! Puspasari!!” Kata-kata terakhir yang terlontar dari mulutnya.
Puspasari memeluk putranya erat begitu juga Daichi memeluk kekasihnya juga putranya, tak puas Daichi yang dendam kepada Jumintem mengambil cairan panas dan melemparkannya kepada jasad Juminten yang sudah terbujur kaku, dari situ Juminten yang bersekutu pada iblis terus menganggu keturunan Puspasari dan Daichi.
Setelahnya Nadia tersadar membuka matanya di hadapannya Juminten hanya mengangguk kepala wajahnya masih penuh dendam yang membara hatinya juga berharap ia bisa pulang dengan tenang, Nadia akhirnya memberanikan diri mendekat.
“Nad, lu mau kemana? jangan Nadia!!” Sarah sudah memperingatkan Nadia tapi tetap saja ia berjalan ke hadapannya Juminten.
“Sekarang kamu mau aku jadikan muslim dan memutuskan semua perjanjianmu dengan iblis.” Tawar Nadia, awalnya Juminten sedikit tak mengerti tapi melihat ketulusan dari mata keturunan musuhnya selama puluhan tahun akhirnya ia mau, Nadia menyuruh Juminten mengucapkan dua kalimat syahadat dengan di bimbingnya dan memutuskan semua perjanjian dengan iblis.
Perlahan Juminten wajah tengkoraknya berubah menjadi semula dan tubuhnya menghilang. “Terima kasih Nadia, kamu gadis yang baik semoga tuhan selalu memberikanmu kebahagiaan.” Ungkapan terakhirnya sebelum menghilang.
Nadia pulang ke rumah melihat ibunya sedang memasak setelah memasukan sepedanya ke dalam garasi. “Kamu udah pulang?” tanya ibunya pada Nadia, “udah bu.” Jawabnya kemudian ia menaiki tangga untuk menuju lantai atas membersihkan diri, ia ke kamar untuk mengambil handuk tetapi handuknya jatuh ke lantai saat ingin mengambilnya tangannya di cegah oleh seorang anak kecil bule wajahnya mirip sepertinya. “Mama...” Ucapnya.
“AAAA!!!” Nadia menjerit berlari keluar kamar sambil membawa handuk ia sama sekali tak tahu anak itu sepertinya kisaran umur 6 tahunan.
Malam harinya karena malam minggu Nadia sedang memainkan ponselnya melihat Instagram dan facebooknya ia merasakan lampu kamarnya mati nyala sendiri ia juga tak tahu apapun sampai akhirnya ia tahu jika anak perempuan itu adalah Victoria anaknya dengan Hanson. Meskipun berwujud hantu ia akan mengawal serta melayaninya sebagai anak sama seperti Sarah.
“Mijn name is Victoria Alexandra van Buthjer.” Ucap anak itu. Tiba-tiba Hanson berada tepat di sampingnya, membuat Nadia menoleh ke samping di saat ini merasa ia menjadi seorang ibu sekaligus istri yang baik entah kali ini kebahagiaannya tak akan lama tapi apa yang akan terjadi.
__ADS_1