Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
Ritual Pernikahan


__ADS_3

Pagi ini ialah hari yang di tunggu-tunggu oleh Nadia pasalnya adalah hari jum’at. Nadia menggunakan lotion terlebih dahulu sambil melamun alasan apa yang cocok untuk pulang agak terlambat hari ini pada Ibunya biar tidak nyerocos seperti bebek, karena sekarang hari Jum’at Nadia memakai seragam atasan muslim warna biru muda dan rok-nya putih di sertai kerudung putih tak lupa ia memakai lip balm di bibir-nya.


Setelah selesai Nadia mengambil tas yang berwarna hitam merek adidas kemudian turun ke bawah untuk sarapan.


Nadia turun ke bawah menarik kursi untuk duduk di meja makan sambil melihat sang ibu memoles lipstick di bibir-nya ia berfikir alasan apa yang ia akan utarakan pada sang ibu untuk alasan pergi ke makam belanda, apakah ia harus berbohong lagi.


“Bu hari ini aku pulang agak sore-an.” Ujar Nadia sambil memakan nasi goreng dan telor omelette, Nadia menatap Defani begitu juga sebaliknya Defani malah menatap Nadia dengan mata memincing, pagi ini Defani memakai seragam atasan muslim warna putih dengan rok merah.


“Kak!” Defani memanggil sang kakak, Nadia yang sedang mengunyah makanan-nya langsung mendekati sang adik.


“Kenapa?” suara Nadia menyerupai bisikan,


“Hari ini lu jadi mau ke kuburan belanda yang ada di kotu, gua mau ikut boleh gak?” suara Defani juga menyerupai bisikan.


 “Ya, gak lah. kalo lu ikut dia(ibu) malah nanya mulu kaya wartawan, gua soalnya juga ada tugas suruh buat catatan.” Ucap Nadia kepada sang adik.


“Eh kok pada rumpi-rumpi cepetan udah siang!!!” ujar sang ibu yang sudah selesai bersolek.


Nadia dan Defani langsung menyudahi sesi pembicaraan mereka dan melanjutkan sarapan ini hanya dengan dentingan sendok.


Nadia memakai sepatu baru bermerek Adidas yang di hadiahkan untuknya oleh bibi-nya yang berada di Bekasi ingin sekali ia menemui bibi-nya tetapi dia sedang sangat sibuk untuk ujian kelulusan saat ini.


Sesampainya di sekolah setelah menyalimi ibunya ia bertemu Nissa sedang di bonceng oleh ayah-nya yang memakai seragam polisi.


Jadi Nadia masuk gerbang sekolah bersama dengan Nissa mereka berbincang hangat selayaknya akan berpisah Nanti saat ingin menaiki tangga untuk menuju kelas mereka di cegat oleh Budi serta pasukan-nya.


 “Halo Nadia!” Budi menyapa Nadia dengan kedipan sebelah di matanya.


“Hallo Nissa, bidadariku!” Ujar Bima sambil memperlihatkan giginya yang sebelah dan bersinar lalu mengusap rambut sebelah kanan dengan tangan-nya.


TING!!!!


Nissa hanya memutar bola matanya jengah apalagi ini mengapa ia harus berurusan dengan yang nama mahluk-mahluk dari planet yang tak jelas asal-usulnya.


“Nissa dengarkan sebuah kalimat serta puisi dari pangeran berkuda putih ini.” Ucap Bima.


 “Kuda putih?! lu mah kuda hitam kampret.” Ucap Nissa yang dengan rusuhnya merusak gombalan-nya, saat Bima berpuisi sambil membelangkangi Nissa, malah Nissa tinggal pergi ke kelasnya meninggalkan Bima yang terus mengoceh selayaknya burung kakak tua dan meninggalkan Nadia sendiri dengan Budi. 


 “Nadia tahu gak bedanya motor ama kamu?” tanya Budi sambil menaik-turunkan alisnya.


“Gak, emang apa bedanya?” tanya Nadia sambil mengerutkan dahinya. “


Kalo motor berjalan di jalan raya, kalo kamu berjalan di hatiku.” Ucap Budi.


 “Aduh romantis banget sampe terenyuh hati gua.” Jeda Nadia tersenyum sejenak, “sekarang gua boleh lewat.” Ucap Nadia.

__ADS_1


“Tentu saja, mau diantarkan agar kau selamat.” Ucap Budi.


“Udah gak usah, lagian kelas gua deket banget,” kata Nadia berpura-pura ramah, gadis itu akhirnya bisa tersenyum lega saat Budi memperbolehakan-nya pergi ke kelas.


 Di kelas Nadia menaruh tas lalu ingin ke kelas 9A untuk menemui Nissa, “Nadia tadi lu godain ya ama Budi?” ledek Mega anak perempuan yang sekelas dengan-nya.


“Apaan sih lu? Kalo mau ambil aja?” ujar Nadia yang sebelum keluar kelas.


“Woilah sensi amat lu, kaya nenek-nenek.” Ujarnya Mega. Nadia lalu segera ke kelas 9A.


Nadia harus melewati kelas 9B dulu. Nadia berusaha bersikap cuek tatkala banyak yang menghina-nya dari anak-anak kelas 9B entah salah apa Nadia sampai-sampai yang lain berbuat seperti ini padanya.


“Nissa lu kok tega banget ninggalin gua ama si mahluk begituan.” Ujar Nadia yang duduk di sebelah Nissa saat di dalam kelas 9A, “Ya gua selamatin diri dulu.” Ujar Nissa.


Tiba-tiba Dian dan Rika datang. “Woy asyik bener nih,” ucap Dian yang baru datang sambil menaruh tas.


 “Dian, Rika tahu gak sih tadi gua di tinggalin ama Nissa, malah di tinggalin-nya ama Budi lagi!” ucap Nadia dengan Nada suara yang sedikit drama.


“Cieee!” ujar kedua gadis itu.


“Nissa tega banget...” Ucap Nadia.


 “Yaelah Nad, gak ngapa kali lu ama Budi.” Ucap Rika. “Iya lagian nanti lu sama Budi jadi terkenal satu sekolah kaya Dilan dan Milea, hahaha.” Tambah Dian.


⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦═─⌐╦╦


Tak beberapa lama bel pun berbunyi menandakan jam pulang, Nadia segera berkemas begitu juga para murid.


“Baik semuanya kita sudahi pelajaran kita.” Ujar Pak Mawan, sesudah Pak Mawan keluar kelas para murid mulai pada membuat lelucon tentang Pak Mawan.


“Akhirnya kelar juga pelajaran Papa Zola.” Ucap salah satu anak laki-laki di kelas.


“Iya, bisa-bisa otak gua bondol tuh kalo lama-lama,” ucap Ridwan anak laki-laki yang lain, Nadia lebih memilih keluar kelas sesudah piket kelas.


Akhirnya Nadia bisa membeli air mawar di pasar dekat dengan sekolahnya, setelah membeli air mawar ia akan ke kuburan belanda dengan alasan tugas IPS.


  Sesampainya di tempat yang dituju Nadia turun dari kereta lalu menaiki angkutan umum dan membayar uang sejumlah 6 ribu.


Awalnya sang supir angkutan umum heran dengan gadis seragam SMP (sekolah menengah pertama) sore-sore ke kuburan belanda tetapi berusaha berfikir positif mungkin saja ia memiliki tugas dari gurunya. 


Nadia memasuki kuburan belanda itu sambil membawa buku dan pulpen di tangan-nya, sebelum itu ia sudah minta izin dulu dengan penjaga makam kalo ia kesini sedang ada tugas sekolah penjaga makam itu pun mengizinkan Nadia.


Nadia melihat sekeliling kuburan belanda dengan nisan kuburan yang sangat tinggi-tinggi seperti terbuat dari semen dan juga ada patung di atas nisan tetapi tidak semua kuburan ada patung di atas nisan.


Serta selain ada tulisan nama, lahir, dan tahun wafat di nisan yang tinggi itu juga tertulis bahasa belanda yang sama sekali tak di mengerti oleh Nadia. Nadia ke kuburan ini juga tidak sendirian ia membawa beberapa pengawal berwujud hantu belanda yang di tugaskan Hanson untuk menjaga istrinya itu, saat sedang ingin mencatat sesuatu tiba-tiba handponenya berdering ternyata Sarah menellepone-nya.

__ADS_1


Diakhir panggilan handpone Nadia mengucapkan Kalimat yang menutup panggilan-nya.


“Yaudah kita ketemu di stasiun nanti.” Nadia langsung memasukan tanah kuburan ke dalam tas sebelumnya ia juga sudah minta izin sama penunggu makam dengan sopan, sedangkan buku dan pulpen tetap ia bawa di tangan-nya.


Setelah selesai melakukan aktivitasnya Nadia menemui penjaga makam dan mengucapkan terimakasih, gadis berseragam itu menaiki kereta dan turun di stasiun kemudian ia melihat Sarah sahabat sekaligus anak teman kerja mendiang ayahnya datang di depan gerbang pintu stasiun dengan motor.


 “Lu udah tadi.” Ucap Sarah. 


“Udah, YDH ayo,” Nadia pergi dengan berboncengan bersama Sarah.


“Sarah lu mau kan bantuin gua bikin dari tanah kuburan Belanda?” tanya Nadia dengan berboncengan bersama Sarah menuju rumah Nadia.


“Gak bisa lah lu harus bikin sendiri, nanti lu di bantuin ama suami lu.” Ucap Sarah.


Mereka berdua bersenda gurau sambil berboncengan dan tak lama mereka sampai di rumah Nadia.


“Tante.” Ucap Sarah sambil menyalimi Ibunya Nadia.


“Hallo Sarah tumben main kesini.” Ucap Ibunya Nadia.


“Iya bu tadi gak sengaja ketemu di jalan jadi bareng aja.” Ucap Nadia juga menyalimi ibunya.


“Ya udah kamu ajak Sarah ke atas.” Ujar sang ibu. Dua gadis indigo itu menaiki tangga untuk ke lantai atas.


“Coba mana bahan-bahannya?” ucap Sarah lalu Nadia mengeluarkan dari tas sekolahnya di plastik dua botol air mawar dan beberapa genggam tanah dari kuburan belanda yang akan ia buat nanti. 


Nadia mengganti baju-nya dengan lebih santai lalu mengajak Sarah ke balkon rumahnya.


“Yaudah sekarang lu bikin, gua biar agak jauh dulu takut kalo ada gua gak care.” Ucap Sarah yang duduk di lantai balkon dengan sedikit menjauh, tak lama Hanson muncul untuk membantu istrinya membuat asbak.


 Nadia melapisi lantainya agar tidak kotor dengan kertas koran.


Ajaibnya tanah itu saat di siram setengah botol air mawar langsung bisa terbentuk juga di bantu Hanson, awalnya Nadia heran dengan aroma-nya ia malah mencium bau anyir darah tetapi kalo yang tidak indigo seperti ibunya atau Defani bau yang tercium malah melati, tak berselang lama yang di buat Nadia dan Hanson sebagai perlambang pernikahan mereka pun jadi.


Tanah tambahan di buat patung kecil berwujud peri di tengah-tengah asbak, setelah Jadi Nadia menjemurnya lalu mencuci tangan-nya sampai bersih.


Sarah dan Nadia akhirnya menghabiskan waktu bersama sambil delivery makanan sedangkan asbak yang berukuran kecil itu di simpan Nadia di tempat yang aman setelah kering.


“YDH, udah mau magrib gua balik ya.” Ucap Sarah.


“Kenapa lu baliknya gak abis magrib aja.” Kata Nadia, “yaelah lu kan tahu nyokap gua.” Ujar Sarah. Nadia mengantar Sarah sampai depan rumah, setelahnya Sarah memakai jacket baseball hitam putih lalu pamit dengan ibunya Nadia. 


“Tante aku pulang ya, assalamualaikum.” Ucap Sarah sambil menyalimi ibunya Nadia.


“Walaikumsallam kenapa buru-buru, kenapa gak abis magrib aja.” Saran ibunya Nadia.

__ADS_1


“Gak tante takut di cariin ibu.” Ujar Sarah sambil menaiki motornya.


__ADS_2