
Nadia terbangun dari alam bawah sadar-nya dan langsung terbatuk-batuk dengan nafas tak beraturan ia terduduk di atas Kasur sambil melihat jam dinding di hadapan-nya, ternyata jam menunjukan pukul empat pagi.
Keringat bercucuran membasahi tubuhnya padahal sudah memakai kipas angin dengan rasa haus di kerongkongan-nya ia bangkit dari tempat tidur untuk turun ke bawah mengambil air minum di dapur.
Sesaat ingin berdiri dari Kasur ia melihat kamar yang gelap tanpa cahaya tak lama Nadia kaget tatkala jendela kamar yang secara tiba-tiba terbuka sendiri entah karena angin kencang atau itu ulah Hanson atau mahluk yang jail, Nadia yang ingin membuka kenop pintu harus menutup jendela itu terlebih dahulu.
Nadia dengan rasa takut perlahan melangkahkan kakinya menuju arah jendela yang tepat di samping lemari kamar tak lama ia pun berteriak sekilas sambil menutup mulutnya agar tak membangunkan Ibu serta Adiknya, di kegelapan kamar disertai jendela terbuka serta gorden tertiup angin ia melihat si jubah hitam.
Gadis itu melihat the black robe dari luar jendela kamar dengan tudung hitam yang menutupi wajahnya dan tangan yang membawa timbangan kecil berwarna emas dan tangan kirinya membawa sebuah pecutan yang biasa digunakan untuk memecut hewan berwarna hitam kelam di tengah malam dengan angin berhembus disertai petir yang sepertinya akan turun hujan.
Nadia menelan salivanya lalu menutup jendela satunya serta menutup gorden, tidak mau ia berurusan dengan mahluk aneh itu. Nadia memilih menyalakan lampu kamar yang berada di depan pintu kamar tepat di atas box lemari penyimpanan. Saat lampu di nyalakan dengan sangat menyebalkan-nya Hanson melayang-layang lalu tidur di kasurnya.
“Sekarang kamu mau bantu aku!!” Hanson terkekeh seraya bangkit dan duduk di ujung Kasur.
“Ik akan selalu bantu, je.” Ucapnya sambil mengerlingkan matanya genit.
Nadia yang sudah sangat malas dengan Hanson segera membuka kenop pintu untuk keluar kamar saat ia keluar kamar betapa terkejutnya gadis itu tatkala rumahnya sudah di penuhi para hantu berwujud tentara di setiap sudut rumah, dan ia melihat dua penjaga berdiri tepat di belakangnya tepat di depan pintu kamar.
Nadia berusaha menarik nafas dalam-dalam saat ia melihat para hantu itu berjaga di setiap sudut serta di tangga rumahnya dengan sangat hati-hati ia melangkahkan kakinya untuk menuju dapur mengambil air minum.
“Nih rumah udah kaya bekas praktek perdukunan, hih serem.” Ucap Nadia dalam hati sambil bergidik ngeri.
Setelah memuaskan dahaga-nya dengan segelas air putih, gadis itu kembali lagi ke kamar-nya yang terletak di lantai atas ia menaiki tangga sambil menunggu adzan subuh agar tak mengantuk Nadia memilih mengambil air wudhu lalu ia mengelap wajahnya dengan handuk, untuk menghindari rasa kantuk Nadia memilih bermain handpone membaca aplikasi novel.
Selesai solat subuh Nadia berdoa agar di beri kelancaran saat ujian-nya nanti pada akhir April minggu depan, baru saja gadis berwajah manis dan berpipi tembam itu merapikan mukena.
“Jauhi hantu pemuda Belanda itu.” Ucap penari dengan wajah yang tak biasa muncul di hadapannya mengenakan kemban sedada warna hijau dan rambut di sanggul ala sinden.
“AAA!!” Nadia yang kaget dengan reflex berteriak. sang ibu yang mendengar Nadia berteriak langsung berlari ke kamar anaknya kemudian membuka kenop pintu bermaksud untuk mencari tahu apa yang terjadi.
“Nadia kamu udah bangun? kenapa kamu teriak-teriak!” tanya Ibunya marah melihat Nadia meringkuk di pojok lemari.
“Kamu makin hari makin aneh ayo cerita sama Ibu!” ucap ibunya memaksa.
“Gak ada bu biasalah tadi pas buka jendela ada tante-tante lewat terbang pake baju putih.” Ujar Nadia di sertai cengiran.
“Ya udah kamu mandi ibu mau bikin sarapan dulu! lain kali jangan kaya gitu!! ganggu tetangga dikira ada pembunuhan!!” Nadia hanya berkata iya, lalu sang Ibu turun kembali ke lantai bawah.
__ADS_1
Nadia segera mengambil handuk yang tergantung di kamar-nya setelahnya ia memasuki kamar mandi.
“Heran dah siapa sih tuh, cewek ama tuh si sipit misteri banget deh,” batin Nadia.
“Tahu ah, bodo amat suatu hari gua juga pasti tahu.” Lanjutnya dalam batinnya.
Nadia mengigil kedinginan tatkala baru keluar dari kamar mandi karena semalam baru saja hujan lebat dan udara juga dingin, ia segera menuju kamarnya untuk memakai seragam sekolahnya.
Saat ingin memakai dalaman tiba-tiba ada suara laki-laki.
“Apa perlu bantuan, lieve?” tanya empu di belakang sambil duduk sila di atas Kasur, Nadia menoleh ke belakang samping di kasurnya.
“KELUAR SEKARANG JUGA!!!” debrak marah Nadia.
“1,2__” Nadia berhitung, “jangan sampai aku berkata 3, HANSON VAN BUTHJER.” Dengan sangat menyebalkan Hanson perlahan menghilang di sertai gelak tawa.
“TUH HANTU BIKIN GUA NAIK DARAH MULU, HERAN.” Batin Nadia sambil memakai lotion di tubuhnya. Ia memakai seragam atasannya putih lengan Panjang dengan rompi hitam sedangkan bawahnya putih di sertai kerudung putih karena sekarang hari senin, setelah selesai Nadia mengambil tas-nya yang berwarna hitam dan menuruni tangga.
Nadia memakan sarapan-nya hari ini menu-nya nasi uduk dan air hangat panas, seperti biasa ibunya sedang memoles bedak di wajahnya sesudah wanita itu mandi dan berpakaian rapih, sedangkan Defani sedang asyiknya memakan nasi uduk.
“Kenapa Def?” tanya Nadia sambil berbisik pelan.
“Kak si Robert masih ngikutin aku?” Defani.
Nadia langsung mengedarkan pandangan-nya ke seluruh ruangan ia juga tak melihat hantu bocah itu, jadi Nadia hanya menggelengkan kepala tanda mewakili jawaban-nya karena sang Ibu sudah mulai melirik dua anak-nya.
Nadia diantarkan oleh ibunya dengan motor. “Bu” Nadia menyalami Ibunya lalu segera berlari memasuki gerbang sekolah.
Saat Nadia masuk beberapa langkah Nadia melihat anak laki-laki dan perempuan berbisik sambil menunjuknya tapi selalu dihiraukan.
Tak lama Nadia mendekati Nissa yang sedang bicara dengan Rika dan Dini di lantai atas di depan kelas mereka 9A.
“Woy!! Masih pagi lu pada udah ngerumpi aja.” Ucap Nadia sambil menepuk bahu Dini dan Rika.
“YDH lu taro tas dulu sono.” Saran Dini.
“Ydh nanti gua kesini lagi.” Nadia langsung pergi berlalu ke kelas-nya ia juga mengabaikan-nya saat anak-anak cowok kelas 9B mengolok-oloknya.
__ADS_1
Nadia menaruh tas lagi sepertinya pagi ini tidak ada gossip yang dibicarakan sudahlah masa bodo ia mau menemui tiga sahabatnya, saat sedang berjalan dirinya di cegat oleh Wulan dan Hurifah yang selalu mencari masalah dengan-nya.
“Masih pagi gua gak mau cari masalah.” Ungkap tegas Nadia.
“Kita gak mau cari masalah cuman kita mau nanya?” Wulan melipat tangan-nya sambil memutari Nadia, dan tak lama Wulan terjatuh sendiri tanpa alasan yang jelas, membuat semua orang disitu tertawa renyah termasuk Nadia menahan tawa.
Nadia langsung mengelengkan kepala lalu mulai mengulurkan tangan-nya untuk membantu Wulan yang terjatuh, tetapi tangan Nadia di tepis kasar oleh Wulan.
“Ayo Fah, kita cabut.” Terlihat dari raut wajah Wulan dan Hurifah sepertinya mereka sangat malu, Nadia hanya menghembukan nafas lalu pergi menemui tiga sahabatnya.
Saat sedang asyiknya bersenda gurau dengan tiga sahabat-nya tiba-tiba rombongan Budi menghampiri ketiga anak perempuan yang sedang menikmati pagi yang di sertai awan nan mendung tetapi tak turun hujan.
“Pagi cewek-cewek.” Ucap Budi disertai kedipan genit dan gigi mengeluarkan bintang, TING! Giginya budi.
“Apaan si lu pada!!” ucap Rika pada rombongan Budi.
“Gua kesini mau nemuin calon makmum gua.” Ucap Budi.
“Siapa emang?” tanya Dini dengan wajah yang sedikit menantang.
“NADIA SABRINA.” Teriak lantang Budi sontak teman-teman Budi pada bertepuk tangan, sedangkan yang lain langsung berhenti dan sunyi. KRIK....KRIK…KRIK. Suara jangkrik yang pas untuk ke garingan mereka.
“Pagi hari berangkat ke sungai gangga, dan jangan lupa meminum jamu, Nadia seorang Budi Pratiwaga, siap menjadi imam untukmu.” Ucapnya sambil mengerlingkan mata genit. Rika, Dini, dan Nissa menahan tawa sambil menyenggol-nyenggol Nadia. Di saat yang tepat bel berbunyi menandakan para murid harus masuk kelas.
“NADIA IK TIDAK SUKA JE DI RAYU OLEH LAKI-LAKI TADI!” Hanson marah tetapi Nadia hanya diam.
“Eh, gua duluan.” Ujar Nadia langsung melenggang pergi Budi langsung berteriak lagi bernada roma irama.
“Na-dia ku-tunggu-di-rimu.” Setelahnya ada pak Mawan seorang guru IPS yang bertubuh gempal teman-teman yang lain sering menjuluki-nya guru stress atau papa zola dan menegur mereka.
“Kalian cepat masuk, malah di luar!!” ucap pak Mawan sambil berkata tegas.
“Iya Pak.” Ucap Rika, Dini, Nissa, Budi, serta rombongan-nya.
“Kamu juga Budi ke kelas sekarang!! Kelas kalian kan di bawah 9E cepett!!” setelah itu Pak Mawan langsung menuju kelas 9B untuk ia ajar.
__ADS_1