Nadia, The Indigo Girl

Nadia, The Indigo Girl
BAB 37


__ADS_3

Sore yang nampak indah di Buitenzorg kemudian mata Nadia melihat pelangi di atas awan, sangat jarang di jamannya setelah hujan ada pelangi.


“Nadia, kom op.” Ujar Hanson sambil menarik Nadia untuk masuk ke dalam rumah, saat sedang berjalan Nadia merasa ada tangan besar melingkar di pinggangnya membuat gadis tersebut mendongkak ke arah suaminya.


 “Hanson! Banyak orang!” Ucap Nadia dengan suara berbisik tetapi hal itu malah di abaikan oleh si pirang. Hanson malah mengendong Nadia secara reflex kedua tangan Nadia mengalungkan diri di leher Hanson, dan Hanson membawa Nadia ke kamarnya yang terletak di lantai atas.


 Hanson membaringkan Nadia di kamarnya dan tak lupa menutup pintu.


Sejenak mereka saling bertatapan dengan posisi Hanson menindih tubuh Nadia, tak lupa mereka saling merenggut manisnya bibir masing-masing lalu mata mereka saling menatap.


 Hanson sangat menyukai bola mata bulat milik Nadia seperti malam yang indah. Kemudian mereka melakukan hubungan sah selayaknya suami dan istri.


Nadia terbangun ia tak berbusana dan segera ia memakai pakaiannya lagi. Gadis itu mengingat sesuatu ternyata sudah waktunya makan malam ia segera membangunkan Hanson.


“Hanson! bangun waktunya kita makan malam,” sang empu tak menjawab, tak ada jawaban lalu Nadia memeriksa dengan menempelkan punggung tangannya di kening Hanson ia merasakan suhu badannya panas dan bibirnya pucat.


“Ya ampun Hanson!” ujar Nadia dengan kaget ia memanggil para bendide untuk membantunya merawat Hanson.


Nadia mengirimi telegraf agar besok Hanson tak masuk kerja terlebih dahulu dengan mengiriminya ke kantor.


 Nadia membuatkannya air hangat untuk Hanson minum karena dirinya juga pernah seperti Hanson sekarang. Setelah itu Ratih membawa bubur ke kamar majikannya karena perintah Nadia.


 “Nyai ini teh buburnya.” Ucap Ratih.


“Taro aja di meja itu, ya!” Perintah Nadia dengan nada lembut.


“Yaudah saya keluar kalo nyonya butuh sesuatu panggil saya aja.” Ratih ke luar kamar untuk membiarkan majikannya beristirahat.


“Hanson buburnya di makan dulu.” Nadia membantu Hanson dengan mendudukannya agar posisi menyandar di bantal lalu menyuapi Hanson dengan sangat telaten dan sabar Nadia menyuapi Hanson dengan bubur yang di buatkan Ratih atas perintahnya kemudian memberinya minum air hangat, setelah selesai Nadia melihat Hanson sudah mengeluarkan keringat yang artinya sudah sedikit lebih baik.


Nadia juga menyelimuti Hanson dengan selimut tebal karena malam ini udara di Buitenzorg sangat dingin, karena terlalu sibuk merawat Hanson ia sampai lupa untuk makan malam biar saja ia lapar. Nadia kembali merebahkan diri di samping Hanson setelah ia memakaikan baju tebal untuk suaminya.


Baru saja Nadia memejamkan matanya ia melihat Hanson mengigau jadi gadis itu kembali terduduk.


“Hanson tenang...Hanson tenang.” Nadia berujar dan pria itu langsung menempatkan kepalanya di pelukan gadis bergaun coklat di sampingnya.


Nadia sedikit terkejut dan dengan posisi yang kurang nyaman ia memeluk kepala Hanson kemudian menempatkan di dadanya, Nadia membelai rambut pirang tipis milik Hanson lalu mencium rambut pirang Hanson.


Suaminya semakin mempererat pelukannya ada sensasi mengelayar aneh dalam diri Nadia saat memeluk Hanson tak lama Nadia dengan posisi tak nyaman tertidur pulas, setelah terlalu Lelah mengurusi Hanson.


 Keesokan paginya sinar matahari dengan nakal masuk melalu celah jendela membuat Nadia terbangun dari tidurnya, perlahan gadis tersebut terduduk dan menempelkan punggung tangannya di kening Hanson.


Ternyata keadaannya sudah membaik meskipun tubuhnya masih terlalu lemah, dengan masih setengah mengantuk Nadia beranjak dari tempat tidur untuk ke kamar mandi setelah selesai ia memakai pakaian, gadis tersebut tanpa sadar di lihati Hanson karena aroma sabun serta parfum yang ia gunakan membuat Hanson terbangun.


Nadia baru menyadari jika ia di lihati oleh suaminya saat sedang menyisir rambut lewat pantulan cermin, sontak ia menoleh ke arah belakang yang melihat Hanson sudah terduduk di atas ranjang dengan menyandarkan punggunya.


 “Kamu sudah bangun?” ucap Nadia dengan senyum mengembang. Hanson tersenyum untuk membalas pertanyaan yang di ajukan oleh istrinya.


“Aku mau ke bawah menyiapkan mandi untukmu dan membuatkan bubur untukmu.” Nadia berjalan ingin membuka pintu baru saja memegang kenop pintu.


“Nadia!” panggil Hanson.

__ADS_1


Nadia menoleh sambil tersenyum ternyata Hanson menginginkan sesuatu selain bubur tetapi Nadia memberikan pengertian jika sedang sakit makanan apapun akan terasa hambar di lidah jadi yang terpenting sekarang adalah kesehatannya dulu.


Nadia ke bawah menyuruh Bi Arum agar menyiapkan air hangat di baskom serta kain bersih, sedangkan Nadia memasak bubur dengan campuran sedikit garam di mangkuk yang berlukis khas eropa.


“Bi Arum!” panggil Nadia.


“Saya nyonya.” Ujar wanita paruh baya itu.


“Nanti baskom ama kainya, bawa ke atas terus taro di meja kayu samping Kasur.” Perintah Nadia sambil sibuk mengaduk buburnya, setelah jadi ia membawa mangkuk yang berisi bubur dengan air putih hangat ke kamar Hanson dengan menggunakan nampan berwarna perak.


Sesampainya di kamar ia menaruh makanan di atas meja kayu samping ranjang, “Hanson, ini kamu makan dulu.” Ucap Nadia yang melihat Hanson terduduk sedang membaca buku sambil menyandarkan punggungnya di bantal.


“Nadia apa je memasak?” tanya Hanson.


“Iya aku masak kan gak papa sekali-kali masakin kamu, jangan nyerahin semua tugas sama baboe mulu.” Kata Nadia memegang mangkuk bubur lalu meniupkan buburnya di sendok agar tidak terlalu panas untuk memasukannya ke mulut Hanson.


Setelah Nadia selesai menyuapi Hanson ia mengambil baskom berisi air dan kain yang di basahi lalu memerasnya di baskom agar bisa membersihkan tubuh Hanson.


 Di dalam hati Hanson sangat senang mempunyai istri seperti Nadia yang rela merawatnya memang selama ini ia tak salah pilih istri.


“Sekarang kamu istirahat aku mau ke bawah dulu,” kata Nadia.


“Mau kemana?” tanya Hanson.


“Jika je mau menaruh ini semua ke bawah apa gunanya kita punya bendide!” ucap Marah Hanson.


“Marsih! Arum! Ratih! bawakan ini semua ke bawah!!” perintah Hanson, Nadia langsung tercengang dalam keadaan sakit pun Hanson masih bersikap seperti itu kepada para bendide pribumi padahal istrinya juga pribumi.


Ratih dan Bi Arum datang sedangkan Marsih tidak, “Kemana Marsih?” tanya Hanson, “sedang membersihkan taman Menner.” Sahut Arum sambil menunduk dan tangannya sibuk membawa baskom sedangkan Ratih membawa nampan yang berisi mangkuk dan gelas bekas sarapan Hanson.


“Baiklah aku mau ke...” Belum sempat Nadia menyelesaikan kalimatnya tetapi si pirang menarik tangannya dan mendekapnya.


 “Hanson lepasin!” Ucap Marah Nadia yang wajahnya satu senti sangat dekat oleh Hanson.


“Hanson aku mau ke bawah!” Kata Nadia.


“Cium ik...cium ik dulu.” Ucap Hanson.


Nadia mencium pipi kanan Hanson tentu pria itu tak puas jadi ia malah ******* bibir Nadia hal itu membuat gadis tersebut pasrah.


 TUK!! TUK!! TUK!!


Sontak keduanya langsung menghentikan kegiatannya, “Siapa?” tanya Nadia.


“Saya Sarto Nyai.” Ucap di luar kamar. “Ada apa, Sarto?” tanya Nadia santun.


“Ada teman-teman menner datang.” Jawab Sarto.


“Suruh mereka ke kamar!” perintah Hanson.


“Hanson!!” teriak teman-teman Hanson.

__ADS_1


 “HELLO BUNG!!” ujar Hanson.


Sesaat teman-teman Hanson yang dari kalangan militer datang, Nadia langsung berdiri kemudian membungkukan kakinya untuk meninggalkan Hanson bersama dengan rekan kerjanya.


“Aku akan tinggalkan kalian!”  Nadia keluar kamar untuk ke rumah Mevrouw Eva seorang wanita yang mengundang Nadia minum teh di rumahnya.


Di rumah Mevrouw Eva van Derhoff. “Hello nyonya van buthjer.” Sapa Hangat wanita blasteran perancis-belanda tersebut.


“Hai Mevrouw Eva van Derhoff.” Ucap Nadia dengan senyum mengembang.


 Mereka berbincang hangat sambil di sugguhi kue dan beberapa camilan coklat, Hanya mevrouw Eva saja yang Nadia kenal ramah diantara para tetangga suaminya juga tentara belanda tetapi sayang selama seminggu suami mevrouw Eva dinas di luar kota.


“Nadia ik sangat senang bisa punya teman mengobrol,” jeda Eva menyesap teh nya, “karena suamiku sedang dinas selama satu minggu sedangkan putraku pergi ke sekolah.” Dalam Hati Nadia amat ingin mempunyai anak tetapi ia ingin hamil saat sudah masuk SMA saja.


“Mevrouw Eva suamimu...” Belum sempat Nadia menjawab tetapi sudah di jawab lebih dulu oleh Eva seolah tahu apa yang akan Nadia tanyakan.


 “Suamiku pangkatnya kolonel, lain kali panggil namaku saja Nadia.” Ujar Eva yang mengunyah kue cookies.


“Baiklah Eva,” ucap Nadia.


Di kota baru yang ia tinggali saat ini, yakni Buitenzorg selain Mevrouw Eva Van Derhoff yang terkenal ramah dan bisa di ajak tetanggaan, Nadia juga berteman dengan seorang putri Tuan tanah pemilik pabrik gula ia adalah tunangannya salah seorang teman Hanson.


“Nadia apa kau tidak tertarik memiliki seorang anak?” tanya Eva sambil menyesap tehnya lagi.


“Aku belum berfikir sampai kesitu, maksudnya Hanson sedang sibuk pada karir militernya, sedangkan aku masih sibuk dengan beberapa pekerjaanku.” Ucap Nadia yang sedang memakan cookies kejunya.


Dua wanita yang berbeda usia yang terpaut jauh itu menghabiskan waktu bersama tanpa terasa sudah memasuki siang menjelang sore.


“Mevrouw Eva aku harus pulang, mungkin suamiku mencariku.” Pamit Nadia kepada Eva.


“Baiklah, sebentar lagi anak-anakku sudah mau pulang sekolah.” Ujar Eva sambil capaka-capiki dengan Nadia sebelum kembali pulang ke rumah.


Nadia diantarkan sampai gerbang depan, “Nadia jam berapa besok kita sarapan bersama?” tanya mevrouw Van Derhoff.


“Mungkin sehabis putramu dan suamiku berangkat.” Ujar Nadia sambil mengedikan bahunya.


“Baiklah sampai besok.” Ucap Eva sambil melambaikan tangannya, “kamu juga.” Balas Nadia.


 Gadis tersebut kembali ke rumahnya yang berada di sebrang berhadapan tepat dengan rumah keluarga Van Derhoff, Nadia memasuki rumah dan betapa amat terkejutnya Nadia melihat seisi rumah berantakan botol minum kaca berserakan, kulit kacang dimana-mana, dan masih banyak lainnya. Sontak jiwa mami-mami dalam diri Nadia keluar seketika.


“HANSONN!!!”  Teriak Nadia sampai ke seluruh seisi rumah bahkan tetangga sekitar pun sampai mendengar suara berlian milik Nadia, pada akhirnya Nadia menghukum Hanson dengan merapikan ruang tamu di bantu dengan Ratih dan Arum.


“Bagus lain kali kamu harus punya tanggung jawab!” Maki Nadia yang ikut serta membersihkan ruang depan rumah, tentu hal tersebut membuat Ratih dan Arum menahan tawa karena mereka tahu jika sampai melepaskan tawanya akan di apakan oleh Hanson.


Singkatnya setelah semuanya rapih Hanson kelelahan ia langsung tertidur di sofa yang terbuat dari kayu jati, Nadia yang melihat Hanson langsung menghembuskan nafas Lelah lalu segera menuju kamar mengambil bantal dan selimut.


Nadia menuruni tangga yang terbuat dari kayu sambil membawa bantal dan selimut di tangannya lalu mengakat kepala Hanson dan menempatkan bantal di bawah kepalanya terakhir ia menyelimuti tubuh suaminya.


 Nadia duduk tepat di lantai samping Hanson agar bisa membelai rambut pirang milik Hanson kemudian mencium keningnya.


Karena ia seorang istri Nadia memilih tidur tepat di samping Hanson lebih tepatnya menunggui Hanson, perlahan mata Hanson terbuka dan terlihat bola matanya yang biru seindah langit menatap Nadia yang ikut tertidur di lantai bersama dengannya.

__ADS_1


Hanson tersenyum dengan bibirnya yang tipis merah dan penuh kemudian mengambil tangan kiri Nadia yang sudah tertidur pulas dengan tangan kanannya untuk di kecup punggung tangannya sambil di usap pelan, sinar matahari terbenam di kota Buitenzorg menembus sampai ke celah jendela kediaman van buthjer membuat nuansa romansa di antara keduanya.


Setelahnya Hanson menutup matanya kembali sambil terus memegang tangan istrinya.


__ADS_2